Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 82 : Menonton pertandingan


__ADS_3

“Kantin, yuk. Laper nih!”


Maya memegangi perutnya. Sejak tadi cacing-cacing di dalam perutnya sudah berdemo. Ia yang tak biasa sarapan memang sering kelaparan setelah jam pertama kuliah selesai.


“Hayuk lah,” timpal Sofi. Gadis itu menarik Caca berdiri.


“Nggak semangat benget lo hari ini,” tutur Sofi pada Caca. Ia menggandeng lengan Caca. Lebih tepatnya menarik gadis itu.


“Lemes bestie, pagi ini nggak ketemu ayang,” jawab Caca sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Sofi.


“Najis, Ca! Sumpah, lebai banget lo!” Sofi mengedikkan bahunya beberapa kali untuk menyingkirkan kepala Caca dari sana.


“Eh, btw emangnya Kak Abi ke mana?” tanya Maya menimpali ucapan Caca.


Caca mengembuskan napas lemah, seolah ia benar-benar tidak bertenaga hari ini.


“Dia ikut pertandingan futsal. Berangkat dari pagi buta. Gue aja nggak dibangunin. Cuma ada sticky notes di hp gue,” jawab Caca. Ia menegakkan kepalanya saat merasa ada banyak mahasiswa di sekitar sana. Bibirnya mengerucut, kesal mengingat kejadian tadi pagi.


Maya dan Sofi terkikik geli.


“Ya ampun, segitunya banget, lo! Biasanya aja berantem terus,” goda Maya. Tawanya semakin lebar saat Caca menatapnya sinis.


Maya dan Sofi masih terus menggoda Caca hingga mereka tiba di kantin. Maya dan Sofi bergegas mencari tempat duduk, sedangkan Caca memesankan makanan untuk mereka bertiga. Setelah selesai, Caca pun ikut bergabung dengan Sofi dan Maya. Tak lupa ia mengambil satu air mineral untuk dirinya sendiri.


“Ca, lo nggak pengen gitu nonton pertandingan futsal Kak Abi?”


Sofi meletakkan ponselnya ke atas meja setelah mengutarakan pertanyaannya. Gadis itu terlihat cukup antusias saat mengajak Caca.


Kening Caca terlipat halus, merasa heran dengan pertanyaan yang seperti sebuah ajakan dari Sofi. Setelah menutup botol air mineralnya, Caca balik bertanya pada Sofi, untuk apa gadis itu mengajaknya menonton pertandingan futsal suaminya.


Sofi tampak kelabakan saat akan menjawab pertanyaan itu. Ia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Merasa curiga dengan Sofi, Caca lantas memeriksa ponselnya. Ia membuka aplikasi berbalas pesan miliknya, kemudian membuka fitur stori, lalu melihat stori milik suaminya.


Abimanyu mengunggah fotonya bersama teman-teman satu timnya. Ada beberapa mahasiswa yang Caca kenali, ada juga yang hanya pernah ia lihat wajahnya saja. Caca meneliti semua wajah laki-laki itu. Caca curiga ada satu orang yang dekat dengan Sofi, tetapi ia tidak tahu.


Pandangan Caca jatuh pada kakak tingkatnya bernama Jayden. Seingat Caca, hanya Abimanyu, Aldo, dan Jayden yang ia dan kedua temannya kenal. Tidak mungkin jika Sofi ingin mencari suaminya, apalagi mencari Aldo. Apa mungkin Sofi dekat dengan Jayden dan ia tidak tahu?


Caca memicing pada Sofi yang mulai gelisah. Ia pun menanyakan sesuatu yang membuat Sofi terlihat semakin salah tingkah.

__ADS_1


“Lo ke sana nyariin Jeje, ya?”


“Nggak, kok nggak!” jawab Sofi cepat. Ia menggelengkan kepalanya.


Caca dan Maya tertawa melihat tingkah Sofi yang tampak menggemaskan. Sikap Sofi memang selalu kentara di mata kedua sahabatnya.


“Udah deh, Sof. Lo tu jujur aja kalau lo ke sana mau lihat Kak Jeje,” ucap Maya menggoda. Setelahnya ia kembali tertawa, karena Sofi memelototinya.


“Enggak, lah. Ngapain juga gue nyariin dia,” elak Sofi. Ia membuang pandangan ke segala arah.


“Ya udah, sih kalau nggak pengen ketemu siapa-siapa di sana mending nggak usah ke sana,” tutur Caca seakan tak peduli.


Padahal, Caca juga sangat ingin ke tempat pertandingan futsal itu. Ia ingin melihat bagaimana Abimanyu bertanding. Caca belum pernah melihat Abimanyu bermain futsal sebelumnya. Namun, melihat sikap Sofi yang sedikit aneh, membuat Caca ingin lebih lama menggodanya.


“Ih, kok gitu,” rengek Sofi. “Ayo, dong nonton! Bosen gue di rumah,” ucapnya memohon.


“Males, Sof. Cuaca panas banget. Mager keluar,” balas Caca.


“Caca, ih! Ayo, dong. Lo semangatin Kak Abi. Biar bisa menang,” rengek Sofi lagi.


Gadis itu benar-benar terlihat lucu di mata Caca dan Maya. Sofi sering bertingkah demikian saat menginginkan sesuatu. Menjadi anak bungsu seperti Sofi membuatnya terkadang agak manja.


**


Caca dan kedua sahabatnya mencari tempat duduk di dalam sebuah gedung olahraga yang digunakan untuk pertandingan futsal. Setelah tadi hampir membuat Sofi marah, Caca akhirnya menuruti ajakannya.


Mereka bertiga duduk pada barisan belakang. Pertandingan yang sudah dilaksanakan sejak pagi itu membuat hampir seluruh tempat duduk terpenuhi. Beruntung, ketiganya masih mendapatkan tempat meskipun belakang.


“Timnya Kak Abi main kapan, Ca?”


“Habis yang ini main katanya.” Bukan Caca yang menjawab, melainkan Sofi.


Sontak saja Maya kembali menggoda Sofi dengan bertanya dari mana dia tahu.


“Apaan, sih May. Orang di depan ada jadwalnya, kok,” jawab Sofi mengelak. Gadis itu tak menatap pada Maya dan Caca yang sedang menertawakannya.


Benar kata Sofi, tak berselang lama tim Abimanyu masuk ke lapangan. Mereka bertanding tanpa Abimanyu pada menit pertama. Mereka mencetak satu angka tanpa ada balasan dari lawan. Saat tiba pada menit terakhir, salah satu tim Abimanyu mengalami cedera akibat dijegal oleh lawan. Abimanyu pun masuk dan mulai bermain di sisa-sisa permainan.


Dari tempat duduknya, Caca menatap Abimanyu tanpa berkedip. Caca begitu terkesima dengan cara Abimanyu menggiring bola. Pemuda itu terlihat lebih tampan saat berkeringat.

__ADS_1


Namun, keseruan Caca menatap Abimanyu terganggu dengan suara-suara yang membuatnya sangat risi. Dari sudut lain, beberapa perempuan yang Caca yakin mahasiswa dari kampusnya, tengah meneriaki nama sang suami. Caca merasa sangat kesal mendapati mereka sangat bersemangat saat Abimanyu masuk lapangan.


Ingin rasanya Caca menyumpal mulut mereka dengan sepatu. Namun, rasanya sangat tidak mungkin. Terlebih lagi tidak ada yang tahu hubungannya dengan Abimanyu. Hingga akhirnya Caca hanya bisa diam dan sesekali menggosok telinganya seakan-akan sangat risi dengan suara mereka.


Beberapa menit kemudian permainan berakhir dan dimenangkan oleh tim Abimanyu. Caca turut bahagia melihatnya, apalagi tadi Abimanyu juga sempat menyumbangkan satu angka. Saat melihat para pemain itu keluar dari lapangan, Caca tiba-tiba beranjak berdiri. Ia berpamitan kepada kedua temannya untuk keluar sebentar.


“Mau ke mana, lo?” tanya Maya curiga.


Caca tersenyum penuh arti. “Katanya suruh nyemangatin suami,” kelakar Caca membuat Sofi dan Maya berekspresi ingin muntah.


“Najis, Ca! Sejak kapan lo jadi kayak gini?” cibir Maya yang hanya mendapat tawa dari Caca.


Tanpa menjawab pertanyaan Maya yang memang sangat tidak penting, Caca bergegas keluar. Ia mengeluarkan ponselnya. Kemudian, mengetikkan sebuah nomor, lalu meneleponnya.


Hanya dalam dering ke tiga, telepon itu sudah tersambung. Suara Abimanyu menyapa Caca. Nadanya terdengar cukup ceria. Sepertinya pemuda itu amat sangat senang Caca menghubunginya.


“Kamu di mana?” tanya Caca. Gadis itu berjalan mengikuti langkah kaki Abimanyu bersama timnya.


“Aku masih di lokasi pertandingan. Kenapa? Mau ke sini?” tanya Abimanyu berniat bercanda.


“Gimana pertandingannya? Menang?” tanya Caca tanpa menjawab pertanyaan Abimanyu sebelumnya.


“Menang, dong. Coba aja kamu lihat aku main, pasti bangga banget sama aku,” ucap Abimanyu percaya diri.


Caca bisa mendengar suara cibiran dari teman-teman pemuda itu. Sepertinya mereka masih belum tahu Abimanyu sudah menikah. Mereka meledek Abimanyu yang mereka kira sedang bertukar suara dengan gebetannya.


“Wah, coba aja ya aku bisa lihat kamu main lebih deket kayaknya keren, deh,” ucap Caca. Gadis itu mengulum senyumnya.


Di seberang sana Abimanyu sedikit bingung dengan jawaban Caca. Entah kenapa ia merasa istrinya berada di sana, tetapi ia tidak tahu.


“Kamu di sini?” tanya Abimanyu.


“Enggak,” jawab Caca.


Abimanyu menjauhkan teleponnya dan bertanya kepada teman-temannya apakah pertandingan ini disiarkan secara live di sosial media atau tidak. Namun, jawaban mereka justru membuat Abimanyu semakin yakin bahwa istrinya ada di sana dan melihatnya bertanding. Ia pun kembali bertanya kepada Caca.


“Terus kamu di mana sekarang?”


“Di belakang kamu.”

__ADS_1


Sontak saja Abimanyu memutar tumitnya. Dari kejauhan ia bisa melihat istrinya yang sedang berdiri sambil menempelkan ponselnya di telinga. Senyum Abimanyu merekah. Tanpa berpamitan, Abimanyu meninggalkan teman-temannya, menghampiri Caca yang sedang tersenyum padanya.


__ADS_2