Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 38 : Sakit


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Caca masuk ke dalam rumah mertuanya. Dahaga yang sejak tadi menghampiri, membawa langkah Caca ke dapur. Gadis itu menuangkan air putih setelah mengambil gelas dari dalam rak. Kemudian, menenggaknya perlahan. Menikmati setiap tetes air putih itu dengan penuh rasa syukur.


Saat cairan bening itu tandas, Nabila sang ibu mertua masuk ke dapur. Menyapa Caca sekilas sebelum membuka pintu kulkas.


“Baru pulang, Ca?” tanya Nabila.


“Iya, Bun.” Caca melihat apa yang ibu mertuanya lakukan, kemudian menanyakan sesuatu yang jarang ia tanyakan. “Abi belum pulang, Bun?”


Nabila menutup pintu kulkasnya. “Abi udah pulang dari sore,” jawab Nabila sebelum meminum jus mangga yang ia simpan sejak siang tadi.


“Nggak kerja?” tanya Caca lagi. Keningnya mengernyit heran.


Kepala Nabila menggeleng. “Enggak, kayaknya lagi kecapean.” Wanita itu beranjak dari duduknya. Mencuci gelas yang baru saja ia gunakan. Sebelum keluar dari dapur Nabila berkata, “Abi tadi belum makan malam. Dari tadi bunda ketuk pintunya nggak respons, kayaknya suami kamu tidur. Tolong kamu siapin makanan buat Abi, ya?”


Semakin heran saja Caca dengan Abimanyu hari ini. Tidak biasanya pemuda itu tidak bekerja. Tidak biasanya juga Abimanyu tidur saat sore hari. Caca mencoba untuk berpikir positif. Ia pun menyiapkan makan malam untuk suaminya, seperti perintah sang ibu mertua.

__ADS_1


Caca membuka pintu kamarnya dengan sedikit kesulitan. Saat berhasil, Caca mendorong pintu itu dengan tubuhnya. Setelah menutup pintu tersebut Caca melihat Abimanyu berbaring miring, memeluk dirinya sendiri dengan selimut membalut seluruh tubuhnya.


“Bi,” Caca meletakkan nampan berisi makanan dan minuman untuk Abimanyu ke atas meja. Ia menghampiri pemuda yang masih bergeming di tempatnya itu.


“Bi, kata bunda kamu belum makan. Makan dulu, yuk!” Caca menggoyangkan lengan Abimanyu, berniat membangunkan suaminya itu.


Kening Caca mengernyit melihat wajah Abimanyu yang merah padam. Dalam jarak sedekat ini, Caca bisa merasakan bahwa Abimanyu sedang gemetar seperti tengah kedinginan. Caca pun menyentuh pipi Abimanyu untuk memastikan sesuatu. Betapa terkejutnya Caca saat ternyata suhu tubuh Abimanyu sangat tinggi.


“Astaga, Abi!” pekik Caca khawatir. “Sejak kapan kamu kayak gini?” tanyanya yang tentu tidak mendapat jawaban apa pun dari Abimanyu.


“Kok bisa panas gini, sih?” gumam Caca sembari meletakkan handuk kecil yang sudah ia peras ke atas kening Abimanyu.


Abimanyu sedikit membuka matanya yang terasa sangat berat. Pemuda itu bergumam lirih memanggil nama Caca.


“Aku cari obat bentar, ya,” izin Caca pada suaminya. Pemuda itu mengangguk kecil dan kembali menutup mata.

__ADS_1


Caca kelimpungan sendiri saat mencari kotak obat. Gadis itu memang selalu lupa banyak hal saat panik seperti ini. Ia bahkan lupa bisa bertanya pada ibu mertuanya di mana letak kotak obat berada dan obat apa yang biasa dikonsumsi oleh suaminya saat seperti ini. Sepuluh menit hampir berlalu, tetapi Caca masih belum juga menemukan kotak obat tersebut. Beruntung, saat akan naik kembali ke kamarnya, Caca melihat kotak obat itu berada di ujung meja ruang tengah. Pantas saja Caca tidak bisa menemukannya di mana-mana.


“Minum dulu, ya.” Caca membantu Abimanyu meminum air putih sebelum dan setelah menelan obat penurun panas. Saat ini ia bisa sedikit bernapas lega. Ia hanya tinggal menunggu beberapa saat sampai suhu tubuh Abimanyu menurun.


Caca hendak berdiri saat tiba-tiba Abimanyu mencekal pergelangan tangannya. Gadis itu tersenyum dan bertanya ada apa pada suaminya.


“Jangan pergi,” ucap Abimanyu lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Caca.


“Iya, nanti aku temenin. Aku balikin piring dulu, ya.” Caca melepaskan tangan Abimanyu perlahan. Kemudian, mengambil langkah untuk mengembalikan piring berisi makanan yang ia bawa tadi.


Setelah kembali ke kamar, Caca memutuskan untuk mandi. Tubuhnya terasa sangat lengket saat ini. Setelah selesai, gadis itu kembali mengecek suhu tubuh Abimanyu dengan punggung tangannya. Namun, ternyata suhu tubuh Abimanyu masih sama seperti sebelumnya hanya turun sedikit.


“Aku tidur di sini, ya? nemenin kamu,” izin Caca tanpa peduli apakah Abimanyu mendengarnya atau tidak.


Caca pun merebahkan diri di samping Abimanyu. Ia mengusap-usap lengan pemuda itu dan tak lama kemudian ia terlelap, jatuh ke dalam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2