Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 35 : Memperjuangkan


__ADS_3

Hari ini sungguh menyenangkan bagi Abimanyu. Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya Caca memasak khusus untuknya. Biasanya gadis itu memasak dengan takaran cabai yang tak bisa ia konsumsi. Hingga Abimanyu tak pernah mencoba masakan gadis itu meski hanya sekali. Namun, hari ini Caca dengan sengaja memasak makanan kesukaannya tanpa menggunakan cabai.


Saat pertama kali lidahnya mencecap rasa masakan sang istri ia langsung jatuh cinta–dengan masakan gadis itu. Rasanya begitu sangat luar biasa. Ia seperti makan hasil dari koki terkenal dunia. Abimanyu menyesal pernah mengejek hasil masakan pertama Caca di rumahnya dulu. Ternyata rasa masakan gadis ketus itu sungguh tiada duanya.


Abimanyu masih tersenyum saat kembali mengingat Caca dan masakannya. Ada rasa bahagia yang menyeruak begitu saja dalam dadanya.


“Woi! Bangun!”


Netra Abimanyu memejam kesal. Teriakan Aldi di samping telinganya sungguh membuat suasana hati Abimanyu yang tadinya bahagia berubah jengkel dalam sekejap.


“Lo nggak bisa, ya, nggak ganggu gue sehari aja?” Abimanyu menatap kesal pada si kembar itu. Ingin rasanya Abimanyu menjitak atau minimal memukul bibir Aldi dengan telapak tangannya, tetapi tempatnya saat ini terlalu ramai dan Abimanyu tidak ingin mempermalukan diri sendiri di sana.


Aldi menggeleng dengan senyum tipis di wajahnya. Sungguh, senyum itu amat menjengkelkan di mata Abimanyu.


Bola mata Abimanyu merotasi begitu saja. Langkahnya pun segera terangkat untuk beranjak dari sana. Menjauhi si kembar Aldi yang tanpa Aldo hari ini. Terlalu malas Abimanyu meladeni Aldi sendiri, dan ia memutuskan untuk menjauhi pemuda itu.


Namun, bukannya menjauh melihat sikap Abimanyu, Aldi malah menyusul langkah sahabatnya itu. Ia merangkul pundak Abimanyu dan menyeret sahabatnya itu menuju kantin kampus. Jam makan siang sudah hampir terlewat, Aldi yakin Abimanyu juga belum mengisi ulang tenaganya sama seperti dirinya.


Abimanyu ikut saja ke mana Aldi membawanya, perutnya juga sudah berkumandang minta diisi sejak tadi. Mereka pun mendudukkan diri di bangku kantin, kemudian memesan dua porsi bakso dan dua botol air mineral. Sesederhana itu pesanan keduanya meski mereka sama-sama memiliki uang untuk membeli makanan yang lebih mahal.


Tak lama mereka menunggu, pesanan pun datang. Seperti biasa Abimanyu makan tanpa menambahkan sambal. Ia lebih suka memakan bakso tanpa menambahkan apa pun. Baginya itu saja sudah nikmat, cukup untuk memanjakan lidahnya.


Dari tempat duduknya saat ini, Abimanyu bisa melihat putri sahabat ayah dan ibunya berjalan mendekati mejanya. Pandangan gadis itu juga tak lepas darinya. Senyumnya mengembang tipis, tetapi juga ada sedikit raut keraguan yang terpancar.


“Hai, Kak,” sapa Crystal setelah ia berdiri di samping meja Abimanyu. Tanpa persetujuan Abimanyu dan Aldi, Crystal mendudukkan diri di samping Aldi. Menghadap langsung pada Abimanyu.


“Mau makan, Crys?” tanya Abimanyu basa-basi. Sebenarnya ia sedikit tidak nyaman dengan Crystal yang tiba-tiba saja duduk tanpa meminta izin dulu padanya.


Crystal menggeleng, membuat Abimanyu dan Aldi mengernyit.


“Terus lo mau ngapain ke sini?” tanya Aldi sinis. “Gue sama Abi mau makan, kalau lo nggak ada urusan, mending lo pergi.”


Crystal melirik sinis pada Aldi. Membuat pemuda itu mendelik tajam.

__ADS_1


“Kak Abi!”


“Kenapa Crys?” Abimanyu memasukkan potongan bakso pada mulutnya. Kemudian kembali menatap Crystal yang duduk di hadapannya.


“Kak Abi mau jadi pacar aku?”


Uhuk! Uhuk!


Abimanyu memukul dadanya. Pertanyaan Crystal membuat potongan baksonya masuk ke tenggorokan tanpa permisi.


“Astaga!” seru Abimanyu menggeram. Ia segera meraih air minum yang sudah dibukakan oleh Aldi.


Crystal ikut panik, tetapi tidak tahu harus apa.


Napas Abimanyu tersengal setelah akhirnya potongan daging bulat itu meluncur bebas ke dalam lambungnya.


“Gila, lo, Crys,” umpat Aldi.


“Ma-maaf, Kak. Aku nggak sengaja, aku nggak maksud–”


Kalimat Crystal terpotong saat Abimanyu mengangkat tangannya sebatas dada.


“Oke, gue ngerti.” Abimanyu menatap Crystal serius dengan tangan terlipat di atas meja setelah menyingkirkan mangkuk baksonya. Minatnya untuk kembali menikmati makanan favoritnya itu sudah lenyap saat Crystal menembaknya tanpa basa-basi terlebih dahulu.


“Lo nembak gue?” tanya Abimanyu dengan satu alis terangkat. Ia hanya memastikan apa yang ia dengar tidak salah.


Crystal menjilat bibirnya. Bola matanya bergerak liar. Ia jadi gugup sendiri ditatap seperti itu oleh Abimanyu.


“Nggak usah ditanya, Bi, pasti iya lah,” sahut Aldi mendapat tatapan tajam dari Abimanyu. Namun, pemuda itu tak takut dan malah melanjutkan acara makan siangnya.


“Gimana, Crys?” tanya Abimanyu lagi.


Kepala Crystal mengangguk kecil. Entah kenapa ia jadi malu sendiri sekarang.

__ADS_1


Napas Abimanyu terembus pelan. “Lo serius suka sama gue?” tanya Abimanyu.


Sekali lagi Crystal mengangguk. Kali ini anggukannya terlihat lebih meyakinkan. “Ka-kak Abi mau jadi pacar aku?”


Crystal tidak tahu keberaniannya hilang ke mana lagi. Setelah berdebat sebentar dengan Caca tadi pagi, Crystal membulatkan tekat untuk menyatakan perasaannya kepada Abimanyu. Ia yakin, pemuda itu akan menerima perasaannya. Mereka sudah lama saling kenal dan tidak mungkin Abimanyu tidak tertarik padanya.


Mengingat bagaimana dulu Abimanyu begitu perhatian dengannya, Crystal semakin memberanikan diri untuk menembak Abimanyu hari ini. Crystal yakin, Abimanyu akan menerimanya dengan senang hati.


Abimanyu sedikit mencondongkan tubuhnya. Ia berucap lirih. “Gue nggak bisa jadi pacar, lo. Maaf.”


Bahu Crystal jatuh begitu saja. Ia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dan rasa malu kini mulai menjalari kepalanya.


“Kenapa, Kak? Kak Abi nggak suka sama aku?” tanya Crystal dengan bibir bergetar kecewa.


Abimanyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menjilat bibirnya yang entah kenapa tiba-tiba terasa kering. Pertanyaan itu terasa sangat sulit untuk dijawab. Jika ia bilang iya, tentu Crystal akan sangat tersinggung. Namun, Abimanyu juga tidak bisa untuk mengutarakan kebohongan pada gadis itu.


“Gue nggak bisa jadi pacar lo bukan karena nggak suka sama lo, Crys. Tapi, ada orang lain yang sedang gue perjuangin saat ini,” jawab Abimanyu lugas.


Netra Crystal sudah berkaca-kaca. Rasanya sangat sesak saat Abimanyu mengatakannya. Ia malu sekaligus kecewa. Ia sudah berusaha mati-matian membuang rasa malunya tadi untuk menembak Abimanyu, tetapi pemuda itu dengan tega menolaknya.


“Apa itu Caca?” tebak Crystal dengan suara tercekat.


Abimanyu terkejut dengan tebakan gadis itu. Namun, ia bisa dengan mudah mengontrol raut wajahnya untuk tetap tenang.


“Siapa pun itu lo nggak perlu tahu. Yang pasti dia orang yang sangat penting dalam hidup gue saat ini.”


***


Bagi hadiahnya dong, guys. Biar aku tambah semangat nulisnya🤣


Bantu promo juga boleh loh😆😍


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2