Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
My Guardian Angel


__ADS_3

Pandu baru saja selesai menghadiri sebuah seminar di salah satu Hotel bintang lima di Jakarta Pusat. Utusan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Salemba. Pandu diminta secara hormat untuk memberikan kisah perjalanannya menjadi Businessman. Ditemani oleh Sekretarisnya Robi dan beberapa Dosen maupun Rektor, tengah menikmati hidangan yang sudah tersaji di Restaurant tersebut.


"Saya salut dengan Bapak. Nekat merantau dan berjuang sendiri."


"Kalau dengan niat yang baik, insyaallah semua dilancarkan."


"Betul banget tuh Pak."


Di tengah obrolan mereka, Pandu tak sengaja melihat seseorang yang pernah ia lihat sebelumnya. Seseorang itu pria yang ia ingat adalah pria yang ingin dijodohkan dengan Jihan oleh Papanya. Yang membuat ia bingung, kenapa pria itu malah menggandeng mesra wanita lain.


"Sayang.... please dong jangan marah. Nanti cantiknya hilang loh."


Nada manja pria itu benar-benar membuat Pandu bingung.


'Bukannya ia telah dijodohkan dengan Jihan? Kenapa malah bermesraan dengan wanita lain. Apa Jihan mengetahui hal ini semua? Apa perjodohan mereka dibatalkan? Tapi, kemarin Alya sempat mengatakan bahwa ada kemungkinan besar Jihan benar-benar akan dijodohkan kembali.'


Rasa dilema Pandu menginstruksikan tangannya untuk merekam aktivitas dan obrolan mesra 2 insan manusia itu.


"Aku sebal banget sama kamu! Segampang itu kamu bakal ninggalin aku."


"Sayang.... itu cuma planning aku sama Papi. Gak ada serius dari perjodohan itu. Kamu tahu kan, sekarang perusahaan Papi mulai bangkrut. Utang kita di Bank juga banyak. Kita cuma manfaatin mereka untuk menyelamatkan perusahaan Papi. Kamu tahu gak, kemarin aja Papi dapat bantuan cuma-cuma dari om Ridwan. Jadi, sekiranya aku berhasil nikahi anak om Ridwan, aku jamin perusahaan Papi kembali normal dan aku juga bakal menjadi pewaris keluarga Salim. Setelahnya, aku akan cari cara untuk tinggalin dia. Dan nikahi kamu Sayang."


"Kamu janji ya!"


"Iya Sayang...."


Dalam kamarnya, Pandu masih saja memikirkan hal tadi siang. Video yang ia rekam pun sudah berulang kali ia putar. Niat pria itu benar-benar jahat. Mereka sengaja memanfaatkan keluarga Jihan. Kalau semua ini terjadi, Jihan pasti sangat terpukul. Apa pandu harus mengatakan ini semua kepada Jihan? Membongkar niat jahat pria yang akan dijodohkan dengannya.


Pandu dibuat bingung. Ia bangun dan melakukan sholat malam. Mungkin, itu salah satu yang bisa menenangkan pikirannya dan meminta sebuah petunjuk. Setelahnya, ia tidur untuk mengistirahatkan dirinya.


...🍁~🍁...


Hari ini, Jihan disibukkan dengan agenda-agenda persiapan dirinya untuk sore nanti. Di depan cermin, ia memandang dirinya lemah. Semua tidak sesuai skenarionya. Mata itu mengeluarkan cairan bening yang berusaha ia tahan.


Ketukan pintu mengagetkannya.


"Jihan...." Panggilan Mama.


Jihan memutar kenop pintu. Pelukan pertama Mama ia rasakan. Mama lebih mengerti anaknya di kala sedih.


"Kalau kamu benar-benar tidak mau ini terjadi, katakan saja Nak! Mama akan mendukung kamu. Mama tahu apa yang kamu rasakan. Mama gak mau kamu menyesal untuk kedua kalinya."


"Jihan cuma mau jadi putri yang penurut untuk Papa. Selama ini, Jihan udah cukup melukai hati Papa, membangkang dan lupa jasa Papa ke Jihan."


Kecupan Mama menguatkan Jihan.


...🍁~🍁...


Pandu banyak diam hari ini. Konsennya tersita ke hal lain. Meeting nya hari ini terpaksa ia undur. Sedari tadi, ia menelepon dan mengirim beberapa pesan kepada Jihan. Tak ada satu pun nomor yang bisa ia hubungi. Mungkin saja nomornya telah diblokir. Ia benar-benar harus menyampaikan hal kemarin sebelum semuanya terlambat.


Perasaan manusiawinya bertambah kuat. Ia akan merasa menyesal jika Jihan benar-benar sudah dalam rencana jahat pria itu.


"Ndu, lo kenapa beda sih hari ini? Diem muluk." Yogi menjadi perwakilan.


"Raska mana Gi?"


"Ada di ruangannya kan?"


Pandu langsung bergerak cepat mencari Raska.


Membuka pintu ruangan Staff Keuangan. Melewati para karyawan-karyawannya yang menyapanya ramah. Tujuannya hanya Raska. Tanpa ketukan, Pandu masuk dan langsung duduk di hadapan Raska. Raska terbengong melihat pergerakan aneh Pandu.


"Ras, gue minta tolong sama lo untuk temani gue ke rumah Jihan!"


"Untuk apa?!"


"Ada hal yang ingin aku sampaikan ke Jihan."


"Yaaa.... terus apa?!"


"Ras, pria yang mau dijodohin dengan Jihan itu bukan pria baik-baik. Dia mau rencanain sesuatu. Jihan dan keluarganya harus tahu ini."


Raska yang sudah tahu jalan cerita Pandu, terburu-buru menelepon Alya. Ia tahu, hari ini Jihan akan bertemu kembali dengan keluarga Nicho. Tetapi, Raska tidak tahu di mana pertemuan tersebut. Kediaman Jihan kosong. Hanya menyisakan asisten rumah tangganya. Dan tak ada satu pun yang tahu.

__ADS_1


"Kita langsung ke rumah gue aja dulu Ndu. Alya gak angkat telepon gue."


Sesampainya di rumah Raska, Raska menemukan Alya dengan santainya berbaring di sofa sedang memakai earphone.


"Ya Allah.... Sayang....! Pantesan aja di telepon berulang kali pun gak sadar." Melepas paksa earphone Alya.


"Aww.... Raska!!"


PLAKKK! Jitakan di kepala Alya.


"Sakit....!"


Pandu tak sabar melihat perdebatan Raska dan Alya.


"Raska, Alya stop!! Ini bukan saatnya berdebat. Alya, Jihan di mana?"


Alya bingung dengan pertanyaan Pandu. Tiba-tiba saja Pandu membahas sepupunya.


"Wait.... Ada apa Pandu? Tumben banget nanya Jihan?"


Kerlingan mata Alya membuat Pandu hilang kesabaran.


"Ini gak ada hubungannya denganku. Jihan gak boleh nerima perjodohan itu."


"Hahaha.... kenapa? Bukannya Jihan punya pilihan?"


"Ini bukan keinginannya. Ini keinginan Papanya. Dan lebih tepatnya, mereka keluarga Salim akan masuk perangkap Nicho. Dia memanfaatkan Jihan."


Alya tahu, Pandu pria yang baik gak akan mungkin bicara seenaknya. Pandangan mata tulus Pandu menginterupsinya untuk segera bertindak.


"Ayo ikut gue!!!" Seruan Alya.


Pandu menyetir dengan kencang. Alya berusaha mengarahkan ke mana mereka harus pergi. Dan Raska mencoba menelepon Jihan.


...🍁~🍁...


Semua hidangan yang tersaji tak tersentuh. Menunggu mereka yang bercengkerama sangat memuakkan. Sedari tadi pandangan Nicho tak lepas darinya. Ingin sekali Jihan menancapkan garpu ini di bola mata Nicho.


Tak terasa, semua hidangan dan piring kotor mereka dipindahkan. Dan suasana kembali tegang.


"Tidak ada pernikahan apapun!!!"


Suara lantang Pandu mencuri perhatian seisi Room Private. Begitu pula dengan Jihan yang terkejut dengan kedatangan Pandu secara tiba-tiba.


"Ada apa ini?!" Kenyamanan keluarga Nicho mulai terusik dan gelisah.


Pandu dengan gerakan gugupnya menyalakan handphonenya dan mencari rekaman video yang ia punya. Berjalan ke arah papa Jihan.


"Om perlu tahu hal ini."


Ridwan yang bingung hanya mengikuti arahan Pandu.


"Sayang.... itu cuma planning aku sama Papi. Gak ada serius dari perjodohan itu. Kamu tahu kan, sekarang perusahaan Papi mulai bangkrut. Utang kita di Bank juga banyak. Kita cuma manfaatin mereka untuk menyelamatkan perusahaan Papi. Kamu tahu gak, kemarin aja Papi dapat bantuan cuma-cuma dari om Ridwan. Jadi, sekiranya aku berhasil nikahi anak om Ridwan, aku jamin perusahaan Papi kembali normal dan aku juga bakal menjadi pewaris keluarga Salim. Setelahnya, aku akan cari cara untuk tinggalin dia. Dan nikahi kamu Sayang."


Rekaman video tersebut berhenti. Raut wajah papa Jihan berubah seakan menahan emosi.


"Dari awal saya sudah mengira, kalau Nicho bukanlah pria baik. Sudah terbukti kan, nyonya DA-NIEL."


"I.... itu.... itu bukan aku Pi, Mi!!"


"PERJODOHAN BATAL!!!" Kini amukan Papa yang terdengar.


"Ridwan, kita bisa jelasin semuanya. Ini cuma kesalah pahaman aja."


"Pi, ini sudah cukup mempermalukan keluarga kita sendiri. Mami kecewa dengan Papi dan juga kamu, Nicho!!"


Keluarga Nicho pergi dengan rasa malu. Nama baik yang mereka jaga kini sudah tercemar. Pandu merasa lega karena ia belum terlambat untuk membongkar ini semua.


"Saya ingin bicara serius dengan kamu! Dan ingin menanyakan kejelasan dari hubungan kalian berdua."


"Duduk di sini nak Pandu!" Mama Jihan mempersilahkan dengan begitu lembut.


Jihan hanya bisa tertunduk untuk menutupi rasa cemasnya. Saat ini, Ridwan benar-benar lebih mendominasi mereka.

__ADS_1


"Kamu benar-benar mencintai anak saya? Kamu dekati anak saya bukan untuk mempermainkan dia kan? Saya ini seorang ayah yang sama sekali gak rela anak saya disakiti oleh pria. Saya juga pria, tapi saya yakin saya bisa mempertanggung jawabkan pilihan yang saya pilih. Dengan pengalaman buruk yang anak saya terima dulu, saya betul-betul tidak ingin anak saya mengalami hal yang sama."


Begitu tegas Ridwan menyampaikan keluh kesahnya selama ini. Jihan menjadi keringat dingin. Ia benar-benar merasa tersanjung dengan pengakuan tulus Papanya. Melihat wajah Pandu begitu tegang, Jihan ingin mengakui semuanya.


"Pa, Ma, aku dan Pandu gak ada hub...."


"Saya mencintai anak Om. Saya juga pria yang ingin bertanggung jawab atas pilihan saya." Menelan saliva dengan susah payahnya.


Jihan masih tak menyangka Pandu mengatakan hal itu. Apa Pandu tidak takut dengan keputusan yang ia pilih?


"Saya ingin kamu segera membawa keluarga kamu ke rumah saya dan menyampaikan niat serius kamu ke anak saya. Saya tidak butuh harta, martabat atau apa pun itu. Saya hanya butuh keseriusan kamu."


"baik Om. Insyaallah saya menyanggupi. Tapi, sebelumnya saya juga minta izinnya dari Om dan Tante untuk membawa anak Om ke keluarga saya di kampung. Hubungan kita baru dimulai. Saya belum sempat memperkenalkan Jihan ke keluarga saya. Saya juga akan menyertakan Raska dan Alya untuk menjaga kami dari fitnah saat perjalanan ke kampung nanti. Itu pun kalau Om dan Tante mengizinkan."


Ridwan diam-diam menilai sikap Pandu. Ia membenarkan bahwa Pandu benar-benar anak baik, santun dan bijak. Kepala itu mengangguk memberi jawaban. Kelegaan pun datang. Senyuman mama Jihan memberi kesan bahagia dan tenang. Hanya Jihan yang masih menunduk ragu. Sedikit takut dengan arah tujuan kedepannya.


"Sekarang, apa saya boleh membawa Jihan keluar Om, Tante? Kita perlu rundingkan hal ini."


"Silahkan."


Kepala itu menengadah ke atas melihat Pandu yang menunggu Jihan menyambut tangannya. Dengan ragu, Jihan menurut dan mengikuti langkah lebar Pandu.


"Gimana Ndu, Jihan?"


Raska dan Alya bertanya penasaran dengan apa yang terjadi.


"Aku udah hubungi Yogi untuk menjemput kalian berdua. Maaf ya, aku tinggal dulu. Thanks."


Alya dan Raska terlihat sangat menyedihkan di pinggir jalan seperti ini.


"Dasar teman gak ada akhlak. Udah kelar, kita dianggurin."


"Hahaha.... Gak apa-apa Sayang. Sepertinya mereka memang berjodoh deh."


...🍁~🍁...


Jihan dan Pandu masih setia berdiam diri. Apalagi Pandu yang dengan fokusnya menatap arah jalan yang ia tuju. Hingga mobil Pandu pun berhenti di sebuah bangunan apik berkubah emas di pinggir jalan yang mereka lalui. Matahari memang sudah tak terlihat lagi. Seruan adzan berkumandang indah. Jihan menyadari di mana ia dibawa.


"Kita sholat dulu ya!"


Jihan terdiam bingung. Ia sudah lama meninggalkan kewajibannya. Bagaimana ia melakukannya lagi. Ia lupa caranya.


"Hmm.... gue.... lagi.... mens. Iya, menstruasi. Lo tahu kan wanita yang lagi mens gak bisa sholat?"


"Oh, ok. Kalau begitu, kamu tunggu di sini ya! Saya mau sholat dulu."


Lama Jihan memandang bangunan itu. Entah kenapa, sepanjang lantunan ayat-ayat suci itu terdengar, air mata Jihan menetes. Hingga ia tidak menyadari kehadiran Pandu di sampingnya.


"Kamu kenapa?"


"Eh, hmm.... gak, gak kenapa-kenapa kok. I'm fine."


Pandu yang tak mau tahu lebih jauh, lebih memilih melajukan mobilnya.


"Gue gak nyangka lo bakal senekat ini. Padahal, gue benar-benar udah pasrah. Gue udah pasrah dengan jalan pikiran Papa. Gue gak mau lo menyesal nantinya."


"Kamu pernah bilang ke saya, kalau kamu pernah dikecewakan, ditipu, dikhianati, dimanfaatin sama seorang pria yang sangat kamu cintai. Dan itu akan terjadi untuk kedua kalinya kalau kamu benar-benar melanjutkan perjodohan itu. Saya melakukan ini bukan tanpa alasan. Saya akan menyesal kalau membiarkan kamu hancur. Sesama manusia harus saling tolong menolong kan?"


Pandangan mata Pandu memberikan ketenangan dan ketulusan dalam ucapannya.


"Ini memang kebohongan. Tapi, saya berpikir kembali bahwa kebohongan ini bisa menyelamatkan seseorang yang sedang terpuruk. Saya juga sudah meminta petunjuk ke Pencipta kita akan hal ini. Dan.... ini jawaban dari keluh kesah saya. Atas izin Allah, hati saya digerakkan untuk menolong kamu, Jihan."


Jihan mengakui kalau Pandu memang sosok pria berhati lembut dan tulus. Ia benar-benar bersyukur telah dipertemukan dengan Pandu. Akankah pandu sebagai titisan Raska kedua dalam hidupnya? Ia tersenyum karena pemikiran bodohnya. Ia tak berani terlalu berharap.


...🍁~🍁...


Untuk Para Readers yang sudah mampir dan baca karyaku, aku ucapkan terimakasih banyak ya.


Aku mengharapkan dukungan kalian. Supaya aku tambah semangat dalam menulis karya-karya imajinasiku


Vote, Comment dan ikuti terus tulisanku....


Salam hangat dari arnov :)

__ADS_1


...Bersambung..................


__ADS_2