Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 52 : Menggoda


__ADS_3

Abimanyu berdeham canggung. Ia menegakkan tubuhnya. Menyandarkan punggungnya pada sandaran ayunan.


“Nggak usah bohong!” ucapnya, berusaha menutupi rona merah yang mulai muncul di wajahnya.


Caca tertawa geli. Melihat Abimanyu salah tingkah seperti itu ternyata sangat menyenangkan. Pemuda itu terlihat sangat menggemaskan saat terlihat kikuk.


“Emang kenapa kalau aku mikirin kamu?” tanya Caca menggoda. Ia menurunkan kakinya, beralih menopangkan sikunya pada lutut dan mencondongkan tubuhnya pada sang suami yang kini semakin salah tingkah.


Abimanyu hanya berdecak. Matanya beralih memandang sekitar, tak mau menatap wajah cantik sang istri. Ia yakin, sekarang wajahnya sudah sangat merah hanya karena itu.


“Aku balik ke kamar aja deh. Di sini kayaknya gangguin kamu,” ucapnya hendak berdiri. Namun, urung saat Caca tiba-tiba memegang pergelangan tangannya. Menahan langkah Abimanyu seketika.


“Siapa yang bilang kamu ganggu? Aku malah seneng kamu ada di sini,” goda Caca lagi. Gadis itu semakin mengulum senyumnya, tatkala Abimanyu menuruti permintaannya untuk duduk kembali.


Beberapa waktu kemarin Abimanyu sedikit gencar menggodanya. Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk balas dendam. Caca tersenyum miring melihat Abimanyu yang masih tak mau menatapnya.


Hening. Caca tak lagi melontarkan kalimat begitu pun dengan suaminya. Caca hanya memandangi wajah Abimanyu yang kini sudah terlihat normal.


“Kamu kenapa akhir-akhir ini hindarin aku?” tanya Abimanyu tiba-tiba.


Caca menaikkan kedua alisnya. Bingung, apakah harus menjawab jujur atau tidak.

__ADS_1


“Emang aku hindarin kamu?” tanya Caca balik.


Bola mata Abimanyu merotasi malas. “Dengan kamu berangkat lebih pagi, pulang lebih malem. Nggak mau berangkat bareng, nggak mau dijemput, dan selalu tidur lebih malem dari aku.” Abimanyu memberanikan diri menatap sang istri yang kini masih bertopang dagu. “Apa itu nggak disebut menghindar?”


“Aku nggak ngehindar, Bi. Aku beberapa hari ini emang ada kelas pagi. Aku nggak mau dijemput juga karena kasihan sama kamu. Kamu kan baru sakit. Minggu besok aku juga ada presentasi, jadi beberapa hari ini aku begadang.” Dan Caca memilih untuk berbohong saja. Ia tak sampai hati untuk berkata jujur pada pemuda itu, bahwa ia memang menghindar untuk mencari ruang agar bisa sedikit bernapas dan kembali memikirkan apa yang Maya katakan.


Abimanyu memilih mengangguk. Meskipun ia tahu apa yang Caca ucapkan adalah kebohongan. Terlihat jelas dari sorot matanya.


“Dingin, aku mau ke kamar. Ikut nggak?” Abimanyu beranjak dan berdiri di samping ayunan itu.


Seulas senyum terbit dari bibir Caca. Ia pun ikut beranjak dan tanpa sadar menggandeng tangan Abimanyu.


“Astaga, Bi. Lo beneran suka sama si Caca itu?”


Abimanyu tak merespons pertanyaan Aldi. Ia tetap fokus menikmati soto ayam yang baru saja tiba. Abimanyu bahkan tak peduli saat Aldi kembali bertanya dan mengumpati dirinya, karena tidak ia indahkan setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.


“Lo serius, Bi, suka sama Caca?”


“Sialan!”


“Bi, nggak bisa gini, ya. Lo harus sadar dia itu siapa!”

__ADS_1


Aldo membanting sendoknya ke atas mangkuk. Matanya menatap tajam pada sang adik yang sejak tadi tidak berhenti mengoceh.


“Lo bisa diem nggak sih, Di?” Netranya yang tajam menyorot Aldi yang kini jadi diam.


“Gue perhatiin kayaknya lo nggak terima banget kalau Abi suka sama istrinya. Lo suka sama Abi?”


Pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan itu membuat Aldi membeliak. “Nggak lah!” seru pemuda itu cepat.


“Terus, buat apa lo kesel kalau Abi suka sama Caca? Sah-sah aja kalau Abi suka sama istrinya. Lo nggak punya hak buat ngatur siapa yang boleh Abi sukai.”


Abimanyu melirik sepasang manusia kembar itu bergantian. Jika Aldo sudah berbicara, maka Abimanyu tidak perlu lagi melakukan apa-apa. Aldo seperti pawang, yang bisa mengendalikan adiknya, Aldi.


“Ya, tapi kan, Bang–”


“Tapi apa?” potong Aldo. “Lo tu harusnya dukung Abi, bukannya malah kayak gini. Biar bagaimanapun pernikahan Abi sama istrinya itu udah jadi rencana Tuhan. Abi itu beruntung bisa ditemuin sama jodohnya lebih dulu. Harusnya lo bersyukur, nggak malah kayak gini,” tutur Aldo panjang lebar.


Pemuda itu sudah sering mendengar ocehan sang adik mengenai Abimanyu yang kini mulai menyukai istrinya. Ia terlalu risi dengan apa yang setiap hari Aldi bahas. Maka sekarang adalah puncak rasa risi Aldo, sehingga bisa membentak sang adik dan mengungkapkan kekesalannya.


“Gue tu risi dengerin ocehan lo yang kayak cewek lagi cemburu,” imbuh Aldo membuat Aldi semakin menundukkan kepala.


“Harusnya lo itu mulai sekarang mikirin diri lo sendiri. Mikir siapa yang bakal jadi jodoh lo. Manusia atau maut!”

__ADS_1


__ADS_2