Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 112 : Tidak menginginkan


__ADS_3

“Kapan terakhir kamu datang bulan?”


Caca tampak berpikir keras. Sepertinya sudah lama tamu bulanannya tidak datang, hingga ia bahkan lupa. Namun, hal itu justru menimbulkan sedikit ketakutan pada hatinya.


“Kalian nggak jadi nunda punya anak sekarang?”


Seketika semua orang menoleh pada dokter anak itu.


“Bukannya kalian sepakat untuk nggak punya anak dulu sampai kalian sama-sama lulus kuliah?”


“Iya, kami memang sepakat untuk itu.”


Abimanyu dan Caca memang sepakat untuk tidak memiliki momongan terlebih dahulu sampai mereka lulus kuliah. Bagi mereka terlalu banyak risiko yang harus diambil jika mereka memiliki anak sekarang, terlebih keduanya masih sama-sama menempuh pendidikan strata satu.


Keputusan itu bukan hanya dari Abimanyu dan Caca saja. Mereka lebih dulu mendiskusikannya dengan kedua orang tua mereka masing-masing dan semua setuju.


Namun, ada yang membuat Jingga janggal dengan kondisi Caca saat ini meskipun ia tidak bisa memastikannya.


“Bentar-bentar, maksudnya?”


Jingga tampak ragu mengatakan dugaannya.


“Kemungkinan Caca hamil. Tapi, Mama belum terlalu yakin. Ini hanya spekulasi Mama.”


“Tapi nggak mungkin, Ma. Aku selalu pakai pengaman waktu berhubungan sama Caca,” sangkal Abimanyu.


Pasangan muda itu memang tidak memasang alat kontrasepsi ke tubuh Caca. Mereka tidak mau jika mereka justru tidak bisa memiliki anak apabila Caca memakai alat kontrasepsi dalam tubuhnya. Abimanyu lebih memilih menggunakan pengaman saat mereka berhubungan badan.


“Kita pastikan dulu. Ini masih dugaan sementara Mama.”


Jingga dan Banyu saling bertatapan untuk beberapa detik. Seolah sedang mengirimkan pikiran yang mungkin sama.


“Kamu ke dokter aja, ya. Mungkin aja Mama yang salah. Nanti Mama telepon temen Mama supaya kamu langsung ditangani,” ucap Jingga seraya meraih ponselnya. Wanita itu lantas menghubungi salah satu temannya untuk memeriksa kondisi sang putri nanti.


Tatapan mata Caca kosong. Perempuan itu tiba-tiba diserang dengan pemikiran yang tidak-tidak. Ia mencoba berpikir dengan keras mengenai apa yang ibunya katakan.


Sama seperti sang istri. Abimanyu juga sedang mengingat-ingat kapan terakhir kali mereka berhubungan dan tidak memakai pengaman. Karena seingatnya, ia tak pernah sekali pun absen dalam menggunakan benda itu.


“Ma,” panggil Caca dengan suara bergetar.

__ADS_1


“A-aku nggak mau ke rumah sakit,” imbuhnya.


“Loh, kenapa? Kamu harus diperiksa, Kak. Supaya kita tahu kamu itu kenapa.” Banyu berucap sembari mengusap lengan sang putri. Ia bisa merasakan sang putri sedang tidak baik-baik saja.


“Ta-tapi a-aku takut,” jawab Caca hampir terisak.


“Hei, hei. Sayang, kan ada aku. Nanti aku izin dulu dari kantor. Aku bakal nemenin kamu seharian ini,” sahut Abimanyu tanpa tahu penyebab sang istri ketakutan.


“Nanti kalau aku beneran hamil gimana?”


Jingga dan Banyu saling bertatapan kembali. Mereka tahu apa yang ada dalam pikiran Caca.


“Nggak mungkin, Sayang. Kamu kan tahu kita selalu pakai pengaman. Kalau pun kamu hamil aku nggak mas–“


“Bukan sama kamu, Bi. Tapi sama ...”


Caca tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Lidahnya mendadak kelu, air mata pun tak kuasa untuk tidak menetes. Wanita itu takut dengan kenyataan yang mungkin akan sangat menyakiti hatinya dan sang suami.


Abimanyu terdiam. Ia baru ingat tentang kejadian itu lagi. Saat sang istri dilecehkan oleh sepupunya sendiri. Entah kenapa ia benar-benar lupa akan hal tersebut. Ia pun segera meraih tubuh Caca ke dalam dekapannya.


“Kamu nggak usah mikir macem-macem, Sayang.” Abimanyu berusaha menenangkan sang istri yang sedang meraung-raung. Mereka sama-sama takut dengan kemungkinan yang akan terjadi.


**


“Selamat, Pak. Istri Anda mengandung. Usia kandungannya sudah menginjak 6 minggu.”


Senyum semringah terlempar begitu saja dari bibir dokter kandungan berusia paruh baya. Rekan Jingga di rumah sakit tempatnya bekerja. Hal lumrah yang selalu ia lakukan setiap kali mendapat kabar baik seperti ini.


Akan tetapi pasiennya kali ini berbeda. Perempuan yang masih sangat muda itu justru menangis histeris. Seolah kabar tersebut merupakan kabar paling buruk yang tidak ingin ia dengar selama hidupnya.


“Aku nggak mau ngandung anak ini, aku nggak mau!” teriak Caca sembari menarik kepalanya dengan frustrasi.


Seratus persen Caca yakin bahwa janin yang ia kandung bukan anak Abimanyu. Seperti yang telah Abimanyu jelaskan pada Jingga bahwasanya mereka tak pernah luput dalam menggunakan pengaman. Ditambah kala ia diperkosa oleh mantan kekasihnya sendiri, ia bisa dengan jelas merasakan bagaimana Dean memuntahkan sel spermanya ke dalam rahimnya.


“Sayang, Sayang. Kamu tenang, ya. Tenang.”


Abimanyu memeluk istrinya dengan begitu erat. Sebenarnya ia cukup kecewa dengan hasil tersebut. Namun, ia tidak ingin memperlihatkannya pada sang istri. Ia takut Caca semakin emosi dengan kondisi saat ini.


Kebingungan tergambar jelas pada raut muka dokter sekaligus asistennya. Pikiran negatif mulai menyerbu kepala. Mereka sama-sama berpikir mungkin saja kedua orang itu bukan pasangan suami istri. Namun, mengingat Caca adalah putri dari dokter ternama di rumah sakit tersebut membuat mereka buru-buru menghempaskan pikiran-pikiran negatif itu. Mereka hanya bisa termenung dan memperhatikan bagaimana Abimanyu berusaha menenangkan istrinya.

__ADS_1


Masih dengan sesenggukan Caca kembali berucap,


“Aku nggak mau anak ini, Bi. Nggak mau. Dia bukan anak kamu, bukan anak kita.”


“Kamu tenang dulu, oke? Kita bicarakan setelah sampai di rumah.”


Beberapa saat berlalu. Caca pun berangsur tenang. Abimanyu pun berterima kasih pada dokter tersebut dan meminta maaf dengan apa yang baru saja terjadi sebelum keluar dari ruangan itu.


Selama perjalanan kembali ke rumah, tak sedikit pun Caca mengeluarkan suaranya. Perempuan itu sibuk menatap jalanan yang terlihat cukup lengang. Sesekali ia mengusap pipinya yang tiba-tiba basah. Caca juga tak menoleh sama sekali saat Abimanyu mengusap kepalanya. Kendaraan roda empat itu terasa dingin hingga mereka sampai di rumah.


Tanpa menunggu Abimanyu, Caca berlari ke dalam rumah. Ia seakan tak peduli dengan nyawa yang tengah hidup dalam tubuhnya. Bahkan dengan tanpa perasaan Caca membanting dirinya di atas ranjang dengan posisi tengkurap.


Caca benar-benar seperti seseorang yang tak punya hati. Ia seolah tak peduli dan ingin menyingkirkan bayi tersebut.


Melihat kelakuan istrinya yang sudah di luar kendali, Abimanyu segera mendekatinya. Tanpa emosi dan dengan suara tercekat Abimanyu meminta Caca untuk membalikkan tubuhnya. Ia berkata kasihan pada bayi dalam kandungan Caca jika tetap dalam posisi tersebut.


“Jangan pedulikan dia, Bi. Dia bukan anak kita.”


Jawaban Caca menggores sebagian hatinya. Ia dapat dengan jelas merasakan bagaimana perasaan Caca saat ini. Namun, ia juga tidak bisa membiarkan Caca melakukan hal buruk pada janin yang tidak bersalah itu.


“Ca, aku mohon jangan begini. Bagaimanapun janin itu tidak bersalah.”


“Tapi aku nggak mau anak ini, Bi.” Caca mendongak, menatap Abimanyu dengan datar.


“Bagaimana kalau aku gugurkan saja bayi ini?”


“Ca!”


Abimanyu melebarkan matanya tak percaya.


“Aku benci sama dia, Bi! Benci!” teriak Caca diiringi dengan air matanya yang kembali luruh.


Tak mampu lagi membendung perasaannya yang ikut hancur. Abimanyu kembali memeluk Caca, tetapi sekuat tenaga ia tak mengeluarkan air mata.


“Kenapa dia harus hidup di tengah-tengah kebahagiaan kita, Bi. Dia mengganggu ketenteraman hidup kita,” ucap Caca dengan histeris. Ia hampir memukul perutnya jika saja Abimanyu tidak menahan tangannya.


“Dia mungkin juga tidak ingin hadir seperti ini. Tapi, apa kita punya hak untuk membunuhnya. Janin ini tidak berdosa sama sekali, Sayang,” balas Abimanyu kala Caca mulai tenang.


Ia mengecup kepala Caca beberapa kali. Menenangkan seluruh emosi yang bercokol pada hatinya. Amarah, sedih, dan penyesalan menggelayuti pundak Abimanyu. Namun, ia tak bisa mencurahkan seluruh emosi dalam dirinya saat ini.

__ADS_1


Dengan sekuat hati Abimanyu akan menerima apa yang telah terjadi saat ini. Ia yakin Tuhan merencanakan sesuatu yang sangat indah untuk masa depan mereka.


__ADS_2