Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 39 : Panik


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul dua malam saat Caca membuka matanya. Gadis itu melihat ke arah sang suami yang masih meringkuk dengan selimut membalut seluruh tubuhnya.


Caca mendudukkan diri, kemudian menempelkan punggung tangannya ke kening Abimanyu. Caca terkejut saat ternyata suhu tubuh suaminya masih sama seperti semalam.


“Kok, belum turun sih,” gumam gadis itu dengan panik. Ia bingung harus bagaimana. Padahal sebelum tidur ia sudah memberikan obat pada suaminya. Namun, sepertinya obat itu tidak bekerja sama sekali.


Istri Abimanyu itu kembali mengisi baskom dengan air hangat. Mengganti kompres yang ada di kepala Abimanyu yang sudah mengering entah sejak kapan, mungkin sejak beberapa jam yang lalu. Caca mengumpati dirinya yang malah tertidur dengan nyaman, padahal sang suami sedang sakit seperti itu.


Setelah kembali memasang kompres ke kening suaminya, Caca memutuskan untuk menelepon ibunya. Ia baru ingat kalau Jingga adalah seorang dokter yang pasti tahu apa yang harus ia lakukan.


Ingin rasanya Caca membanting ponselnya sendiri saat panggilan itu belum diangkat oleh ibunya. Ia hampir saja menangis saat suara halo dari seberang telepon itu terdengar.


“Ma,” panggil Caca dengan nada khawatir. Bibirnya sudah bergetar tak keruan.


“Ada apa, Kak? Kok, jam segini telepon mama?” tanya Jingga dengan suara masih terdengar sangat lengket. Jelas saja, wanita itu pasti baru membuka matanya.

__ADS_1


“Ma, A-Abi dari semalem demam. Udah aku kasih obat penurun panas, tapi sampai sekarang belum turun panasnya. Aku harus gimana?” tanya gadis itu putus asa. Caca memang tidak pernah mengurusi orang sakit, karena saat adiknya sakit, sang ibu yang langsung memeriksa mereka. Ia tak perlu repot-repot berpikir obat mana yang pas untuk mereka. Ibunya yang seorang dokter tentu lebih tahu dan tidak mudah panik saat mengalami kejadian seperti ini.


“Loh, kok bisa?” tanya Jingga sedikit terkejut. “Coba kamu tanya ibu mertua kamu. Mungkin Bu Nabila lebih tahu obat mana yang biasa Abi minum saat sakit begini.”


“Tapi, Ma ....” Caca. Menggigit jarinya, rasa khawatir akan terjadi hal buruk menghantui kepalanya. “Aku takut dimarahin bunda,” lanjutnya dengan suara bergetar.


“Kak, Kakak tenang dulu.” Jingga berujar menenangkan. Dari suaranya Jingga bisa tahu sang putri tengah kebingungan. “Duduk dulu biar rileks, oke?” tutur Jingga lagi.


Caca menuruti perintah sang ibu. Ia duduk di samping kaki Abimanyu. Berusaha menenangkan dirinya dengan menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.


“Coba sekarang kamu ke kamar ibu mertua kamu. Nggak usah takut, mama yakin Bu Nabila nggak akan marah.”


“Maaf, Bun. Tadi aku pikir demam Abi bakal turun setelah aku kasih obat,” ucap Caca sedikit gugup. Ia melihat pancaran kekhawatiran dari mertuanya yang begitu besar. Seolah sakitnya Abi adalah kejadian yang sangat buruk.


Nabila tak menjawab permintaan maaf Caca. Wanita itu fokus pada putranya yang saat ini setengah sadar.

__ADS_1


“Abi, bangun. Kita ke rumah sakit, ya?”


Caca masih kebingungan saat ibu mertuanya memutuskan membawa Abimanyu ke rumah sakit. Bukankah demam seperti Abi masih bisa ditangani sendiri?. Gadis itu bertanya pada dirinya sendiri.


“Bun, bukannya Abi masih bisa kita tangani sendiri? Kenapa malah dibawa ke rumah sakit?” tanya Caca saat sang ibu mertua berusaha mendudukkan putranya.


“Kamu ini gimana, sih, Ca? Suami kamu demam sejak semalam sampai sekarang belum reda padahal sudah kamu beri obat, dan kamu masih tanya kenapa?” bentak wanita itu membuat Caca berjengit.


Sesak dada Caca mendengar nada tinggi sang ibu mertua, tetapi perempuan itu berusaha untuk tetap tenang dan tak terpancing dengan keadaan.


“Daripada kamu diam aja dan banyak tanya, mending kamu bantuin bunda bawa Abi ke bawah!” suruh wanita itu masih dengan volume suara yang tidak bisa dibilang rendah.


Dengan menahan rasa takutnya Caca membawa Abimanyu turun bersama Dio yang entah sejak kapan berada di kamarnya. Saat sampai di ruang tamu, Caca mendengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah itu.


Arjuna yang berada di balik kemudi meminta Caca segera membawa Abimanyu masuk ke dalam mobil tersebut. Pria paruh baya itu berkata Abimanyu memerlukan penanganan dokter dengan segera.

__ADS_1


***


Lanjut nggak?🤣


__ADS_2