
“Bukannya tadi masih marah?”
Pertanyaan itu mengundang dengusan Caca. Bola matanya memutar malas menatap senyum jemawa suaminya.
“Kamu tu pengennya aku marah apa aku baik?” tanya Caca malas.
Abimanyu tertawa meski fokusnya tetap pada jalan raya. Lelaki itu melirik sekilas sang istri yang kembali memasang muka kesal seperti pagi tadi.
Tak tahan dengan wajah menggemaskan istrinya, Abimanyu mencubit pipi Caca dengan satu tangannya.
“Aww, sakit, Bi!” sentak Caca menepis tangan Abimanyu.
“Salah sendiri gemesin!”
Lirikan tajam terarah lurus pada lelaki itu. Caca ganti memukul lengan Abimanyu beberapa kali. Ia benar-benar puas kala melihat suaminya meringis sakit.
“Sadis banget istri aku,” gumam Abimanyu. “Balik aja lah, cari istri yang lebih lemah lembut,” ucapnya mendapatkan satu cubitan lagi di pinggangnya.
“Astaga, Caca! Merah semua nanti badan aku,” gerutu Abimanyu seraya mengusap pinggangnya yang terasa panas akibat cubitan istrinya.
“Awas, ah! Nanti kalau nabrak gimana coba!” tegur Abimanyu kembali menatap jalan raya.
Caca memutar bola matanya malas. Tangan Caca bersedekap dengan pandangan lurus ke depan.
Keheningan kembali melanda keduanya. Abimanyu fokus pada setirnya, sedangkan Caca fokus dengan pikirannya sendiri.
“Crystal masih suka deketin kamu, Bi?” Pertanyaan Caca sedikit memecahkan keheningan di antara mereka.
“Enggak, sih. Udah lama dia nggak nyamperin aku. Terakhir kali di perpus kayaknya. Aku bentak dia karena terlalu emosi,” jawab Abimanyu jujur.
Seingat Abimanyu, hari itu adalah kali terakhir mereka bertemu. Setelahnya Crystal tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Abimanyu pikir Crystal sudah tidak berani menemuinya, tetapi ternyata salah. Crystal kembali menemuinya hari itu, meskipun akhirnya kembali tak ia indahkan setiap perkataannya.
Abimanyu tidak tahu kenapa Crystal berubah jadi seperti gadis murahan seperti itu. Dulu, mereka memang cukup dekat, karena ayah dan ibu Crystal merupakan teman dekat orang tuanya. Abimanyu selalu memberikan perhatian pada Crystal. Baginya, Crystal seperti adik yang harus ia jaga. Sehingga setiap kali Crystal memintanya mengantarkan pulang Abimanyu selalu bisa.
“Kamu pernah nggak sih ada rasa ke Crystal?”
Kening Abimanyu terlipat halus. Pertanyaan ini sangat mudah dijawab, tetapi Abimanyu tetap takut jika istrinya justru tidak percaya dengan jawabannya.
“Kalau menurut kamu gimana? Aku pernah nggak suka sama Crystal?” tanya Abimanyu balik.
Caca menaikkan kedua bahunya seraya membuang muka ke arah jalanan. Ia tak siap mendengar jawaban yang sepertinya akan mempengaruhi suasana hatinya saat ini.
“Ca” Abimanyu menggenggam tangan Caca. Ia menatap sekilas istrinya sebelum kembali menatap jalan raya.
“Aku nggak pernah punya rasa ke Crystal. Bagiku dia itu hanya adik yang harus aku jaga. Keluarga kami sangat dekat dan kamu sudah tahu itu,” tutur Abimanyu.
“Dan kalau kamu tanya kenapa aku sekarang berubah sama dia, semua itu karena kamu. Aku nggak suka sama orang yang secara sengaja atau tidak sengaja menyakiti wanita yang aku cintai.”
__ADS_1
Caca menolehkan kepala. Ditatapnya Abimanyu dengan sorot mata tak percaya. Dulu Abimanyu memang pernah mengutarakan perasaannya. Namun, saat kini kata itu kembali terucap, Caca seolah dibuat terkesima.
“Kamu itu nggak ada lawannya. Di hati aku cuma ada nama kamu. Sejak pertama kali kita bertemu, sampai saat ini,” tutur Abimanyu semakin membuat jantung Caca berdegup tak keruan.
“Gombal,” cibir Caca. Gadis itu berusaha menutupi rasa gugup yang tiba-tiba melingkupi seluruh jiwanya. Namun, senyum di bibirnya tak mungkin bisa menutupi bagaimana perasaan Caca saat ini.
“Kok, gombal sih,” protes Abimanyu.
“Iya, lah gombal. Kamu bilang aku ada di hati kamu sejak kita pertama kali ketemu, padahal kamu nggak suka sama aku waktu pertama kali ....”
Lisan Caca terjeda. Ingatannya baru saja muncul bahwa jauh sebelum ini mereka sudah bertemu.
“Kenapa nggak dilanjut?” goda Abimanyu. Senyumnya begitu menyebalkan bagi Caca.
Abimanyu menepikan mobilnya. Sepertinya ia tidak akan bisa konsentrasi untuk beberapa saat ke depan.
“Caca sayang.” Abimanyu meraih tangan sang istri yang begitu kecil dalam genggamannya. Senyumnya mengembang sempurna.
“Nama kamu itu udah ada di sini sejak kita pertama kali bertemu.” Abimanyu meletakkan tangan Caca di dadanya.
“Nama kamu udah aku simpen sejak dulu, Ca. Sejak kita masih kecil sampai sekarang,” imbuhnya.
“Aku udah nunggu kamu bertahun-tahun lamanya. Dan akhirnya doaku dikabulin sama Tuhan. Kamu tahu doaku apa?”
Caca menggelengkan kepalanya.
“Aku bahkan nggak pernah sekalipun tertarik sama perempuan, apalagi Crystal. Karena di sini, udah ada kamu yang nggak mau pergi sama sekali.”
Caca tak kuasa untuk tidak menarik kedua ujung bibirnya. Gadis itu benar-benar terhipnotis dengan setiap kalimat yang meluncur dari bibir suaminya.
Tak tahan ditatap seintens itu oleh Abimanyu, Caca pun menundukkan kepalanya. Namun, tak berselang lama Abimanyu mengangkat dagunya. Suami Caca itu memajukan wajahnya kemudian mempertemukan bibir mereka.
**
Detik demi detik terus berjalan. Merangkak menuju menit, jam, dan juga hari.
Beberapa bulan telah terlewati. Sejak hari itu Crystal ataupun Dean tak pernah lagi mampir di kehidupan Caca maupun Abimanyu. Meski beberapa kali mereka berpapasan, tak pernah sekalipun di antara keduanya yang bertegur sapa.
Abimanyu dan Caca tak memedulikan mereka berdua. Baginya, mereka hanya bumbu yang Tuhan kirimkan untuk memberi rasa pada kehidupan mereka saat ini.
Tidak terasa, Caca sudah menginjak semester lima dan Abimanyu menginjak semester tujuh. Sesuai instruksi kampus, Abimanyu diharuskan melakukan KKN pada semester tersebut.
KKN merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa di semester akhir. Kegiatan tersebut bertujuan untuk melatih mahasiswa dalam bermasyarakat dan mengembangkan masyarakat di sebuah desa kecil agar lebih maju.
Beruntung saja Abimanyu ditempatkan di daerah yang tidak terlalu jauh dari ibu kota. Meskipun tetap tidak bisa bertemu setiap hari dengan istrinya, setidaknya Abimanyu masih bisa pulang meski hanya satu hari.
Hari ini Caca sedang mempersiapkan seluruh kebutuhan suaminya. Perempuan itu melipat beberapa baju sang suami yang sekiranya akan sering dipakai di sana.
__ADS_1
“Kenapa sih harus ikut banget?” Caca bertanya sambil cemberut.
Sejak diumumkannya kegiatan KKN itu Caca tak henti-hentinya menggerutu. Perempuan itu tak rela ditinggalkan Abimanyu. Ia yang jadi terbiasa ke mana-mana dengan suaminya kini harus kembali sendiri layaknya seseorang yang tak punya pasangan.
“Kan tugas kuliah, Sayang,” jawab Abimanyu yang saat itu membantu istrinya memasukkan baju ke dalam koper.
“Tapi, kan–”
“Aku bakal hubungi kamu terus selama aku senggang,” tukas Abimanyu seraya mengecup kening istrinya.
Caca masih saja merengek tidak mau ditinggalkan suaminya. Gadis itu seperti sudah kecanduan dengan keberadaan Abimanyu dalam hidupnya.
Senyum Abimanyu mengembang tatkala Caca terus saja memasang muka cemberut, tetapi tetap mengemasi baju-bajunya. Laki-laki itu terus saja memandang raut muka Caca yang semakin menggemaskan. Abimanyu akan merindukan saat-saat seperti ini dalam beberapa minggu ke depan.
Caca memutar kepalanya tatkala merasa sedang diawasi. Matanya memicing curiga menatap senyum suaminya yang sejak tadi terukir di sana.
“Kamu ngapain, sih? Dari tadi liatin aku terus.”
Kepala Caca menggeleng pelan. Wanita itu kembali melanjutkan kegiatannya melipat baju sang suami.
“Bi!” sentak Caca kala Abimanyu tiba-tiba mengecup pipinya. Netra Caca melebar begitu saja.
“Kayaknya aku bakal kangen banget sama ocehan kamu selama di sana,” ucap Abimanyu memasang senyum jenaka.
Bola mata Caca berotasi begitu saja. “Percuma kamu ngomong gitu. Kamu nggak bakal dapet dispensasi untuk nggak ikut,” omel Caca dengan bibirnya yang maju ke depan.
Abimanyu tertawa kecil. Ia tak lagi bersuara dan kembali melanjutkan kegiatannya. Beberapa menit kemudian semua bajunya telah selesai dibereskan. Beberapa barang lain yang perlu dibawa juga sudah ia siapkan sejak kemarin. Lusa ia sudah harus berada di posko atau rumah yang akan ia dan teman-temannya tempati selama bertugas di sana.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Caca hendak menutup pintu balkon. Namun, bukannya menutup pintu, Caca justru keluar dan berdiri di tepian balkon tersebut. Perempuan itu memandang langit malam yang tampak sangat cerah. Bulan sabit yang tengah bertengger sendiri di atas sana menyita perhatian Caca. Ia seperti terhipnotis dan tak mau mengalihkan pandangan ke tempat lainnya.
Namun, pelukan dari arah belakangnya membuat fokus Caca pada bulan tersebut pecah seketika. Caca bisa merasakan embusan napas Abimanyu yang berada di lehernya. Laki-laki itu menyandarkan kepalanya di bahu Caca, seolah sedang mengunci aroma tubuh istrinya untuk ia bawa selama KKN nanti.
“Caca sayang.” Panggilan Abimanyu yang begitu lembut membuat Caca meremang.
Caca terkejut saat tiba-tiba Abimanyu membalik tubuhnya. Mereka saling bertatapan untuk beberapa detik sebelum tiba-tiba Abimanyu mencium bibir Caca dengan sangat lembut.
Bibir mereka saling memagut satu sama lain. Napas mereka mulai memburu. Abimanyu menarik kaki Caca agar melingkar di pinggangnya. Tanpa melepaskan ciumannya, Abimanyu membawa sang istri masuk ke dalam kamarnya.
Tak perlu waktu lama, Abimanyu dengan penuh kelembutan membaringkan tubuh Caca di atas tempat tidur mereka. Abimanyu menindih tubuh Caca dengan masih saling ******* satu sama lain. Jarak mereka semakin sempit saat Caca menekan tengkuk Abimanyu dengan kedua tangannya.
Abimanyu adalah orang pertama yang melepaskan diri dari kegiatan mereka malam ini. Laki-laki itu beranjak dari tempat tidur. Menutup pintu balkon dan menguncinya. Tak lupa Abimanyu mengunci pintu kamarnya sebelum kembali menghampiri istrinya yang sudah berbaring pasrah menanti dirinya. Dengan kedua tangannya, Abimanyu melepaskan kaus berwarna abu-abu yang sejak tadi membungkus tubuhnya dan membuangnya ke sembarang arah.
Malam itu, Abimanyu dan Caca menghabiskan malam mereka dengan penyatuan tubuh sebagai bentuk salam perpisahan sebelum mereka berhubungan jarak jauh untuk sementara waktu.
***
Haloha teman-teman. Maaf baru update setelah sekian purnama. Tugas kuliah dan kerjaan sedang tidak bisa ditinggalkan. Semoga masih ada yang nungguin dan baca cerita ini. Sekian terima kasih 🥰
__ADS_1