
Abimanyu dan Caca berdiri saling berhadapan. Mereka saling melempar senyum. Binar bahagia begitu kentara di mata Abimanyu.
Rasanya Abimanyu ingin memeluk istrinya saat itu juga. Namun, sepertinya tidak mungkin. Terlebih lagi di sana ada banyak orang berkeliaran.
“Kok, nggak bilang aku kalau kamu mau ke sini?” tanya Abimanyu dengan semangat. Rasa lelah yang sempat hinggap, tiba-tiba menguap begitu saja.
“Kejutan dong,” jawab Caca sambil terus mengukir senyumnya. Padahal, jika bukan karena Sofi, Caca tidak ada pikiran untuk datang ke sana.
Abimanyu tak bisa mengalihkan pandangannya dari Caca. Gadis itu seperti magnet yang selalu menariknya di mana saja mereka berada. Rasanya Abimanyu enggan kembali bergabung dengan teman-temannya dan lebih ingin untuk tetap di sana bersama istrinya.
“Udah sana, kamu balik sama temen-temen kamu lagi,” suruh Caca. Ditatap seperti itu oleh Abimanyu membuatnya malu sendiri. Detak jantungnya pun jadi tak keruan.
Abimanyu menggeleng. “Males, mau sama kamu aja,” jawab Abimanyu membuat Caca ikut menggelengkan kepala.
“Abi, kamu kan nanti harus main lagi.”
“Masih nanti, Ca. Sekarang aku mau sama kamu dulu,” tukas Abimanyu.
Caca melirik pada se-gerombolan teman-teman Abimanyu. Mereka semua menatap ke arah dirinya dan Abimanyu. Tak ingin mereka semakin menunggu suaminya, Caca pun kembali memaksa Abimanyu untuk kembali bersama mereka.
“Bi, kamu udah ditunggu sama temen-temen kamu.” Caca menunjuk teman-teman Abimanyu. “Nanti kita pulang bareng, aku bawa mobil, kok,” bujuk Caca.
Awalnya Abimanyu tetap menolak perintah Caca. Namun, Caca tetap memaksanya. Bahkan Caca mengancam Abimanyu tidak akan mau berbicara dengan pemuda itu jika Abimanyu tidak kembali bersama teman-temannya. Hingga akhirnya Abimanyu termakan ancaman tersebut dan kembali bersama teman-temannya dengan langkah yang sangat berat.
Setelah melambaikan tangan pada suaminya, Caca bergegas pergi dari sana. Ia kembali duduk bersama kedua sahabatnya. Namun, sebelum itu Caca membeli tiga botol air mineral dan beberapa kantung makanan ringan untuk menemani mereka selama menonton pertandingan nanti.
**
“Jadi, gosip itu bener, Bi?” tanya salah seorang teman Abimanyu bernama Tomi. Mereka berjalan bersisian memasuki ruangan yang digunakan untuk istirahat.
__ADS_1
Abimanyu menoleh. “Gosip apaan?” tanyanya tidak mengerti. Ia memang tidak terlalu mengikuti berita-berita yang ada di kampusnya.
“Gosip yang katanya lo ada hubungan sama Caca,” balas Tomi. Ia hanya berusaha memastikan apa yang ia dengar beberapa hari ini benar adanya atau tidak.
“Itu bukan gosip,” sahut Aldi. Pemuda itu memasukkan tangannya ke dalam kantung celana. Ia berjalan mundur di depan Tomi.
“Terus?” tanya semua yang ada di sana secara bersamaan.
Aldi tertawa kecil. “Itu fakta,” jawabnya lugas.
Semua yang ada di sana sontak membulatkan mata tak percaya. Sebagian besar dari mereka satu fakultas dengan Abimanyu dan Caca. Sehingga mereka tahu bagaimana hubungan antara Abimanyu dan Caca sebelumnya.
“Beneran, Bi?” tanya salah satu teman Abimanyu yang lain. Ia masih tidak percaya jika pernyataan itu tidak keluar dari bibir Abimanyu sendiri.
Abimanyu mengangguk dengan senyum terukir di bibirnya. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa dengan tegas mengakui bahwa Caca adalah miliknya.
**
Abimanyu menenteng tas ranselnya saat menghampiri Caca. Mereka akan pulang bersama sesuai dengan janji Caca tadi. Gadis itu sudah menunggunya di depan gedung sejak beberapa menit yang lalu.
Senyum Abimanyu merekah melihat Caca sedang berdiri menunggu dirinya. Tanpa melihat sekitar dan meminta izin, Abimanyu mengecup pipi Caca dengan cepat. Sontak saja, Abimanyu mendapat satu pukulan keras pada lengannya, karena telah mengejutkan Caca.
“Abi, malu tahu!” omel Caca. Gadis itu melihat ke arah sekitar. Beruntung tidak ada yang memperhatikan mereka.
Bukannya minta maaf ataupun menyesal, pemuda itu justru tertawa melihat wajah Caca yang mulai bersemu. Gadis itu semakin lucu saat memerah seperti itu. Abimanyu jadi gemas sendiri melihatnya.
“Jangan marah dong, Sayang,” ucap Abimanyu seraya menangkup kedua pipi gadis itu dengan kedua tangannya.
Caca berdecak, kemudian melepaskan tangan Abimanyu dari pipinya. Hari sudah sangat gelap, Caca pun segera menarik Abimanyu menuju mobilnya. Mereka berjalan bersisian dengan tangan saling bertaut.
__ADS_1
“Aku yang nyetir untuk kamu hari ini,” ucap Caca saat Abimanyu meminta kunci mobil padanya.
Abimanyu yang merasa lelah pun hanya bisa pasrah. Tak lupa Abimanyu mengucapkan terima kasih sambil mengusap rambut istrinya. Setelahnya, Abimanyu membuka pintu untuk Caca. Kemudian, ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.
Tak perlu basa-basi lagi. Caca segera melajukan kendaraan roda empatnya. Mereka membelah jalan raya yang mulai sepi pengendara.
**
Abimanyu merebahkan dirinya di atas pangkuan Caca setelah selesai membersihkan diri. Senyumnya terukir sempurna saat Caca membelai kepalanya sambil membaca buku. Abimanyu pun memejamkan mata dan mulai menikmatinya.
Hari ini benar-benar melelahkan. Pertandingan siang tadi sangat menguras tenaga Abimanyu. Bahkan saat ini matanya sudah mulai berat ditambah belaian tangan Caca semakin membuat Abimanyu mengantuk.
Di tengah kesadarannya, Abimanyu bisa mendengar suara Caca memanggilnya. Ia pun berusaha sekuat tenaga membuka matanya lagi dan mulai memasang telinga.
“Bi,”
“Hmm,”
“Besok nginep di rumah Ayah Banyu, yuk!” ajak Caca. Ia menutup bukunya, kemudian meletakkannya di atas nakas.
“Boleh,” jawab Abimanyu seraya mengulas senyum.
“Beneran?” tanya Caca memastikan. Matanya berbinar terang.
“Iya, Sayang,” jawab Abimanyu meyakinkan. Tangannya terulur mengusap pipi Caca.
“Makasih, Abi,” ucap Caca dengan bahagia.
Abimanyu mengangguk, kemudian kembali memejamkan mata.
__ADS_1