
Pukul delapan malam Abimanyu dan adik-adiknya sampai di vila milik sang ayah. Pemuda itu menghentikan laju mobilnya setelah tiba di halaman vila tersebut.
Keenam orang itu keluar dari mobil. Mereka disambut oleh seorang wanita dan seorang pria yang usianya diperkirakan sudah memasuki kepala lima. Kedua orang itu merupakan pasangan suami istri yang ditugaskan untuk membersihkan vila tersebut. Mereka juga yang melayani beberapa orang yang pernah menyewa vila itu.
“Ini Pak Trio dan Mbok Isah, mereka ini yang bakal bantu-bantu kita di sini. Kalau kalian butuh apa-apa bisa manggil Mbok Isah. Nggak perlu sungkan anggep aja rumah sendiri,” ucap Abimanyu memperkenalkan kedua orang itu.
Pak Trio dan Mbok Isah tersenyum ramah kepada Caca dan adik-adiknya yang tentu saja belum mengenal mereka. Setelah memperkenalkan diri secara pribadi dan memberitahu apa tugas mereka, Mbok Isah mengajak keenam orang itu untuk segera masuk. Cuaca di sana yang terbilang bersuhu rendah membuat keenam orang itu cukup bisa merasakan dinginnya malam.
“Kemarin kata Pak Arjuna kamar di lantai dua yang pintu warna hitam khusus untuk Mas Abi sama istrinya. Kalau untuk Mas Dio dan yang lain bisa pakai kamar yang lain, bisa pilih kamar yang di lantai bawah atau lantai dua sekalian nggak papa. Semua kamar di sini sudah saya bersihkan,” ucap Mbok Isah kala mereka sudah masuk ke dalam vila.
“Kamar buat Bang Abi tu kamar yang paling luas, ya Mbok?” tanya Dio seraya mengingat-ingat kamar yang ada di vila sang ayah.
Dio tentu tidak asing dengan tempat ini. Ia dan keluarganya sering berlibur ke tempat ini, sehingga ia tahu seluk beluk vila tersebut.
Mbok Isah mengangguk membenarkan. “Iya, Mas. Kamar itu yang paling luas,” jawabnya kemudian.
Dio berdecak. “Enak banget lo dapet kamar paling luas,” protesnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada mengisyaratkan akan rasa kesalnya.
“Lo mau tukeran kamar? Boleh, asal kalian betah aja kalau malem ini ada suara yang bikin kalian risi.” Abimanyu menaikkan sebelah sudut bibirnya saat melihat kerutan halus pada kening Dio.
Mbok Isah yang paham pun berdeham. Wanita itu tersenyum penuh arti, kemudian menjelaskan alasan kenapa Arjuna meminta kamar itu ditempati putra ke tiganya.
“Kamar yang itu kedap suara, Mas. Jadi, kalau Mas Abi sama istrinya mau–”
“Udah, Mbok. Jangan dijelasin! Udah paham aku,” tukas Dio seraya mengibaskan kedua tangannya di depan dada.
Abimanyu menampilkan seringai kemenangannya pada sang adik. Ia sudah sangat hafal dengan adik bungsunya itu. Dio tidak pernah mau kalah dengan sang kakak. Dio memang tipe orang yang mudah iri, tetapi tidak sampai memusuhi.
Mbok Isah dan Pak Trio mengantar Dio, Ata, Bia, dan Mika untuk memilih kamar. Sedangkan Abimanyu dan Caca sudah naik ke kamar mereka yang tadi Mbok Isah sebutkan.
“Kamu sama Dio nggak berubah, ya,” ucap Caca sesaat setalah Abimanyu meletakkan koper mereka di sudut kamar.
__ADS_1
Caca mendudukkan dirinya di tepi ranjang seraya menatap seluruh dekorasi kamar tersebut. Lalu, tatapannya beralih pada senyum sang suami yang terkembang saat menghampirinya.
“Aku sama Dio emang kayak gitu dari dulu. Mungkin cuma akhir-akhir ini jarang ngobrol karena aku pulangnya malem,” jawab Abimanyu.
Abimanyu mengulurkan tangannya pada sang istri. Caca yang tak paham dengan apa yang Abimanyu inginkan hanya menatap tangan itu. Hingga akhirnya Abimanyu meraih tangan Caca, lalu menariknya berdiri. Pemuda itu lantas membawa Caca menuju balkon kamar. Meskipun belum pernah menempati kamar ini, Abimanyu tahu bahwa pemandangan dari balkon ini begitu indah. Baik di siang maupun malam hari.
“Dingin nggak?” tanya Abimanyu saat mereka berdiri bersisian di sana.
Caca mengangguk tanpa menatap suaminya. Ia terpaku dengan kecantikan langit malam yang jarang sekali ia dapatkan di tempat tinggalnya. Namun, kekagumannya harus terjeda saat merasakan Abimanyu memeluknya dari belakang. Caca tersentak kaget, kemudian memukul lengan Abimanyu yang mengitari pinggangnya.
“Biar nggak dingin lagi,” ucap Abimanyu memberi alasan. Senyumnya selalu berhasil meluluhkan Caca agar tidak marah.
“Kamu suka nggak?” tanya Abimanyu setelah keheningan menyapa mereka beberapa saat.
“Suka, tempatnya sejuk. Langitnya juga cerah banget malam ini. Mendukung banget,” jawab Caca. Senyumnya tersungging begitu saja. Menambah kadar kecantikan yang Caca miliki.
Abimanyu meletakkan dagunya di bahu Caca. Tinggi tubuh mereka yang terlampau jauh membuat Abimanyu harus membungkuk. Abimanyu pun tak mempermasalahkannya dan justru semakin menikmati kedekatan mereka.
“Makasih, ya, Ca. Kamu udah nerima aku sebagai suami kamu,” ucap Abimanyu tiba-tiba. Pemuda itu memejamkan matanya saat tangan mungil Caca menyentuh rahangnya.
“Kamu godain aku, ya?”
Senyum Abimanyu yang tercetak dengan netra tertutup membuat Caca bingung.
“Godain apa?” tanyanya kemudian.
“Tumben banget kamu cium aku duluan. Kamu ngodein aku, ya?” tanya Abimanyu dengan nada jahil.
Caca memukul kembali lengan Abimanyu yang masih setia di pinggangnya.
“Apa sih, Bi. Nggak papa kan kalau aku cium suami aku sendiri?”
__ADS_1
“Iya, nggak papa, kok.” Sebuah seringai kembali tercetak di bibir Abimanyu. Sesaat kemudian ia kembali menegakkan tubuhnya, kemudian melepaskan pinggang Caca untuk segera mengangkat tubuh gadis itu dengan kedua tangannya.
“Abiii!” pekik Caca. Netra gadis itu melebar. Tak segan-segan Caca memukul dada Abimanyu untuk melampiaskan kekesalannya.
“Ngagetin tahu nggak!” hardik Caca.
Abimanyu sama sekali tidak merasa bersalah. Ia justru kembali tersenyum sembari mengambil langkah memasuki kamar. Dengan satu kakinya Abimanyu menutup pintu balkon. Kemudian, membawa sang istri menuju tempat tidur.
Tanpa harus mengatakan apa yang diinginkan pemuda itu Caca sudah tahu maksud dan tujuannya. Ia sudah memasrahkan diri dengan apa yang akan Abimanyu lakukan padanya malam ini.
Suhu dingin di tempat itu membuat mereka justru terpacu untuk menciptakan kehangatan mereka sendiri. Keduanya sama sekali tak memedulikan adik-adik mereka yang saat ini sedang berkumpul di lantai bawah dan sebenarnya sedang menunggu mereka.
“Kak Abi sama Kak Caca ke mana sih, kok nggak turun-turun,” gerutu Bia.
Beberapa kali Bia menatap ke arah tangga, tetapi sepasang suami-istri itu tidak muncul juga. Ia ingin meminta kunci mobil pada sang kakak, karena beberapa camilan yang sengaja ia bawa dari rumah masih tertinggal di dalam mobil. Hanya ada beberapa bungkus camilan saja yang ia bawa masuk ke dalam rumah dan saat ini sudah ia buka separuhnya.
“Ngapain sih nyariin mereka berdua? Mereka pasti lagi berduan di kamar,” celetuk Dio sambil memainkan ponselnya.
“Camilan aku masih di dalam mobil, Kak,” rengek Bia membuat kakaknya menggelengkan kepala.
“Kenapa tadi nggak lo bawa sekalian sih, Bi?” tanya Ata kesal.
“Kak Mika nih, lupa nggak ngambil yang dibagasi,” ucap Bia menyalahkan.
“Lah, kok gue sih?” balas Mika tak terima. “Mana gue inget jajan lo, Bi. Yang butuh kan lo, bukan gue,” imbuh Mika tak mau disalahkan.
Dio dan Ata saling pandang. Mereka sudah menebak hal kecil seperti ini pasti akan terjadi. Mereka sudah hafal dengan perangai Bia yang cukup manja.
“Udah deh, Bi. Makan aja yang ada dulu. Tadi lo juga udah makan kan di mobil? Jajannya besok lagi aja,” saran Ata pada sang adik. Ia berusaha menyabarkan dirinya untuk menghadapi Bia.
Bia hanya mencebik. Bagi seorang Bia, hidup tanpa camilan bagaikan pohon yang tidak pernah disiram air.
__ADS_1
**
Haloha, maaf baru update. Jangan lupa like dan komen, ya🥰