Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 110 : Menghabiskan Uang


__ADS_3

Pagi ini meja makan keluarga Banyu cukup ramai. Semua anggota keluarga berkumpul untuk sarapan sebelum melakukan aktivitas masing-masing.


Sejak kejadian kala itu Abimanyu dan Caca memilih untuk tinggal di kediaman Banyu sementara waktu. Lebih dekat dengan keluarganya sendiri akan membuat Caca lebih tenang. Demi ketenangan sang istri, Abimanyu pun mengalah untuk ikut tinggal di sana.


Suara adik bungsu Caca terdengar sangat ramai. Gadis remaja yang akan menginjak SMA itu tak henti-hentinya merecoki kakak laki-lakinya. Sesekali gadis itu mengatakan sesuatu yang lucu hingga semua orang dibuat tertawa oleh tingkahnya.


“Bia, sarapan dulu. Ngomongnya nanti lagi,” tegur Jingga pada sang putri. Pasalnya, makanan di piring gadis itu masih banyak, sedangkan hari sudah menginjak siang.


Bia meringis sungkan. “Iya, Ma.”


Seketika itu juga Bia diam dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Namun, dasarnya Bia memang tidak bisa diam. Lagi-lagi gadis itu berbicara membuat Jingga hanya bisa menatap suaminya yang tengah menahan tawa.


“Kak, nanti sore temenin Bia, dong. Bia mau cari kado buat temen Bia.” Mata gadis itu menyorot penuh harap kepada Caca.


“Boleh, tapi nanti setelah Kakak balik kuliah,” jawab Caca


“Oke!” balas Bia penuh semangat.


“Kak Abi nggak bisa nemenin, ya. Kakak lagi sibuk,” sahut Abimanyu.


“Siapa yang ngajak Kak Abi? Bia cuma ngajak Kak Caca doang,” balas gadis remaja itu sembari mencebikkan bibirnya.


“Ya udah, Kak Cacanya nggak boleh dipinjam kalau gitu.” Abimanyu berucap tanpa memandang ke arah sang adik ipar. Ia justru kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Cukup lama tinggal bersama keluarga sang istri membuat Abimanyu berani menggoda adik iparnya.


“Ih, Kak Abi,” rengek Bia.


“Bia,” tegur Jingga yang lagi-lagi membuat Bia terdiam dan kembali menyantap sarapannya.


“Pokoknya nanti aku jemput Kak Caca di kampus,” ucap Bia bersungut-sungut tanpa memedulikan tatapan horor ibunya.


Abimanyu hanya menyunggingkan sebelah bibirnya saja tanpa membalas ucapan sang adik ipar.


**


“Kamu beneran nggak bisa ikut aku sama Bia?”


Abimanyu mematikan mesin mobilnya sembari menjawab, “Enggak dulu, ya. Aku agak sibuk di kantor ayah. Kapan-kapan kita jalan.”


Caca mengangguk mengerti. Akhir-akhir ini Abimanyu memang cukup sibuk di kantor sang ayah. Kuliahnya yang sudah hampir selesai menuntut Abimanyu untuk segera menguasai keadaan kantor supaya setelah lulus nanti Abimanyu bisa langsung bekerja lebih maksimal. Meskipun Abimanyu juga harus tetap menjalankan pendidikan magister-nya.


Caca keluar dari mobil sang suami setelah mencium tangan pria itu. “Hati-hati, ya.” Caca masih berdiri di samping mobil. Tersenyum cerah menatap sang suami.

__ADS_1


“Nanti aku jemput kalian,” ujar Abimanyu sebelum menyalakan mobilnya. Setelah mendapatkan anggukan kecil dari sang istri Abimanyu melajukan kembali kendaraannya menuju kantor sang ayah.


Sore hari Bia menjemput Caca dengan taksi online. Bia yang memang lebih dulu keluar dari sekolah memutuskan untuk menunggu sang kakak di depan kampusnya. Sopir taksi online tersebut tidak mempermasalahkannya. Mereka menunggu beberapa menit. Tepat pukul empat sore lebih dua belas menit Caca terlihat keluar gerbang. Bia segera memanggil sang kakak, dan mereka pun segera menuju pusat perbelanjaan terdekat.


“Terima kasih, Pak.” Caca memberikan beberapa lembar uang kepada sopir taksi tersebut, kemudian keluar bersama sang adik.


“Makan dulu ya, Kak. Bia laper banget,” ajak Bia seraya menarik tangan Caca menuju foodcourt favoritnya di mal tersebut.


“Pelan-pelan kali Bi jalannya,” tegur Caca. Bia seperti orang kesurupan yang berjalan dengan sangat cepat.


Setelah kejadian itu Caca tidak pernah berada di tempat yang sangat ramai, selain kampus tentunya. Caca tidak ingin bertemu dengan banyak orang. Entah kenapa ia merasa begitu malu atas kejadian yang menimpanya. Meskipun ia sangat yakin kejadian itu tidak tersebar ke mana pun, bahkan ke keluarga mereka sendiri.


“Bi, jangan lama-lama nanti di sini.” Caca menyisir setiap sudut tempat yang baru saja mereka masuki, cukup ramai dan mampu membuat Caca sedikit tidak nyaman.


“Kak, tenang aja. Ada aku, dan jangan pedulikan mereka. Mereka nggak tahu apa-apa tentang Kakak. Kita semua nggak ada yang saling kenal.” Bia menggenggam tangan Caca yang sama kecilnya dengan tangannya. Senyum penuh ketenangan Bia lemparkan pada Caca agar perempuan itu percaya padanya dan tidak takut lagi.


Bagai hipnotis, Caca berangsur tenang. Makanan ringan yang telah dipesan Bia segera ia nikmati, guna lebih menenangkan dirinya.


Seperti seorang kakak, Bia justru lebih banyak mengajak Caca bicara dan menanyakan kegiatan Caca selama beberapa hari ini. Mereka memang jarang sekali mengobrol saat di rumah, karena banyaknya tugas mereka masing-masing.


“Ha ha, beneran Kak Sofi jatuh di depan gebetannya?”


“Sakitnya itu nggak seberapa, tapi malunya!” seru Caca dengan tawa lepas.


Kedua manusia itu sangat asyik bercerita hingga lupa waktu. Hampir setengah jam lebih mereka berada di sana. Caca yang melihat jam sudah hampir petang segera mengajak Bia untuk mencari barang untuk ia berikan kepada temannya yang akan berulang tahun.


“Udah habis belum makanan lo. Udah sore nih, jadi beli kado buat teman lo nggak?”


“Jadi, sorry. Terlalu asyik ngobrol sama kakak jadi lupa.” Bia hanya bisa menyengir kuda saat tahu pukul berapa sekarang.


Remaja itu lantas meninggalkan tempat duduknya. Ia menuju kasir dan memberikan uang tunai sejumlah harga pesanan mereka tadi.


“Nanti ganti uang aku, ya,” pinta Bia tanpa merasa berdosa. Tawa kecilnya terbit mendengar kakaknya mendengkus.


Sebenarnya tanpa diminta pun Caca pasti akan mengganti uangnya. Namun, perempuan itu hanya mengiyakan saja permintaan sang adik tanpa banyak protes.


Kedua kakak beradik itu mulai kembali mengelilingi beberapa toko pernak-pernik ala-ala perempuan. Mulai dari toko baju, toko aksesoris perempuan, toko sepatu, dan beberapa toko lainnya. Kalimat mencari kado untuk teman Bia nyatanya berbalik menjadi mencari barang untuk Bia sendiri, karena gadis remaja itu memborong cukup banyak aksesoris perempuan untuk dirinya sendiri.


Caca membantu membawa kurang lebih lima tas belanja milik Bia. Perempuan itu memutar bola matanya malas melihat kebiasaan Bia yang sangat boros saat sedang berbelanja.


“Lo cari kado buat temen lo apa cari barang buat lo sendiri sih?”

__ADS_1


Nada kesal dari Caca tak dapat dipungkiri lagi kala Bia mengambil baju secara acak dari gantungan toko. Remaja kelas tiga SMP itu tak sungkan meminta pendapat Caca tentang baju pilihannya.


Tanpa merasa berdosa Bia menjawab, “Kan tadi udah dapet sepatu.”


Helaan napas Caca terdengar jengkel. Perempuan itu lantas memutar langkah menuju kursi tunggu di pojok toko. Jam sudah menunjukkan matahari telah tenggelam, tetapi Bia masih asyik sendiri. Namun, dengan menghabiskan waktu bersama sang adik sejenak membuat Caca lupa dengan kegundahan hatinya.


**


“Ya ampun ini kado buat temen apa buat kamu sendiri, Bi?”


Abimanyu melongo melihat beberapa tas yang dibawa oleh sang istri beserta adiknya. Ia tak pernah sekali pun melihat istrinya berbelanja sebanyak ini, sehingga ia percaya bahwa Bia yang telah menghabiskan banyak uang untuk beberapa barang tersebut.


“Cari kado itu cuma kedok buat belanja dia aja,” sahut Caca sedikit ketus. Kakinya sudah sangat lelah mengikuti ke mana saja Bia pergi. Namun, pancaran kebahagiaan terlihat dari raut wajah perempuan itu.


Si tersangka hanya menyengir tanpa merasa berdosa. Gadis remaja itu menjawab bahwa ia sudah lama tidak berbelanja seperti ini.


“Alesan!” sentak Caca sembari membuka pintu depan mobil setelah selesai memasukkan semua barang Bia ke bagasi.


Bia mencebikkan bibirnya, ia lantas ikut masuk ke dalam mobil bersama Abimanyu yang sedang tertawa.


Sesampainya di rumah Bia kembali membuat seisi rumah melongo dengan banyaknya barang yang ia beli. Kebiasaan buruk itu ternyata masih melekat padanya.


“Aku ke dapur dulu, ya. Haus.” Abimanyu berbelok ke dapur setelah mendapat anggukan dari Caca.


Lelaki jangkung itu menghampiri Bia yang sedang membuka lemari pendingin dan mengambil sekotak susu.


“Eh, Kak Abi,” sapa Bia tanpa merasa berdosa. Gadis itu tiba-tiba membuka tasnya, kemudian mengambil dompet dan sebuah kartu di dalamnya.


“Makasih ya udah dibelanjain,” ucapnya sambil menyodorkan kartu tersebut pada Abimanyu.


Tatapan malas sang kakak ipar membuat Bia meledakkan tawanya. “Salah sendiri nyuruh aku buat ngajak Kak Caca jalan. Aku kan juga sibuk,” katanya sambil menjulurkan lidah.


“Besok gitu lagi juga boleh. Aku ikhlas, kok,” imbuhnya tanpa bisa menahan tawa.


Abimanyu menghela napasnya pelan. Ia ingin sekali mencubit Bia yang sudah menghabiskan banyak uangnya. Namun, saat melihat binar kebahagiaan perempuan itu membuatnya urung melakukannya.


Lelaki itu justru berterima kasih pada Bia karena telah mau ia repotkan. “Dan nggak ada lain kali lagi. Bisa bangkrut aku nyuruh kamu lagi,” gerutu Abimanyu yang hanya mendapat tawa dari Bia.


Ya, Abimanyu memang memberikan kartu kreditnya pada Bia. Ia meminta adik iparnya itu untuk membawa Caca jalan-jalan. Ia ingin Caca kembali merasakan dunia luar meski hanya ke mal saja. Setidaknya hidup Caca kembali normal dan tidak hanya tentang rumah dan kampus saja.


Demi kembalinya seorang Caca ternyata Abimanyu harus merogoh kantongnya dengan sangat dalam. Sifat Bia yang sangat amat jahil membuatnya harus kehilangan banyak uang. Namun, semua itu tidak masalah sama sekali. Ia justru senang, apalagi melihat Caca yang sudah kembali seperti dulu. Meski masih belum sepenuhnya.

__ADS_1


__ADS_2