Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 23


__ADS_3

Hiruk pikuk pagi hari menyertai setiap manusia. Langit yang cerah melingkupi bumi, memberikan semangat pada setiap penduduknya.


Suasana kampus pagi ini terlihat cukup ramai. Sofi yang baru saja keluar dari mobilnya sedikit terkejut mendapati Jayden tiba-tiba menyapanya.


“Kenapa, Kak?” tanya Sofi pada pemuda itu.


Jayden mendekati Sofi, membuat jarak di antara mereka hanya tinggal satu meter.


“Nggak papa, pengen nyapa lo aja,” jawab pemuda itu santai. Jayden mengajak Sofi ke kelas bersama. Kelas mereka yang berada pada satu lantai membuat Sofi menyetujuinya.


Jayden menanyakan beberapa hal yang bersifat umum. Seperti di mana Sofi tinggal, apa saja kegiatannya, dan beberapa hal basa-basi lainnya. Hingga pada akhirnya Jayden meminta nomor ponsel Sofi sebagai bentuk pertemanan mereka.


“Besok kalau nggak ada kegiatan boleh dong makan siang bareng?” tanya Jayden pada Sofi.


Gadis itu mengangguk pelan dengan seulas senyum manisnya.


“Oke, gue duluan, ya.” Jayden melangkah meninggalkan Sofi yang sudah berada di depan kelasnya.


Gadis itu memperhatikan Jayden yang sesekali masih menoleh padanya. Entah kenapa rasanya Sofi tak bisa mengalihkan pandangan dari pemuda itu.


“Deket banget lo kayaknya sama Kak Jeje.”


Sofi terlonjak mendengar suara Maya di samping telinganya. Gadis itu bahkan sampai menyentuh dadanya karena terkejut.


“Sialan, ngagetin lo, May,” umpat Sofi seraya melangkah masuk ke dalam kelasnya.


“Lo aja yang ngelamun,” cibir Maya yang tengah berjalan di belakang sahabatnya itu.


Sofi tak menggubris Maya. Ia memilih duduk di kursinya kemudian membuka ponsel. Ada satu pesan masuk dari nomor yang tak dikenal dan Sofi yakin itu adalah Jayden.


“Sejak kapan lo deket sama Kak Jeje?” tanya Maya. Ia mendekatkan kursinya ke samping kursi Sofi.


“Nggak deket, May. Tadi cuma kebetulan bareng aja dari tempat parkir,” jawab Sofi. Gadis itu kembali meletakkan ponselnya ke dalam tas, kemudian menatap Maya yang kini tengah dilingkupi rasa penasaran yang sangat tinggi.


Netra Maya menyipit curiga.


Sofi mengusap wajah Maya karena gemas. Ia bisa membaca raut tak percaya Maya dengan jelas.


“Gue sama dia kemarin sempet sosialisasi bareng dua kali, ya wajar kalau dia kenal sama gue.”


“Ih, udah nggak usah bahas dia. Ngapain sih, gue nggak ada apa-apa sama Kak Jeje,” imbuh Sofi berusaha meyakinkan Maya.


Akhirnya Maya memundurkan kursinya. Gadis itu menanyakan keberadaan Caca yang belum datang hingga sekarang. Padahal sebentar lagi kelas akan segera dimulai.


“Ya mana gue tahu, dia nggak chat apa-apa dari pagi,” jawab Sofi kembali mengecek ponselnya, siapa tahu Caca mengiriminya pesan. Namun, ternyata tidak ada pesan apa pun dari gadis berkacamata itu.


Sementara itu, sosok yang Sofi dan Maya bicarakan kini tengah kelimpungan di rumahnya. Gadis itu mencari kunci motornya sejak satu jam yang lalu. Ia bahkan melewatkan sarapan bersama hanya untuk mencari kunci motornya yang entah berada di mana.

__ADS_1


“Belum ketemu, Ca?” tanya Nabila. Ia merasa kasihan dengan sang menantu yang sudah hampir menangis karena kunci motornya tak kunjung ketemu.


“Dianter Abi aja, ya? Udah siang lo ini,” tawar Nabila.


“Bunda beneran nggak lihat kunci motor aku?” tanya Caca dengan raut muka sendu. Suaranya terdengar bergetar menahan tangis yang ingin keluar.


“Enggak, Sayang. Bunda nggak pernah lihat kunci motor kamu. Memang biasanya kamu taruh mana?”


“Biasanya aku gantung di sana, Bun. Tapi, waktu tadi mau aku ambil malah nggak ada,” ujar Caca seraya menunjuk dinding tempat biasanya kunci motor dan mobil diletakkan.


“Mana aku ada kelas pagi lagi,” gumam gadis itu masih bisa didengar oleh Nabila.


“Ya udah, biar dianter Abi aja, ya?”


Caca menoleh pada suaminya yang kini tengah mengunyah sarapannya dengan tenang. Hari ini pemuda itu tidak memiliki jadwal kuliah, karena dosennya memang sedang tidak bisa hadir semua.


Tak ada pilihan lain untuk Caca. Ia harus segera sampai di kampus. Jika ia naik mobil tentunya ia baru akan sampai saat mata kuliah pertama selesai. Kondisi jalan raya sangat memprihatinkan untuk pengendara mobil pada jam seperti ini.


“Bi, cepet ganti baju. Anterin Caca kuliah,” suruh Nabila pada putranya.


Abimanyu yang tak bisa membantah segera beranjak. Ia mengganti baju santainya dengan setelan yang lebih baik.


Sembari menunggu suaminya berganti pakaian, Caca memakan sarapannya. Ia buru-buru menghabiskan susunya setelah roti selainya habis. Tepat setelah satu gelas susunya tandas, Abimanyu sudah siap. Pemuda itu mengenakan hoodie hitam dengan celana jeans berwarna navy.


“Ayo,”


“Ngebut nggak?” tanya Abimanyu setelah Caca naik ke atas motor besarnya.


“Ngebut, aku ada kelas pagi ini,” jawab gadis itu. Tanpa sadar Caca melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya.


Setelah mengangguk Abimanyu melajukan motornya dengan cepat. Ia menembus keramaian jalan dengan lihai. Hanya dalam waktu lima menit mereka sudah berada di tengah-tengah jalan raya. Membuat Caca semakin mengeratkan pegangannya pada Abimanyu. Tanpa sadar.


Sekilas senyum tipis Abimanyu terbit. Pemuda itu kembali melajukan motornya dengan cepat, hingga dalam waktu dua puluh menit mereka sudah sampai di depan gerbang kampus mereka.


Melihat jam pada pergelangan tangannya, Caca terburu-buru turun dari motor Abimanyu. Setelah mengucapkan terima kasih gadis itu segera menyeret kakinya untuk masuk ke dalam gedung kampus.


Abimanyu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu sang istri. Ia kemudian memutar motornya untuk kembali ke rumah.


Senyum Abimanyu semakin lebar saat meninggalkan kampusnya. Entah apa yang terjadi pada dirinya, sebuah dorongan ingin berdua dengan Caca membuat Abimanyu menyembunyikan kunci motor sang istri. Secara diam-diam Abimanyu mengambil kunci motor Caca saat tengah malam ia terbangun dan menyembunyikannya dalam saku jaket yang ia letakkan dalam bagasi mobil.


Satu hal yang membuat Abimanyu bertindak demikian. Kemarin saat hendak pulang, ia melihat Caca berjalan bersama salah satu temannya. Mereka terlihat sangat asyik bercanda bersama. Tawa Caca yang begitu manis keluar dengan mudah saat bersama lelaki itu. Sudut hati Abimanyu tak terima melihat hal itu, hingga ide gila itu muncul begitu saja semalam.


**


“Maaf, Pak saya terlambat.”


Caca segera masuk ke dalam kelas setelah dosen itu mengangguk. Caca masih diperbolehkan masuk, karena masih ada waktu dua menit toleransi keterlambatan. Gadis itu sangat bersyukur masih bisa mengikuti mata kuliah tersebut.

__ADS_1


Satu jam lebih terlewati dengan cepat. Maya dan Sofi langsung memberondong Caca dengan berbagai pertanyaan kenapa Caca sampai terlambat dan lain sebagainya.


“Kunci motor gue hilang,” rengek Caca kembali ingin menangis mengingat kunci motornya yang belum juga kembali.


“Kok bisa?” tanya Sofi dan Maya serentak.


“Mana gue tahu!” ketus Caca. Ia menangkup wajahnya frustrasi. Sejak tadi ia berusaha mengingat di mana terakhir kali meletakkan kunci motornya. Namun, nihil. Ia tetap tak bisa mengingat apa pun. Caca benar-benar geram dengan dirinya sendiri yang sangat teledor.


“Dipinjam adik ipar lo kali.”


“Ngaco! Orang dia tadi naik motornya sendiri,” seru Caca membuat kedua temannya bergidik ngeri.


Maya dan Sofi tak lagi bertanya pada Caca. Pasalnya sahabat mereka satu itu jika marah akan berubah menjadi macan. Dia akan sangat galak meski mereka tak membuat kesalahan.


“Terus lo tadi berangkatnya gimana, Ca?” Setelah lama terdiam, Maya kembali bertanya.


Caca membuang napasnya pelan. Tanpa menatap kedua sahabatnya Caca menjawab, “Dianter Abi.”


Dua kata itu sukses membuat kedua sahabat Caca menganga lebar. Mereka sedikit tak percaya Caca berangkat bersama Abimanyu untuk kedua kalinya.


“Beneran? Kak Abi mau?”


Mata Caca menyipit tak suka. Kenapa seakan-akan mereka berpikir bahwa Abimanyu tak sudi mengantarnya? Bukankah menurut keduanya Caca yang tak suka pada pemuda itu?.


“Ya, mau lah. Orang yang nyuruh nyokap dia,” jawab Caca sinis.


Sofi dan Maya kembali tak berani menimpali.


“Kantin nggak? Laper gue belum sarapan.” Caca beranjak berdiri diikuti oleh kedua sahabatnya.


**


“Dari tadi?” Caca memasang helmnya sembari bertanya pada Abimanyu.


“Enggak sih. Baru nyampe, nunggu bentar terus kamu keluar,” jawab Abimanyu. Ia menyalakan mesin motornya, kemudian Caca naik di belakang pemuda itu.


“Tadi kamu nggak buka helm kan?” Caca mencondongkan tubuhnya supaya Abimanyu dapat mendengar suaranya.


“Enggak. Udah belum?”


Caca hanya berdeham sebagai jawaban dan tak lama kemudian mereka melaju membelah jalanan.


Tanpa mereka sadari, lagi-lagj Crystal melihat Caca dan Abimanyu yang tengah pulang bersama. Gadis itu semakin kesal saja pada Caca yang menurutnya sangat kecentilan terhadap pujaan hatinya.


***


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2