Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 87 : Menerima


__ADS_3

Abimanyu menghela napas berat. “Apa Dean laki-laki pertama kamu?”


Caca tersentak kaget dengan pertanyaan suaminya. Ia pun bingung harus menjawab apa.


“Bi”


Sorot mata Caca yang terlihat begitu panik sudah cukup untuk menjawab semua pertanyaan Abimanyu.


“Bi, a-aku minta maaf,” ucap Caca terbata. Gadis itu menyentuhkan tangannya pada pipi Abimanyu. Mengusapnya pelan. Tatapannya memancarkan penyesalan.


Abimanyu meraih telapak tangan Caca. Kemudian, membawanya pergi ke dekat bibirnya untuk ia kecup dengan waktu yang cukup lama. Abimanyu memejamkan matanya. Berusaha untuk mengenyahkan amarahnya yang tiba-tiba ingin meledak.


Mungkin sebagian besar lelaki akan meluapkan emosinya apabila berada dalam posisi Abimanyu saat ini. Jika ditanya apakah Abimanyu kecewa, jawabannya tentu saja iya. Namun, semua telah berlalu, Abimanyu pun tak bisa melakukan apa-apa.


Caca memang salah, tetapi dia tidak bisa dihakimi begitu saja. Mungkin saat itu Caca memang tidak berpikir panjang dan terlalu berpikir positif akan hubungannya dengan Dean.


Abimanyu tidak ingin hal seperti ini menjadi perselisihan di antara dirinya dan Caca. Sehingga Abimanyu memilih untuk menerima dan tidak akan pernah mengungkitnya lagi.


“Abi, aku minta maaf. Aku–”


Ucapan Caca terputus saat Abimanyu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir gadis itu. Caca menatap bingung kepada suaminya yang justru tersenyum saat menatapnya. Bukannya senang, Caca justru takut dengan senyum yang Abimanyu lemparkan padanya. Ia takut akan ada badai setelah adanya ketenangan.


“Aku nggak mau bahas hal ini lagi. Aku cukup tahu aja siapa yang sangat beruntung bisa dapetin kamu untuk pertama kalinya,” ucap Abimanyu membuat Caca ingin menangis.


Caca sangat menyesal dengan apa yang pernah ia lakukan di masa lalu dengan mantan kekasihnya. Jujur saja, dulu Caca memang sangat bodoh telah menyerahkan dirinya pada Dean. Dulu ia pikir Dean benar-benar akan menjadi suaminya. Ia tidak tahu bahwa ternyata Dean hanya menipunya.


Sekarang Caca tahu kenapa Dean dulu memaksa untuk tidur dengan pemuda itu. Sudah pasti untuk semakin membuat Caca terpuruk dengan gagalnya pernikahan mereka. Namun, siapa yang sangka ternyata Abimanyu datang dan menjadi penyelamatnya.


Netra Caca berkaca-kaca saat bertatap mata dengan suaminya. Tatapan hangat nan teduh Abimanyu membuat rasa menyesal dalam diri Caca semakin meronta. Caca semakin ingin menangis saat ini juga.


Dengan penuh kelembutan Abimanyu membawa kepala Caca untuk bersandar di dadanya. Ia mengusap kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang. Ia ingin memberitahu Caca bahwa semua itu bukan lagi masalah untuknya.


“Dulu aku memang menikahi kamu secara terpaksa. Tapi, asal kamu tahu saja. Sekarang aku mencintai kamu secara suka rela.” Abimanyu tersenyum menatap sang istri. “Aku mencintai semua yang ada dalam diri kamu dan bukan cuma cinta sama keperawanan kamu,” imbuhnya.


Mendengar hal itu tangis Caca meledak. Ia menumpahkan segala penyesalan yang ia rasakan dengan tangisannya. Dalam hatinya Caca kembali mengucapkan syukur, karena telah diberikan suami yang memiliki kelapangan hati.


**

__ADS_1


Sinar mentari menerobos masuk melalui pintu balkon yang terbuat dari kaca. Gorden yang semalam lupa untuk ditutup kembali membuat seluruh cahaya matahari membangunkan Caca yang sejak tadi meringkuk di pelukan suaminya.


Setelah semalam Caca menangis di dalam dekapan sang suami, Caca diajak untuk kembali menyelami alam mimpi. Caca memeluk tubuh Abimanyu dengan begitu posesif seolah ia tidak ingin kehilangan pemuda itu setelah fakta yang terbuka dari dirinya.


Caca menelusuri wajah Abimanyu yang masih terlelap. Gadis itu tersenyum manis menatap wajah damai suaminya. Ini memang bukan pemandangan pertama bagi Caca. Namun, Caca tak pernah sekali pun merasa jemu untuk memandang wajah tampan suaminya itu.


Sudah hampir sepuluh menit Caca hanya terdiam menatap suaminya. Hari semakin siang dan Abimanyu tak kunjung membuka matanya. Caca pun berusaha membangunkan Abimanyu dengan mencium pipi pemuda itu beberapa kali, hingga akhirnya Abimanyu menggeliat kegelian.


Berhasil! Abimanyu membuka matanya saat kecupan yang entah ke berapa mendarat di pipinya. Senyum pemuda itu terukir tipis. Bukannya beranjak duduk, Abimanyu justru memiringkan tubuhnya kemudian mendekap erat tubuh istrinya.


“Abi, udah siang,” ucap Caca tanpa berusaha melepaskan dekapan tangan sang suami.


“Cium dulu baru aku bangun,” pinta Abimanyu kembali memejamkan matanya.


“Lah, tadi kan udah aku cium berkali-kali,” balas Caca seraya berdecak.


Abimanyu tak menjawab lagi. Ia hanya memajukan bibirnya beberapa senti. Dapat Abimanyu dengar tawa kecil Caca sebelum ia merasakan benda kenyal yang sudah ia hafal rasanya, menyentuh bibirnya.


“Mandi bareng, ya?” tawar Abimanyu setelah satu kecupan Caca terlepas.


“Nggak, jadi lama nanti,” jawab Caca menolak.


“Nggak, Bi. Besok aja, ya. Sekarang ayah sama mama pasti udah nunggu kita buat sarapan.”


Abimanyu berdecak kesal.


“Besok aja, ya. Kan kita besok mau liburan. Tenaganya disimpan dulu buat besok, oke?”


Caca mengusap punggung Abimanyu dengan sangat lembut. Ia memberikan tatapan menggemaskan, sehingga Abimanyu pun menuruti perintahnya.


Abimanyu meminta Caca untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Ia masih ingin kembali tidur meskipun hanya sebentar.


**


Sarapan pagi di rumah Banyu begitu ramai. Siapa lagi biang keroknya jika bukan putri bungsu keluarga itu.


Bia, si gadis remaja yang masih bersekolah di jenjang menengah pertama itu selalu asyik mengganggu kakaknya yang sedang menikmati sarapan. Gadis itu selalu berceloteh ria, menceritakan apa saja yang pernah ia alami. Gadis manis itu benar-benar cerewet. Mengalahkan burung-burung yang berkicau di pagi hari.

__ADS_1


“Kita berangkatnya nanti sore kan?” tanya Bia membahas tentang liburan mereka ke Bogor nanti.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan gadis itu. Semua sibuk mengunyah sarapan pagi mereka.


“Ih, kok diem semua, sih!” gerutu Bia. Gadis itu menatap kesal kepada semua yang ada di meja makan itu.


“Lo dari tadi ngoceh terus nggak capek apa?” tanya Caca sinis.


“Kak Caca, ih!” Bia paling tidak suka saat sang kakak berkata demikian. Pandangan Caca yang terlihat kesal membuat Bia yakin kakaknya yang satu itu pasti tidak akan menjawab pertanyaannya. Bia pun beralih pada sang kakak ipar dan menanyakan pertanyaannya kembali.


Abimanyu mendongak. Kepalanya mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.


“Iya, kita berangkatnya nanti sore,” jawab Abimanyu. “Kamu udah nyiapin baju-baju yang mau kamu bawa?” tanya Abimanyu penuh perhatian.


“Udah dong. Udah Bia siapin dari semalem. Jadi, nanti tinggal bawa aja,” jawab Bia riang.


“Sip, pinter.” Abimanyu mengacungkan ibu jarinya pada Bia.


Abimanyu memang sangat ramah dengan siapa pun yang jauh lebih muda darinya. Ia yang sejak dulu menginginkan seorang adik perempuan selalu dibuat gemas saat melihat tingkah ceria Bia. Abimanyu bisa merasakan mempunyai seorang adik kecil saat berhadapan dengan gadis itu.


“Dio sudah kamu kabari, Bi?” Kali ini Banyu yang bertanya pada menantunya.


“Udah, Yah. Semalem aku langsung telepon Dio. Aku juga udah sekalian pamit sama ayah sama bunda. Kata ayah kami bisa pakai vila ayah yang ada di sana. Jadi, nggak perlu cari penginapan lagi,” jawab Abimanyu. Ia meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring. Makanannya telah tandas saat Banyu bertanya.


“Syukur kalau udah dapet tempat tinggal sekalian,” timpal Banyu. Pria paruh baya itu tertawa kecil. “Gratis lagi,” imbuhnya membuat sang menantu ikut tertawa.


**


Caca memasukkan beberapa pakaiannya dan pakaian sang suami ke dalam koper. Ia juga memasukkan beberapa benda yang pasti akan mereka butuh selama di sana. Caca masih fokus menata kopernya saat tiba-tiba Abimanyu memeluknya dari belakang.


“Banyak banget yang kamu bawa,” ucap Abimanyu melonggokkan kepalanya untuk melihat barang apa saja yang istrinya bawa.


“Ini kan barang kamu juga,” ujar Caca mengingatkan. Gadis itu tetap melakukan pekerjaannya tanpa terganggu dengan keberadaan Abimanyu.


“Liburan sekalian honeymoon ya ceritanya.” Abimanyu meletakkan dagunya pada bahu Caca yang tertutup kaus.


Caca hanya tertawa kecil menanggapinya. Caca menutup kopernya setelah seluruh barangnya masuk ke sana. Setelah itu Caca memutar tubuhnya menghadap sang suami.

__ADS_1


Caca melingkarkan tangannya di pinggang Abimanyu, kemudian menyandarkan kepalanya di dada pemuda itu. Caca mendengarkan detak jantung Abimanyu yang begitu teratur. Merasakan kehangatan yang ada pada tubuh pemuda itu.


“Makasih, ya Bi. Kamu tetep ada buat aku setelah apa yang aku lakukan ke kamu,” ucap Caca tanpa mengubah posisinya.


__ADS_2