
Langkah kecil Caca mulai menuruni anak tangga. Perempuan yang kini rambutnya diikat rendah itu terus saja menundukkan kepala. Entah kenapa rasanya sangat malu dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Saat ia yang tak sengaja terjatuh dan menindih Abimanyu.
Kulit wajah Caca kembali terasa hangat, mengingat saat dirinya berusaha bangun, tetapi Abimanyu malah menahan tubuhnya.
Netra mereka saling tatap untuk waktu yang lama. Caca bisa merasakan detak jantung Abimanyu yang berdetak sangat cepat. Sama seperti detak jantungnya saat itu.
Caca menggelengkan kepala. Ia merutuki dirinya yang tadi terhanyut dengan apa yang Abimanyu lakukan padanya. Pemuda itu meraih tengkuknya dan menempelkan bibirnya pada bibir Caca.
Netra Caca melebar secara spontan, ia terlalu terkejut dengan apa yang Abimanyu lakukan saat itu. Pemuda itu menciumnya?. Pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepala Caca sebelum akhirnya ia hanyut dalam ciuman lembut yang Abimanyu berikan padanya. Dan mereka baru selesai saat Dio tiba-tiba saja mengetuk pintu kamarnya dan mengabarkan bahwa ayah dan ibu mereka sudah menunggu untuk makan malam.
Caca yang sudah sadar pun berusaha berdiri. Ia menatap ke segala arah karena salah tingkah. Tanpa memarahi atau mendengar penjelasan dari Abimanyu, Caca segera beranjak dan membuka pintu kamarnya untuk kemudian turun bersama sang adik ipar.
Saat makan malam dimulai, Abimanyu yang biasanya agak banyak bicara kini berubah diam. Bahkan saat sang istri mengambilkan menu untuknya, Abimanyu hanya bergumam lirih mengucapkan kata terima kasih.
Pemuda itu merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan beberapa saat yang lalu. Entah kenapa ia bisa kelepasan seperti itu. Sekarang ia sama sekali tak berani memandang wajah sang istri yang sudah pasti marah padanya.
__ADS_1
Abimanyu berjanji akan meminta maaf pada sang istri setelah ini.
**
“Ca,” panggil Abimanyu saat ia dan Caca berada di dapur berdua.
Caca hanya berdeham menjawabnya. Ia pun sama tak beraninya menatap Abimanyu.
“Maaf, ya, aku tadi ....” Abimanyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Menatap sekitar berharap tidak ada siapa pun selain mereka. “A-aku khilaf,” lanjutnya dengan canggung.
Caca pun sama canggungnya dengan Abimanyu. Ia juga tidak tahu harus bereaksi apa. Nyatanya ia tidak marah pada Abimanyu. Dalam lubuk hati kecilnya ia tak mempermasalahkan perbuatan pemuda itu.
Hingga akhirnya hanya anggukan kecil yang Caca lemparkan sebagai jawaban. Langkahnya segera beralih menuju pintu keluar. Ia tidak bisa berlama-lama di dekat Abimanyu. Caca terlalu gugup setelah kejadian itu. Bahkan kini detak jantungnya berdentam hebat saat Abimanyu kembali membahas kejadian tadi.
Namun, hal itu ternyata membuat Abimanyu salah paham. Abimanyu pikir Caca marah padanya. Ia pun mengikuti langkah sang istri dan saat mereka sudah berada di dalam kamar Abimanyu mencekal pergelangan tangan Caca. Menghentikan langkah kaki gadis itu seketika.
__ADS_1
“Apa sih, Bi?” tanya Caca tanpa menatap Abimanyu. Ia tidak kesal, hanya salah tingkah. Tidak tahu harus berbuat apa.
“Kamu marah sama aku?” tanya Abimanyu. Kentara sekali penyesalan dari pemuda itu membuat Caca jadi luluh.
“Enggak, Bi.” Caca masih enggan menatap suaminya. Entahlah, ia merasa sangat malu.
“Enggaknya kayak nggak ikhlas gitu.”
Caca berdecak. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Abimanyu. Ia memasang senyum selebar mungkin sembari berkata, “Aku nggak marah Bang Abimanyu.”
Tanpa sadar Abimanyu beralih menggenggam telapak tangan kecil Caca. Ia ikut tersenyum lebar, meskipun ia tahu senyum Caca adalah keterpaksaan. Namun, Abimanyu tetap suka.
“Kalau nggak marah berarti aku boleh dong cium kamu lagi?”
“Eh?”
__ADS_1
Caca tak bisa melayangkan protes, karena Abimanyu tiba-tiba menyergap bibirnya lagi.