
Hari sudah sangat gelap saat Abimanyu membelokkan mobilnya ke kafe tempat istrinya bekerja. Sebelum turun, Abimanyu merapikan rambutnya sejenak. Tak lupa juga meregangkan tubuhnya yang saat ini terasa sangat lelah akibat aktivitasnya yang sangat padat hari ini.
Setelah dirasa cukup, Abimanyu pun keluar dari mobilnya. Ia mengambil langkah menuju ruangan sang istri yang ada di lantai dua. Tanpa mengetuk pintu, Abimanyu masuk ke ruangan itu.
Sejenak Abimanyu terdiam di ambang pintu. Ditatapnya lekat sang istri yang saat ini sedang terbaring di atas sofa. Kepala Abimanyu menggeleng mendapati Caca tengah meringkuk sendiri di sana.
Takut mengganggu istirahat Caca, Abimanyu menutup pintu dengan sangat pelan. Ia menghampiri gadis itu tanpa membuat suara. Ia berjongkok tepat di samping gadis itu berbaring. Abimanyu memandangi wajah Caca yang terhalang oleh beberapa helai rambut dan juga tangannya.
Sejujurnya Abimanyu tak tega membangunkan istrinya. Namun, dia lebih tak tega jika membiarkan gadis itu lebih lama berbaring di sana. Dia akan merasa sangat kelelahan saat bangun nanti. Sehingga Abimanyu membangunkan Caca dengan mengusap kepalanya berulang kali.
“Ca,” panggil Abimanyu dengan suara lembut.
“Bangun! Udah malam, kamu pulang nggak?” Tangan Abimanyu masih senantiasa mengusap rambut Caca yang begitu halus.
“Ca,” panggil Abimanyu lagi.
Tubuh Caca menggeliat pelan. Kelopak matanya yang sedari tadi tertutup perlahan mulai membuka. Gadis itu tampak linglung. Mungkin karena terlalu lama tertidur membuatnya jadi bingung.
Netra Caca mengerjap pelan, lantas bangun dengan dibantu Abimanyu. Ia melihat jam yang tergantung di dinding ruangannya. Sudah pukul tujuh malam dan ia belum mengisi perutnya sejak sore tadi.
“Kamu udah makan?” tanya Abimanyu seolah tahu istrinya belum makan.
Kepala Caca menggeleng. Ia tatap Abimanyu yang kemudian membuka satu bungkus nasi goreng yang tadi dia bawa.
“Aku tadi sebenarnya nggak niat beli ini. Waktu di jalan ketemu bapak-bapak yang dagang ini, dagangannya masih banyak dan nggak ada yang beli. Kasihan orangnya udah tua. Jadi, aku beli beberapa tadi. Terus di jalan ketemu sama-sama anak-anak jalanan. Aku kasih ke mereka. Tinggal satu deh.” Abimanyu menceritakan alasannya membawa nasi goreng hanya satu, meskipun Caca tidak bertanya.
“Dan ternyata kamu belum makan.” Abimanyu menoleh pada istrinya sekejap. Ia mengambil sendok dan hendak menyuapi Caca.
“Ayo makan, aku suapi!” titah Abimanyu kala Caca memundurkan kepalanya.
“Nggak usah,” tolak Caca. Ia ingin mengambil alih sendoknya, tetapi Abimanyu justru menjauhkan tangannya. Pemuda itu menggeleng dan memaksa menyuapinya. Mau tak mau Caca menerima suapan demi suapan yang Abimanyu berikan padanya.
“Kamu nggak makan?” tanya Caca. Melihat makanan itu tinggal separuh membuatnya ingat hanya dia saja yang mengunyah sejak tadi.
__ADS_1
“Lihat kamu makan aja aku udah kenyang,” jawab Abimanyu seraya memasang senyum.
Caca menghela napas pelan. Kemudian merebut paksa sendok yang Abimanyu pegang. Tanpa ingin ditolak, Caca menyuapi Abimanyu.
“Kamu juga harus makan, Bi!” seru Caca pelan.
Abimanyu hendak protes, tetapi Caca justru menutup bibir pemuda itu menggunakan tangannya. Ia tidak mau ada penolakan lagi.
“Kunyah!” titah Caca. Nadanya sangat kentara bahwa ia sama sekali tidak ingin dibantah.
Mau tak mau Abimanyu pun pasrah. Hingga beberapa sendok selanjutnya mereka saling menyuapi secara bergantian. Hingga satu bungkus nasi goreng itu tandas.
**
Sedikit banyak Abimanyu bisa merasakan perubahan suasana hati istrinya. Sejak dari kafe, gadis itu tampak lebih diam dari biasanya. Abimanyu tidak tahu penyebabnya dan saat ini ia ingin tahu. Pemuda itu memberanikan diri untuk menanyakan apa yang telah terjadi hingga istrinya terlihat tidak bersemangat kembali.
Caca yang saat ini sedang menyisir rambutnya menatap Abimanyu dari pantulan cermin. “Aku nggak apa-apa, Bi,” jawab gadis itu.
“Aku ada salah ya sama kamu?” tanya Abimanyu lagi.
Caca tatap mata sang suami melalui cermin. “Nggak ada, Bi. Aku Cuma capek aja,” jawab gadis itu lagi.
Mendengar jawaban yang sama membuat Abimanyu mau tak mau mengiyakan saja. Meskipun ia tahu gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Melihatnya tidak ingin bercerita tak lantas membuat Abimanyu memaksanya. Ia yakin jika Caca sudah tenang dia pasti akan bercerita sendiri nantinya.
Namun, hingga keesokan harinya sikap Caca tak juga berubah. Gadis itu lebih banyak diam daripada biasanya. Bahkan saat di kampus pun Caca seperti orang yang tengah sakit. Lesu dan tidak bersemangat.
“Kamu sakit?” tanya Abimanyu. Ia mengangsurkan telapak tangannya pada kening Caca. Suhunya masih terbilang normal dan semakin membuat Abimanyu bingung dengan sikap gadis itu.
“Enggak, Bi. Aku nggak apa-apa,” jawab Caca seraya mengulas senyum tipis.
“Aku ke kelas dulu, ya!” pamit Caca kemudian.
Abimanyu sudah tidak tahan lagi. Ia pun mencekal pergelangan tangan Caca dan langkahnya pun seketika berhenti.
__ADS_1
“Dari semalem kamu itu diem terus. Aku ada salah sama kamu?” tanya Abimanyu.
Caca menghela napasnya kemudian mengembuskannya pelan. Ia genggam tangan besar sang suami bersamaan dengan senyumnya yang terbit meski sangat tipis.
“Kamu nggak punya salah apa pun, Bi. Aku emang lagi capek aja sama kerjaan. Kamu tahu sendiri kan gimana keadaan kafe sekarang.” Caca kembali tersenyum. “Udah, ya. Nggak usah khawatir sama aku. Aku nggak apa-apa, kok.” Caca menepuk tangan Abimanyu beberapa kali sebelum meninggalkan pemuda itu sendiri.
Helaan napas Caca terdengar sangat berat. Ia tidak bisa mengatakan pada suaminya tentang kedatangan Dean kemarin sore. Ia tidak bisa melihat Abimanyu kecewa. Satu lagi, Caca juga tengah menampik apa yang kemarin Dean katakan padanya.
“Aku beberapa kali mendengar mereka menyebut nama Abimanyu.”
“Nggak mungkin, De,” sangkal Caca cepat. Ia tahu betul bagaimana perangai Abimanyu. Tidak mungkin Abimanyu melakukan hal seperti itu. Lagi pula untuk apa Abimanyu menculik sepupunya sendiri?.
“Mungkin saja, Bu. Sejak dulu aku sama dia nggak akur. Aku sama dia saingan sejak kecil. Dia juga nggak suka kan sama kamu dulu? Bisa aja dia ngelakuin ini untuk membuat kita malu. Membuat kamu malu. Tapi ternyata justru dia yang diminta nikah sama kamu!”
“Nggak, De. Nggak mungkin Abi ngelakuin semua itu. Aku yakin!”
Dean tampak menghela napas. “Sekarang kamu lebih percaya sama dia dibanding sama aku?”
Caca menatap Dean tak mengerti. “Maksud kamu apa sih, De?”
“Percuma aja aku jelasin apa yang aku alami sama kamu selama beberapa bulan ini. Kamu pasti nggak akan percaya lagi sama aku,” ujar Dean. Pemuda itu tampak menahan ngilu di setiap sudut wajahnya.
“Bukan aku nggak percaya sama kamu, De. Aku cuma nggak percaya kalau Abi yang nglakuin semua ini. Aku yakin bukan Abi!” sanggah Caca lagi.
Dean menggeleng. “Kayaknya kamu emang udah percaya banget sama sepupu aku itu.” Ia beranjak berdiri. “Aku nggak bisa lama-lama di sini, Bu. Aku akan kembali ke apartemen aku. Kalau kamu masih peduli sama aku, aku ada di sana. Aku masih nunggu kamu. Aku masih cinta sama kamu.”
Caca hanya memandang kepergian Dean dengan tatapan sendu. Dari jendela ruangannya Caca bisa melihat Dean yang kini tengah memakai masker, jaket, dan juga topi untuk menutupi dirinya. Pemuda itu menghentikan sebuah taksi dan melaju pergi meninggalkan banyak pertanyaan di kepala Caca.
**
Ikuti alurnya aja ya, Guys🤣
Jangan lupa like dan komen😍❤
__ADS_1