Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 108 : Kesedihan


__ADS_3

“Cepet buka pintu ini!” teriak Abimanyu kala ia dan semuanya telah berada di depan pintu kamar yang mungkin saja ada Caca di dalamnya.


Emosi Abimanyu benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi. Ia terus saja memaki petugas hotel yang tengah membuka pintu kamar tersebut. Hingga saat pintu itu terbuka dan Abimanyu masuk ke dalam sana, seluruh emosinya semakin tak terkendali melihat Dean berbaring di samping istrinya.


“Bajingan!”


Abimanyu berlari dan menarik Dean dari samping istrinya. Ia memukuli Dean dengan membabi buta. Abimanyu seolah lupa bahwa lelaki itu adalah sepupunya. Tanpa peduli Dean yang tak berpakaian sama sekali Abimanyu meninju wajah Dean berulang kali. Ia bahkan menendang perut Dean hingga pria itu tersungkur tak berdaya.


Tidak ada perlawanan sedikit pun dari Dean. Pria itu terlalu terkejut dengan kedatangan Abimanyu dan keluarganya.


Geriyo segera berlari menahan Abimanyu yang sudah tidak terkendali. Pria itu menarik tubuh sang adik yang sedikit lebih besar darinya. Ia berusaha sekuat tenaga menarik adiknya menjauh.


“Abi, dia bisa mati kalau lo kayak gini!” teriak Geriyo. Nyalinya tiba-tiba ciut saat Abimanyu berteriak di depan wajahnya.


“Gue nggak peduli!”


Namun, Geriyo segera mengambil kembali kesadarannya dan meminta Abimanyu untuk tidak lagi memukuli Dean. Geriyo menatap ke arah tempat tidur, ia terkejut melihat Caca yang meringkuk dengan tangis yang tertahan.


“Bi, lo harus bawa Caca keluar dari sini!”


Seperti sebuah sihir. Abimanyu menolehkan kepalanya pada tempat tidur. Ia lupa, kedatangannya kemari untuk menyelamatkan istrinya, bukan untuk memukuli bajingan ini.


Abimanyu menghempaskan tubuh Dean. Ia mendekati istrinya yang sedang menangis tanpa suara.


Di sudut lain, Banyu hanya bisa mengepalkan tangannya. Ia menahan diri untuk tidak ikut memukuli bajingan yang telah menodai putrinya. Namun, dalam hatinya ia berjanji tidak akan memaafkan pria itu sebelum dia mendapatkan ganjarannya.


**


Air mata Abimanyu luruh saat melihat istrinya yang tidak mengenakan pakaian sama sekali. Tubuhnya hanya tertutup selimut. Caca membuang muka seolah enggan menatapnya. Namun, Abimanyu tahu Caca sedang menangis dalam diamnya.


Abimanyu memeluk tubuh sang istri. Ia bisa merasakan gadis itu bergetar hebat. Abimanyu ikut menangis karenanya.


Abimanyu bukan menangis karena istrinya telah disentuh oleh pria lain. Ia sedih dan menyesal karena Caca mengalami hal buruk ini. Semua ini pasti bagai mimpi buruk untuk Caca.


“Maaf,” lirih Caca menggumam. Ia tak mampu menatap Abimanyu. Ia terlalu malu karena sudah disentuh oleh pria selain suaminya.


Kepala Abimanyu menggeleng. Dekapannya semakin erat. Ia semakin tak kuasa menahan air matanya. Ia benar-benar menyesal karena terlambat menyelamatkan istrinya. Caca pasti ketakutan sejak tadi.


Andai saja kemarin ia tidak ceroboh dengan menyimpan tas kecilnya yang berisi ponsel dan kartu kependudukan. Mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi. Abimanyu tidak tahu harus berbuat apalagi saat ini. Otaknya hanya berpikir untuk membunuh Dean yang telah berani menyentuh istrinya.


Di luar kamar hotel tersebut Geriyo menyeret tubuh Dean yang hanya mengenakan handuk saja. Ia tidak peduli bagaimana pandangan orang. Saat ini ia hanya ingin membawa Dean ke rumah ayahnya dan menghukum pria brengsek itu.


Di dalam mobil Banyu tak bisa menahan laju air matanya meskipun saat ini ia bersama besannya. Hati Banyu terasa sangat sakit melihat putrinya diperkosa. Mati-matian ia menahan diri untuk tidak menembak Dean dengan pistol yang sudah ia bawa sejak tadi. Ia benar-benar menyesal tidak bisa menjaga putrinya dengan baik.


Banyu menolehkan kepala saat Arjuna mengusap bahunya. Ia tersenyum getir sambil berkata, “Maaf saya terlalu cengeng jika menyangkut putri saya.” Banyu menyeka air matanya dengan jari telunjuk.


“Tidak apa-apa, Pak. Saya pun merasakan hal yang sama seperti Anda. Caca juga putri saya,” balas Arjuna.

__ADS_1


“Saya sudah menghubungi orang tua Dean untuk datang ke rumah saya. Nanti kita bicarakan lagi apa yang patut kita berikan kepada keponakan saya itu,” imbuh Arjuna seraya memulas senyum.


Setelahnya tak ada lagi percakapan di antara mereka. Banyu lebih memilih menatap jalan raya dan air matanya kembali jatuh meskipun ia berusaha untuk menahannya.


**


Geriyo mendorong tubuh Dean hingga tersungkur di atas lantai ruang tamu rumahnya. Semua orang yang ada di sana tampak terkejut melihat perlakuan Geriyo yang bertindak kasar pada sepupunya.


“Ada apa ini?” Celin berdiri dan menghampiri putranya yang hanya mengenakan handuk di bagian pinggangnya.


“Riyo, kenapa kamu mendorong Dean seperti itu. Dan kenapa dia tidak memakai pakaian?” tanya Celin emosi. Wanita itu menyentuh pipi putra semata wayangnya. Sudut bibir putranya tampak berdarah dan ia semakin tajam menatap Geriyo.


“Riyo, siapa yang memukuli Dean seperti ini?”


Dean seperti tertampar saat melihat kekhawatiran pada wajah ibunya. Wanita itu begitu peduli padanya. Wanita itu sangat menyayanginya, tetapi ia justru melakukan tindakan bodoh yang pasti akan mengecewakan wanita itu.


“Riyo jawab tante!” sentak Celin saat Geriyo sama sekali tidak memberi jawaban.


“Tante ingin tahu kenapa anak Tante tidak berpakaian? Tante juga ingin tahu kenapa wajah Dean babak belur? Dan Tante ingin tahu kenapa aku memperlakukan Dean seperti itu? Tante ingin tahu?”


Geriyo seperti lupa akan tata krama dengan menatap tajam tantenya. Dada pria itu naik turun menahan gejolak emosi yang sejak tadi telah terkumpul di benaknya.


“Tentu saja tante ingin tahu siapa yang tega melukai anak tante!” balas Celin tak kalah tajam.


“Anak kesayangan tante ini baru saja dipukul oleh Abi–”


“Abi? Kenapa Abi memukul sepupunya sendiri?”


Celin tampak terkejut. Begitu pula dengan Kean, ayah Dean. Pria itu berdiri dan hendak menampar putranya. Namun, teriakan seseorang dari arah belakang menghentikan langkahnya.


“Bangsat!”


Langkah Ata melebar dan hendak memberikan pukulan pada Dean. Namun, Dio bisa dengan mudah menahan lengan remaja itu.


“Lepasin gue bangsat!”


Ata memberontak. Ia menarik lengannya dari cengkeraman tangan Dio.


“Biar gue habisin bajingan itu! Lepasin gue!” Ata berteriak seperti kesetanan. Ia benar-benar tak terima mendengar kakaknya dilecehkan oleh lelaki biadab itu.


“Ta, mukulin dia nggak akan nyelesain masalah,” tutur Dio menenangkan. Remaja itu juga marah mendengar kakak iparnya diperkosa oleh sepupunya sendiri. Namun, ia bisa berpikir lebih jernih daripada Ata.


“Gue nggak peduli. Gue cuma pengen bajingan ini mati!” teriak Ata tak terkendali.


“Ata,” tegur Jingga dengan suara bergetar. Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada Ata jika sampai Ata memukul Dean. Meskipun hatinya terasa nyeri mendengar putrinya dilecehkan.


Putra ke dua Jingga dan Banyu itu terdiam seketika. Ia tahu ibunya pasti juga terluka mendengar berita ini, tetapi wanita itu justru memilih untuk diam sementara waktu. Ata yakin, kedua orang tuanya pasti akan menghukum Dean sesuai ganjarannya.

__ADS_1


Dean sendiri hanya menundukkan kepala. Benaknya tiba-tiba merasa menyesal karena telah bertindak sangat bodoh. Iri kepada Abimanyu dan rasa cintanya pada Caca yang menyelimuti hatinya membuatnya gelap mata.


Namun, Dean baru tersadar. Ada sosok ibunya yang selalu ada untuknya, yang seharusnya ia jaga martabatnya, tetapi ia justru mengecewakan wanita itu dengan tindakan bodohnya. Bahkan saat ini wanita itu mengusap sudut bibirnya dengan air mata mengalir pada pipinya.


“Benar apa kata Riyo, Sayang?” tanya wanita itu dengan suara tercekat.


Dean tak sanggup menatap mata ibunya. Kepalanya semakin menunduk dalam. Semakin tak sanggup menatap kekecewaan pada wanita yang telah melahirkannya.


Tak kuasa Celin menahan rasa kecewa, wanita itu pun beranjak, berjalan menuju sang suami dan memeluknya erat.


“Ma,”


Nanar Dean menatap ibunya. Rasa penyesalan itu semakin menjadi. Ia yakin tak akan ada lagi yang akan membelanya setelah ini.


“Kamu harus dihukum sesuai dengan perbuatan kamu, Dean,” ucap Kean dengan suara dingin.


Pria itu juga menunjukkan raut wajah yang sama kecewanya pada sang putra. Jika saja tidak ada Celin, mungkin ia sudah menampar putranya berkali-kali. Apa yang Dean lakukan sama sekali tidak ia benarkan. Ia tidak akan membela Dean jika Caca menjebloskan Dean ke penjara. Bahkan ia akan mendukung keponakannya.


Beberapa saat kemudian Banyu dan Arjuna tiba. Keduanya lantas duduk bersama seluruh keluarga yang ada di sana untuk memutuskan apa yang akan mereka lakukan pada Dean.


Sesekali Jingga mengusap lengan sang suami. Dirinya dan Banyu sama-sama terluka atas apa yang baru saja menimpa putri mereka.


“Saya tidak akan melepaskan Dean begitu saja meskipun dia adalah keponakan Pak Arjuna dan Ibu Nabila,” ucap Banyu dengan suara yang begitu dalam.


“Saya akan menjebloskan Dean ke penjara,” imbuhnya dengan pandangan kosong.


“Saya tidak akan menahan Anda untuk melaporkan Dean ke polisi, Pak Banyu. Dengan senang hati saya akan membawa putra saya ke sana dan memintanya untuk melaporkan diri.” Kean membalas ucapan Banyu dengan sungguh-sungguh. Tak ada sedikit pun keraguan dari pria itu. Ia seolah tak peduli dengan citranya di masa depan jika Dean benar-benar dipenjara.


Di tengah percakapan tersebut. Celin meminta maaf pada Banyu dan Jingga atas kesalahan putranya, meskipun ia tidak yakin mereka akan memaafkan putranya.


Arjuna meminta Kean dan Celin untuk menginap di rumahnya beserta Dean. Mereka akan membawa Dean ke kantor polisi besok pagi, dan ia tidak ingin Dean melarikan diri. Sebab itu juga, sebelum Banyu dan keluarganya berpamitan Arjuna mengunci Dean di kamar tamu.


“Pikirkan semua kesalahan kamu Dean! Besok kamu harus melaporkan diri di kantor polisi!” pesan Arjuna pada keponakannya sebelum mengunci pintu.


Kamar itu tidak terdapat jendela sama sekali. Hanya ada ventilasi kecil agar tetap ada udara masuk. Sehingga, Dean tidak akan mungkin bisa melarikan diri.


Di tempat lain,


Abimanyu membawa Caca ke dalam rumah Banyu dalam gendongannya. Ia membaringkan tubuh Caca yang sudah tak berdaya ke atas tempat tidur. Tangannya menarik tubuh Caca untuk merapat padanya. Namun, Caca justru mendorong tubuhnya dengan lemah.


“Bi, a-aku ....” Caca terisak. “Aku udah nggak suci ... aku udah nggak suci lagi. Ka-kamu ... kamu jangan deket-deket aku. A-aku–”


“Hei, Sayang. Jangan ngomong gitu,” tukas Abimanyu.


Dengan isak tangis yang semakin tak bisa dibendung Caca kembali berucap dengan suara lemah. “Ba-bagaimana jika Ki-kita bercerai saja, Bi. Aku terlalu kotor untuk kamu. Aku nggak pantes buat kamu.”


Netra Abimanyu membulat, tetapi ia tak lantas menjawab. Pria itu justru semakin mempererat dekapannya.

__ADS_1


“Jangan bicara seperti itu. Mau seperti apa pun keadaan kamu, aku akan tetap ada di samping kamu. Aku nggak akan pergi dari hidup kamu, dan kamu tidak boleh meninggalkan aku.”


Caca semakin terisak. Air matanya mengalir semakin deras. Membasahi bagian depan kaus Abimanyu. Ia dapat merasakan cinta dan kehangatan dari dekapan pria di hadapannya ini. Caca tak tahu lagi, apakah harus bersyukur atau bersedih saat ini.


__ADS_2