Tak Akan Terganti

Tak Akan Terganti
Bab 47 : PDKT


__ADS_3

Caca : Aku ada kelas tambahan. Mungkin jam lima baru keluar dan nanti harus ke kafe dulu. Kalau kamu mau pulang duluan nggak papa.


Abimanyu : Aku pulang sama kamu aja. Aku tunggu di perpus, sekalian mau nyicil ngerjain tugas.


Abimanyu menutup layar ponselnya untuk ke sekian kali. Sudah hampir pukul lima dan Caca belum juga membaca pesannya. Mungkin saja gadis itu masih sibuk dengan kelasnya, sampai-sampai tidak membuka ponsel.


Sebenarnya Abimanyu tidak ada tugas. Ia hanya ingin pulang bersama Caca. Ia ingin menghabiskan waktu bersama gadis itu. Meskipun terkadang Caca bersikap ketus atau cuek kepadanya, Abimanyu tak pernah mempermasalahkan. Ia hanya yakin, suatu saat Caca pasti akan bersikap baik kepadanya. Seperti sikap gadis itu selama ia sakit beberapa hari ini.


“Bi, saya mau pulang. Kamu mau pulang juga atau gantiin saya jagain perpus.”


Abimanyu melihat sekeliling. Ia baru sadar bahwa tidak ada lagi orang di dalam sana selain dirinya.


“Ya, pulang dong, Bu. Masa gantiin Ibu. Emangnya siapa yang mau baca di perpus malem-malem? Mbak Kunti?” balas Abimanyu sambil terkekeh. Tangannya lekas menutup buku yang sejatinya tidak ia baca sama sekali.


“Kamu dari tadi di sini nunggu apa sih? Masa kamu nunggu saya? Naksir ya?” goda perempuan paruh baya itu.


Sontak tawa Abimanyu pecah begitu saja. Ia yang sudah sering berada di sana tentu mengenal dosen penjaga perpustakaan itu. Mereka sering berinteraksi saat Abimanyu mencari buku atau hanya sekadar mencari wanita itu untuk memberikan oleh-oleh saat ia baru saja tiba dari suatu tempat.


“Saya lagi nunggu seseorang. Tapi, sayangnya bukan Bu Eti,” jawabnya setelah meredakan tawa.


“Siapa? Pacar kamu, ya?” tanya wanita yang memiliki nama asli Liberty itu.


“Bukan pacar sih, Bu.” Abimanyu memasang senyum simpulnya.


“Terus?” desak wanita itu penasaran.

__ADS_1


“Calon ibu dari anak-anak saya.”


“Ya sama aja dong?”


“Enggak sama, Bu!” bantah Abimanyu. “Kita nggak pacaran, tapi ... suami istri.” Dua kata itu tentunya hanya Abimanyu suarakan di dalam hatinya. Ia tidak mungkin mengungkapkan bahwa ia sudah menikah pada wanita satu ini.


Wanita itu berdecak. Ia membenarkan letak kacamatanya sebelum menimpali. “Masih PDKT, ya?” tebaknya yang masih penasaran.


“Anggap aja gitu,” jawab Abimanyu sambil berlalu.


“Ih, gimana sih, Bi?” decak wanita itu lagi. Dia mengikuti Abimanyu yang kini hampir mencapai pintu.


“Udah, Bu. Nanti kalau dia udah suka sama saya, saya kenalin ke Bu Eti. Doain aja,” ucapnya sambil tertawa.


“Saya keluar dulu, Bu. Makasih udah dikasih tempat,” pamit Abimanyu. Langkahnya segera keluar dari perpustakaan itu. Meninggalkan rasa penasaran di benak wanita berusia lima puluh tahun ke atas itu.


**


“Lah kamu masih di sini, Bi?”


Caca baru saja naik ke atas motornya saat Abimanyu menghampiri.


“Kan aku udah bilang, aku nunggu kamu. Kamu aja yang belum baca chat aku,” jawab Abimanyu sembari mengambil helm yang tadi sudah ia kembalikan ke motor Caca.


“Eh, masa sih?” Caca buru-buru melihat ponselnya. Benar saja, pesan Abimanyu yang berada di deretan teratas belum ia buka.

__ADS_1


“Oh, iya. Untung aku belum balik tadi,” ujarnya sambil tertawa. Caca mengembalikan ponselnya ke dalam tas. Ia bersiap untuk pulang. Namun, saat melihat Abimanyu, netranya menyipit tak suka.


Abimanyu yang sadar sedang diperhatikan oleh sang istri, balik menatap dengan penuh tanya.


“Kenapa?” tanyanya.


“Kamu tuh kebiasaan banget, deh. Pakai jaket tapi nggak pernah dinaikin risletingnya,” sungut gadis itu. Tiba-tiba saja Caca berdiri tepat di depan Abimanyu untuk kemudian memegang ujung bagian bawah jaket Abimanyu dan memasang risleting tersebut. Dengan gerakan pelan, Caca menaikkannya sampai ujung bagian atas jaket itu hingga jaket Abimanyu tertutup sempurna.


“Dah, gini kan enak liatnya,” ujarnya sembari menepuk dada Abimanyu dua kali.


Abimanyu dibuat diam dengan apa yang Caca lakukan. Ia selalu saja terpesona dengan apa yang Caca perbuat padanya, meskipun sangat sederhana seperti ini.


Caca menarik tangannya dengan canggung. Ia baru sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Untuk menghilangkan kecanggungan itu, Caca berdeham kecil, kemudian naik ke atas motornya.


“Ayo naik. Kita ke kafe dulu. Ada yang harus aku urus,” ujarnya sambil mengenakan helm. Ia tak berani menatap Abimanyu.


Sudut bibir Abimanyu terangkat sebelah. Ia segera membawa tubuhnya duduk di belakang Caca. Membiarkan gadis itu menyetir untuknya.


Saat sudah berada di jalan, Abimanyu meletakkan tangannya di pinggang gadis itu. Kekehannya keluar saat Caca berjengit kaget, tetapi tetap diam saja. Merasa tak mendapat penolakan, Abimanyu pun turut meletakkan dagunya di pundak Caca menatap gadis itu melalui spion motornya.


“Hati-hati, ya, cantik,” ucapnya membuat Caca tersipu.


“Diem kamu. Aku jatuhin baru tahu rasa nanti,” omel Caca menyembunyikan kegugupannya.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2