Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 97 : Menyembunyikan


__ADS_3

“Iya, hati-hati nanti pulangnya.”


“Iya, Sayang. Maaf, ya. Nanti kamu tidur dulu aja, nggak usah nungguin aku pulang.”


Caca berdeham sebelum menutup sambungan teleponnya dengan Abimanyu. Pemuda itu baru saja mengabari bahwa dia akan pulang sangat larut. Pekerjaan di kantor sang ayah memang sedang banyak-banyaknya. Apalagi ini akhir bulan. Abimanyu yang baru saja dipindah ke divisi keuangan mau tak mau harus membantu para staf di sana dan harus menemani mereka bekerja hingga larut malam.


Napas Caca terbuang lelah. Ia baru saja selesai mandi. Beberapa menit yang lalu ia juga baru sampai rumah setelah melakukan pengecekan di restoran sang ayah. Untungnya hari ini ia sudah menyelesaikan tugasnya, besok tinggal melaporkannya pada sang ayah tercinta.


Pukul delapan lebih lima. Caca meletakkan bokongnya di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya. Caca merasa sedih saat ternyata Abimanyu harus pulang malam hari ini. Padahal Caca ingin menceritakan kejadian siang tadi. Mengenai permintaan maaf Dean kepadanya. Namun, sepertinya niat itu akan Caca kuburkan. Melihat suaminya yang sangat sibuk membuat Caca tak tega untuk menambah bebannya. Mungkin masalah kecil kali ini harus Caca sikapi sendiri. Abimanyu tak perlu tahu.


Caca beranjak berdiri. Ia meraih laptopnya di atas meja, begitu juga dengan kacamatanya. Gadis itu melangkah keluar dari kamar. Tujuannya hanya satu, yaitu menunggu Abimanyu di ruang tengah. Meskipun tadi Abimanyu memintanya untuk tidak menunggu, Caca tetap akan menunggunya. Baginya akan sangat percuma berada di kamar, karena ia tak akan pernah bisa tidur tanpa ada Abimanyu di sampingnya.


**


Nabila membelokkan langkahnya dari dapur menuju pintu depan. Wanita beranak empat itu menggelengkan kepala melihat menantunya yang tertidur di sofa. Nabila melirik jam dinding di atas televisi di sana. Sudah pukul sepuluh malam. Nabila yakin putranya yang saat ini memencet bel depan rumahnya.


“Kamu dari mana Bi, jam segini baru pulang?”


Nabila mengunci kembali pintu rumahnya. Kemudian, mendekati sang putra yang masih menunggunya. Wajah putra ke tiganya itu terlihat sangat kusut dan lelah. Nabila jadi kasihan melihatnya.


“Kamu udah makan belum?”


“Udah, Bun.”

__ADS_1


Nabila merasa lega mendengar jawaban Abimanyu. Ia pun kembali bertanya alasan putranya itu baru pulang saat hari sudah sangat larut.


“Salahin ayah, Bun. Kemarin tiba-tiba aku dipindah divisi, divisi keuangan pula. Bunda kan tahu divisi keuangan selalu banyak kerjaan di akhir bulan. Jadi, staf ayah yang kerja di bagian ini hampir semua lembur buat nyelesain kerjaan mereka. Aku kan sungkan kalau mau pulang dulu,” jelas Abimanyu sambil menggerutu kesal. Rasa lelah yang menderanya membuat emosi Abimanyu cepat naik.


“Iya, ini juga buat kebaikan kamu, Bi. Biar kamu tahu gimana kerja keras para staf bawahan. Biar kamu nggak seenaknya sendiri kalau nanti kamu udah megang perusahaan,” balas Nabila seraya mengusap lengan putranya itu.


Abimanyu mencebikkan bibirnya. Ia sudah diberitahu mengenai hal ini. Alasan sang ayah dan kakaknya memindahkannya ke divisi lain supaya Abimanyu tahu cara kerja setiap divisi yang ada di perusahaannya. Supaya Abimanyu juga tidak semena-mena kepada bawahannya saat nanti menjadi pemimpin perusahaan.


“Oh, iya. Istri kamu ketiduran di ruang tengah. Dari tadi nungguin kamu. Dia juga baru pulang jam delapan tadi. Mungkin Caca kecepan sampai ketiduran gitu. Kamu banguninnya hati-hati. Kasihan kalau nanti kebangun terus pusing,” beritahu Nabila sambil menasihati.


Setelahnya wanita itu meninggalkan Abi yang saat ini menghampiri istrinya. Wanita itu mengembangkan senyumnya melihat sang putra yang juga tersenyum saat menatap wajah damai Caca.


“Ca,”


Netra Caca masih terpejam setelah beberapa menit Abimanyu berada di sana. Abimanyu pun memutuskan untuk menggendong Caca menuju kamar mereka. Rasa lelahnya sudah hilang hanya dengan menatap wajah sang istri.


Dengan sangat perlahan Abimanyu membaringkan tubuh Caca di atas tempat tidur. Abimanyu menyibak rambut Caca yang menutupi wajahnya, kemudian mencium kening Caca sekilas.


“Udah dibilangin jangan nunggu aku masih aja nunggu kamu ini,” gerutu Abimanyu dengan suara setengah berbisik. Namun, bibirnya tidak bisa berbohong saat kedua sudutnya terangkat.


Abimanyu menaikkan selimut Caca sebelum beranjak ke kamar mandi. Rasa lengket di tubuhnya membuat Abimanyu tak nyaman dan memutuskan untuk mandi. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian yang sangat longgar, Abimanyu menyusul sang istri. Ia berbaring miring menatap Caca. Kembali Abimanyu layangkan sebuah kecupan ringan di kening gadis itu, kemudian mengucapkan selamat malam.


**

__ADS_1


Matahari kembali terbit kemudian tenggelam lagi. Caca dan Abimanyu sama-sama disibukkan dengan pekerjaan mereka. Tak lupa tugas kuliah yang semakin menumpuk pula di ujung semester genap ini.


Ini akhir pekan. Abimanyu memanfaatkan waktunya untuk mengerjakan tugas kuliahnya yang sedikit keteteran. Sambil menikmati salad buah buatan ibu mertuanya, Abimanyu melarikan jari-jarinya di atas keyboard laptop miliknya.


Duduk di gazebo belakang rumah Banyu cukup membuat Abimanyu merasa nyaman di sana. Pemuda itu masih tak mengalihkan pandangannya dari layar laptop hingga ia mendengar dengusan dari istrinya. Wanitanya itu terlihat sangat kesal saat mengutak-atik ponselnya.


“Kamu kenapa, sih? Dari kemarin aku perhatiin kamu kesel terus.”


Caca menatap suaminya sekilas. Ia menggelengkan kepala. Ia lantas menyimpan ponselnya di samping tubuhnya. Caca kemudian menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. Pandangannya tertuju pada deretan kalimat yang terpampang di layar laptop Abimanyu.


“Tugas kamu masih belum selesai?” tanya Caca lemah.


“Belum. Kurang dikit, tanggung kalau ditinggal. Kenapa?”


Abimanyu menolehkan kepalanya pada sang istri. Ia mengecup sekilas kepala perempuan itu.


“Nggak apa-apa, bosen aja dari tadi diem di sini,” jawabnya. Caca menguburkan kepalanya di bahu Abimanyu.


“Siapa yang suruh di sini, sih?” Abimanyu terkekeh pelan. “Kamu ke depan aja sana, sama adik-adik kamu. Aku sendiri nggak apa-apa, kok.”


Caca menggeleng. Ia tetap kukuh tak mau pergi dari sana meskipun Abimanyu tetap menyuruhnya untuk ke depan.


Sebenarnya, Caca hanya beralasan saja saat berkata bosan. Sebenarnya ia sedang merasa kesal, karena beberapa hari ini Dean terus menerornya dengan kata maaf. Caca belum ada niat untuk bercerita pada suaminya. Caca takut mengganggu konsentrasi Abimanyu. Namun, hari ini Caca benar-benar sudah tak tahan. Caca pun memutuskan untuk memblokir nomor Dean agar dia tidak bisa lagi mengirim pesan padanya.

__ADS_1


__ADS_2