
Saat ini Caca dan Abimanyu sedang sarapan bersama keluarga mereka.
Keanu dan Celin selaku orang tua Dean juga berada di sana. Mereka hendak menyampaikan sesuatu pada Caca, yang seharusnya hari ini menjadi menantu mereka.
“Ca,”
Merasa namanya dipanggil, Caca mengangkat kepalanya dari piring. Menatap sang ayah yang duduk tepat di seberangnya.
“Iya, Yah?”
Banyu mengode Kean untuk melanjutkan, karena ia memanggil Caca untuk pria itu.
“Caca,”
Kali ini pandangan Caca beralih pada mantan calon mertuanya. Ia tersenyum, kemudian mengangguk dan memfokuskan diri pada pria paruh baya itu. Sejenak rasa sesak itu muncul kembali, mengingat Dean yang tak kunjung kembali.
“Om dan Tante meminta maaf atas nama Dean. Maaf, putra kami tidak hadir dan membuat kamu menikah dengan Abimanyu,” ucap pria itu.
Caca ingin tersenyum, namun bibirnya terasa kaku, mengingat kekasihnya yang entah berada di mana saat ini membuat relung hatinya kembali bersedih.
“Kami sudah mencari keberadaan Dean, tapi sampai saat ini pun kami belum menemukannya,” imbuh pria itu.
Caca masih diam, berusaha untuk menetralkan dirinya sendiri. Rasa lapar yang sempat hinggap, kini telah lenyap. Tergantikan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar ke dalam dada.
“Om dan Tante berharap, kamu tidak membenci kami maupun Abimanyu. Untuk Dean ....” Pria itu menoleh pada istrinya.
“Kami tidak akan menghalangi kamu untuk membenci anak itu. Kami tahu, apa yang dia lakukan ini pasti menyakiti hati kamu,” lanjutnya seraya menatap mata Caca teduh.
Bergeming. Caca tak bisa merespons setiap kata yang keluar dari bibir ayah Dean. Rasa sesaknya yang sempat mereda kini kembali menyerang. Pertanyaan di mana keberadaan Dean, kembali terngiang di dalam kepala.
Menarik napas dalam, Caca mencoba untuk tersenyum. Ia tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk marah, apalagi kini yang menyandang status sebagai mertuanya juga berada di sana. Ia tentu segan dengan pria dan wanita itu, meskipun tidak terlalu mengenal mereka.
“Om dan Tante tidak perlu meminta maaf seperti itu. Lagi pula tidak ada yang bisa disalahkan di sini, begitu juga dengan Dean, putra kalian.” Menjeda sejenak ucapannya, Caca memandang ayahnya sekilas.
“Saya juga yakin, Dean bukan dengan sengaja meninggalkan pernikahan kami. Tapi, saya juga tidak bisa menerka berada di mana dia sekarang. Saya juga berusaha untuk mencari keberadaan Dean, dan saya berharap dia baik-baik saja, di mana pun dia berada,” katanya lagi.
Ada seraut rasa tak suka pada diri Banyu saat anak gadisnya itu berucap demikian. Bagaimana bisa Caca masih bisa berpikiran positif pada pria itu, padahal apa yang Dean lakukan merupakan kesalahan yang begitu fatal menurutnya. Banyu benar-benar tak habis pikir dengan Caca.
“Dan untuk Om Arjuna dan Tante Nabila, saya ingin meminta maaf terlebih dahulu jika saya belum bisa melupakan Dean. Karena bagaimanapun juga Dean begitu berarti untuk saya. Kami saling mencintai dan sekali lagi saya katakan, saya tetap percaya bahwa Dean bukan dengan sengaja meninggalkan saya. Dan saya harap lagi, kalian semua dan saya tetap mencari keberadaannya sampai dia ditemukan,” ujar gadis itu seraya menatap seluruh anggota keluarga barunya.
Ia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Gadis itu mencoba menarik napasnya kembali secara perlahan untuk kembali menetralkan rasa sesaknya. Dadanya terasa dihantam batu besar saat lagi-lagi ingatannya kembali pada kenyataan yang sesungguhnya.
“Kami tahu itu, Nak. Tapi, kami harap kamu juga tetap bisa menerima Abimanyu sebagai suami kamu. Dan jangan pernah sungkan dengan kami. Bagaimanapun juga, kami tetap mertua kamu. Orang tua kedua kamu,” tutur Nabila lembut. Ia memandang teduh menantu dadakannya itu.
Caca hanya mengangguk kaku menanggapi ucapan ibu mertuanya. Ada perasaan mengganjal dalam hatinya mendengar penuturan wanita itu.
“Abi”
Kali ini giliran Abimanyu yang menatap pamannya. Ia memasang tatapan datar pada pria itu.
“Maafkan uncle dan aunty yang telah menyeret kamu ke dalam masalah kami,” ucap Kean pada keponakannya.
“Bang ....” Nabila merasa tidak enak hati melihat penyesalan di mata kakaknya.
“Jangan terlalu merasa bersalah begitu. Kami tidak apa-apa,” ucap Nabila pada sang kakak.
“Benarkan, Bi?”
Abimanyu memicingkan mata pada sang ibu. Kenapa ibunya yang menjawab? Di sini ia yang menjadi korban, meskipun tidak ia ungkapkan secara gamblang. Dan ia hanya bisa mengangguk paksa saat ibunya memberikan lirikan tajam.
__ADS_1
“Sebagai bentuk tanggung jawab kami akan memberikan apa pun yang kamu inginkan, Bi. Jika, kalian ingin tinggal sendiri, uncle akan siapkan apartemen untuk kalian, atau mungkin ru–”
“Tidak” potong Nabila.
“Abimanyu dan Caca tidak boleh tinggal sendiri. Mereka akan tetap tinggal di rumah bersama kami,” tutur Nabila diangguki oleh Arjun, suaminya.
“Benar. Lagi pula, Abimanyu belum bekerja fulltime, jadi lebih baik dia tinggal bersama kami dulu,” timpal Arjun menyetujui ucapan sang istri. Semalam mereka juga telah mendiskusikan masalah tempat tinggal putra ke-tiga mereka. Lagi pula, dua anak kembar mereka juga sudah tidak lagi tinggal di rumah mereka, sehingga jika Abimanyu dan Caca juga pergi dari rumah, mereka akan merasakan kesepian. Hanya akan ada mereka berdua dan anak ke-empat mereka.
“Enggak apa-apa kan, Bi?” tanya Arjun pada putranya.
Abimanyu mengangkat kedua alisnya. “Ya, aku harus bagaimana lagi selain setuju?” jawab pria itu sebelum melanjutkan sarapannya.
“Jadi, setelah ini Kak Caca enggak tinggal sama kita, Yah?” tanya Bia–adik Caca tiba-tiba.
“Enggak, Sayang,” jawab Banyu dan Jingga bersamaan.
“Kamu boleh lo sering ke rumah Tante, kalau mau ketemu kakak kamu. Kakak kamu Ata kan temannya Dio,” tutur Nabila pada gadis remaja itu.
“Enggak apa-apa, Tan?” tanya gadis itu malu-malu.
“Enggak apa-apa, dong, Bia cantik,” jawab Nabila semringah.
Gadis itu tersenyum menanggapi mertua kakaknya. Lantas kembali memakan sarapannya.
Mereka semua kembali menyantap hidangan sarapan yang telah disediakan oleh pihak hotel.
Setelah selesai Abimanyu lebih dulu berpamitan pada semua yang ada di sana. Ia merasa butuh merelakskan seluruh pikirannya yang terasa begitu kacau.
Berdiri di samping kolam renang VIP hotel tersebut. Abimanyu memandang lurus ke depan. Pikirannya melayang membayangkan rumah tangga seperti apa yang akan ia dan gadis itu jalani. ******* kecil beberapa kali terdengar dari pria itu. Rasanya sungguh berat menghadapi semua ini.
“Bi,”
Abimanyu menoleh sekilas pada seseorang yang telah memanggilnya. Sosok sang ayah berjalan mendekat dan berdiri sejajar dengannya. Pandangan mereka sama-sama lurus ke depan.
Tanpa mengalihkan pandangan, Abimanyu menjawab, “Hanya cari angin. Pikiranku rasanya tiba-tiba penuh.” Pria itu menghela napas sejenak, lantas balik bertanya pada sang ayah.
“Ayah sendiri ngapain di sini?”
“Nyari kamu, takut nyebur ke kolam terus enggak ada yang lihat,” kelakar Arjun membuat putranya mendengkus.
“Ya, enggak lah, aku enggak segitunya juga kali, Yah,” timpal Abimanyu. Ia mengajak ayahnya duduk di salah satu kursi, yang ada di pinggir kolam tersebut.
“Jadi, setelah ini si Caca itu akan ikut kita?” Pertanyaan itu memang tak seharusnya dilayangkan, karena sejatinya Abimanyu sendiri tahu jawabannya.
“Menurut kamu?” tanya Arjun sembari menaikkan sebelah alisnya.
“Ya, siapa tahu Ayah sama bunda berubah pikiran dan anak itu enggak jadi istri aku.”
Arjun terkekeh mendengar penuturan putranya yang terkesan mengada-ada.
“Segitu enggak sukanya kamu sama Caca. Awas jatuh cinta duluan loh nanti,” kelakar Arjun mendapat lirikan tajam dari Abimanyu.
“Apaan sih, Ayah!”
Hening sejenak mengisi sekitar mereka. Hingga seorang pegawai wanita membawakan dua gelas kopi ke arah sepasang ayah dan anak itu. Keduanya saling tatap, karena merasa tak memesan kopi tersebut.
“Siapa yang nyuruh?” tanya Arjun pada pegawai tersebut.
“Ibu Nabila yang menyuruh, Pak,” jawab pegawai hotel itu sambil menundukkan kepala. Ia lantas meminta izin untuk undur diri setelah menyelesaikan tugasnya.
__ADS_1
Mata Arjun berkeliling mencari keberadaan istrinya. Namun, tak jua ia temukan sosok itu dan akhirnya kembali fokus pada Abimanyu.
“Bi,” panggil Arjun.
Abimanyu mengedikkan dagunya, seakan bertanya ‘ada apa?’
“Ayah tahu, ini berat untuk kamu. Tapi, Ayah harap kamu sebisa mungkin untuk menerimanya. Bagaimanapun juga, kamu sudah berjanji pada Tuhan di depan kedua orang tuanya untuk selalu menjaga Caca. Sebagai seorang pria, kamu harus bisa menepati janji kamu. Jaga Caca dengan baik. Abaikan semua ego kamu. Jalani semua sesuai alur yang telah Tuhan berikan. Ayah yakin, kamu pasti bisa.”
Abimanyu terdiam. Ia menyesap sedikit cairan berkafein itu. Lalu kembali meletakkan cangkirnya ke tempat semula. Sejenak ia menghela napas sebelum akhirnya berucap, “Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya.”
“Kamu harus bisa, Abi. Kamu harus mencobanya!”
Hening. Tak ada lagi percakapan di antara keduanya hingga kopi dalam cangkir tersebut tandas, dan Arjun memilih untuk beranjak dari sana.
“Kenapa harus aku, Tuhan?” gumam Abimanyu sembari mengacak-acak rambutnya.
***
Menapakkan kaki pada satu halaman rumah yang begitu luas. Caca menghela napasnya cukup pelan. Matanya memindai setiap sudut rumah yang jauh lebih besar dari rumahnya itu.
Benarkah sekarang ia harus tinggal di sini?, batin Caca tak habis pikir.
“Ayo masuk!”
Suara lembut sang ibu mertua membawa kabur Caca dari lamunannya. Gadis itu pun tersenyum canggung.
“Iya, Tan,” jawabnya gugup.
Nabila tertawa. “Kok, tante sih! Panggil bunda, dong, kayak Abi. Kamu kan sekarang anak Bunda juga,” tutur wanita itu sembari menarik lengan Caca.
Caca pun mengangguk kikuk. Langkahnya turut mengikuti langkah sang ibu mertua. Di belakangnya ada Abimanyu dan ayah mertuanya.
“Bi, bawa koper Caca sekalian, ya!” titah Nabila pada sang putra.
“Dibawa ke mana? Gudang?” tanya Abimanyu dengan muka datar.
Caca melebarkan matanya mendengar itu. Benar-benar manusia satu ini, batin Caca geram.
“Ya, ke kamar kamu dong, Sayang. Jangan gitu sama Caca. Bunda enggak suka dengernya,” seru wanita itu. Lalu, beralih menatap menantunya.
“Kamu ikuti Abi, ya. Jangan sungkan, sekarang rumah ini rumah kamu juga,” ucap Nabila.
Caca hanya bisa mengangguk dan menuruti setiap ucapan ibu mertuanya itu.
“Nanti, kalau Abi macem-macem sama kamu, ngomong aja ke Bunda. Biar Bunda yang marahin Abi nanti,”
“Loh–“
Ucapan Abimanyu terpotong dengan sorot mata tajam Nabila.
“Terserah!” ucap Abimanyu pasrah.
Caca tersenyum. Sepertinya gadis itu akan mudah akrab dengan ibu mertuanya. Dan tentu saja Caca memiliki satu orang pembela sekarang.
“Udah sekarang kamu ikuti Abi. Nanti kalau butuh apa-apa ngomong aja, ya. Jangan sungkan,” tutur wanita itu lagi.
“Iya, Bun. Aku ke atas dulu ya, Yah, Bunda,” pamit Caca pada kedua mertuanya.
“Sok manis!” gumam Abimanyu selagi menaiki tangga.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komen❤