
Brak!
Abimanyu memejamkan matanya mendengar suara pintu mobil yang ditutup secara kasar. Pemuda itu menggaruk kepalanya bingung, menatap punggung Caca yang kini mulai menjauh.
Sejak tadi gadis itu tidak berucap apa pun di dalam mobil. Mereka sama-sama diam, karena Abimanyu sendiri tidak tahu harus membahas apa. Istrinya sejak tadi terlihat emosi, bahkan Caca tak menatapnya sama sekali saat masih dalam perjalanan.
Abimanyu masih kebingungan dengan apa yang membuat Caca merasa sangat kesal. Gadis itu seperti remaja yang tengah cemburu.
Tunggu!
Atau mungkin ... Abimanyu ingat percakapannya dan Caca saat masih berada di kamar mandi perempuan tadi. Seketika Abimanyu tersenyum. Apa mungkin Caca cemburu jika ia dekat dengan Crystal?, pikir Abimanyu.
Ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu saat Crystal terang-terangan meminta dirinya untuk mengantarkannya pulang dan Caca dengan tingkahnya yang cukup menjengkelkan membawanya pergi dari sana. Bahkan Caca menggandeng tangannya erat sampai mereka masuk ke gedung fakultas mereka.
“Ah, jadi seperti itu jika Caca cemburu,” gumam Abimanyu seraya memulas senyum.
Sementara itu di dalam kamar, Caca asyik menggerutu. Ia melemparkan tasnya ke atas sofa tanpa peduli ada macbook di dalamnya. Tubuhnya pun terduduk begitu saja seraya melepas sepatu ketsnya.
“Setiap hari ngajak berangkat sama pulang bareng, tapi masih aja keganjenan sama cewek lain. Pakai kedok sahabat masa kecil lagi. Cih!”
Caca beranjak, meletakkan sepatunya ke rak, kemudian masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Selama di dalam kamar mandi pun Caca masih terus menggerutu. Ia kesal saat Abimanyu berkata tidak keberatan jika Crystal mengganggunya.
“Apa dia lupa kalau sudah punya istri?” gumam Caca lagi.
Setelah memakai seluruh pakaiannya, Caca keluar dari kamar mandi kemudian duduk di kursi balkon. Ia mengangkat kakinya ke atas meja. Tangannya asyik mengusap layar ponsel, menyelam ke dunia maya guna mengurangi kebosanan.
Entah kenapa Caca merasa tidak ada gunanya ia bermain ponsel, karena nyatanya ia semakin merasa bosan. Sudah hampir tiga puluh menit sejak ia masuk ke kamar, tetapi Abimanyu tak kunjung terlihat. Caca berpikir Abimanyu marah kepadanya atau mungkin bosan dengannya.
Huh? Bosan?
__ADS_1
Bahkan mereka tidak sedekat itu hingga salah satunya akan merasa bosan. Namun, pikiran Caca masih bergelayut pada suaminya yang kini entah berada di mana dan sedang apa.
“Ngapain sih gue mikirin dia?” Caca berdecak kesal. Ia menurunkan kakinya dari atas meja, hendak pergi dari sana. Namun, seseorang dari belakang menghentikan gerakannya.
“Kamu marah, ya?”
Suara Abimanyu di samping telinga Caca, membuat gadis itu gugup seketika. Apalagi saat ini, pemuda yang berstatus sebagai suaminya itu tengah memeluknya dari belakang. Lengan Abimanyu melingkar di lehernya dan kepala pemuda itu berada tepat di samping telinganya. Bersandar pada bahunya.
Tak ingin terlena dengan perlakuan Abimanyu. Caca pun menggerakkan bahunya agar kepala Abimanyu menyingkir.
“Apaan sih, Bi!” sentaknya. “Pergi sana, ngapain nemplok aku!” sinis Caca.
Abimanyu terkekeh. Bukannya pergi, Abimanyu justru semakin mendekatkan kepalanya pada sang istri. Tanpa aba-aba dan izin, Abimanyu mencium pipi Caca yang berubah merah seketika.
“Kamu kan istri aku, wajar dong kalau aku nemplok kamu,” jawabnya tanpa merasa bersalah.
Terdiam. Rasanya Caca tak mampu menggerakkan tubuhnya setalah kecupan kecil dari Abimanyu mampir di pipinya. Tubuhnya berubah kaku dan tak bisa lagi melakukan apa pun selain berkedip.
“Kamu marah, ya?” tanya Abimanyu lagi.
Caca menggeleng, berusaha menyadarkan dirinya dari apa yang terjadi saat ini. Tanpa menjawab pertanyaan sang suami, Caca menyuruhnya untuk menyingkir.
“Aku nggak akan pergi sebelum kamu jawab pertanyaan dari aku,” balas Abimanyu semakin mengeratkan dekapannya. Ia memasang senyum menggoda meskipun sang istri menatapnya sinis.
Caca berdesis. Ia menatap lurus ke depan sembari bersedekap dada.
“Oh jadi kamu seneng kalau aku peluk kamu kayak gini?” goda Abimanyu.
“Nggak lah!” sahut Caca malas.
__ADS_1
Abimanyu tersenyum, ia kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada istrinya. Namun, gadis itu tetap diam, hingga satu pertanyaan tiba-tiba terlintas di kepalanya.
“Aku tahu, kamu nggak marah sama aku. Tapi ....” Abimanyu tersenyum menggoda. “Kamu cemburu kan sama Crystal?”
Abimanyu meringis saat Caca tiba-tiba mencubit lengannya. Sontak Abimanyu melepaskan dekapannya. Ia mengusap-usap lengannya yang terasa sangat perih saat ini.
“Rasain!” Caca menatap nyalang pada Abimanyu sebelum meninggalkan pemuda itu di balkon.
“Eh!”
Abimanyu meraih lengan sang istri. Menghadapkan tubuh gadis itu padanya.
“Apa sih–”
Netra Caca melebar kala Abimanyu mengecup bibirnya tiba-tiba. Caca masih terdiam, meskipun Abimanyu telah melepaskannya. Gadis itu terlihat linglung dan baru tersadar saat Abimanyu kembali menciumnya.
“Ab–”
Teriakan Caca terputus. Abimanyu ******* bibirnya dengan rakus, tetapi juga lembut. Caca berusaha mendorong tubuh suaminya dan berakhir sia-sia. Jelas Caca kalah tenaga dan ia pun mulai terlena.
Abimanyu menggiring tubuh ramping Caca masuk ke dalam kamar melewati pintu balkon. Mendapati Caca mulai merespons membuat Abimanyu kian bersemangat. Hingga tubuh Caca berakhir jatuh di atas tempat tidur dengan posisi terlentang dan Abimanyu menindih tubuhnya.
Beberapa saat mereka saling memagut. Tanpa sadar Caca melingkarkan tangannya pada tengkuk Abimanyu. Namun, saat Caca sudah mulai menerima perlakuannya, Abimanyu justru mengakhiri ciuman mereka.
“Jangan marah lagi. Aku nggak akan deket-deket Crystal kalau kamu emang nggak suka,” ucapnya seraya mengusap bibir Caca yang basah karenanya.
**
Halo, maaf baru update lagi setelah sekian lama. Kesibukan aku di RL emang lagi nggak bisa diganggu. Ini pun aku posisi lagi KKN. Doain lancar ya gaes dan semoga tetep bisa nulis.
__ADS_1
Salam cinta dari An Nisa❤