
Caca menatap Abimanyu keheranan, sedangkan pemuda itu langsung salah tingkah saat menyadarinya.
“Kan semua cewek itu cantik. Mika juga cantik, kok,” imbuh Abimanyu sembari mengulas senyum menatap Mika.
Abimanyu merutuki dirinya sendiri, karena telah menatap istrinya dengan lekat. Ia bahkan tanpa sadar memuji gadis itu, meski memang begitu adanya.
Dalam mata Abimanyu, Caca memang cantik dengan segala kesederhanaannya. Gadis itu tak pernah berlebihan dalam bersolek, membuat kecantikan alaminya terlihat sangat jelas.
“Makasih, Kak Abi,” ucap Mika malu-malu setelah mendapat satu pujian manis dari Abimanyu.
Kedua sudut bibir Abimanyu kembali terangkat melihat tingkah Mika. Gadis SMA itu sangat lucu saat bertindak malu-malu seperti itu. Abimanyu benar-benar senang berada di sekitar keluarga Caca. Mereka semua sangat menyenangkan. Tidak ada yang membosankan di antara mereka.
“Anak-anak udah balik?” Caca menatap Abimanyu yang tengah menusuk bakso dengan garpunya.
Pemuda itu lantas mengangkat pandangan, menatap Caca sembari menjawab, “Udah.”
Kening Caca berkerut halus. “Kok, kamu nggak ikut balik sekalian?” tanyanya heran.
“Kamu aja masih di sini,” jawab Abimanyu enteng. Ia mengunyah baksonya sembari menatap Caca yang masih tak paham maksud pemuda itu.
“Terus, hubungannya apa?”
Abimanyu meletakkan sendoknya ke atas mangkuk. Pemuda itu menatap mata Caca lekat. “Kan tadi waktu berangkat kita satu mobil. Kalau aku balik dulu, kamu mau pulang jalan kaki?”
Caca mengerjap. Ia hampir saja lupa bahwa tadi mereka berangkat satu mobil berdua. Salah satu rekan mereka yang hari ini sempat terlambat membuat Abimanyu dan Caca harus berangkat lebih dulu. Sebagai koordinator tentunya mereka harus segera tiba untuk melihat kondisi sekolah dan kembali melapor pada guru.
Tak ingin lagi berbicara, Caca mengibaskan tangannya untuk menyudahi obrolan mereka.
__ADS_1
Setelah selesai menyantap menu masakan sang ayah, Caca mengembalikan kotak bekal yang tadi dibawa oleh Ata. Sembari menunggu suaminya makan, Caca mengobrol dengan Mika. Bertanya tentang kabar gadis itu dan juga orang tuanya. Tak lupa juga kakak Mika yang kini tengah menempuh pendidikan di luar negeri.
Namun, obrolan mereka tak bisa lama, karena bel masuk sekolah sudah berdenging. Caca pun mengizinkan ketiga adiknya itu untuk meninggalkan kantin.
“Kak Abi,” panggil Mika.
Kepala Abimanyu terangkat begitu saja mendengar panggilan Mika. Kedua alisnya terangkat, seolah bertanya ada apa.
Mika mengulum senyum menatap Abimanyu dan Caca bergantian, kemudian berucap, “Nanti kalau Kak Abi udah nggak betah sama sifat ketus Kak Caca, Kak Abi bisa hubungi aku. Aku mau kok jadi pengganti Kak Caca sebagai istri Kak Abi.”
Caca membeliakkan matanya mendengar apa yang Mika katakan. “Awas lo, gue blacklist nama lo dari semua kafe ayah!”
Mike segera melangkah cepat sebelum mendapatkan lemparan sepatu dari Caca. Tawanya yang lumayan keras bisa didengar oleh Caca dan penghuni kantin yang lain.
Bukannya marah, Abimanyu malah tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Mika yang suka sekali menjaili Caca. Mereka tampak lucu dengan segala sikap mereka yang saling melemparkan kasih sayang melalui guyonan seperti itu.
Abimanyu hanya bisa tersenyum sembari menyabarkan Caca.
**
Lelah menghantam tubuh Caca yang kini tengah berada di kafe. Gadis dengan rambut dicepol asal-asalan itu mematahkan lehernya ke kanan dan ke kiri, guna mengurangi rasa lelahnya yang mendera.
Hari ini kegiatan Caca cukup padat. Mulai dari sosialisasi kampus di sekolah adiknya tadi, setelah itu kembali ke kampus untuk mengikuti mata kuliah, dan yang terakhir ia berada di kafe ini guna menyelesaikan pekerjaannya yang sudah ia tinggalkan sejak kemarin.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat Caca melirik jam yang ada di pojok komputernya. Ia yang sudah sangat lelah memutuskan untuk mematikan komputer dan beranjak pulang dari sana.
“Mbak, aku pulang dulu, ya.” Caca berpamitan pada salah seorang karyawan kepercayaannya.
__ADS_1
“Iya, Ca. Pulang aja, kayaknya kamu capek banget hari ini,” ucap wanita itu.
Caca mengangguk mengiyakan. Ia pun segera putar badan dan melajukan motornya membelah jalanan.
Tak butuh waktu lama, Caca sudah menyeret langkah menuju kamarnya. Tas berisi buku-buku catatan, Caca tenteng tanpa peduli tas itu terseret di atas lantai. Caca terlalu lelah untuk memedulikan hal sepele seperti itu.
Saat meletakkan tasnya di atas meja belajar, Caca mengumpat tiba-tiba. Sebuah catatan kecil mengenai beberapa tugas yang belum ia kerjakan beserta deadlinenya tergantung di rak buku dan satu catatan dengan tulisan cukup besar membuat Caca benar-benar kesal. Tubuh ramping gadis itu jatuh terduduk saat ia teringat bahwa ada tugas yang harus ia kumpulkan besok.
Caca beranjak ke kamar mandi. Ia akan mengerjakan tugas itu nanti setelah membersihkan diri. Ia tidak peduli meskipun rasa lelah menderanya saat ini.
“Loh, bukanya kamu baru pulang?” tanya Abimanyu kepada istrinya. Tadi ia melihat Caca baru masuk rumah saat pukul setengah delapan malam. Namun, kini sudah kembali menatap layar laptop dengan buku catatan dan buku cetak di sampingnya.
“Iya,” jawab Caca tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. Jarinya begitu lincah menari di atas keyboard.
“Nggak capek?” Abimanyu sudah duduk di samping Caca saat bertanya.
“Capek sih, tapi tugas ini harus dikumpulin besok.”
Caca terkesiap saat merasakan tangan besar Abimanyu mulai memijat tengkuknya.
“Aku pijitin, ya? Nggak boleh nolak!”
“Eh?”
***
Jangan lupa like dan komen ❤
__ADS_1