
“Kak, Bang Abi telepon, nih!”
“Kak!”
Brak!
“Aww”
Ata melepaskan tawanya kala melihat saudara sulungnya menabrak meja. Tatapan tajam dari sang kakak pun tak membuat Ata merasakan takut. Tawanya justru semakin lebar saja.
“Ati-ati kali, Kak. Bang Abinya nggak bakal kabur, kok,” seloroh Ata seraya mengangsurkan ponsel Caca yang masih mengeluarkan suara panggilan video.
“Cerewet!” sungut Caca sembari menyahut benda pipih miliknya.
Gadis cantik yang kini penampilannya sedang acak-acakan itu buru-buru membetulkan rambutnya sebelum mengangkat panggilan tersebut. Sembari berjalan menuju dapur, Caca meletakkan ponselnya tepat di depan wajah. Senyum manis gadis itu terukir begitu saja kala wajah sang suami terpampang penuh di sana.
“Halo, Sayang,” sapa Abimanyu dari seberang sana.
Saat ini Abimanyu sudah berada di posko tempatnya mengabdikan diri. Lelaki itu sudah berada di sana selama satu minggu. Abimanyu menepati janjinya pada Caca untuk terus menghubunginya selagi ia senggang.
“Hai, lagi nggak sibuk?”
Caca meletakkan ponselnya ke atas meja pantri. Menyandarkannya pada sebuah stoples kaca berisi kue kering. Caca berdiri di depan kameranya sembari melanjutkan kegiatannya tadi.
“Enggak, ini baru selesai ngajarin anak-anak kecil belajar.”
Abimanyu tampak berjalan sembari membawa ponselnya. Pemuda itu lantas duduk di satu tempat yang cukup terang agar gambarnya bisa terlihat jelas.
“Kamu lagi ngapain?” tanya Abimanyu pada sang istri.
“Mau bikin kue, kemarin bunda kasih resep kuenya ke aku,” jawab Caca. Gadis itu membenarkan gulungan rambutnya sebelum kemudian kembali memecahkan telur di atas sebuah mangkuk besar.
“Yah, aku nggak bisa cicipin kue buatan kamu, dong,” balas Abimanyu dengan muka dibuat sedih.
Caca terkikik geli. “Belum tentu enak juga kali kue buatan aku.” Gadis itu kemudian menoleh ke arah pintu saat terdengar suara derap langkah masuk ke dapur.
“Bi, tolong ambilin mixer gue di situ, dong,” ucap Caca.
Dari seberang sana Abimanyu bisa mendengar suara adik iparnya menyahut dengan kata iya. Tak lama kemudian sebuah pengaduk adonan yang Caca minta muncul di layar ponselnya. Suara Caca menggerutu pun menyusul sebelum wajahnya kembali terlihat di layar ponselnya. Abimanyu hanya bisa tertawa melihat istrinya mengomel, sedangkan adik iparnya tertawa dengan sangat keras.
Dengan bibir sedikit maju Caca kembali melanjutkan aktivitasnya. Sesekali ia menanggapi kalimat-kalimat Abimanyu. Saling bertanya kegiatan hari itu dan masih banyak lagi yang mereka perbincangkan.
“Astaga, video call dari tadi masih belum selesai juga?”
Suara Ata yang begitu lantang mendapatkan sorotan tajam dari Caca. Namun, bukannya pergi, Ata justru mendekat dan menampakkan wajahnya pada ponsel sang kakak.
__ADS_1
“Bang Abi pulang aja, deh! Nggak usah ikut KKN segala kalau sehari video call sama istrinya bisa sampai empat kali,” olok remaja itu. Ia tak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan ini.
Sejak kemarin Ata memergoki kakaknya tengah berbincang dengan sang suami. Entah itu melalui panggilan suara saja atau dengan panggilan video seperti ini. Mereka seperti tak kehabisan topik pembicaraan. Selalu ada saja yang mereka ceritakan saat saling bertukar suara.
Bukannya marah dengan ucapan adik iparnya, Abimanyu justru tertawa dengan sangat keras. Pemuda itu lantas menawari sang istri untuk dihubungi saat malam saja supaya Caca bisa mengerjakan pekerjaannya dengan lebih fokus lagi. Namun, ternyata jawaban dari Caca sangat berbeda dengan bayangan Abimanyu. Perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, ditambah dengan bibir mengerucut, membuat perempuan itu terlihat sangat menggemaskan akan penolakannya.
Ata yang masih berada di samping sang kakak hanya bisa menggelengkan kepala dengan tatapan geli. Remaja itu hampir saja melayangkan tangannya ke kepala Caca jika saja perempuan itu tidak menoleh.
“Dasar, bucin!” olok Ata sebelum beranjak meninggalkan dua sejoli itu.
“Iri bilang, bos!” balas Caca sembari menjulurkan lidahnya. Ia memasang wajah galak pada sang adik sebelum remaja itu meninggalkan dapur.
“Kalian tu berantem mulu, ya,” ucap Abimanyu. Pemuda itu tampak menopangkan kepala pada tangannya.
“Dia dulu, tuh!”
Bibir Caca mengerucut kesal. Bola matanya tampak melirik ke arah pintu dapur. Helaan napasnya terlihat pasrah saat seseorang kembali masuk ke sana.
“Eh, ada mantu ayah.”
Caca memutar bola matanya malas saat sang ayah mendekat. Ia tahu, pria yang sudah hampir tua itu pasti juga akan meledeknya seperti Ata.
“Malem, Yah,” sapa Abimanyu.
“Ayah! Kapan aku nangis, coba!” Caca melirik sinis pada sang ayah tanpa rasa takut.
“Jangan percaya, Bi, ayah bohong!”
“Oh, jadi kamu nggak kangen aku?”
Pertanyaan itu membuat Caca menggelengkan kepala seketika.
“Enggak, bukan gitu maksud aku,” elak Caca.
“Udah, Bi, pulang aja. Caca udah nggak tahan tidur sendiri.”
“Ayah!” sentak Caca lagi. Perempuan itu lantas berdiri, kemudian mendorong tubuh Banyu untuk keluar dari dapur. Ia benar-benar sudah risi diganggu oleh dua pria yang ada di rumahnya.
Setelah mengancam Banyu agar tidak mengganggunya lagi, Caca kembali menemui Abimanyu. Mereka kembali berbincang cukup lama, tetapi kali ini didominasi oleh nasihat Abimanyu agar Caca tidak bersikap seperti itu kepada ayahnya.
Pukul sebelas malam Caca merebahkan dirinya di tempat tidur masih dengan panggilan video dari Abimanyu yang belum dimatikan. Rutinitas baru tersebut tak pernah mereka lupakan selama Abimanyu belum kembali dari tugas kuliahnya.
**
Ramai kantin kampus menyapa Caca dan kedua sahabatnya. Ketiga gadis itu mengayunkan kaki menuju meja kosong yang tak jauh dari pintu masuk. Salah seorang pelayan pun menghampiri dan mencatat pesanan mereka, kemudian kembali ke dapur untuk menyiapkannya.
__ADS_1
Sofi dan Maya saling pandang saat melihat Caca sedari tadi tampak sangat gelisah menatap ponselnya.
“Lo kenapa, sih?” tegur Maya seraya menyenggol lengan Caca.
Caca menoleh sekilas sebelum mendecakkan lidahnya.
“Enggak papa,” jawabnya singkat.
Maya dan Sofi tak lantas percaya. Mereka terus saja bertanya secara bergantian hingga Caca merasa terdesak dan juga risi.
“Gue tu lagi nunggu chat-nya Abi, kenapa sih kalian ini!”
Jawaban Caca membuat kedua sahabatnya tersentak geli. Keduanya hampir menyemburkan tawa jika saja Caca tidak menatap mereka dengan tajam.
Keduanya mengulum bibir secara bersamaan sebelum akhirnya sama-sama berkata, “Bucin banget, lo!”
“Diem lo berdua!” sentak Caca dengan raut muka penuh rasa kesal.
Emosinya yang sudah mencapai ubun-ubun terasa akan meledak saat ini. Pasalnya sejak tadi pagi ia sudah dibuat jengkel dengan Abimanyu. Pemuda itu sama sekali tidak menghubungi setelah semalam terpergok berbincang dengan teman perempuan satu kelompoknya dengan begitu lembut saat ia dan Abimanyu melakukan panggilan video.
Caca yang sangat cemburu memutus sambungan panggilan video mereka secara tiba-tiba. Ia cemburu dengan apa yang baru saja Abimanyu lakukan. Bahkan panggilan suara dari sang suami terus Caca abaikan meski puluhan kali terdengar. Ia sampai mematikan ponselnya supaya Abimanyu tidak lagi mengganggu tidurnya yang diselimuti api cemburu.
Namun, saat bangun Caca justru harus menelan kecewa, karena Abimanyu justru tidak menghubunginya kembali. Ia yang saat ini sedang menahan rindu karena tak bisa bertemu secara langsung dibuat semakin rindu tanpa adanya suara Abimanyu yang menyambut paginya meski hanya melalui sambungan telepon seperti dua minggu terakhir ini.
Hingga sore hampir saja habis Caca masih juga tidak mendapat kabar apa pun dari sang belahan jiwa. Gadis itu benar-benar menyesal dengan kebodohannya sendiri. Ia sadar tidak seharusnya bersikap seperti itu kepada Abimanyu. Seharusnya ia lebih mengerti lagi apa yang Abimanyu lakukan adalah hal yang benar, karena tidak mungkin Abimanyu menjawab pertanyaan seseorang dengan nada tinggi.
Rindu yang Caca rasakan semakin besar saat tak ada satu kabar pun dari sang suami. Ia ingin mendengar suara pria itu meski hanya satu detik saja, tetapi ia terlalu gengsi untuk menghubungi terlebih dahulu.
Caca terlihat begitu lesu saat memasuki rumah masa kecilnya. Ya, Caca memilih tinggal di rumah orang tuanya selama dua minggu ini karena merindukan keluarganya. Di sana ia juga tidak akan merasakan kesepian dengan keberadaan dua adiknya yang super ramai.
“Kamu kenapa, Kak?” sapa Jingga kala sang putri sulung terduduk lemas di sampingnya yang sedang menonton televisi.
Tanpa menatap ibunya Caca menjawab, “Enggak papa, Ma. Capek aja.”
Jingga mengangguk saja tanpa kembali bertanya. Ia mengusap kepala belakang putrinya dengan penuh kelembutan, kemudian menyuruh Caca untuk segera membersihkan diri.
Tak ingin mendebat, Caca pun beranjak begitu saja dari duduknya. Ia menyeret tasnya yang entah kenapa terasa sangat berat saat ini dan membuat langkahnya begitu lamban.
Putri sulung Jingga dan Banyu itu masih saja memikirkan keadaan sang suami yang sejak tadi masih belum juga memberinya kabar. Ia takut terjadi sesuatu dengan Abimanyu. Rasa khawatir mulai memenuhi kepala Caca.
Tak terasa langkahnya sudah sampai di depan kamar. Perempuan berwajah kusut itu mendorong pintunya agar terbuka. Gelap pun langsung menyambut dirinya. Rindu akan pelukan sang suami di atas tempat tidur mulai kembali menyergap dan rasanya Caca benar-benar ingin menangis, karena terlalu merindukan sosok suaminya.
“Kamu ke mana sih, Bi?” gumam Caca lirih. Bibirnya mencebik seperti ingin menangis. Ia pun buru-buru menutup pintu dan menyalakan lampu.
Caca ingin segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur untuk mengistirahatkan jiwa sekaligus raganya. Namun, saat membalikkan badan, Caca dibuat tercengang dengan apa yang ia lihat di depan matanya.
__ADS_1