Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Mimpi buruk


__ADS_3

Menjalankan kewajiban sebagai suami pada usia muda tak pernah ada dalam bayangan Abimanyu. Pemuda yang masih berusia dua puluh satu tahun itu tak pernah berpikir untuk menikah muda. Bukan hanya karena belum memiliki kekasih. Dunianya yang masih sangat seru selalu menjadi pertimbangan pemuda itu.


Jika bukan karena ayahnya, mungkin saat ini Abimanyu tak harus duduk di depan komputernya bersama salah seorang karyawan perusahaan itu. Pemuda itu tak gengsi, hanya saja niat untuk bekerja masih belum terkumpul sepenuhnya. Ia masih meragu dengan ilmu dan keterampilannya, yang tentunya masih di bawah rata-rata.


Setelah tadi sempat berdebat dengan sanga kakak pertama, akhirnya Abimanyu bisa meregangkan tubuhnya yang sudah terasa sangat kaku. Pemuda itu menoleh pada seseorang di sampingnya.


“Mas, ini saya udah boleh istirahat belum sih? Capek nih,” keluh Abimanyu pada seseorang yang sejak tadi mengajarinya.


“Boleh, Mas. Kata Pak Riyo, Mas Abi boleh istirahat setelah pekerjaan selesai. Tadi juga sudah ditunggu di ruangan beliau,” ujar Pria itu memberitahu.


Abimanyu melihat jam tangannya sebelum berucap terima kasih pada karyawan tersebut.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Itu berarti Abimanyu telah menatap komputer selama empat jam tanpa jeda, karena ia memulai pada pukul dua siang tadi.


“Bang, bagi makan dong. Laper ini gue,” ucap Abimanyu setelah masuk ke dalam ruangan sang kakak.


“Lebai lo, Bi. Gitu aja laper,” cibir Riyo tanpa memandang sang adik.


Pria berusia dua puluh enam tahun itu melirik adiknya yang tengah mendengkus kesal sembari mendudukkan ... salah, merebahkan diri di sofa ruangannya. Riyo hanya bisa menggeleng melihat kelakuan adik ke tiganya ini.


“Kerjaan gue nggak bisa dikurangi, Bang? Masa hari pertama udah sebanyak itu?” Abimanyu mengeluhkan pekerjaannya yang sejak tadi memang tidak beres-beres.


“Lo belum terbiasa aja, Bi. Entar kalau udah biasa kerjaan segitu jadi biasa.”


“Ya, tapi, Bang ...”


“Lo kalau mau bantah, langsung ke ayah, jangan ke gue.”


“Tapi, Bang ...”


“Bi!”


Abimanyu terdiam melihat sorot mata kakaknya berubah tajam. Ia tahu, itu artinya dirinya tidak boleh lagi membantah.


“Lo tu sekarang udah punya istri, punya tanggung jawab besar. Gue bahkan sempet denger istri lo itu malah udah kerja bantu ayah mertua lo ngurus kafe yang ada di samping kampus lo. Lo nggak malu kalah sama istri lo sendiri?”


**


Langkah lelah membawa Abimanyu masuk ke dalam kamar pribadinya. Kamar yang kini bukan hanya dia yang menempati. Namun, ada seorang gadis cantik yang juga menggunakannya.


Merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Abimanyu menatap langit-langit kamarnya. Mengingat ucapan sang kakak membuat pemuda itu berpikir.


Benar, Caca yang saat ini masih kuliah semester empat saja sudah mulai meniti karier. Apa ia sebagai laki-laki tak akan merasa malu, jika suatu saat nanti ada yang membicarakannya. Apalagi nanti pasti ada yang membandingkannya dengan sang istri.


Abimanyu mengembuskan napas lelah. Susah memang saat ternyata sudah memiliki istri. Jika saja dulu ia tak menyetujui pamannya, mungkin saat ini Abimanyu masih menikmati suasana kafe bersama teman-temannya. Ia masih bisa ikut mengobrol santai bersama para kawan-kawannya, atau sekadar latihan futsal di lapangan kampus.


Lagi dan lagi Abimanyu mengembuskan napas panjang. Rasa menyesal itu terlalu sering menggerogoti pikirannya. Namun, sejenak ia teringat dengan Dean, sepupunya yang tak lain pria yang seharusnya menikah dengan istrinya.


Dalam kepalanya terkadang masih menerka di mana pria itu saat ini. Ingin rasanya Abimanyu menghujani pria tak bertanggungjawab itu dengan bogem mentah. Pria itu benar-benar telah membuatnya susah.

__ADS_1


“Baru pulang juga?”


Terlalu lama melamun membuat Abimanyu tak sadar istrinya telah masuk ke dalam kamar. Gadis itu meletakkan tasnya di atas sofa lantas duduk di sebelahnya sembari menyandarkan kepala.


“Lo setiap hari balik jam segini?” Abimanyu memiringkan tubuhnya yang telentang. Menghadap pada Caca yang terlihat begitu lelah.


Caca memutar kepala menatap suaminya malas. “Menurut lo?”


Hanya dengan jawaban itu saja Abimanyu sudah tahu maksud gadis itu. Ia pun lantas kembali bertanya, “Sejak kapan lo mulai bantu Ayah Banyu di kafe?”


“Mulai kapan, ya?. Mungkin masih semester satu,” jawab Caca. Memorinya kembali pada masa awal ia kuliah, di mana sang ayah tercinta memintanya untuk menjadi manajer di salah satu kafe milik pria itu.


Awalnya Caca juga kurang setuju, karena menurutnya pekerjaan itu sangat sulit dan ia masih ingin seperti mahasiswa lainnya yang bisa jalan-jalan ke mana saja. Namun, lambat laun Caca menikmati pekerjaan itu. Gadis itu mulai terbiasa dengan kesibukan di kafe. Melihat para karyawannya yang mau bekerja keras selalu bisa membuat Caca kembali semangat.


“Lo seneng kerja di sana?” tanya Abimanyu.


“Ya, seneng lah, Bi. Kalau nggak seneng gue udah minggat dari sana dari dulu. Udah deh, lo tu nggak bakal paham gimana rasanya bisa ngobrol atau dengerin curhatan karyawan lo. Dengan lo bekerja, ya, lo bisa lebih bersyukur dengan apa yang lo miliki, karena dari setiap cerita mereka, lo bakal tahu gimana rasanya jadi orang susah dan ...”


Caca masih terus bercerita mengenai keseruannya saat di kafe. Diam-diam Abimanyu memperhatikan gadis itu berbicara. Ada rasa kagum yang masih melekat sejak kemarin dan akan bertambah dengan hari ini.


Meskipun gadis itu kerap berkata pedas terhadap teman-temannya, nyatanya gadis itu juga memiliki hati yang hangat. Terlihat dari betapa pedulinya Caca kepada para karyawannya. Caca juga tak pernah memandang status sosial orang lain. Gadis itu tak pernah membedakan satu orang dengan yang lain. Bagi Caca semua sama, yang tidak sama hanya mereka yang berkelakuan baik dan tidak baik.


**


“Maya ke mana sih, Sof? Kok, hari ini nggak masuk?”


Sofi menghadapkan tubuhnya ke belakang. Menumpukkan tangannya pada sandaran kursi kemudian menjawab, “Bukannya hari ini dia sosialisasi kampus sama Kak Abi?”


Setelah hari pertama itu, Abimanyu dan Caca tak pernah lagi bertugas bersama. Mereka bergantian menemani teman-teman mereka. Supaya mereka tak terlalu sering meninggalkan kelas.


“Ca, gue boleh tanya sesuatu nggak?” Sofi menyisir seisi kelas, seluruh temannya sudah keluar semua.


Caca menyipitkan matanya, menatap aneh pada Sofi. “Tanya, ya tanya aja kali, Sof. Kayak sama siapa aja, lo.”


Sofi menggigit bibir bawahnya. Agaknya ia masih ragu mempertanyakan apa yang sudah lama membelenggu di dalam kepalanya.


Menjentikkan jari di depan Sofi. Caca bertanya pada Sofi jadi bertanya atau tidak.


“Gimana kabar Dean?”


Sedetik setelah pertanyaan itu meluncur, Caca tampak terdiam. Kepala gadis itu menggeleng pelan. Raut mukanya berubah sendu, mengingat sang mantan kekasih yang tak kunjung ada kabarnya.


“Gue belum tahu. Orang yang gue suruh nyari dia sampai sekarang juga masih diam aja,” ujar Caca sembari menautkan kedua tangannya di atas meja.


“Kenapa sih, Ca, lo nggak berusaha buat lupain dia aja dan lo fokus sama hubungan lo sama Kak Abi,” saran Sofi. Sudah lama ia ingin mengatakan hal ini. Namun, Sofi masih tak enak hati jika membicarakan Dean di depan Caca.


“Nggak semudah itu, Sof–”


“Lo nggak pernah nyoba, Ca,” tukas Sofi.

__ADS_1


“Lo tu goblok kalau masih ngarepin Dean. Gue yakin dia itu kabur,” imbuhnya.


“Lo nggak usah ngomporin gue, Sof. Lo sahabat gue apa bukan sih?”


“Ya, karena gue sahabat lo, Ca. Gue pengen lo bahagia. Dan lo bakal bahagia kalau lo lupain Dean. Ca, saran gue mending lo perbaiki hubungan sama Kak Abi. Gue yakin dia jauh lebih baik dari Dean.”


“Udah-udah. Gue nggak mau dengerin omong kosong, lo.”


“Kok, omong kosong sih, Ca? Gue serius!”


“Serius lo itu bikin suasana hati gue hancur tahu nggak? Males gue sama, lo. Gue cabut dulu!”


Caca berdiri dari duduknya. Mengambil tas, lalu berjalan keluar dari kelas meninggalkan Sofi sendiri.


“Ca! Caca!” panggil Sofi. Gadis itu berdecak melihat kepergian Caca.


“Dasar batu. Mau diajak ngomong kayak apa pun juga tetap nggak bisa,” gumam Sofi.


“Perasaan tu anak sifatnya jauh banget dari nyokapnya,” imbuhnya sembari menggelengkan kepala. Ia pun ikut beranjak dari tempat duduknya dan akan segera pulang ke rumah.


**


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Caca menatap jam dinding dalam kamar suaminya. Gadis itu lantas menutup laptop dan membereskan beberapa bukunya. Setelah itu Caca mengambil bantal di ranjang untuk ia gunakan tidur di sofa.


Abimanyu yang malam itu mendapat jatah tidur di ranjang terlihat sudah meringkuk sendiri di bawah selimut. Pria itu juga baru tidur satu jam yang lalu setelah pulang dari kantor ayahnya.


Caca segera merebahkan diri di atas sofa yang telah ia bentangkan. Sudah cukup nyaman bagi gadis itu saat ini. Caca ingin segera tidur, tetapi nyatanya matanya masih terasa sangat segar hingga lima belas menit ia merebahkan diri.


Sejak pulang kuliah tadi ia memikirkan perkataan Sofi. Ia tak menyangka Sofi akan menuduh Dean di depannya secara langsung. Caca tidak suka akan hal itu. Hatinya selalu tak terima jika ada yang menjelekkan Dean tepat di samping telinganya.


Caca berusaha mencari posisi yang nyaman supaya ia bisa segera terlelap dan melupakan apa yang Sofi katakan padanya. Ia tidak ingin berlarut dalam kemarahan kepada sahabatnya itu. Namun, saat gadis itu hampir saja memejamkan mata, suara Abimanyu membuat Caca harus kembali waspada.


“Jangan ... jangan ... kumohon jangan.”


Caca memandang Abimanyu yang tampak gelisah. Ia pun berdiri mendekati Abimanyu takut terjadi sesuatu. Saat melihat wajah sang suami penuh akan kekhawatiran, Caca merasa iba. Sepertinya pemuda itu tengah bermimpi buruk.


“Jangan ... jangan ... tidak ... jangan.” Lagi-lagi Abimanyu bergumam seperti tengah terancam.


“Bi, Abi!” Caca menepuk-nepuk tangan Abimanyu untuk membangunkan pemuda itu. Berkali-kali Caca lakukan, hingga akhirnya Abimanyu mau membuka mata.


Namun, sedetik kemudian Abimanyu menarik tangan Caca, membuat gadis itu jatuh di sampingnya.


“Bi, sadar, Bi!” Caca sedikit meronta saat tiba-tiba Abimanyu memeluknya erat.


“Temani aku dulu, aku takut,” ujar Abimanyu dengan suara yang begitu lemah.


Caca tak bisa berkutik. Ia pun menurut saja. Melihat kondisi Abimanyu yang tampak mengenaskan membuat Caca tak tega. Gadis itu lantas mengusap punggung Abimanyu beberapa kali, hingga akhirnya ia ikut terlelap seiring malam yang semakin gelap.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2