
“Aku berangkat dulu, ya.”
Abimanyu mengecup kening Caca sebelum meninggalkan perempuan itu. Meskipun sudah mendapatkan anggukan darinya, Abimanyu tak lantas segera keluar. Lelaki itu justru memeluk Caca. Mengusap punggungnya dengan lembut dan memberikan kecupan kecil pada bahu dan pelipisnya tanpa melontarkan kalimat apa pun. Namun, dalam benaknya ia berdoa agar Caca segera kembali seperti sedia kala.
“Kamu mau dibawain apa nanti?” Abimanyu bertanya setelah mengurai dekapannya.
Caca hanya menggeleng. Netranya tampak begitu sayu. Tak ada lagi sinar semangat yang menghiasi mata lentik perempuan itu.
“Cepet pulang, ya,” pesannya kemudian.
Senyum Abimanyu terukir. Kepalanya mengangguk pelan. Sebelum beranjak ia kembali mencium kening Caca, sedikit lebih lama dari yang sebelumnya.
Setelah tragedi satu minggu yang lalu, Caca memang selalu murung. Wanita milik Abimanyu itu juga belum mau masuk ke kampus. Ia hanya sibuk mengurung diri di dalam rumah sang ayah. Terkadang ia melamun di balkon atau di gazebo rumahnya.
Caca benar-benar merasa hidupnya sudah tak berguna lagi. Terutama untuk sang suami. Ia merasa benar-benar kotor dan tidak layak lagi untuk lelaki sebaik Abimanyu. Namun, Abimanyu pun tak mau pergi dari hidupnya. Lelaki itu juga yang terus menyemangati Caca untuk kembali seperti dulu, meskipun Caca sendiri seperti sudah kehilangan arah.
Dua hari setelah tragedi itu Dean juga sudah melaporkan diri ke polisi, Caca mendengar itu saat keluarganya dan keluarga Abimanyu makan malam bersama. Saat ini kasus tersebut sudah akan ditangani. Lelaki tak punya hati itu sudah masuk ke dalam sel sebagai tersangka dan entah kapan sidangnya akan dilaksanakan. Caca sedikit tak peduli.
Kedua orang tua Dean juga sudah meminta maaf kepada Caca secara pribadi. Mereka benar-benar terlihat sangat menyesal atas apa yang terjadi. Caca yang tentunya masih memiliki hati tak kuasa untuk tidak menerima permintaan maaf kedua orang tua itu. Ia dengan jelas berkata bahwa mereka tidak salah sama sekali dan tidak perlu minta maaf.
Setelah turun dari motornya Abimanyu dihampiri oleh dua gadis muda yang tak lain adalah sahabat sang istri. Mereka belum tahu mengenai apa yang baru saja Caca alami.
“Kak, Caca ke mana sih. Kok, lama banget liburnya?” tanya Sofi dengan raut muka khawatir.
__ADS_1
“Caca sedang nggak baik-baik aja. Nanti setelah kelas ke dua, lo berdua temui gue di kantin. Nanti gue jelasin.”
“Caca kenapa, Kak?” Maya bertanya dengan nada syok. Ia mengira Caca hanya sedang sakit, tetapi dari cara Abimanyu menyampaikan sepertinya bukan itu saja yang Caca alami.
“Nanti gue ceritain,” balas Abimanyu seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Sekarang aja, Kak!” seru Sofi dan Maya berbarengan.
“Gue ada kelas. Jadi, kalau lo mau tahu apa yang terjadi sama Caca, lo berdua harus sabar. Temui gue di kantin jam 11 siang.”
Tanpa mengatakan apa pun lagi Abimanyu meninggalkan dua gadis yang tengah melongo dengan ucapannya. Mereka tak menyangka Abimanyu akan sedikit meninggikan nada suaranya karena terlalu kesal.
Pukul sebelas siang ketiga orang itu benar-benar bertemu. Abimanyu menceritakan apa yang telah terjadi terhadap sang istri. Ketika bertemu mereka pagi tadi Abimanyu berpikir, mungkin saja Caca membutuhkan dorongan semangat dari kedua sahabatnya. Mereka berdua jelas lebih tahu bagaimana cara menghibur Caca.
“Caca ada di taman belakang. Gue yakin kalian udah tahu tempatnya.” Setelah mengatakan itu Abimanyu meninggalkan Sofi dan Maya. Ia naik ke kamarnya untuk berganti baju.
Dari balkon kamarnya Abimanyu bisa mengawasi apa saja yang tengah dilakukan Sofi dan Maya bersama istrinya. Dengan membakar sebatang nikotin Abimanyu melihat percakapan tiga perempuan itu. Abimanyu pun dapat melihat istrinya yang kembali menangis di dekapan Maya. Namun, ia sama sekali tidak ingin menginterupsinya. Ia tahu, mungkin setelah ini Caca justru akan merasa lebih baik.
Pukul tujuh malam seluruh keluarga Caca makan malam. Sofi dan Maya pun turut serta, mereka masih betah berada di sana dan memang Caca sendiri yang meminta mereka untuk tidak segera pulang. Setelah makan malam selesai Sofi dan Maya meminta izin untuk kembali ke kediaman mereka masing-masing. Caca pun dengan berat hati mengiyakan.
Setelah kepulangan kedua sahabatnya Caca kembali ke kamar. Di sana sudah ada Abimanyu yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Lelaki itu tampak begitu serius dengan kegiatannya sampai tak sadar sejak tadi Caca memperhatikannya.
“Hai, gimana? Maya sama Sofi udah pulang?” tanya Abimanyu kala sang istri tercinta duduk di sampingnya.
__ADS_1
Caca mengangguk. Untuk pertama kalinya setelah hari itu Caca tersenyum dan kembali bermanja pada Abimanyu. Perempuan itu menyandarkan kepalanya pada bahu kekar sang suami. Ia ikut memandang rentetan tulisan di layar laptop Abimanyu. Matanya pun terpejam saat merasakan Abimanyu mencium kepalanya. Tangan kiri Abimanyu merengkuh pinggangnya. Memberikan usapan yang menyalurkan kehangatan yang dapat merasuk ke dalam hati Caca.
“Makasih,” tutur Caca lirih.
Kening Abimanyu mengernyit. “Untuk?” tanyanya tak mengerti.
“Untuk semuanya. Untuk kamu yang tetep ada di samping aku. Untuk kamu yang udah sabar menghadapi aku. Dan untuk kamu yang udah ngundang Maya sama Sofi.” Caca mengulurkan tangannya untuk ikut mendekap tubuh hangat Abimanyu. Kali ini ia menyandarkan dagunya di bahu Abimanyu dan menatap wajah pria itu dari samping.
Kedua sudut bibir Abimanyu tertarik. Ia bersyukur bisa kembali melihat cahaya harapan dari bola mata Caca.
“Apa pun yang aku lakukan ini adalah sebuah kewajiban yang nggak bisa aku ingkari. Terlepas dari semua kewajiban aku sebagai suami kamu, aku juga akan rela melakukan apa pun demi kamu. Demi melihat senyum kamu lagi.”
Abimanyu mengecup ujung hidung Caca.
“Jangan pernah nyuruh aku pergi lagi. Aku nggak akan pernah bisa pergi dari hidup kamu. Bagiku, kamu adalah kehidupanku.”
Air mata Caca kembali luruh. Dengan sangat lembut Abimanyu mengusap pipi Caca. Memberikan kecupan pada dua belah pipi itu, pada kening, hidung, dan terakhir pada bibir manisnya.
“Aku janji, akan menjaga kamu lebih baik dari sebelumnya.”
“Terima kasih, Bi. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Aku akan selalu bersyukur udah punya suami seperti kamu. Jangan pernah tinggalin aku. Aku juga nggak bisa hidup tanpa kamu.”
Caca tak dapat membendung perasaan harunya. Jika dulu ia tak menginginkan Abimanyu berada dalam kehidupannya dan kemarin ia ingin Abimanyu pergi dari hidupnya. Saat ini semua telah berubah, ia tidak ingin Abimanyu pergi dari hidupnya. Ia ingin Abimanyu tetap ada di sisinya sampai Tuhan memisahkan mereka dengan kematian.
__ADS_1