
Hawa dingin dini hari menembus kulit para manusia yang masih terlelap. Membangunkan sebagian nyawa hanya untuk menarik kembali selimutnya.
Pukul tiga pagi, batin Caca saat ia menatap jam dinding yang berada tepat di depan mata.
Caca memiringkan tubuhnya. Menaikkan kembali selimut yang sudah turun ke pinggulnya. Netranya hendak terpejam, tetapi urung saat melihat wajah damai suaminya. Dalam diam Caca mengamati mata tertutup Abimanyu. Rasanya Caca tidak bisa mengalihkan pandang dari pemuda itu.
Entah sadar atau tidak, Caca mengulurkan tangannya. Menyentuh sisi wajah Abimanyu yang menghadapnya. Mengusap pipi itu perlahan, hingga Caca benar-benar tersadar dengan apa yang dia lakukan. Tangannya pun tertarik dengan cepat. Caca tidak ingin Abimanyu terbangun karenanya.
Kembali Caca pandangi Abimanyu yang tidak terganggu akan sentuhannya. Ia terkekeh melihat bagaimana bibir Abimanyu terbuka saat tidur.
“Kenapa kamu jadi perhatian ke aku?” tanya Caca lirih. Ia tentu saja tidak benar-benar berani menanyakan hal itu, mengingat hubungan mereka yang masih sangat abu-abu.
Caca menghela napasnya pelan. Melipat kedua tangannya di bawah kepala. Caca masih memandangi Abimanyu hingga akhirnya netranya kembali tertutup dan ia kembali menyelami alam mimpi.
**
“Naya ke mana, Bun?”
Caca baru saja masuk ke dapur. Tidak ada tanda-tanda Naya berada di rumah itu sepanjang ia keluar dari kamar, membuat Caca bertanya-tanya.
__ADS_1
Putri kakak iparnya memang masih di sana. Diasuh oleh ibu mertuanya. Semalam gadis kecil itu juga sempat tidur dengannya, hanya saja saat tengah malam Naya terbangun dan alhasil berpindah tempat tidur di kamar Nabila.
“Jalan-jalan sama ayah sama Dio. Mumpung weekend,” jawab wanita itu seraya mengulas senyumnya.
Caca mengangguk mengerti. “Dibantu apa, Bun?” Caca melonggokkan kepala melihat apa yang tengah ibu mertuanya kerjakan.
“Gorengin telur, ya, Ca. Naya pengen makan sama telur katanya,” titah wanita itu.
“Siap, Bunda.” Segara Caca mengambil telur dari dalam kulkas dan mengolahnya.
Kedua wanita itu sibuk memasak. Sesekali mereka mengobrol. Membicarakan banyak hal. Seperti kegiatan Nabila selama di luar kota kemarin atau menanyakan kabar kakak iparnya yang masih dirawat di rumah sakit.
Caca melebarkan matanya. Ia hampir saja menampar Abimanyu menggunakan sudip yang ia gunakan untuk menggoreng telur saat ini.
“Selamat pagi,” ucap pemuda itu tidak merasa bersalah sama sekali.
Caca tidak menjawab. Bahkan ia memalingkan muka. Kembali fokus pada penggorengan yang ada di hadapannya.
Abimanyu hanya terkekah. Ia pun beralih mendekati ibunya. Mencomot sepotong tahu yang belum diolah.
__ADS_1
“Sepi banget, pada ke mana sih, Bun?” tanya Abimanyu dengan mulut penuh.
“Ditelen dulu kali, Bi.” Nabila menggelengkan kepala. Ia sudah hafal kebiasaan Abimanyu yang suka memakan tahu mentah, sehingga ia tidak mempermasalahkannya. “Keluar, jalan-jalan sama Naya.”
“Sama Dio juga?” Abimanyu menaikkan sebelah alisnya. “Kok aku nggak diajak!” seru pemuda itu saat sang ibu mengangguk.
“Kamu bangunnya kesiangan, Bi. Tumben banget weekend bangun siang.”
Abimanyu tersenyum. “Abisnya enak, Bun, kalau tidur sambil meluk istri. Berasa nggak pengen bangun.” Abimanyu tergelak saat Caca melemparkan sorot membunuh padanya.
Semalam setelah Caca kembali tidur, Abimanyu membuka matanya. Ia mendengar pertanyaan yang Caca lontarkan meskipun sangat lirih. Entah dorongan dari mana, Abimanyu memberanikan diri memeluk tubuh istrinya pagi tadi.
Mereka terbangun bersamaan saat matahari sudah terbit. Caca hampir saja marah, tetapi tidak jadi. Ia merasa tidak salah jika Abimanyu melakukan hal itu padanya, karena ia adalah istri Abimanyu. Hanya saja Caca malu jika mereka berpelukan seperti itu.
Nabila tertawa. Agaknya wanita yang masih terlihat sangat cantik diusainya yang menginjak empat puluh tiga tahun itu salah paham dengan maksud perkataan putranya.
“Namanya pengantin baru malam Minggu lembur,” goda Nabila mengerlingkan sebelah matanya.
Abimanyu hanya tertawa tanpa membalas pertanyaan ibunya. Ia melirik pada Caca yang tampak tak peduli juga.
__ADS_1
Dalam hati Caca ingin menyanggah pemikiran ibu mertuanya, hanya saja ia merasa tidak mungkin untuk menyuarakannya. Jika sampai wanita itu tahu hubungannya dan Abimanyu belum sampai sana, ia pasti akan dinasihati sepanjang hari ini.