
Caca memegangi handuknya dengan rapat. Kakinya melangkah cukup cepat untuk segera meraih satu set pakaiannya yang ada di dalam lemari.
Dari arah Sofa, sesekali Abimanyu melirik sang istri yang saat ini terlihat sangat menggoda. Tubuhnya yang hanya tertutup handuk terlihat sangat menggiurkan bagi pria normal sepertinya.
Abimanyu kembali membaca buku saat ia mendapati Caca menatap ke arahnya. Namun, sedetik kemudian ia kembali melirik sang istri yang masih sibuk mencari pakaian yang akan ia kenakan. Entah setan dari mana, Abimanyu tak dapat mengalihkan pandangan dari Caca yang kini sudah membawa pakaiannya.
Gadis itu tampak kesusahan membawa pakaiannya yang terlipat rapi. Di satu sisi, Caca harus mempertahankan handuknya supaya tidak terlepas. Namun, di sisi lain, Caca juga harus memegang erat pakaiannya agar tidak jatuh. Hal itu membuat Caca kebingungan sendiri, sampai akhirnya gadis itu mencoba melenggang ke kamar mandi dengan langkah pelan.
Akan tetapi langkah Caca terhenti saat tiba-tiba sepasang lengan melingkar di pinggangnya. Bahkan pakaiannya jatuh karena terlalu terkejut. Tubuh gadis itu langsung kaku saat Abimanyu tiba-tiba menyusupkan kepala ke tengkuknya.
Abimanyu tampak menikmati apa yang ia lakukan. Aroma yang sangat manis dari tubuh Caca sungguh membuatnya betah untuk terus menempel pada gadis itu. Ia semakin mengeratkan dekapannya pada pinggang Caca. Lalu tak lama kemudian ia membalik tubuh gadis itu supaya menghadap ke arahnya.
Pandangan Abimanyu tertuju tepat pada netra Caca. Mereka saling tatap selama beberapa detik sebelum Abimanyu mendaratkan bibirnya pada bibir Caca secara tiba-tiba.
Buk!
Abimanyu terperanjat saat dua buah buku tebal mendarat di atas meja di depannya. Pemuda itu menatap sekitar dan juga buku yang ada di pangkuannya.
Sial! Ternyata Abimanyu sejak tadi hanya berhalusinasi.
Astaga! Geram Abimanyu pada dirinya sendiri. Ia merutuki otaknya yang telah berpikir sangat ... kotor. Sepertinya sakitnya kemarin membawa sebagian kecil kewarasan yang ia miliki. Abimanyu menyugar rambutnya, berusaha menetralkan kepalanya yang sudah sedikit terkontaminasi dengan sesuatu yang tidak baik. Pandangannya pun beralih pada sang istri yang kini ternyata sudah berpakaian lengkap, beserta kaca mata anti radiasi yang dia miliki.
“Apa?” tanya Caca ketus. Suasana hatinya yang masih kurang baik akibat percakapannya dengan Maya dan Sofi tadi ditambah kejailan Abimanyu yang membuatnya harus ekstra menahan malu saat mengambil pakaian, membuat Caca semakin ingin menelan siapa pun yang ada di depannya.
__ADS_1
Abimanyu hanya mengerjapkan mata. Ia masih tidak mengerti dengan sikap Caca yang tiba-tiba berubah ke mode awal saat mereka bertemu dulu. Pemuda itu pun tak menjawab dan hanya memandangi sang istri yang kini menyalakan macbook-nya.
“Kamu nggak ke kafe?” tanya Abimanyu lagi mencoba mencairkan suasana.
“Nggak, males. Pengen cepet balik.” Caca menjawab tanpa menatap pada Abimanyu sama sekali. Namun sejurus kemudian ia mendelik tajam mendengar sederet kalimat yang Abimanyu lontarkan.
“Kenapa? Udah kangen sama aku, ya?”
“Narsis banget sih,” cibir Caca.
Abimanyu tergelak. “Udah ngaku aja kalau kamu kangen sama aku, makanya balik lebih cepet,” ucapnya lagi mendapatkan tatapan datar dari sang istri. Tawa Abimanyu pecah lagi. Entah kenapa ia sangat suka melihat ekspresi tidak suka Caca padanya.
Pemuda itu masih menatap Caca. Ia menopangkan kepala pada tangannya yang bertumpu pada meja. Gurat serius dari gadis itu menambah kecantikan yang dia miliki.
“Hm,”
Caca tak menoleh. Sesaat kemudian, jemari tangannya yang sibuk menari di atas keyboard seketika berhenti. Bersamaan dengan pipinya yang tiba-tiba saja menghangat dan ia yakin kini sudah berubah merah.
“Cantik banget sih.”
**
Malam menjelang. Abimanyu berada di dapur bersama Nabila yang kini sedang memasak. Abimanyu membantu wanita itu sebisanya. Mengambilkan garam, mencucikan sayuran, atau beberapa hal ringan lainnya.
__ADS_1
“Belum selesai, Bun?” tanya Abimanyu. Tangannya memegangi perut yang sudah beberapa kali berbunyi. Menyuarakan keinginannya untuk segera menyantap sesuatu.
“Bentar lagi, Bi.” Nabila mengaduk kuah soto buatannya, tak lama kemudian wanita itu mematikan kompor dan meminta Abimanyu mengambil mangkuk.
“Istri kamu ke mana? Tadi kayaknya udah pulang.” Nabila mengambil beberapa piring untuk ia letakkan di meja makan.
Asisten rumah tangga Nabila memang tak bekerja hingga malam hari. Mereka akan pulang saat pukul empat sore dan datang saat jam delapan pagi.
Abimanyu mengambil alih piring yang Nabila bawa. “Masih di atas. Dari tadi ngerjain tugas belum selesai.”
“Panggilin, Bi. Suruh makan malem. Istri kamu tuh suka lupa makan kalau udah ngadep laptop,” suruh Nabila.
Abimanyu mengejawantahkan perintah sang ibu. Ia segera beranjak menuju kamarnya. Saat baru membuka pintu, Abimanyu melihat istrinya meletakan kepala di atas meja. Sepertinya gadis itu tertidur di sana.
Abimanyu terkekeh sendiri di ambang pintu. Tak ingin berlama-lama hanya memandang sang istri, Abimanyu pun mendekati gadis itu dan membangunkannya.
“Ca, bangun. Makan nggak?” Abimanyu mengguncang bahu gadis itu pelan. Setelah beberapa kali memanggil akhirnya Caca terbangun.
Gadis itu mengiyakan ajakan Abimanyu. Lantas berusaha berdiri untuk mencuci muka terlebih dahulu. Namun, nahas kaki Caca yang kesemutan membuat gadis itu harus terjatuh. Ia ambruk di atas tubuh Abimanyu.
***
Maaf, ya, kemarin nggak update. Sebagai gantinya aku up lebih awal.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen❤