Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 85 : I'm yours


__ADS_3

Setelah makan malam tadi, Banyu meminjam Abimanyu dari Caca. Pria itu mengajak Abimanyu entah ke mana. Caca yang tak mungkin menolak pun hanya bisa pasrah. Justru ia bisa berbincang dengan ibunya secara pribadi.


Meskipun sudah menikah, bagi Jingga Caca tetaplah putri kecilnya. Wanita itu selalu menyayangi Caca bagaimanapun keadaan gadis itu. Jingga begitu perhatian terhadap putrinya. Bahkan saat ini, wanita itu mengajak putrinya bercakap-cakap. Ia menanyakan bagaimana kabar putrinya itu.


Caca dan Jingga mengobrol cukup lama. Caca menceritakan bagaimana perlakuan kedua mertuanya yang kelewat baik. Mereka begitu perhatian dan tidak pernah menuntut apa pun darinya.


Setelah selesai bercerita, Caca meminta izin pada Jingga untuk pergi ke kamar. Sejujurnya ia sangat merindukan kamarnya yang begitu nyaman.


Caca memindai seluruh isi kamarnya. Tidak ada yang berubah di sana. Semua masih sama, tidak ada satu pun barangnya yang berpindah tempat. Mungkin hanya beberapa helai bajunya saja yang hilang, tetapi Caca sangat tahu siapa yang sudah mencurinya. Namun, Caca sama sekali tak mempermasalahkan semua itu.


Melihat pintu balkon yang terbuka membuat Caca urung merebahkan tubuhnya. Langkah gadis itu justru terlihat bersemangat menghampiri tempat favoritnya. Caca menatap ke atas langit. Malam ini begitu cerah, secerah hatinya.


Sesaat setelah cukup puas memandang langit malam, Caca mendudukkan dirinya pada kursi panjang yang sejak dulu sudah ada di sana. Gadis itu menaikkan kakinya ke atas meja. Persis seperti kebiasaannya saat dulu. Baginya posisi seperti itu sangat nyaman.


Caca mengeluarkan ponselnya. Ia memotret kaki jenjangnya yang menyilang di atas meja. Gadis itu lantas mengunggah foto tersebut di instagram stori. Tidak ada kata apa pun yang ia tuliskan di sana. Ia hanya membubuhkan stiker bergambar kenyamanan untuk menunjukkan perasaannya saat ini.


Senyum Caca mengembang saat kedua sahabatnya membalas stori itu hampir bersamaan. Mereka sama-sama bertanya apakah Caca berada di rumahnya. Kedua gadis itu sangat hafal dengan pagar balkon Caca yang memiliki ukiran unik dengan lambang tulisan nama Caca.


Sesaat Caca tenggelam ke dalam dunianya. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada kursi untuk mencari kenyamanan yang lebih. Terlalu nyaman dengan posisinya dan terlalu larut dalam ponselnya, Caca tak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu berjingkat kaget saat kepalanya terasa dikecup dari belakang.


“Chating sama siapa sih? Seru banget,” tanya Abimanyu. Ia melonggokkan kepala untuk melihat ponsel istrinya yang ternyata sudah padam.


“Sama Maya sama Sofi,” jawab Caca sambil mendongakkan kepala. Kedua sudut bibir gadis itu terangkat saat bertatap mata dengan suaminya.


Caca menepuk kursi sebelahnya. Meminta Abimanyu untuk duduk di sana.


Abimanyu pun menurut. Ia duduk di samping Caca. Pandangannya tersita pada kaki sang istri yang berada di atas meja. Abimanyu hanya menggeleng tak percaya melihat kelakuan istrinya.


“Nyaman banget kayaknya kaki kamu,” sindir Abimanyu.


Sontak saja Caca menurunkan kedua kakinya dari atas meja. Gadis itu tersenyum lebar. Merasa malu dengan tingkahnya sendiri.

__ADS_1


“Kamu dari mana sama ayah? Diajak ngobrol apa?” tanya Caca mengalihkan perhatian.


“Diajak ke taman belakang sambil liatin koleksi ikan ayah,” jawab Abimanyu. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Caca. Matanya terpejam meresapi rasa nyaman yang tiba-tiba menjalarinya.


Hening. Tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Caca kembali membalas pesan-pesan dari kedua sahabatnya. Sedangkan Abimanyu lebih memilih diam dan menatap lurus ke depan.


“Kayaknya kamu seneng banget nginep di sini,” ucap Abimanyu tiba-tiba.


Caca meletakkan ponselnya di atas meja. Ia memutar tubuhnya menghadap Abimanyu setelah lelaki itu menegakkan tubuhnya.


“Bi, semua perempuan yang udah nikah itu pasti bakal seneng kalau pulang ke rumahnya. Kalau nggak percaya coba aja tanya ke beberapa perempuan yang udah nikah. Pasti semua jawabannya sama.”


“Iya juga, ya,” timpal Abimanyu sambil tertawa. Menertawakan kebodohannya.


Abimanyu menggenggam tangan mungil Caca. “Besok lagi, kalau kamu kangen sama ayah atau mama dan kamu pengen pulang, bilang aja ke aku. Aku nggak keberatan kita nginep di sini. Selama yang kamu mau,” ujar Abimanyu menciptakan binar bahagia pada mata Caca.


“Serius, Bi?” Caca meremas tangan Abimanyu. Anggukan pelan dari kepala Abimanyu membuat Caca semakin bahagia dan semakin bersyukur memiliki suami yang sangat pengertian.


Tawa kecil Abimanyu keluar begitu saja. Ia merasa kegelian mendapat ciuman bertubi-tubi dari istrinya.


“Suami aku baik banget, sih,” ucap Caca dengan gemas.


“Kamu baru tahu?” Abimanyu menaikkan salah satu alisnya. “Aku kan dari dulu baik, kamu aja yang nggak sadar,” ucapnya seraya menyugar rambutnya ke arah belakang.


Caca tertawa lebar. Sepertinya keputusan sang ayah meminta Abimanyu untuk menggantikan Dean sebagai suaminya merupakan jalan yang benar. Pemuda itu selalu berhasil menjadi alat untuk membangun suasana hatinya. Selalu berhasil membuat dirinya berbunga dan membuatnya sangat bahagia.


Tawa Caca mereda. Tatapan Abimanyu yang sejak tadi tak lepas darinya membuat Caca sedikit salah tingkah. Gadis itu menutup wajah Abimanyu dengan tangannya yang mungil.


“Kenapa sih liatin terus!”


Abimanyu mencekal pergelangan gadis itu. Menurunkannya dari wajahnya untuk kemudian ia genggam.

__ADS_1


“Kamu itu cantik banget kalau ketawa,” ucap Abimanyu membuat Caca merotasikan matanya.


“Berarti kalau aku marah aku jelek, dong,” balas Caca seraya menyilangkan kedua tangannya ke depan dada.


Jari telunjuk Abimanyu mengetuk-ngetuk dagunya, seolah sedang berpikir.


“Jadi lebih cantik sih. Kayaknya aku harus gangguin kamu deh, biar liat kamu tambah cantik,” goda Abimanyu.


Caca membulatkan matanya. Ia memukul lengan Abimanyu hingga menimbulkan suara.


“Enak aja! Aku nggak mau marah-marah, ya! Bisa cepet tua!” ketus Caca. Ia mendengkus kesal kemudian membuang tatapannya.


“Nah, bener kan. Kamu tambah cantik kalau lagi marah,” ujar Abimanyu semakin menyulut api pada istrinya. Dalam benaknya Abimanyu tertawa melihat reaksi Caca yang sangat menggemaskan. Saat ini gadis itu menatapnya tajam, seakan bisa membelah apa saja hanya dengan pandangan.


“Ngeselin banget sih kamu!” Tangan Caca kembali melayang hendak memukul lengan Abimanyu. Namun, tanpa ia sangka Abimanyu justru mencekal pergelangan tangannya lagi. Sentuhan Abimanyu yang begitu lembut selalu bisa membuat detak jantung Caca bergerak sangat cepat. Seakan-akan ingin keluar dari tempatnya.


Abimanyu menarik lengan Caca hingga gadis itu menubruk dirinya. Senyum Abimanyu semakin mengembang saat matanya yang jernih bertemu dengan mata Caca yang membola. Seperti biasa, bidikan matanya bergerak turun menuju bibir tipis istrinya. Bibir yang membuatnya candu.


Tanpa basa-basi Abimanyu menempelkan bibirnya pada bibir Caca. Netranya mulai terpejam saat nalurinya bergerak menghisap bibir istrinya. Tangannya bergerak ke atas memegangi tengkuk Caca untuk memperdalam ******* mereka. Napasnya mulai memburu. Erangan halus yang keluar dari Caca memacu Abimanyu untuk semakin memperdalam ciuman mereka.


Dalam setengah kesadarannya, Caca melingkarkan tangannya pada leher Abimanyu. Ia membalas ******* suaminya dengan lebih panas. Caca memindahkan tubuhnya di atas pangkuan Abimanyu. Tarikan erat pada pinggangnya membuat Caca semakin menempel dengan suaminya.


Mereka sudah terjebak dalam kungkungan hasrat manusia dewasa. Keduanya masih asyik menikmati bibir satu sama lain. Belum ada yang ingin mengakhiri di antara mereka. Napas mereka semakin memburu. Pasokan oksigen semakin menipis.


Caca adalah yang pertama menghentikan aktivitas mereka, meski ia sendiri tidak rela. Perlahan netra gadis itu terbuka dan bersamaan dengan terbukanya mata Abimanyu.


Pandangan mereka bertemu. Saling mengunci satu sama lain. Tatapan mereka sama-sama berubah kelabu.


Abimanyu yang tak kuasa menatap bibir istrinya pun kembali ******* bibir gadis itu. Mereka kembali bercumbu selama beberapa menit. Saling mengeratkan dekapan. Semakin menghapus jarak di antara mereka.


“Ca, aku–”

__ADS_1


“I'm yours, Bi,” tukas Caca dengan napas tersengal.


__ADS_2