
Brak!
“Lo jangan asal ngomong, ya!”
Caca mengangkat telunjuknya di depan wajah Aldi. Emosinya meluap begitu saja mendengar tuduhan pemuda itu.
“Ca, tenang.” Abimanyu meminta Caca duduk kembali. Beberapa pelanggan yang ada di kafe itu tentunya menatap ke arah mereka setelah mendengar gebrakan meja dan suara lantang Caca.
“Tenang kamu bilang? Dia nuduh aku, Bi! Gimana aku bisa tenang!” Caca berseru tak terima. Tatapan tajam yang tadi ia layangkan pada Aldi kini berpindah pada suaminya sendiri.
“Iya, aku tahu. Tapi, kamu duduk dulu. Jangan kayak gini. Malu dilihat pelanggan kamu.”
Seketika Caca mengedarkan pandangan. Memang benar, beberapa orang menatap ke arahnya. Ia yang tak ingin kembali menjadi pusat perhatian meminta Abimanyu membawa kedua temannya itu ke dalam ruangannya.
Caca mendudukkan dirinya di sofa diikuti Abimanyu yang duduk di sampingnya. Lalu, Aldi dan Aldo dipersilakan duduk di seberang mereka.
Tatapan Caca masih sama, tajam dan kesal. Mengarah lurus pada Aldi atau Aldo. Entah, Caca tidak tahu siapa yang telah menuduhnya tadi.
“Di!” Abimanyu menatap Aldi dengan sorot tajam.
__ADS_1
“Caca nggak bersalah dalam hal ini. Dia juga korban,” jelas Abimanyu. Ia juga tak suka mendengar tuduhan Aldi pada istrinya.
“Lo belain cewek ini, Bi? Yang jelas-jelas udah buat hidup lo berantakan secara tiba-tiba. Lo waras–”
“Jelas gue belain Caca, karena gue tahu kronologi kejadiannya,” tukas Abimanyu. Ia berusaha tidak meninggikan suaranya, takut membuat keadaan semakin runyam.
“Bi, bisa aja dia sama Dean sekongkol. Lo tahu kan, gimana Dean ke lo? Dan sikap cewek ini dulu ke lo? Dia ini ceweknya Dean, Bi!.” Aldi yang memang tahu bagaimana kehidupan Abimanyu mulai menyangkut pautkannya, dan membuat Abimanyu terdiam.
Abimanyu tahu maksud Aldi. Tak akan pernah Abi lupa, bahwa Dean sejak dulu tidak suka padanya. Pemuda yang berusia satu tahun di bawahnya itu sejak kecil selalu iri terhadapnya. Abi juga tahu alasannya. Karena Keanu lebih sering memanjakannya dibanding Dean. Bahkan saat sudah memasuki usia remaja, Kean sering kali membandingkan antara dirinya dan Dean. Sehingga kobaran api kebencian dari Dean semakin besar setiap waktu.
Abimanyu juga tak bisa memungkiri apabila Caca juga terlibat seperti yang Aldi katakan. Kedekatan dua orang itu masih terekam jelas dalam benak Abimanyu.
Selama berpacaran, mereka selalu memperlihatkan kemesraan di muka umum. Dan rasa tidak suka Caca padanya bisa juga menjadi alasan hingga Abimanyu berada di titik ini sekarang.
Namun, satu hal yang Abimanyu ingat. Derai air mata Caca yang kala itu tak bisa ditutupi dan bagaimana cara gadis itu berusaha menolak apa yang ayahnya usulkan membuat Abimanyu percaya, bahwa Caca tak terlibat sama sekali dalam kejadian kala itu. Ia berusaha untuk meyakinkan diri, bahwa Caca juga korban, atas tindakan Dean yang tidak ia ketahu apa motifnya.
“Heh! Kuping, lo, nggak denger tadi Abi cerita apa? Kuping, lo, nggak denger?”
Mendengar suara Caca dengan volume sangat tinggi membuat Abimanyu tersadar dari apa yang baru saja ia pikirkan.
__ADS_1
“Di dunia ini nggak ada maling yang mau ngaku!” Aldi membalas teriakan Caca yang membuatnya semakin emosi.
“Di, Caca nggak salah!” Abimanyu kembali berusaha menyangkal apa yang Aldi tuduhkan.
“Gue setuju sama, Abi,” sahut Aldo yang sejak tadi hanya diam saja.
“Kita nggak tahu gimana kebenarannya saat itu, Di. Jadi, lo juga nggak bisa nuduh Caca begitu aja. Lagi pula, kalau Caca sama cowoknya itu mau jebak Abi, nggak mungkin dengan cara nikahin Caca sama Abi.”
Aldo memang sosok yang lebih tenang dari Aldi. Pemuda itu selalu memilih untuk mendengarkan satu penjelasan dengan detail terlebih dahulu sebelum mengomentari. Menurutnya, apa yang seseorang sampaikan terkadang membutuhkan waktu untuk dicerna. Sehingga Aldo lebih banyak diam saat Abimanyu menjelaskan kronologi kejadian yang membuat Abimanyu bisa menikah dengan Caca, yang notabenenya seseorang yang sejak dulu tak suka pada pemuda itu.
“Tuh, denger! Kembaran lo aja bisa ngerti!” seru Caca lagi menatap Aldi sengit. Ia masih tak terima dituduh yang tidak-tidak oleh pemuda itu.
Gadis itu baru bisa tenang saat Abimanyu mengusap bahunya dan memintanya untuk menyudahi perdebatan mereka.
“Saat itu emang darurat banget. Jadi, gue nggak ngasih tahu siapa-siapa tentang gue dan Caca. Kami juga sepakat untuk nyembunyiin status ini. Dari kalian juga tentunya. Tapi, berhubung kalian udah tahu, jadi ya ....” Abimanyu menatap Caca sekilas. “Ya, nggak papa. Tapi, gue minta kalian nggak nyebarin dulu masalah ini ke orang lain. Takutnya nanti ada yang mikir enggak-enggak ke gue dan Caca.”
Si kembar itu menganggukkan kepala mengerti, meski sebenarnya Aldi masih tak terima status Abimanyu kini sudah tak lagi lajang dan memiliki istri seperti Caca.
“Sorry, untuk tudahan kembaran gue ke lo, Ca. Dan gue ucapin selamat atas pernikahan kalian. Gue sama Aldi balik dulu. Ada kerjaan yang nggak bisa gue tinggal lama-lama.” Aldo beranjak berdiri. Ia menepuk bahu Abimanyu dua kali sebelum keluar dari ruangan Caca.
__ADS_1
Aldi dan Caca masih sempat melemparkan tatapan emosi saat Aldi berpamitan pada Abimanyu.
“Dasar gila!” umpat Caca tanpa suara.