
Tubuh Caca terpaku mendapati seseorang yang sejak tadi memenuhi kepalanya kini tengah meringkuk di atas tempat tidurnya. Mata gadis itu mengerjap beberapa kali untuk memastikan apa yang ia lihat adalah nyata. Namun, ia masih juga belum percaya. Caca pun mendekati ranjangnya, kemudian menyentuh tubuh itu.
“Abi,” gumam Caca dengan sangat lirih. Sentuhan Caca sangat lembut, tetapi bisa membangunkan Abimanyu yang tidak sengaja tertidur di sana.
Abimanyu membalikkan tubuhnya dengan cepat. Pemuda itu tersenyum dengan muka bantalnya.
“Hai, udah pulang?” tanya Abimanyu dengan suara serak khas bangun tidur.
Caca mengamati wajah sang suami yang tampak berbeda dari biasanya. Warna kulit Abimanyu sedikit menggelap, karena terlalu banyak beraktivitas di luar ruangan.
“Ini beneran kamu?”
“Iya, Sayang.” Abimanyu kembali tersenyum. Ia lantas duduk, lalu menarik tubuh sang istri agar duduk di sampingnya.
“Abi!” hardik Caca seraya memukul lengan pria itu.
Abimanyu memeluk tubuh Caca dengan sangat erat. Ia benar-benar ingin melampiaskan rasa rindunya pada sang istri. Sehari tak mendengar suara Caca membuatnya cukup frustrasi. Namun, demi membuat kejutan pada seseorang yang telah mengisi hatinya, Abimanyu rela melakukannya.
“Kamu kangen nggak sih sama aku?”
“Abi, lepas dulu. Aku masih keringetan,” ucap Caca tanpa menjawab pertanyaan sang suami.
Abimanyu menggelengkan kepalanya. Ia tidak akan melepaskan Caca barang sedetik pun. Bahkan Abimanyu mulai menghujani Caca dengan kecupan-kecupan lembut di seluruh wajahnya.
Caca pun hanya bisa menghela napas pasrah. Rindunya yang juga sama besar dengan Abimanyu membuatnya merasa nyaman dengan apa yang pria itu lakukan padanya.
Beberapa detik kemudian mereka hanya terdiam. Seolah sedang menikmati waktu kebersamaan mereka yang mungkin akan terpisah kembali. Abimanyu menyandarkan dagunya pada bahu sang istri. Ia menghidung wangi tubuh istrinya yang masih menguar meskipun belum mandi sejak tadi.
“Kamu sengaja, ya, nggak ngehubungin aku dari pagi?” Pertanyaan Caca memecahkan keheningan mereka.
Senyum Abimanyu terukir begitu. “Iya, aku pengen bikin kejutan buat kamu,” jawabnya.
“Pengennya tadi waktu kamu masuk kamar aku langsung peluk gitu. Eh, malah ketiduran,” imbuhnya seraya tertawa kecil.
“Mama juga tahu kamu pulang?” tanya Caca lagi setelah menyadari sang ibu tidak memberitahunya akan keberadaan Abimanyu di rumah.
__ADS_1
“Tahu, tapi aku minta mama sama ayah nggak ngasih tahu kamu.”
Caca mendengkus. Ia melonggarkan dekapan Abimanyu, karena ia harus mandi terlebih dahulu. Badannya terasa sangat lengket dan ia merasa risi.
Mau tak mau Abimanyu pun menuruti permintaan istrinya. Dengan pasrah Abimanyu melepaskan Caca. Ia terus memperhatikan gerak-gerik sang istri yang hendak masuk ke dalam kamar mandi. Sejurus kemudian sebuah ide gila muncul di kepalanya. Bertepatan dengan itu Caca berteriak dari dalam kamar mandi. Gadis itu meminta Abimanyu untuk mengambilkan handuknya yang tertinggal. Dengan senang hati Abimanyu mengambilkannya.
Dengan membawa satu lembar handuk di tangannya Abimanyu mengetuk pintu kamar mandi. Tak perlu waktu lama pintu berwarna biru itu terbuka. Kepala Caca menyembul di sana.
“Mana!” Caca mengulurkan tangannya. Ia tidak berani membuka pintu dengan lebar, karena ia sudah terlanjur menanggalkan seluruh pakaiannya.
Abimanyu memberikan handuk itu. Namun, ia tak lantas melepasnya saat sudah berada di tangan Caca.
“Abi, jangan bercanda, deh! Aku mau mandi dulu!” gertak Caca.
Senyum Abimanyu terlihat aneh di mata Caca. Apalagi saat ini pria itu lebih mendekat. Secepat kilat Abimanyu mendorong pintu itu dan membuat Caca kaget.
“Abi!”
Tak lagi bisa menolak. Caca hanya bisa pasrah saat sang suami menariknya ke bawah shower setelah mengunci pintu. Malam itu merupakan malam terpanjang Caca menghabiskan waktu di dalam kamar mandi.
**
“Iya, Sayang. Aku cuma dikasih izin pulang satu hari, jadi hari ini aku harus balik ke sana.”
Abimanyu menangkup pipi istrinya dengan penuh kelembutan. Bibirnya yang tengah cemberut tampak menggemaskan di mata pria itu.
Sebenarnya Abimanyu juga tidak rela jika harus berpisah lagi dengan istrinya. Namun, harus bagaimana lagi?. Ia juga harus mengikuti aturan yang sudah dibuat oleh teman-teman satu kelompoknya.
Abimanyu memberi kecupan pada kening istrinya. Sedikit lama bibirnya berada di sana sebelum turun ke hidung dan berakhir di bibirnya.
“Kamu jangan sedih gitu dong. Ini kan juga kewajiban aku sebagai mahasiswa. Tahun depan kamu juga bakal ngelakuin hal yang sama,” ucap Abimanyu berusaha menenangkan hati sang istri.
Caca merapatkan tubuhnya pada Abimanyu. Ia menyandarkan kepalanya pada dada sang suami. Ia menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria itu guna menyimpannya di dalam memori kepalanya.
“Tapi janji, ya, harus tetep telepon aku,” ucapnya setelah beberapa saat terdiam di posisi itu.
__ADS_1
“Iya, selagi nggak sibuk aku bakal telepon kamu,” balas Abimanyu seraya mencium puncak kepala Caca dengan penuh kehangatan.
Setelah itu keduanya turun untuk sarapan bersama keluarga mereka. Caca sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya pada Abimanyu.
Pemandangan itu mendapatkan cibiran dari Ata si pengganggu. Namun, Caca sama sekali tak memedulikannya.
“Kamu jadi balik ke posko hari ini, Bi?” tanya Jingga setelah kegiatan sarapan mereka selesai.
“Jadi, Ma. Nanti Caca yang anter aku ke stasiun,” jawab Abimanyu seraya mengulas senyum.
Jingga mengangguk. Wanita itu memberikan nasihat agar hati-hati saat dalam perjalanan nanti.
Selama melaksanakan KKN, Abimanyu dan teman-temannya sepakat untuk tidak membawa mobil pribadi. Di sana hanya ada satu mobil pick up yang digunakan untuk mengangkut barang. Namun, karena jaraknya agak jauh, Abimanyu dan beberapa temannya diharuskan naik kereta api menuju ke tempat tersebut.
“Kita berangkat dulu, Yah, Ma,” pamit Abimanyu. Ia menyalami Banyu dan juga Jingga secara bergantian, diikuti oleh istrinya.
“Jangan nangis, Kak,” ledek Ata saat Caca membuka pintu mobilnya.
Gadis itu hanya memutar bola matanya malas. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun saat ini.
**
Rintik hujan mengguyur bumi. Malam itu terasa begitu kelabu bagi seseorang. Dari balik jendela kaca apartemennya ia menyilangkan kaki seraya menatap ke luar.
Suara dering ponsel membangunkan seseorang itu dari lamunannya. Ia pun segera meraih benda pipih itu kemudian menerima telepon yang masuk pada gawainya. Hanya beberapa menit saja ia berbicara dengan seseorang yang jauh di sana. Setelahnya ia hendak kembali mengunci layar, tetapi urung ia lakukan.
Jemarinya tiba-tiba meluncur menuju sebuah galeri foto. Ia menekan salah satu foto seseorang yang ia cintai. Ia usap foto itu beberapa kali, kemudian bergumam, “Kenapa lo lebih milih dua daripada gue?”
Ia tergelak penuh ironi. “Harusnya lo jadi milik gue. Bukan milik dia.”
Pandangannya sama sekali tak lepas dari foto itu. Senyumnya berubah miring dan terlihat licik.
“Dari awal lo itu milik gue, sampai kapan pun lo akan tetep milik gue.”
Senyumnya semakin menyeramkan saat ia kembali berkata, “Dan nggak ada orang yang boleh milikin lo selain gue!”
__ADS_1