
Setelah beberapa waktu rehat, akhirnya Caca kembali ke rutinitasnya mengurus kafe sang ayah. Sejak tiga hari yang lalu setelah jam kuliah selesai Caca pergi ke kafe seperti biasa. Mengecek perkembangan usaha milik sang ayah setelah ia tinggal beberapa waktu.
Namun, karena sudah lama tak beraktivitas Caca merasa sering lelah setelah sampai rumah. Saat kuliah pun ia juga beberapa kali hampir tertidur. Caca merasa aneh dengan kondisi tubuhnya saat ini. Belum pernah sekali pun ia merasa sangat lelah seperti sekarang ini meskipun dulu ia juga sering begadang dan beraktivitas dari pagi sampai malam hari.
“Capek banget, lo?” tanya Sofi saat Caca menolak ajakannya menonton sebuah film terbaru.
“Lumayan. Tapi bukan karena itu gue nggak bisa ikut kalian. Tadi Abi ngajak gue keluar juga soalnya. Udah terlanjur janji,” jawab Caca dengan raut muka menyesal.
“Lain kali gue pasti ikut,” imbuhnya setelah beberapa saat terdiam.
“Terus, kalau Caca nggak ikut, nanti gue cuma jadi obat nyamuk dong?” Setelah terdiam cukup lama Maya bersuara. Matanya menatap bergantian antara Caca dan Sofi yang duduk bersebelahan.
“Nggak mau gue kalau gitu!”
“Ih, May. Temenin dong! Katanya lo mau ditraktir, gimana sih?”
“Nggak! Nggak jadi deh. Entar lo pasti jalan berdua sama Kak Jeje terus gue di belakang lo kayak bodyguard. Ogah-ogah!”
Sofi terus membujuk Maya untuk ikut dengannya. Setelah berbulan-bulan dekat, Sofi dan kakak tingkatnya yang biasa dipanggil Jeje itu akhirnya jadian. Meskipun banyak sekali lika-liku yang harus dihadapi apalagi Jeje sempat menyukai Caca.
Hari ini Sofi ingin mentraktir kedua sahabatnya itu bersama dengan sang kekasih. Namun, ternyata Caca tidak bisa dan Maya bersikeras untuk tidak ikut jika hanya bertiga saja. Sampai akhirnya Jeje menghampiri mereka. Pada akhirnya Sofi harus kembali menjadwalkan jalan-jalan mereka lagi, karena Maya benar-benar tidak mau ikut dengan alasan tidak ingin menjadi obat nyamuk.
**
Tak ada lagi jadwal kuliah karena telah memasuki semester tua. Abimanyu lebih sering menghabiskan harinya di kantor sang ayah, sekalian untuk melakukan penelitian skripsinya.
Seperti janjinya pada Caca tadi malam, ia akan membawa sang istri tercinta jalan-jalan. Abimanyu menunggu Caca di tempat parkir kampus.
Abimanyu rindu rasanya membonceng Caca menggunakan motor. Ia ingin menikmati waktu berdua bersama Caca dengan saling bercengkerama di atas kendaraan roda duanya.
“Kita mau ke mana?” tanya Caca saat memasang helm di kepalanya.
“Cari parfum dulu, ya. Parfum aku habis. Nanti setelah itu terserah mau ke mana aja,” jawab Abimanyu, kemudian menyalakan motornya.
“Beneran?” tanya Caca memastikan.
“Iya, kapan aku bohong sama kamu.” Setelah menjawab Abimanyu memutar motornya. Kemudian, meminta Caca untuk segera naik.
Namun, agaknya perempuan berkaca mata itu masih takut berada di tempat yang sangat ramai. Perubahan raut mukanya yang begitu kentara menyadarkan Abimanyu akan hal itu. Lelaki itu segera menggenggam telapak tangan Caca dengan lembut. Sorot matanya memancarkan ketenangan.
“Udah nggak papa, kan ada aku. Kamu nggak perlu takut berada di mana pun. Di sana nggak ada seorang pun yang kenal kamu maupun aku. Nggak ada yang tahu dengan apa yang pernah kamu alami.”
Nanar Caca menatap Abimanyu. Masih ada sedikit sorot ketakutan dalam pandangannya dan semua itu membuat Abimanyu semakin iba.
__ADS_1
“Ayo naik. Nanti keburu malem. Jangan pikirin orang yang nggak tahu apa-apa. Oke?”
Senyum Abimanyu bagaikan hipnotis untuk Caca. Perempuan itu mengangguk dan menuruti permintaan Abimanyu untuk segera naik ke atas motor. Hanya perlu beberapa menit mereka berdua sudah membelah jalan raya yang begitu padat.
Caca mengeratkan dekapannya pada Abimanyu. Seolah mencari pegangan untuk jiwanya yang masih sedikit terguncang. Tubuh hangat lelaki itu selalu berhasil menenangkan hati Caca. Sentuhan tangan Abimanyu di atas punggung tangannya yang melingkar di pinggang semakin membuat Caca merasa dunianya kembali baik-baik saja.
**
Setelah memarkirkan motornya di basement mal, Abimanyu mengajak Caca naik ke lantai tiga. Di mana toko parfum favoritnya berada. Selama dari tempat parkir sampai masuk toko tak sekali pun Abimanyu melepaskan genggaman tangannya dari Caca.
Caca cukup merasa tenang saat bertemu dengan banyaknya manusia di dalam pusat perbelanjaan tersebut. Seperti saat bersama Bia kemarin Caca juga menanamkan kembali pada hatinya bahwa mereka tak mengenalnya dan tak tahu kejadian apa yang pernah menimpanya.
Namun, ketenangan Caca kembali terusik kala mereka masuk ke toko parfum. Keningnya berkerut mencium aroma parfum di mana-mana. Sebelah tangannya yang menggantung bebas menutup hidungnya yang bangir degan jari telunjuk. Tanpa ia sadari tangan sebelahnya semakin erat menggenggam tangan sang suami.
Abimanyu yang menyadari akan hal itu sontak menelengkan kepala dari jejeran parfum yang ada di hadapannya. Kedua alisnya naik mendapati lipatan halus di dahi Caca.
“Kamu kenapa?” tanya Abimanyu setengah berbisik.
Caca menoleh kaget saat Abimanyu bertanya. Ia menggelengkan kepala tanpa bersuara. Perutnya tiba-tiba saja mual mencium aroma parfum yang sedang dipegang Abimanyu.
“Bi, jangan ambil yang itu. Baunya nggak enak,” ujar Caca.
“Ini parfum yang biasa aku pakai lo, Ca.” Abimanyu menjawab sembari meletakkan kembali botol parfum tadi.
“Aku tunggu di luar aja, ya. Mual banget aku di sini,” kata Caca.
“Kamu belum makan?” tanya Abimanyu kemudian.
Caca tampak berpikir. Mengingat kapan ia terakhir makan, dan ya Caca lupa tidak makan siang karena mengejar tugas yang lama ia tinggalkan.
Perempuan itu pun menggeleng lemah. Ia bisa melihat Abimanyu menghela napasnya lelah. Tanpa banyak kata, lelaki itu menyeret Caca menuju foodcourt yang ada di lantai dua.
“Kita makan dulu, setelah itu cari parfum lagi,” ucap Abimanyu kala mereka turun menggunakan tangga berjalan.
Caca pun menurut. Ia memang merasa agak lapar sejak tadi. Mungkin saja itu penyebab dari rasa mualnya.
Setelah makan Abimanyu kembali mengajak Caca ke toko parfum tadi. Namun, lagi-lagi Caca merasa mual saat masuk ke tempat tersebut. Perutnya terasa diaduk dan ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya saat itu juga. Akan tetapi Caca memilih untuk menahannya dan berkata pada sang suami bahwa ia tidak apa-apa.
Dengan penuh kebingungan Abimanyu akhirnya mengalah dan meminta Caca untuk menunggu di luar saja. Ia tidak ingin egois dan berakhir menyiksa sang istri. Ia pun berjanji tidak akan lama di sana.
Keluar dari toko, Abimanyu melihat Caca sudah lebih baik. Ia pun mengajak perempuan itu untuk jalan-jalan sebentar. Mengingat tadi Caca tidak membawa jaket dan telat makan membuatnya berpikir mungkin Caca sedang masuk angin.
Tanpa persetujuan sang istri Abimanyu membelikan Caca sebuah jaket yang cukup tebal. Awalnya Caca menolak karena sudah memiliki beberapa koleksi jaket, tetapi Abimanyu tetap bersikukuh dan Caca tak lagi bisa menolak.
__ADS_1
“Lain kali harus selalu bawa jaket meskipun naik mobil dan jangan sampai telat makan. Aku nggak mau kamu sakit, Sayang.”
Caca tertawa kecil. Tangannya mengusap pipi Abimanyu sambil menjawab,
“Iya Abimanyu Sayang. Maaf udah nyusahin kamu. Lain kali nggak akan gitu lagi.”
Perhatian Abimanyu membuat hati Caca menghangat di tengah dinginnya kota. Pria yang dulu sangat ia benci itu ternyata sekarang begitu perhatian padanya. Caca benar-benar bersyukur memiliki Abimanyu di dalam hidupnya. Dalam hatinya Caca berjanji tidak akan mengkhianati Abimanyu sampai mati. Ia akan selalu setia pada Abimanyu dan selalu patuh pada setiap ucapannya.
Keesokan paginya Caca dan seluruh keluarganya sarapan bersama. Putri sulung Banyu Biru itu tengah makan dengan lahap saat sang ibu memberikan segelas susu putih yang masih hangat.
Kepulan asap dari susu tersebut menyeruak masuk ke indra penciuman Caca dan tiba-tiba saja membuat perempuan itu sangat mual. Caca beranjak berdiri dan berlari menuju kamar mandi yang tak jauh dari sana. Rasanya makanan yang tadinya masuk ke dalam perutnya ingin segera dikeluarkan lagi. Lambungnya terasa diaduk dan kepalanya mendadak pusing.
Di dalam kamar mandi Caca memuntahkan semua isi perutnya. Abimanyu pun dengan sigap memijat tengkuk Caca dan memegangi rambut panjangnya yang tergerai.
Kedua orang tua Caca sekaligus adiknya tampak terheran-heran. Mereka bahkan langsung menghentikan aktivitas sarapannya untuk melihat kondisi Caca.
“Caca kenapa, Bi?” tanya Banyu khawatir.
Setelah mendudukkan Caca di kursi meja makan Abimanyu menjawab pertanyaan sang ayah mertua.
“Nggak tahu, Yah. Mungkin masuk angin. Semalem Caca–”
Ucapan Abimanyu terpotong saat Caca kembali berlari ke kamar mandi dan kembali berusaha memuntahkan isi perutnya. Namun, tidak ada apa-apa yang keluar dari tubuhnya karena telah ia keluarkan beberapa menit yang lalu.
“Anter aku ke ruang tengah aja. Aku nggak tahan sama bau susunya,” ucap Caca lemah.
Bukannya duduk Caca justru membaringkan tubuhnya di sofa. Sang ayah dan ibu menghampirinya sambil membawa air hangat untuk diminum.
Setelah sedikit tenang, Abimanyu menceritakan bahwa semalam Caca keluar dengannya tanpa menggunakan jaket dan mereka naik motor. Tak lupa Abimanyu juga mengatakan bahwa Caca sempat telat makan. Ia kembali berspekulasi bahwa sang istri mungkin masuk angin.
“Mama periksa ya, Kak?”
Jingga mulai memeriksa tubuh Caca, terutama di bagian perutnya. Keningnya mengernyit saat menemukan beberapa kejanggalan pada kondisi Caca.
“Kamu sering pusing akhir-akhir ini?” tanya Jingga lagi.
Caca tidak tahu dari mana ibunya tahu. Ia tak menceritakan keluhannya beberapa hari ini karena merasa bisa menanganinya sendiri. Namun, perempuan itu tetap mengangguk untuk memberi jawaban.
“Mungkin karena sering begadang si, Ma.” Jawaban Caca tampaknya tak membuat Jingga puas.
“Kapan terakhir kamu datang bulan?”
Caca tampak berpikir keras. Sepertinya bulan ini tamu bulanannya tidak datang, hingga ia bahkan lupa. Namun, hal itu justru menimbulkan sedikit ketakutan pada hatinya.
__ADS_1
“Kalian nggak jadi nunda punya anak sekarang?”