Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 42 : Aku malu


__ADS_3

“Caca ke mana?” pertanyaan itu terlontar dari bibir Sofi yang baru saja tiba. Saat dalam perjalanan menuju kampus, ia melihat ada notifikasi pesan grup dari Caca. Namun, gadis itu masih belum membaca pesan itu–lebih tepatnya lupa.


Maya mematikan ponselnya. Mendekatkan bibirnya pada telinga Sofi lantas berbisik, “Kak Abi sakit, dia izin nggak masuk.”


“Kak Abi sakit apa?” tanya Sofi sama berbisik.


Bahu Maya terangkat sekilas. “Nggak tahu, bukannya kemarin dia masih ikut makan sama kita, ya?”


Sofi mengangguk membenarkan. “Lo nggak pengen jenguk gitu?” tawar Sofi. Ia meletakkan sikunya pada meja, lalu menopangkan kepalanya di sana.


“Ha? Emang harus?”


“Kan gue nawarin, May.” Bola mata Sofi bergerak malas.


“Oh, boleh kalau mau jenguk. Nanti kita tanya di mana Kak Abi dirawat.”


Sofi mengangkat ibu jarinya setuju. Tak lama kemudian dosen pengajar mereka masuk ke dalam kelas. Tak lupa Maya dan Sofi menyampaikan izin Caca pada sang dosen.


**


Masih dengan kesendiriannya. Abimanyu tampak gusar di atas ranjang rumah sakit itu. Berkali-kali ia menatap pintu ruangan tersebut, berharap Caca masuk.

__ADS_1


Sepuluh menit lebih telah berlalu, tetapi Caca belum juga kembali. Abimanyu tidak tahu ke mana perempuan itu pergi. Ia hanya takut Caca pergi karena tersinggung dengan perkataannya tadi.


Beberapa kali ******* kecil dan decakan lidah terdengar dari pemuda yang kini tak bisa berbuat apa-apa. Ia merutuki Caca yang meninggalkan ponselnya, sehingga ia tak bisa menghubungi dan bertanya di mana gadis itu berada.


Abimanyu berusaha menenangkan dirinya. Selang infus yang masih menancap pada tangannya membatasi setiap geraknya. Membuat Abimanyu hanya bisa menunggu dengan cemas.


Jam kembali berputar. Lima belas menit telah berlalu. Pintu kamar rawat Abimanyu terbuka bersamaan dengan embusan napasnya yang terdengar lega.


“Kamu dari mana sih?” tanya Abimanyu tanpa bisa menyembunyikan gurat khawatirnya.


Caca meletakkan kantung keresek yang ia bawa ke atas meja. “Beliin kamu bubur, Bi. Katanya tadi laper,” jawab Caca dengan nada sedikit kesal. “Sarapan dari rumah sakit kan masih lama,” lanjutnya masih dengan rasa kesal yang sama.


“Oh” Abimanyu meringis sungkan. Namun, dalam hatinya ia merasa berbunga menerima setiap perhatian yang Caca berikan.


Caca menoleh sekilas. Kembali fokus pada layar ponsel, kemudian mematikannya. “Di pinggir jalan depan sih. Tapi rame banget. Antri panjang,” jawab Caca seraya menyendok bubur tadi setelah duduk di tepi ranjang. Lalu menyodorkan bubur itu ke depan bibir Abimanyu.


Abimanyu refleks memundurkan kepala. Ia tak menyangka Caca akan menyuapinya. “A-aku bisa sendiri,” ucap Abi gugup. Duduk sedekat ini dengan Caca selalu membuat jantungnya berpacu.


Istri Abimanyu itu menatap malas. Sendok yang tadi berada di depan bibir, kini sudah beralih ke atas pahanya. “Aku nggak nerima penolakan,” ucap gadis itu tegas. Ia kembali menaikkan sendok ke depan bibir suaminya, dan kali ini pemuda itu membuka mulutnya.


“Kenapa kemarin kamu tetep makan pesanan aku? Bukannya harusnya kamu udah tahu akibatnya kayak gini?” tanya Caca. Ia masih terus menyuapi suaminya dengan sangat telaten.

__ADS_1


Hening. Abimanyu belum bersuara. Atau lebih tepatnya masih menyusun kata yang tepat untuk menjawabnya.


“Kamu tahu? Semalem bunda marahin aku habis-habisan gara-gara ini. Bunda pikir aku sengaja ngasih kamu makan kayak gitu karena aku nggak suka sama kamu.”


Netra mereka berserobok. Caca dapat menemukan tatapan penyesalan dari suaminya.


“Maaf,” ucap Abimanyu sembari mencekal pergelangan tangan Caca yang hendak kembali menyuapinya.


Caca mengembuskan napasnya pelan. Ia balas menatap mata Abimanyu. “Meskipun aku nggak cinta sama kamu, bukan berarti aku punya niat nggak baik sama kamu. Aku masih punya hati untuk nggak mencelakai orang,” ucap Caca membuat Abimanyu semakin menyesal.


“Maaf atas kecerobohan aku. Kemarin aku cuma terlalu malu kalau temen kamu tahu aku nggak bisa makan pedes.” Abimanyu jadi malu sendiri dengan alasan konyolnya yang memang nyata.


Ya, dia terlalu malu untuk mengakui betapa lemahnya dia untuk satu hal itu. Namun, ternyata semua itu justru membuat orang lain susah.


“Aww!” Abimanyu berteriak saat Caca tiba-tiba mencubit lengannya. “Kok dicubit, sih,” sungut pemuda itu sembari mengusap-usap lengannya. Ia meringis kesakitan karenanya.


“Aku kesel sama kamu. Cuma gitu aja kamu malu? Malunya kamu tuh bikin orang-orang bingung tahu nggak. Aku sampai nangis semaleman gara-gara dimarahin bunda,” omel Caca kesal.


“Lain kali pikirin akibatnya sebelum bertindak.” Caca menyendok bubur dengan kasar. Kemudian menyuapi Abimanyu dengan sama kasarnya karena kesal.


“Pelan-pelan, Ca!”

__ADS_1


“Biarin! Hukuman buat kamu karena udah ceroboh dan bikin aku nangis”


Bukannya marah Abimanyu justru tersenyum. Di balik sifatnya yang ketus, Caca masih memiliki hati yang hangat. Terbukti dengan gadis itu yang terus menyuapi Abimanyu sampai bubur itu tandas dari tempatnya.


__ADS_2