
Caca mematikan kompor setelah menyelesaikan masakannya. Ia benar-benar memasak makan malam untuk Abimanyu setelah sampai di rumah. Sesudah meletakkan semua hasil masakannya di atas meja makan, Caca bergegas ke kamar untuk memanggil Abimanyu dan juga adik iparnya. Ia mengajak mereka makan bersama.
“Ayah sama bunda sering banget ke luar kota, ya?” tanya Caca di sela makan malam mereka.
Dio mengiyakan pertanyaan sang kakak ipar. “Dulu lebih sering lagi, Kak. Cuma nggak sama bunda. Soalnya di rumah kalau malem nggak ada mbak, jadi nggak ada yang masak. Kalau sekarang kan ada Kak Caca, jadi ayah sama bunda nggak perlu khawatir kalau pergi berdua.”
Caca mengangguk mengerti. Ia pun melanjutkan makan malamnya. Mereka masih berbincang, membicarakan beberapa hal untuk mengurangi rasa sepi. Di rumah yang sangat besar itu hanya ada mereka bertiga. Para pembantu tidak menginap dan hanya ada dua orang penjaga berada di depan rumah.
**
Embusan napas panjang keluar dari bibir Caca. Gadis itu mendongak, menatap langit-langit kamarnya. Setelah beberapa detik, ia kembali memandangi ponselnya. Sebuah pesan berupa foto Dean yang tengah disekap membuat Caca gelisah sekaligus dilema. Ia tidak tahu harus berbuat apa, karena saat nomor yang memberikan foto itu telah memblokir nomornya. Ia ingin memberitahu seseorang mengenai ini, tetapi tidak tahu pada siapa. Keluarga Dean seperti tidak peduli lagi pada pemuda itu. Orang tuanya juga pasti tidak akan mau membantu, mengingat Dean yang meninggalkannya pada saat hari pernikahan mereka.
Caca mencoba menenangkan dirinya. Berusaha untuk berpikir lebih tenang. Ia pun mengayunkan langkahnya ke balkon. Tempat di mana biasanya ia menenangkan diri selama tinggal di rumah ini.
Angin malam menerpa wajah Caca. Embusan angin yang cukup dingin ia hiraukan. Ia berusaha tidak lagi mengingat foto tadi, tetapi ternyata sangat sulit. Bayangan tentang Dean mulai kembali menggerayanginya. Ia bingung sendiri harus berbuat apa. Ingin menghubungi nomor si pengirim, tetapi tidak bisa.
Pandangan Caca kosong. Menatap lurus jauh ke depan. Kepalanya berputar-putar ke seluruh penjuru dunia. Ia melamun.
Hingga satu rengkuhan dari belakang tubuhnya membuat Caca kembali ke tempat semula. Ia berdeham pelan. Canggung rasanya mendapati ia dan Abimanyu berada di posisi seperti ini.
“Lagi mikirin aku, ya?” tanya Abimanyu percaya diri.
Senyum kecil Caca terukir. Ia tidak bisa jujur kepada Abimanyu mengenai apa yang tengah ia pikirkan saat ini. Jika sampai Abimanyu tahu, dia pasti akan merasa sakit hati. Caca tidak ingin menyakiti pemuda itu lagi.
“Besok weekend kan?” tanya Abimanyu lagi. Kali ini pria itu menyandarkan dagunya pada bahu sang istri.
__ADS_1
“Iya, kenapa?”
Abimanyu tersenyum. “Berarti nggak masalah dong kalau besok kita bangun kesiangan.”
Kening Caca terlipat. Tak mengerti dengan apa yang ingin Abimanyu bicarakan. Bibir Caca hendak terbuka untuk kembali bertanya. Namun, urung saat Abimanyu tiba-tiba membalik tubuhnya, hingga kini mereka berdiri saling berhadapan.
“Kamu kenapa sih?” tanya Caca. Ia memindai seluruh wajah tampan Abimanyu. Ingin mencari jawabannya sendiri, tetapi sayangnya ia tidak bisa mendapatkan jawaban apa pun.
“Menurut kamu aku ganteng nggak?” Bukannya menjawab Abimanyu justru balik bertanya.
Tawa Caca mengudara seketika. Entah kenapa mendengar Abimanyu bertanya seperti itu membuat perutnya geli.
“Kok malah ketawa?” Tangan Abimanyu yang tadinya memegang besi pinggiran balkon kini beralih melingkar di pinggang istrinya.
“Nggak perlu aku jawab kamu pasti juga udah tahu kalau kamu itu ganteng,” ujar Caca. Entah dorongan dari mana ia melingkarkan lengannya pada leher sang suami.
Netra mereka saling mengunci. Kali ini Abimanyu bisa melihat dirinya di mata sang istri. Apa mungkin Caca sudah menerimanya setelah dia tahu bahwa mereka pernah dekat saat kecil dulu meskipun dalam waktu singkat. Akan tetapi Abimanyu tidak peduli sejak kapan gadisnya ini mulai menerima dirinya. Saat ini yang terpenting Caca mulai bersikap manis dan tidak lagi ketus seperti dulu.
Sebelah tangan Abimanyu menyelipkan rambut Caca ke belakang telinga. Menatap bibir gadis itu membuat hasratnya untuk mencium naik seketika. Ia pun memajukan wajahnya, membidikkan bibirnya tepat pada bibir Caca yang selalu manis saat ia cecap rasanya.
Abimanyu menggerakkan bibirnya. ******* bibir atas dan bawah sang istri dengan sangat lembut. Netranya yang tertutup membuatnya tidak tahu ekspresi seperti apa yang tengah Caca pasang saat ini. Namun, saat ia merasakan sebuah balasan, bibirnya tersenyum. Caca menerimanya.
Tangan Abimanyu semakin merengkuh tubuh mungil sang istri. Menghapus jarak di antara mereka.
Cukup lama mereka saling menautkan bibir, hingga akhirnya mereka saling melepaskan karena pasokan udara semakin menipis. Namun, tidak berselang lama keduanya kembali berciuman.
__ADS_1
Abimanyu memutar tubuhnya. Membawa sang istri menuju ke dalam kamar. Ia terus menggiring tubuh Caca sampai mereka terjatuh di atas tempat tidur dan bibir mereka kembali terlepas.
Mereka saling pandang untuk sejenak. Caca bisa membaca tatapan Abimanyu yang sudah berubah kelabu.
Abimanyu kembali menurunkan kepalanya. Hanya saja, kali ini ia menyasar pada ceruk leher Caca. Beberapa saat berada di sana, Abimanyu kembali menatap mata sang istri yang baru saja terbuka.
“Boleh nggak kalau aku nyentuh kamu?” izin Abimanyu sebelum bertindak lebih jauh. Ia laki-laki normal yang menginginkan seorang wanita. Terlebih ia sudah menikah. Namun, saat mengingat bagaimana hubungan mereka sebelumnya, Abimanyu harus lebih dulu meminta persetujuan.
Caca tampak berpikir. Netranya bergerak liar. Namun, sesaat kemudian ia tersenyum. Ia membelai pipi sang suami dan berkata, “Aku istri kamu, Bi. Kamu bisa melakukan apa saja ke aku, tapi–”
“Tapi apa?” sahut Abimanyu cepat.
“Tapi aku sedang datang bulan sekarang.”
“Ca! Yang bener aja!” protes Abimanyu. Tatapannya berubah kesal.
Caca justru tertawa kecil. “Bener, Bi. Aku baru datang bulan siang tadi. Kalau nggak percaya lihat aja sendiri.”
Jawaban Caca seperti sebuah lelucon yang sangat menyebalkan bagi Abimanyu. Ia mencebikkan bibirnya seperti ingin menangis. Kepalanya pun jatuh di atas bahu Caca. Ia frustrasi sendiri jadinya.
“Aku baru mau nyentuh kamu sekarang loh, Ca. Kenapa justru waktu datang bulan sih,” gerutu Abimanyu tanpa memindahkan posisinya.
Tangan Caca mengusap rambut tebal suaminya. “Sabar, ya. Aku datang bulannya cuma bentar kok. Palingan juga sepuluh hari.”
“Sepuluh hari?”
__ADS_1