
Abimanyu membiarkan Caca menarik dirinya hingga mereka benar-benar jauh dari jangkauan Crystal. Bibirnya terus mengulas senyum menatap tangannya yang masih setia digenggam oleh Caca. Entah sadar atau tidak, Abimanyu tidak peduli. Ia memilih untuk menikmati dan tidak melayangkan protes ataupun menggoda sampai Caca sadar nanti.
Langkah mereka sejajar saat menaiki tangga. Caca menoleh ke samping saat merasa diperhatikan oleh suaminya. Netranya memicing, melihat Abimanyu terus saja tersenyum padanya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi padanya.
“Apa?” tanya Caca sedikit ketus. Sungguh, melihat tingkah Crystal beberapa saat yang lalu membuat suasana hati Caca berantakan.
Gadis itu benar-benar tidak tahu malu, dan entah kenapa Caca merasa sangat kesal melihat Crystal dengan percaya dirinya meminta Abimanyu mengantarkan dia pulang di depannya.
Kaki mereka berhenti di tengah tangga. Tidak ada siapa pun di sana yang bisa mengganggu mereka karena hari masih sangat pagi.
Abimanyu menyunggingkan sebelah bibirnya, kemudian mengangkat tangannya yang masih digenggam erat oleh Caca.
Sontak Caca membelalakkan matanya. Ia tanpa sadar menggandeng tangan Abimanyu sepanjang langkah mereka dari tempat parkir sampai lantai dua. Buru-buru Caca melepaskan tangan Abimanyu sedikit kasar. Saat ini, rasa malu mulai menjalari dirinya.
“Jadi, enggak cemburu kalau aku nganterin Crystal balik?” goda Abimanyu. Senyumnya membuat Caca kesal setengah mati.
Untuk mengalihkan rasa malunya, Caca menatap Abimanyu dengan dagu naik beberapa senti.
“Aku nggak cemburu, Bi–”
“Terus?”
Caca berdecak karena Abimanyu memotong ucapannya.
“Aku cuma mau dia itu sadar, kalau kamu bukan sopir Crystal yang bisa anter dia pulang sewaktu-waktu,” imbuhnya dengan pandangan datar.
Caca melipat kedua tangannya di atas dada. Memicing tak suka kala Abimanyu mengangguk masih dengan senyum menggoda.
“Bisa nggak sih muka kamu nggak kayak gitu?” ketus Caca. Baginya Abimanyu menambah kadar kekesalan yang ia terima hari ini.
__ADS_1
“Kayak gimana emangnya muka aku?” tanya Abimanyu tertawa kecil. “Ganteng kan maksudnya?” imbuhnya seraya menyugar rambut dengan jemarinya.
Netra Caca mendelik seketika. Ia baru ingat suaminya ini memiliki kadar kepercayaan diri yang sangat tinggi. Tak ingin lagi berdebat dan mempermalukan dirinya sendiri, Caca memilih untuk membawa dirinya pergi tanpa pamit.
Dari ujung tangga Caca bisa mendengar Abimanyu tertawa geli. Dengan kesal Caca membalik tubuhnya. Menatap tajam Abimanyu seraya mengacungkan jari tengahnya. Saat itu juga tawa Abimanyu semakin lepas.
**
Pukul sepuluh pagi Caca menjejakkan kakinya di koridor kampus. Ia menikmati sebuah permen lolipop sambil mendengar sebuah lagu dari earphones wireless-nya. Sesekali kepalanya bergoyang kecil ke kanan dan kiri, mengikuti irama lagu yang tengah berputar.
Samar-samar Caca mendengar langkah kaki dari arah belakangnya. Ia berpikir ada mahasiswa lain yang berjalan di belakangnya dan mereka menuju arah yang sama. Namun, betapa terkejutnya Caca saat tiba-tiba ada seseorang yang menghadang jalannya dari arah belakang.
Bola mata Caca berputar melihat siapa yang kini berdiri di depannya. Ia tak ingin ambil peduli dengan orang itu dan hendak kembali melangkah. Namun, langkahnya ditahan dan membuat Caca mau tak mau beradu pandang dengan orang tersebut.
Caca melepaskan earphones-nya dan mengalungkannya di leher. Lolipop manis yang tadinya berdiam diri di dalam bibir Caca kini telah berpindah tempat.
“Gue lagi males, ya, debat sama, lo. Meding sekarang lo minggir! Gue harus ke kelas,” ucap Caca malas. Tatapannya sangat datar, tetapi bisa mengintimidasi lawan bicaranya.
Alis Caca bertaut. “Gue nggak salah dengar?” tanyanya memicing. Lagi-lagi ia harus memutar bola matanya saat gadis di hadapannya menggeleng.
“Udah, ya, Crystal. Stop main-main sama gue. Gue bukan orang ngganggur yang bisa lo ajak main ginian.” Kepala Caca menggeleng tak habis pikir dengan tantangan yang Crystal berikan.
“Kalau lo menang gue nggak akan ganggu lo atau Kak Abi lagi.” Seakan tak peduli dengan respons Caca, Crystal menjelaskan maksud dari tantangannya. “Tapi, kalu lo kalah. Lo harus jauhi Kak Abi.”
Caca sedikit tertarik dengan kalimat Crystal. Caca adalah pemain basket yang andal dan bisa dipastikan ia akan menang dari Crystal. Satu keuntungan juga jika ia bisa lebih unggul dari gadis itu. Selain tidak akan diganggu lagi, Caca bisa memperlihatkan kemampuan yang sudah lama tidak ia tunjukkan pada orang-orang.
“Gimana?” tanya Crystal menantang.
Tak terima dengan tatapan remeh Crystal, Caca pun mengiyakan tantangan gadis itu tanpa berpikir dua kali.
__ADS_1
**
Pukul empat sore Abimanyu keluar dari kelasnya. Ia berjalan beriringan bersama Aldo. Mereka berjalan santai sambil membicarakan beberapa hal, hingga tiba-tiba Aldi mengejutkan mereka dari arah berlawanan.
“Apaan sih, Di? Abimanyu melayangkan tatapan tajam pada saudara kembar Aldo.
Aldi mengatur napasnya yang tersengal akibat berlari dari kelasnya yang cukup jauh dari kelas Abimanyu dan Aldo.
“Istri lo, Bi!”
“Caca? Kenapa Caca?” Abimanyu menatap bingung pada Aldi yang berucap seolah terjadi sesuatu pada istrinya.
Rasanya Aldi tak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi, hingga ia memilih menyeret tangan Abimanyu menuju lapangan basket yang ada di sebelah gedung fakultas mereka.
“Lo apa-apaan nyeret gue!” sentak Abimanyu menghentikan langkah kakinya dan Aldi.
“Istri lo ditantangin sama Crystal di lapangan basket!” seru Aldi.
Kedua alis mata Abimanyu menukik tajam. Ia menggeleng tak percaya. Crystal tidak mungkin melakukan tindakan konyol seperti itu dan Caca tidak mungkin menerimanya.
“Kalau lo nggak percaya lo lihat ke sana sendiri.”
Aldi berjalan terlebih dahulu. Abimanyu dan Aldo pun mau tak mau mengikuti langkah kaki Aldi.
Dari ambang pintu lapangan basket, Abimanyu melihat Caca tengah mengikat rambutnya ke atas kepala. Pakaian gadis itu masih sama seperti tadi pagi. Rok selutut dan blouse berwarna coklat.
Tidak mungkin Caca akan bermain basket dengan penampilan seperti itu, pikir Abimanyu.
Namun, sedetik kemudian pemuda itu dibuat tercengang saat Caca menanggalkan blouse-nya dan hanya menyisakan tanktop berwarna biru. Netra Abimanyu semakin lebar saat Caca turut menanggalkan roknya dan hanya menyisakan celana hotpants berwarna hitam.
__ADS_1
Abimanyu melihat sekitar. Ada beberapa laki-laki yang menatap Caca penuh kekaguman. Ia pun meradang. Langkahnya terbuka lebar mendekati Caca, dan tanpa aba-aba Abimanyu menarik Caca bahkan menggendong gadis itu secara paksa kala Caca mulai meronta.