Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 46 : Menertawakan


__ADS_3

Abimanyu menatap jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah pukul delapan dan ia masih berada di rumah. Padahal kelas akan dimulai tiga puluh menit lagi. Abimanyu buru-buru mengambil helm dan kunci motor. Langkahnya sedikit berlari supaya ia bisa segera berangkat. Namun, langkahnya justru terhenti saat suara seseorang menginterupsi dirinya.


“Mau ngapain kamu bawa helm?”


Abimanyu memejamkan matanya sejenak. Ia membalikkan tubuh menghadap si pemilik suara.


“Aku buru-buru, Ca. Udah telat.” Pemuda itu kembali melihat jam tangannya sebelum memutar tubuh dan beranjak meninggalkan istrinya yang juga sudah rapi.


“Kamu nggak boleh naik motor, Bi!” larang Caca sembari mengikuti langkah kaki sang suami.


Suami Caca itu berdecak. “Aku nggak ada waktu kalau naik mobil,” jawab Abimanyu sembari mengenakan helm.


“Tapi kamu baru sembuh, Abi!”


“Astaga, Ca. Aku udah istirahat dua hari ditambah dua hari kemarin juga naik mobil sama kamu. Masih kurang?” Abimanyu semakin panik setelah kembali melihat jam tangannya. Sudah hampir setengah sembilan. Tidak ada waktu lagi.


“Oke, kita naik motor aku. Kamu nggak boleh nyetir dulu,” titah Caca buru-buru mengenakan helm dan mengambil kunci motornya.


Gadis itu menyalakan motor dan menyuruh Abimanyu naik. Namun, pemuda itu tampaknya enggan. Caca pun harus mengeluarkan jurus ancaman supaya suaminya menurut.


“Kamu berangkat sama aku atau nggak usah berangkat aja?”


“Iya-iya” Abimanyu segera duduk di belakang Caca. Tak lupa ia menyuruh sang istri untuk melajukan motor mereka dengan kecepatan tinggi.


**


Dua puluh menit yang Caca perlukan untuk sampai di gedung kampusnya. Gadis itu meletakkan helm ke spion saat Abimanyu tiba-tiba berlari menuju gedung kelasnya. Bahkan pemuda itu tak berpamitan pada istrinya.


Caca tertawa tanpa suara melihat kelakuan suaminya. Ia pun tak menegur atau mengikuti pemuda itu. Ia hanya menatap kepergian Abimanyu dengan tawa yang tak bisa ia tahan.

__ADS_1


“Oh jadi ini yang katanya nggak punya rasa sama suaminya.”


Kalimat yang terdengar sangat menjengkelkan itu membuat bola mata Caca bergerak malas. Tanpa melihat, ia sudah tahu siapa pelakunya.


Sembari membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan Caca menjawab, “Udah ya, May. Ini masih pagi. Gue nggak mau suasana hati gue yang pagi ini cerah berubah mendung gara-gara lo.”


Maya tertawa, ia merangkul bahu Caca. Menepuknya dua kali sebelum menyeret gadis itu menuju kelas mereka.


“Bercanda, Sayang.” Maya kembali tertawa.


“Tumben kalian berangkat bareng naik motor. Biasanya kalau berdua naik mobil,” tutur Maya penasaran.


“Abi udah kesiangan. Tadinya mau naik motor sendiri, tapi karena baru sakit nggak gue izinin. Kalau mau naik motor pun harus sama gue dan gue yang nyetir,” jelas Caca.


Kepala Maya mengangguk. Senyum tipis gadis itu membuat Caca menyipit curiga.


“Lo kenapa senyum-senyum kayak gitu?” tanya Caca sedikit sewot.


“Apa sih, May?” Caca memukul lengan Maya dengan gemas.


“Gue tu cuma kasihan sama dia. Nggak ada rasa apa-apa,” ucapnya lagi mencoba menghentikan pemikiran Maya yang pasti menjurus ke sana.


“Siapa yang bilang lo punya rasa sama dia?” Maya semakin tergelak melihat tingkah Caca yang menurutnya sangat menggemaskan.


“Gue tu cuma mau bilang. Jangan-jangan lo punya niat nggak baik sama dia,” tutur Maya masih dengan tawanya.


Caca berdecak. “Alasan!”


Gadis itu melenggang mendahului Maya yang masih terus menertawakannya.

__ADS_1


Di tempat lain


Abimanyu menghempaskan dirinya di atas kursi. Pemuda itu menormalkan deru napasnya yang memburu akibat berlari dari tempat parkir menuju kelasnya. Capek juga ternyata lari sejauh itu, batin Abimanyu. Ia sangat bersyukur, dosen jam pertama belum datang.


Aldo yang duduk di sebelahnya memanggil Abimanyu dengan lirih. Ia bertanya apakah Abimanyu hari ini terlambat. Dengan nada sedikit keras Abimanyu menjawab iya.


“Lo nggak lihat gue dari tadi lari-larian masuk ke sini?” tanyanya sinis.


Abimanyu dapat melihat Aldo mengulum senyumnya. Ia menyipit curiga, karena tidak hanya Aldo saja, hampir seluruh teman sekelasnya menatap Abimanyu dan menahan tawa.


“Kenapa sih?” tanya Abimanyu pada Aldo.


Sebelum Aldo menjawab, seorang dosen pengajar kelas mereka masuk.


“Selamat pagi semua,” sapanya sebelum memulai kelas.


“Pagi, Pak,” jawab para mahasiswa itu serentak.


Abimanyu dibuat semakin bingung, tatkala tatapan sang dosen mengarah kepadanya.


“Abi, kamu mau memakai helm itu sampai kelas kita selesai?”


Abimanyu sontak meraba kepalanya. Ia terbelalak saat ternyata pelindung kepalanya itu masih bertengger di sana.


Sialan, pantes dari tadi semua orang ngeliatin gue, batinnya mengumpat kesal.


***


Dah, ya. Double up untuk hari ini. Hadiah sama vote-nya lempar aku boleh lo😂

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2