Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 106 : Kejutan?


__ADS_3

Cuaca begitu cerah hari ini. Suara anak-anak terdengar riuh. Mereka saling menyoraki temannya agar lebih semangat.


“Bi, lihat sini!” teriak salah seorang teman laki-laki Abimanyu yang tengah membawa sebuah kamera.


Abimanyu tersenyum penuh wibawa menatap pemuda itu. Kemudian kembali ikut menyoraki anak-anak kecil yang tengah melaksanakan lomba.


Ini adalah minggu ke tiga Abimanyu dan teman-temannya tinggal di desa itu. Tak terasa seminggu lagi mereka harus segera kembali ke rumah masing-masing. Rasa senang dan juga sedih tiba-tiba menggelayuti benak pria itu. Ia senang bisa segera pulang dan kembali menghabiskan waktu dengan istrinya. Namun, ia juga merasa sedih karena harus berpisah dengan semua orang baru yang mampir di hidupnya selama satu bulan ini.


“Oke, lomba balap karung ini dimenangkan oleh Doni dan Ali,” ucap Abimanyu menggunakan pengeras suara.


“Hadiah akan dibagikan nanti sore jam tiga. Sekarang kalian istirahat dulu. Pulang, mandi, makan, tidur. Nanti jam tiga kalian kembali ke sini untuk pembagian hadiah.”


Kalimat panjang itu Abimanyu tutup dengan salam dan senyuman. Rasanya begitu bahagia melihat anak-anak itu tertawa dengan sangat lebar seolah baru mendapatkan lotre.


Abimanyu melepaskan almamaternya. Cuaca sangat panas dan ia mulai kegerahan. Ia mengambil ponsel dari dalam saku jasnya. Senyumnya terbit kala melihat wajah cantik sang istri yang ia pasang sebagai foto layar depan ponselnya. Jemari pria itu sudah hampir menekan nomor Caca saat seseorang mengulurkan sebotol air mineral ke arahnya.


“Minum, Bi,” ucap Wella seraya duduk di samping pria itu.


Abimanyu mengucapkan terima kasih kemudian mengambil botol itu dan menenggak isinya. Ia pun mengurungkan niat untuk menghubungi Caca. Lagi pula saat ini dia pasti masih ada kelas. Abimanyu masih ingat betul jadwal kuliahnya.


“Bi,”


“Hem ... Kenapa?” tanyanya sambil menolehkan kepala. Ia menatap teman satu kelompoknya itu dari samping.


Bukannya menjawab, Wella justru terpaku dengan tatapan Abimanyu. Pria itu benar-benar memesona meskipun hanya diam saja.


“Wel?” panggil Abimanyu sembari menjentikkan jarinya di depan muka gadis itu.


Wella mengerjapkan matanya. Ia pun meminta maaf dengan apa yang telah dilakukannya tanpa sengaja.


“Lo tadi mau tanya apa?” tanya Abimanyu. Ia kembali menenggak air mineral tadi sambil sesekali melirik Wella.


“Ah ... itu, gue ....” Bibir Wella tiba-tiba terasa kelu untuk bertanya. Apalagi saat tanpa sengaja ponsel Abimanyu menyala dan menampakkan foto adik tingkatnya yang sedang tersenyum dengan sangat manis.


“Bi, lo bener-bener udah nikah?”


Abimanyu mengangkat wajahnya dari ponsel. Ditatapnya raut muka Wella yang tampak sangat berubah. Ada perasaan bersalah yang tiba-tiba menghampirinya. Namun, perasaan itu segera mungkin ia tepis.


“Lo masih nggak percaya?” tanya Abimanyu seraya menunjukkan cincin pernikahan di jari manisnya.


Wella hanya bisa menatap cincin itu dengan tatapan nanar. Gosip yang beredar mengenai pernikahan Abimanyu dan Caca memang sudah lama ia dengar. Namun, ia tak ingin memercayainya.


Sejak semester satu Wella memang menaruh perasaan terhadap pria yang duduk di sampingnya ini. Bahkan dulu mereka pernah dekat, karena sama-sama mengikuti kegiatan musik di kampus. Hingga saat Abimanyu mencalonkan diri sebagai ketua BEM kemudian terpilih, Abimanyu memutuskan untuk hanya mengikuti kegiatan olahraga saja. Dari sana juga kedekatan mereka merenggang.


“Bi, lo tahu kan kalau gue itu–”


“Wel, gue tahu perasaan lo ke gue. Dari dulu gue juga udah peringatin lo untuk nggak terlalu berharap ke gue.” Abimanyu mengembuskan napasnya perlahan.


“Kita masih bisa temenan, Wel. Walaupun nggak sedekat dulu. Karena istri gue cemburuan.” Abimanyu melempar senyum pada Wella. Ia tahu gadis itu masih berusaha mendekatinya dan juga memberinya perhatian, seperti yang baru saja Wella lakukan. Apalagi saat kegiatan ini mereka setiap hari bahkan setiap jam bertemu, Abimanyu tentunya tak bodoh dengan sikap-sikap Wella padanya.

__ADS_1


Tak selang beberapa lama ponsel Abimanyu berdering. Nama kontak Caca tertera di sana. Senyum Abimanyu pun terbit begitu saja, dan itu tak luput dari pandangan Wella.


“Gue angkat dulu, ya.”


Abimanyu berdiri seraya menempelkan ponselnya pada telinga.


“Halo, Sayang. Ada apa?”


Wella hanya bisa memandang punggung Abimanyu yang semakin menjauh. Seperti harapannya untuk bersanding dengan Abimanyu yang juga semakin menjauh dan mungkin sebentar lagi akan tenggelam.


**


"Oke, kita akhiri evaluasi hari ini. Semoga apa yang disampaikan tadi bisa menjadi pelajaran untuk kalian semua terutama saya. Setelah ini kalian boleh pulang. Hati-hati di jalan dan selamat malam.”


Caca berdiri seraya membereskan beberapa berkas penting di hadapannya. Perempuan yang kini mengenakan blouse hitam itu terlihat begitu tegas selama memimpin kegiatan evaluasi yang memang diadakan satu bulan sekali. Sudut bibir Caca terangkat, kepalanya menunduk kecil untuk menyapa semua karyawan kafe tersebut sebelum keluar dari ruangan.


Tangan Caca dengan terampil mengambil ponsel di dalam saku celananya. Ia mematikan mode pesawat dan menunggu beberapa pesan yang mungkin masuk. Benar saja, suara notifikasi ponsel Caca terdengar ramai setelah beberapa detik. Caca memindai satu persatu nama pengirim pesan, tetapi tidak ada satu pun dari Abimanyu.


Mungkin lagi sibuk, pikir Caca.


Gadis itu kembali menekuri ponselnya selama beberapa menit. Pesan-pesan yang masuk sebagian dari grup kelasnya yang mengabarkan besok perkuliahan ditunda. Tiga dosen yang mengajar di kelasnya besok sedang ada kegiatan di luar kampus. Selesai membaca dan membalas pesan penting, Caca kembali memasukkan benda tersebut ke dalam tas. Ia lantas mengambil kunci mobil dan hendak pulang.


Hari sudah sangat larut. Jalanan terlihat sangat lengang. Caca pun tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah ayahnya. Sebelum masuk ke dalam rumah Caca kembali mengecek ponselnya. Lagi-lagi Abimanyu tidak mengiriminya pesan.


Caca mendesah pasrah. Setelah kepulangan Abimanyu dua minggu yang lalu mereka justru lebih jarang berkomunikasi. Abimanyu semakin sibuk dengan puncak kegiatannya di sana. Caca pun semakin disibukkan dengan pekerjaan di kafe, karena akhir bulan seperti ini ia harus mengecek laporan-laporan mengenai kafe sang ayah. Belum lagi dengan tugas kuliahnya yang semakin menumpuk membuat Caca sedikit abai dengan komunikasinya dan sang suami.


Caca berjengit. Ia yang saat ini berada di dapur tidak melihat ibunya datang.


“Udah, Ma.” Caca menuangkan air putih ke dalam gelasnya.


“Kalau minum itu duduk, Kak,” tegur Jingga.


Caca buru-buru duduk sebelum menelan air tersebut. Ia menampakkan senyum bersalah pada sang ibu.


“Abi jadi pulang besok?”


“Enggak tahu, Ma.”


“Loh, kok nggak tahu.”


Kening Jingga tampak berkerut. Ia bisa melihat ada gurat sedih dari wajah sang putri. Dari bahu Caca yang mengedik lemah, Jingga tahu mungkin sang menantu tidak menghubungi putrinya.


“Ya udah. Kamu istirahat sana. Udah malem. Capek kan?”


Caca mengangguk.


“Atau mau Mama pijit?” tawar Jingga.


Senyum Caca melebar. Kepalanya kembali mengangguk.

__ADS_1


“Emangnya Mama nggak capek?” tanya Caca kemudian.


Jingga tersenyum. Ia beranjak dari kursinya, kemudian berdiri di belakang sang putri. Ia pegang bahu anak sulungnya dan memijatnya pelan.


“Kalau Mama capek, Mama bisa minta ayah kamu mijitin Mama,” seloroh wanita itu membuat Caca tertawa.


**


Temui aku di sini. Aku punya kejutan buat kamu


Caca menerima pesan dari nomor suaminya. Di bawah pesan itu terdapat sebuah lokasi di mana Caca harus datang.


Gadis itu terlalu senang dengan isi pesan tersebut. Sejak semalam ia berpikir mungkin saja Abimanyu tidak menghubunginya karena ingin memberi kejutan. Ternyata benar, Abimanyu ingin memberinya kejutan. Bahkan memintanya datang ke sebuah hotel yang cukup jauh dari rumahnya.


Lima belas menit kemudian Caca sudah berada di jalan raya. Ia mengikuti arahan dari maps itu. Beruntung, jalan menuju hotel itu tidak sulit dicari meskipun memang agak jauh.


Empat puluh tujuh menit kemudian.


“Bi,” panggil Caca di tengah gelapnya kamar hotel yang dipesan Abimanyu.


Hari sudah menggelap saat Caca sampai di tempat itu.


“Abi,” panggil Caca lagi. Ia tidak bisa menemukan sakelar lampu kamar tersebut. Namun, sedetik kemudian ia melihat bayangan seseorang di balkon kamar itu. Senyumnya pun melebar. Ia bergegas menghampirinya.


“Abi, aku di sini.”


Di rumah Banyu


Ting tong


Jingga menatap jam dinding di atas televisi. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat bel rumahnya terdengar. Wanita itu lantas bertanya pada sang suami siapa gerangan yang bertamu selarut itu.


“Aku juga nggak tahu,” jawab Banyu sama herannya. “Biar aku yang buka,” imbuh pria itu kemudian berdiri.


Bel kembali berbunyi ketika Banyu sudah dekat dengan pintu. Pria itu semakin heran dengan tamunya malam ini. Ia pun bergegas membuka pintu dan terkejut melihat sang menantu berdiri bersamaan dengan satu kopernya.


“Loh, Caca mana, Bi?”


“Caca?”


“Iya, bukannya tadi dia keluar karena mau ketemu kamu?”


Kening Abimanyu semakin mengernyit mendengar pertanyaan sang ayah mertua.


“Tadi Caca bilang, kamu chat dia dan kalian mau ketemuan.”


Perasan Banyu mendadak tidak enak.


“Tapi, Yah. Ponsel aku hilang dari kemarin.”

__ADS_1


__ADS_2