Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 81 : Ternyata!


__ADS_3

“Dean? Crystal?”


Caca mencoba untuk biasa saja melihat keberadaan Dean dan juga Crystal. Ia tidak merasakan apa pun saat ini, meskipun Crystal bergelayut manja pada mantan kekasihnya. Caca hanya sedikit bingung tentang hubungan mereka. Jika kedua manusia itu dekat dari mereka SMA, lantas kenapa Dean tidak memperkenalkannya kepada Crystal saat masih pacaran dulu?.


Caca berusaha menepis rasa penasaran itu. Bagaimanapun juga hubungannya dengan Dean sudah berakhir. Ia tidak boleh terlalu penasaran lagi dengan pemuda itu.


Baru saja konsentrasi Caca kembali. Suara dua orang yang sejak tadi ia awasi terdengar begitu dekat di telinganya. Sepertinya mereka duduk tepat di belakang Caca, hingga suara mereka jelas terdengar.


“Sekarang lo harus jujur ke gue, ke mana selama ini lo ngilang?”


Pertanyaan Crystal membuat Caca mulai menajamkan telinga. Masa bodoh jika ia dikatakan menguping, yang terpenting ia bisa tahu apa jawaban Dean.


Dean tersenyum. Pemuda itu belum juga menjawab, justru memanggil pelayan. Ia memesan beberapa makanan yang ia tahu kesukaan Crystal. Setelah pelayan pergi, Dean mulai mengangkat suara.


“Gue ngilang ke tempat yang jauh,” jawab Dean seraya tersenyum geli. Melihat Crystal menarik matanya membuat Dean semakin geli.


“Yang bener aja, De. Gara-gara lo ngilang, si Caca itu jadi ngedeketin Kak Abi tahu nggak?” ucap Crystal kesal.


“Gini ya, Crys. Caca itu nggak deketin Abi–”


“Nah, lo bela dia kan. Udah gue tebak. Jangan mentang-mentang si tukang caper itu pacar lo, lo jadi lupa sama gue,” tukas Crystal.


Caca risi mendengar ucapan Crystal. Sejak kapan ia punya julukan itu? Ingin rasanya Caca berbalik dan mengumpati Crystal jika saja ia tidak ingat di mana ia berada saat ini. Caca pun berusaha menyabarkan diri, dan mulai kembali memasang telinga untuk mendengar apa jawaban mantan kekasihnya.


“Crystal, dengerin gue! Lo simak ini baik-baik. Caca nggak deketin Abi, mereka itu udah nikah.”


“What? Lo lagi bercanda kan?” tanya Crystal dengan mata membulat sempurna.


Dean menggeleng tenang.


“Nggak, nggak mungkin.” Kepala Crystal menggeleng frustrasi. Gadis itu menatap Dean penuh emosi.


“Lo itu pacarnya Caca, dan dia nikah sama Kak Abi? Nggak mungkin, De. Gue masih inget lo jauhin gue karena lo pacaran sama dia. Nggak mungkin lo relain Caca nikah sama Kak Abi, dan lebih nggak mungkin lagi Kak Abi nikahin cewek itu. Lo pasti bercanda kan?”


Crystal sama sekali tidak memercayai setiap perkataan sahabatnya itu. Baginya Abimanyu dan Caca tidak mungkin menikah, mereka tidak pernah akur sebelumnya. Crystal tetap menolak percaya meskipun ia tahu akhir-akhir ini Abimanyu dan Caca memang cukup dekat.


“Crys, lo tahu kan dari dulu gue suka sama lo?”


Deg


Dada Caca serasa diremas dari luar. Apa yang baru saja Dean katakan seperti sebuah tamparan untuknya. Bahkan kalimat berikutnya yang Dean ucapkan terasa seperti sebuah hantaman besar untuk Caca.

__ADS_1


“Gue pacaran sama dia bukan karena gue cinta sama Caca. Gue Cuma mau balesin dendam lo ke dia.”


Dean menggenggam tangan Crystal.


“Lo dulu pernah bilang kalau Caca selalu rebut cowok yang lo suka di klub basket kalian. Di sini, sebagai sahabat baik lo dan sebagai orang yang cinta sama lo, gue balesin dendam lo ke dia. Gue sengaja pacarin dia dan ngajakin dia nikah, supaya gue bisa ninggalin dia di hari pernikahan gue sama dia.”


Bagai petir di siang hari. Hati Caca hancur mendengar pengakuan Dean. Ternyata penantiannya selama ini sia-sia. Ia yang selalu mencoba untuk menerima Dean dan memaafkan laki-laki itu ternyata telah melakukan hal yang salah. Tangan Caca terkepal kuat menahan segala amarah yang hampir mencapai ubun-ubunnya.


“Dua bulan ini gue pergi ke luar kota untuk ninggalin dia, biar dia tahu rasanya ditinggal orang yang dia suka. Seperti apa yang lo rasain, Crys. Gue nglakuin semua ini demi lo. Dan untuk kenapa gue tetep nyari dia setelah gue kembali, agar nggak ada yang curiga. Gue–”


Byur


Kalimat Dean terputus manakala Caca menyiramkan segelas jus ke wajahnya.


“Heh! Apa-apaan lo?” sentak Crystal tak terima. Gadis itu beranjak, menatap nyalang pada seseorang yang sejak tadi ia bicarakan.


Caca beralih tatap kepada Crystal yang berdiri tepat di sampingnya. Tatapan tajam Caca seperti sebuah pedang yang siap membelah siapa saja.


“Gue nggak ada urusan sama, lo!” Caca mengangkat jari telunjuknya di depan wajah Crystal.


Dean membersihkan wajahnya dengan tisu, sebelum kemudian balik menatap Caca.


“Bu–”


“Stop panggil gue kayak gitu!” Suara Caca terdengar meninggi. Matanya menyiratkan rasa kecewa yang begitu mendalam.


“Sekarang lo puas kan lihat gue kayak gini? Lo puas kan?” teriak Caca sambil menunjuk-nunjuk Dean.


Caca tidak peduli jika hampir semua orang yang ada di sana memperhatikannya. Tatapannya dan Dean bertemu. Semakin membakar amarah dalam dirinya.


“Salah gue apa, De? Salah gue apa? Hah? Gue selalu ngasih apa yang lo minta. Gue juga nggak pernah ngekang, lo. Tapi, kenapa lo sejahat ini ke gue?”


Caca berusaha menahan emosinya. Namun, rasanya tetap gagal saat lagi-lagi ia menatap wajah mantan kekasihnya.


Kepala Caca menggeleng. Tawa ironinya kembali terdengar. Menertawakan dirinya sendiri yang ternyata begitu bodoh. Selama ini ternyata ia hanya ditipu. Kata cinta yang dulu selalu Dean sematkan dalam setiap percakapan mereka ternyata hanya siasat untuk menjebaknya.


Caca menyesal, sangat menyesal, karena tidak mendengarkan pesan ayahnya sebelum hari pernikahannya. Caca tidak menyangka, hidupnya akan sedramatis ini.


“Gue bener-bener nggak nyangka lo bisa setega ini ke gue, De. Lo jahat! Bajingan! Bangsat! Pengecut!” maki Caca tanpa ampun.


Tidak ada yang berani menghentikan Caca. Semua karyawan tahu, gadis itu merupakan putri pemilik tempat mereka bekerja.

__ADS_1


“Dan untuk lo!” Caca kembali menunjuk Crystal.


“Gue nggak pernah ngrebut cowok yang lo suka, atau ngrebut cowok yang lagi deket sama, lo!”


Amarah dalam diri Caca masih belum mengendur. Dadanya bahkan naik turun tak menentu. Gadis itu menahan desakan air mata yang mungkin akan keluar jika berkedip sekali saja. Caca tidak ingin mereka terlihat menang, karena telah berhasil menghancurkannya.


Crystal dan Dean sama sekali tak menjawab ucapan Caca. Mereka terbeku melihat emosi Caca yang meluap tanpa ada yang menghentikannya.


“Ca, lo bisa tenang dulu?”


Dean mengamati sekitar. Semua orang yang ada di sana menatap mereka. Lebih tepatnya menatap dirinya.


“Tenang lo bilang? Menurut lo gue masih bisa tenang setelah apa yang lo lakuin ke gue sama Abi?”


“Ca, gue–”


“Udah-udah, gue nggak mau denger apa-apa lagi dari mulut busuk lo itu.”


“Ngomong apa, lo?” sahut Crystal.


“Lo juga diem!” tunjuk Caca pada Crystal.


Kemudian Caca memanggil salah seorang karyawan kepercayaan ayahnya.


“Mas Yuda, kamu inget wajah mereka berdua dan blacklist mereka dari semua restoran dan kafe ayah. Aku nggak mau dua manusia laknat ini menginjakkan kaki di tempat makan ayah,” pinta Caca yang langsung diangguki oleh laki-laki bernama Yuda itu.


“Lo–”


“Lo bisa diem? Ini restoran gue dan gue nggak izinin kalian masuk ke wilayah gue lagi. Kalian inget itu!” Sorot mata Caca masih belum juga surut akan amarahnya.


Gadis itu terlalu sakit hati untuk menoleransi mereka berdua. Apa yang Dean lakukan sudah tidak bisa lagi ditoleransi. Meskipun ia tidak akan melaporkan apa yang Dean lakukan kepada siapa saja, bukan berarti Caca memaafkan mereka secara cuma-cuma.


“Dan untuk lo, De. Gue ucapin terima kasih, karena berkat lo gue bisa dapet suami yang cinta sama gue dengan tulus. Nggak kayak lo yang ternyata busuk banget!”


**


“Maaf, aku sempet curiga sama kamu. Maaf, Bi, maaf,” ucap Caca kembali membenamkan kepalanya di dada Abimanyu.


Sejak tadi, Caca memikirkan kesalahan apa yang pernah ia lakukan terhadap Dean, sehingga pemuda itu begitu jahat padanya. Caca ingin menangis, tetapi tidak bisa. Namun, saat melihat Abimanyu, ia justru melihat semua kesalahan yang pernah ia perbuat pada pemuda itu. Caca menyesal, sangat menyesal. Tangis Caca tak bisa terbendung lagi saat merasakan betapa hangatnya pelukan Abimanyu. Caca semakin merasa bersalah atas segala tindakan yang pernah ia lakukan pada pemuda itu.


Dalam hatinya Caca berjanji tidak akan lagi memikirkan mantan kekasihnya dan akan fokus pada suaminya. Tempat yang tepat untuk kembali. Seseorang yang sejatinya sejak dulu sudah ada dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2