Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 63 : Sikap


__ADS_3

“Abi turunin aku!” Caca terus meronta sepanjang Abimanyu membawanya ke toilet.


Bukannya menurut, Abimanyu malah semakin melebarkan langkahnya. Ia tidak ingin ada orang lain yang menatap tubuh istrinya yang kini setengah telanjang.


“Abi turunin!” pekik Caca memukul-mukul tubuh Abimanyu dengan tangannya.


“Aaa”


Abimanyu menghempaskan tubuh Caca dengan sedikit kasar saat mereka sudah masuk ke toilet perempuan. Untung saja tidak ada orang lain di sana, sehingga Abimanyu bisa leluasa berada di sana.


Tatapan tajam sama-sama mereka lemparkan. Abimanyu mengurung tubuh istrinya di depan wastafel. Tak ada yang bersuara di antara mereka hingga kedatangan Sofi dan Maya membuat tatapan keduanya sama-sama beralih.


Sofi dan Maya terlihat sangat canggung saat memberikan baju dan rok milik Caca kepada Abimanyu. Suami Caca itu memang sempat menyuruh mereka untuk membawakan pakaian Caca. Setelahnya ia meminta kedua sahabat Caca untuk meninggalkan mereka.


“Pakai!” suruh Abimanyu seraya menyodorkan pakaian Caca.


Caca merebut benda itu dengan kasar, kemudian memakainya satu persatu tanpa malu di depan Abimanyu. Setelah rapi, Caca kembali menatap Abimanyu.


“Kamu mau apa sih, Bi–”


“Kamu yang maunya apa, Ca?” sahut Abimanyu cepat.


“Buka baju di depan banyak orang! Kamu nggak malu?”


Tatapan tajam Abimanyu menghunus keberanian Caca. Gadis itu sedikit takut melihat kemarahan Abimanyu yang belum pernah tampak.


“Aku nggak suka lihat kamu kayak gitu!” suara Abimanyu mulai merendah, tetapi tak lantas membuat Caca percaya bahwa Abimanyu sudah tidak marah lagi.


“Bi, semua ini juga gara-gara temen kecil kamu itu!” Caca mencoba mencari pembelaan.


Abimanyu tertawa kecil. “Dan kamu dengan konyolnya terima tantangan dari Crystal?”

__ADS_1


“Ya iyalah! Dia nantangin aku bahkan ngremehin aku secara nggak langsung!” balas Caca.


Abimanyu mengusap wajahnya kasar. “Harusnya kamu itu bisa mempertimbangkan semuanya dulu, Ca. Bukan malah mengambil keputusan secara impulsif seperti ini.” Tatapan Abimanyu masih sama seperti tadi. Tajam dan juga kesal.


“Apa kamu nggak malu buka baju di depan banyak orang kayak tadi? Bahkan di sana ada beberapa temen cowok Crystal. Kamu nggak sadar?”


“Aku sadar dan aku Ngga peduli. Yang penting aku bisa ngalahin Crystal dan aku akan merasa tenang,” jawab Caca tanpa takut. Keberanian yang sempat surut kini kembali hadir.


“Tenang? Tenang yang kayak gimana maksud kamu?” Abimanyu menyipitkan matanya bingung. Ia memang belum tahu alasan Crystal menantang istrinya.


“Temen kamu bilang, kalau aku bisa ngalahin dia, dia nggak akan ganggu aku sama kamu lagi.”


Alis Abimanyu naik sebelah. “Terus, kalau kamu kalah?”


Caca menjilat bibirnya, netranya bergerak liar. “Aku ... aku harus jauhi kamu,” ucapnya lirih.


Abimanyu melipat kedua tangannya di depan dada. Senyum miringnya terbit begitu saja.


Caca melebarkan kedua bola matanya. Kedua alisnya bertaut tajam secara bersamaan kala sebuah kalimat meluncur lagi dari bibir suaminya.


“Padahal aku nggak masalah kalau Crystal gangguin aku.”


Kalimat itu terdengar enteng saat Abimanyu mengatakannya. Namun, membuat Caca semakin didera rasa kesal.


“Ya udah, sana sama Crystal aja sana. Enggak usah nawarin aku berangkat bareng lagi!” ujar Caca seraya melangkah meninggalkan sang suami dengan mengentakkan kaki.


Abimanyu menatap punggung Caca yang semakin menjauh. Tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal, bingung dengan sikap gadis itu yang menurutnya selalu aneh saat berurusan dengan Crystal. Ia pun segera menyusul langkah Caca yang ia yakini menuju tempat parkir. Rasa kesal Abimanyu telah lenyap seiring rasa kesal Caca yang meluap.


“Kenapa jadi dia yang marah, sih,” gumam Abimanyu seraya mengayunkan kaki.


Sedangkan di tengah lapangan basket, Crystal tampak menatap kosong ke arah depan. Banyak pertanyaan yang tersangkut di kepalanya saat mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana sikap Abimanyu saat melihat Caca menanggalkan pakaian formalnya dan hanya mengenakan hotpants dan tanktop. Crystal sadar bahwa Abimanyu dan Caca pasti memiliki hubungan lebih dari teman. Tatapan mata Abimanyu kepada Caca jelas berbeda. Cara Abimanyu membawa Caca juga terlihat sangat posesif, seolah tidak ada yang boleh menatap tubuh Caca selain dirinya.


Namun, Crystal masih tidak paham hubungan seperti apa antara Caca dan Abimanyu-nya.


“Arrghh, sial!”


“Lo kenapa sih, Crys”


Crystal memutar kepalanya hanya untuk menatap tajam mata sahabatnya yang kini menatapnya polos.


“Hih! Biasa aja kali ngliatin gue. Gue tahu gue cantik,” ujar gadis itu dengan senyum manis, tetapi terkesan bodoh di mata Crystal.


Tanpa menimpali ucapan sahabatnya, Crystal berdiri dari duduknya. Ia menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya untuk membersihkan debu yang sejatinya tidak ada.


“Gue lagi nggak mood ngobrol sama, lo. Gue balik dulu.” Crystal mengambil langkah tanpa menunggu persetujuan Reva.


“Kebiasaan deh Crystal,” gerutu Reva. Sejenak ia menatap tubuh Crystal yang semakin kecil di telan jalan dan hilang ketika sampai di ujung koridor.


“Tapi dia kenapa, ya? Bukannya harusnya dia seneng karena nggak jadi tanding. Dia kan jadi nggak mempermalukan dia sendiri.” Reva mengerjap bingung. “Crystal kan nggak sejago Caca main basketnya,” imbuhnya tanpa sadar.


***


Halo, lama tak jumpa ya. Haha


Maaf akunya sibuk banget akhir bulan kemarin, nuntasin kerjaan. Bulan ini pun sebenarnya cukup sibuk juga, karena aku mau KKN. Tapi, semoga bisa tetep update, hihi.


Makasih loh untuk yang selalu nungguin cerita Caca dan Abimanyu yang sejatinya agak gak jelas wkwk.


Jangan lupa like dan komen, ya❤


Salam cinta dari An Nisa🥰

__ADS_1


__ADS_2