Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
20


__ADS_3

Banyu mengajak besan dan juga menantunya makan siang di salah satu restoran miliknya. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah sakit membuat mereka tidak perlu memakan banyak waktu menuju ke sana.


Ayah Caca itu mempersilakan keluarga barunya untuk memesan apa saja yang mereka inginkan. Restoran bintang lima itu memiliki segala jenis makanan elite, yang mungkin saja biasa dimakan oleh kalangan atas seperti Arjuna.


Setelah mencatat pesanan, dua orang pelayan yang sejak tadi melayani mereka undur diri untuk menyiapkan segala hidangan yang telah mereka tulis.


“Jadi, ini restoran Anda Pak Banyu?” tanya Arjun.


“Tidak usah terlalu formal Pak Arjun. Kita itu besan, jadi biasa saja,” pinta Banyu dengan nada bercanda.


“Ya, ini restoran milikku. Aku membukanya saat Caca masih berusia dua bulan. Saat itu kami masih menyewa ruko, lama kelamaan pelanggan kami semakin banyak dan omzet kami juga meningkat tajam, sehingga kami bisa membangun sendiri restoran ini,” jawab Banyu sembari mengingat masa lalunya. Ia tersenyum bangga mengingat masa itu.


“Wah, sepertinya kamu memang berbakat dalam berbisnis,” puji Arjun. Ia tidak menyangka Banyu memiliki beberapa restoran elite yang dibangun sendiri dengan uang tabungannya. Pria itu jelas sangat kagum dengan kelihaian Banyu dalam mengelola keuangan usahanya.


“Caca sepertinya menuruni kepandaian kamu. Aku lihat dia sangat cekatan saat mengerjakan pekerjaannya di rumah.” Arjuna tersenyum bangga pada menantunya. Membuat Caca tersipu malu.


Banyu tertawa. Ia mengakui hal itu. Tidak salah ia meminta Caca mengelola kafe saat gadis itu masih semester satu. Karena nyatanya semua akan berujung kebaikan untuk gadis itu.


“Ya, mungkin seperti itu.”


Percakapan mereka sejenak terhenti saat pelayan menyiapkan hidangan di atas meja. Mereka mengundurkan diri setelah selesai menata pesanan Banyu dengan sempurna.


“Silakan dinikmati, Pak, Bu” ucap Banyu pada Arjun dan Nabila.


Semua mulai mengambil pesanan masing-masing. Pesanan Caca yang tak sengaja diletakkan agak jauh darinya membuat gadis itu meminta bantuan Abimanyu untuk mengambilkannya.


“Bi, ambilin yang itu dong. Tangan gue nggak nyampek, nih,” pinta Caca pada sang suami.


Abi mengambilkan makanan Caca tanpa bantahan. Pemuda itu terlalu lapar untuk berdebat dengan istrinya. Terlebih di sana ada orang tua dan juga mertuanya. Bukankah memalukan jika mereka berdebat hanya untuk hal kecil.


“Setelah ini lo mau ke mana lagi, Bi?” tanya Caca disela makannya.

__ADS_1


“Balik lah. Lo mau ke mana emangnya?”


“Anterin gue ke toko buku bentar, ya? Butuh banget, nih. Maya baru ngabarin buku yang diminta dosen besok harus udah ada.”


“Iya, nanti gue anter.”


Percakapan Abimanyu dan Caca sejenak menghentikan suapan Jingga. Wanita itu terlihat memperhatikan keduanya dengan saksama. Agaknya telinga Jingga menangkap sesuatu yang aneh dari percakapan itu, hingga ia pun menyuarakannya.


“Kalian masih pakai lo-gue kalau ngobrol?”


Abimanyu dan Caca saling pandang. Mereka mengangguk kaku secara bersamaan.


“Kalian itu udah suami istri nggak sepantasnya kalian memanggil satu sama lain seperti itu. Harusnya kalian membiasakan diri dengan aku-kamu. Terutama kamu, Kak. Kamu harus lebih menghargai Abi sebagai suami kamu.” Tak ada raut kemarahan dari Jingga. Hanya saja sederet kalimat tegas itu selalu sukses membuat Caca tak berani menjawab.


“Terlepas dari bagaimana dulu kalian menikah, seharusnya kalian bisa memahami bagaimana posisi kalian masing-masing. Ini untuk kalian berdua, jadi jangan menyalahkan satu sama lain,” imbuh Jingga saat melihat sorot mata Caca dan Abimanyu seperti hendak saling menyalahkan.


“Ayah setuju dengan Dokter Jingga. Sebenarnya sudah lama aku ingin menegur mereka, tapi aku terlalu sibuk hingga sering lupa. Mereka sendiri juga jarang berada di rumah dan jarang berinteraksi di depanku. Jadi, aku selalu lupa untuk menegur mereka,” timpal Arjuna. Pria paruh baya itu meletakkan sendoknya lalu menopangkan sikunya di atas meja.


Caca dan Abimanyu hanya bisa mengangguk. Mereka sama-sama tak bisa membantah, bahkan tatapan protes saja tak berani mereka perlihatkan.


Mereka kembali melanjutkan makan siang yang sempat tertunda. Sesekali Nabila membuka suara untuk mencairkan suasana yang tampaknya sedikit canggung setelah Jingga menasihati pasangan muda itu.


Setelah selesai mereka masih berbincang sejenak. Membicarakan beberapa hal mengenai pekerjaan mereka masing-masing.


Abimanyu dan Caca hanya diam saja. Mereka sama-sama memikirkan nasihat Jingga tentang panggilan yang harus mereka gunakan. Mereka sama-sama ingin menolak, tetapi tentunya tidak bisa.


Lamunan keduanya dibuyarkan saat orang tua mereka beranjak. Mereka pun mengikuti keempat orang itu keluar dari restoran.


Caca dan Abimanyu menyalami kedua orang tua mereka sebelum sama-sama berpisah di tempat parkir restoran tadi.


**

__ADS_1


Sejak tadi Caca hanya mengembuskan napasnya berat. Ia dan Abimanyu sama sekali tak bersuara selama dalam perjalanan menuju toko buku. Rasanya begitu canggung bagi Caca.


“Ca,”


Setelah bermenit-menit mereka berjalan mengelilingi toko buku dengan keheningan, Abimanyu akhirnya membuka suara.


“Ini kita beneran harus pakai aku kamu kalau ngobrol?”


Caca yang awalnya tak ingin menoleh, akhirnya menoleh juga pada Abimanyu. Gadis itu berhenti mendadak membuat Abimanyu hampir saja menabrak tubuh bagian depan Caca.


“Nggak tahu juga. Males tahu pakai aku-kamu. Aneh,” jawab gadis itu dengan muka cemberut.


“Tapi, kalau nggak nurut nasihat mama, sama aja bangkang sama orang tua.” Caca menatap kosong ke arah depan. Gadis itu sangat dilema hanya karena sebuah panggilan untuk suaminya.


Abimanyu menyandarkan tubuhnya pada rak buku. Pemuda itu juga tampak kurang setuju dengan apa yang Jingga perintahkan. Namun, ia sendiri tak bisa membantah.


“Kenapa nggak kita coba aja, Ca? Maksudnya, ya waktu di rumah aja. Kalau di kampus ...” Abimanyu menggaruk kepalanya. Ia semakin bingung saja. Jika mereka terlihat sangat akrab di kampus bukankah itu akan mendatangkan curiga pada dua teman kembarnya.


“Eh tapi, kita kan jarang ketemu di kampus?” Abimanyu menatap Caca meminta pendapat.


“Udahlah, turutin aja perintah mama. Ya, dibiasain aja, Ca. Daripada durhaka sama orang tua,” usul Abimanyu setelah mencoba berpikir cepat.


Napas Caca terbuang berat. Ia menghadapkan tubuhnya pada Abimanyu. Kepalanya mendongak untuk menatap mata pemuda itu. Lalu, mengulurkan tangan tepat di depan Abimanyu.


“Deal?”


“Deal” jawab Abimanyu seraya meraih telapak tangan gadis itu.


***


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2