Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Our House


__ADS_3

Kebersamaan kedua besan ini pun berakhir. Ibu Pandu yang sekarang merangkap menjadi mertua Jihan, sudah beberes barang untuk kembali ke kampung halaman. Ada rasa tak puas di hati Jihan. Tapi, Jihan tidak berhasil membujuk ibu Pandu untuk lebih lama lagi tinggal bersamanya.


"Ibuk sama Ranti tinggal di sini aja beberapa bulan lagi! Jihan kan masih belum ajak Ibuk sama Ranti keliling Jakarta."


Sikap manja Jihan menjadi pemandangan indah buat Pandu. Sebab, ia merasa lega kalau Ibunya saat ini sudah benar-benar menerima Jihan sebagai menantu. Bahkan, Ibunya lebih membela Jihan dibandingkan ia.


"Jihan.... Jihan, kamu kayak anak kecil aja. Ibuk Pandu itu ada urusan juga di kampung. Gak bisa terlalu lama ninggalin kampung halaman. Ranti kan juga mesti sekolah. Kamu gimana sih?" Racau mama Jihan.


"Iya, Jihan. Ibuk sama Ranti tidak bisa berlama-lama di sini. Insyaallah kalau ada waktu luang, Ibuk sama Ranti main ke Jakarta lagi. Atau, kalian saja yang sering-sering ke kampung. Biar kita bajak sawah sama-sama atuh."


"Jangan lupa ajak Mama ya!"


Semua tertawa lepas menikmati percakapan mereka.


"Nanti, kalau Ranti libur sekolah, main ke Jakarta ya!"


"Siap atuh Teh. Ranti teh senang banget punya teman curhat sekarang. Sering-sering angkat telepon Ranti ya Teh kalau Ranti telepon."


Jihan memeluk erat tubuh kecil Ranti.


"Iya dong Ranti. Teteh pasti kangen banget."


"Ranti, ayo atuh! Ibuk sudah nunggu di dalam."


Pandu dari arah bagasi mobil memanggil Ranti yang masih betah bermanja dengan Jihan.


"Kakak kamu bawel juga ya. Hihihi...." Jihan menanggapi.


Kepulangan keluarga Pandu menyisakan haru. Pandu yang berdiri di sebelah Jihan terlihat meneteskan air mata. Ia kembali berpisah dengan sang Ibu. Jihan sadar dan menggenggam tangan Pandu sembari tersenyum.


"Lain waktu, kita ke kampung lagi ya!"


Senyum konyol Jihan berhasil mengubah mood Pandu.


Rencananya, besok mereka sudah mulai pindah ke rumah Pandu. Merasakan hidup berdua. Jihan sibuk sedari tadi memilah baju-baju yang ingin ia bawa. Sangat banyak bertebaran di mana-mana. Sudah 3 jam lebih Jihan berpikir mana yang akan ia bawa. Pandu sampai terduduk lemas melihat kamar yang berantakan.


"Jihan, gak perlu semuanya juga dibawa. Yang penting aja. Kalau kurang atau ada yang kelupaan, kita kan bisa balik lagi ke rumah Mama. Atau kita beli lagi. Nanti, kalau kita ada rencana nginap di sini, baju kamu masih ada yang bisa kamu pakai."


Jihan memperhatikan Pandu yang seakan menyudutkannya.


"Kamu itu gak tahu kebutuhan para wanita. Kalau ada hal yang mendesak, kan gak perlu jauh-jauh ke rumah Mama."


"Iya, tapi gak sebanyak itu juga."


Pandu berdiri dan memilih beberapa yang menurutnya sangat penting.


"Ini, ini juga, piyama, beberapa baju kerja, baju santai. Mungkin ini kamu juga perlu. Udah, ini aja ya!"


Pandu menyodorkan beberapa pakaian yang ia pilih. Jihan pasrah dengan wajah sedikit cemberut. Pandu hampir tertawa melihat ekspresi Jihan. Ia pun membisikkan sesuatu ke telinga Jihan.


"Jangan lupa pakaian dalam kamu."


Pandu melewati Jihan begitu saja. Jihan yang menyadari arah pembicaraan Pandu pun, buru-buru merapikan dan memasukkan semua pakaian dalamnya ke dalam koper. Ia merutuki rasa malunya saat ini.


'Bisa-bisanya Pandu melihat pakaian dalam gue. Gue kan malu.'


"Mulai besok, kewajiban dan tanggung jawab kamu sebagai istri sudah harus kamu lakukan Jihan. Kamu bukan lagi Jihan yang bebas dugem dan mampir ke club-club malam. Jaga kehormatan kamu sebagai seorang istri. Dan jaga martabat Pandu. Sekarang, surga kamu berada di suami. Sekali aja kamu berbuat salah ke Pandu, atau tidak menuruti perintah Pandu, dosa besar yang akan kamu dapat."


Makan malam terakhir bersama keluarga Jihan, penuh dengan wejangan-wejangan dari Papa. Jihan hampir bosan menanggapi Papanya yang tak habis-habisnya memojokkan dirinya. Pandu selalu tersenyum dan tertawa kecil jika Jihan sudah merasa malu ditatar habis-habisan oleh orang tuanya.


"Kalau masalah anak, jangan ditunda-tunda ya Pandu, Jihan. Supaya Allah juga tidak ragu memberikan keturunan ke kalian." Timpal Mama.


Pandu dan Jihan membisu. Pasalnya, mereka memutuskan menikah juga bukan karena saling jatuh cinta. Berada di satu ruangan saja mereka masih canggung dan kaku. Bagaimana memikirkan soal anak.


Jihan bersuara mewakili.


"Ma, untuk saat ini kita mau berdua dulu. Pacaran kita kan belum lama. Mau ngerasain dulu yang namanya pacaran setelah halal. Nanti, kalau udah punya anak takutnya gak punya waktu untuk berdua. Iya kan Sayang?"

__ADS_1


Tendangan di kaki Pandu menyentaknya. Senyum paksa Jihan mencoba meminta dukungan dari Pandu perihal anak. Jujur, Pandu benar-benar mengacungi jempol kalau Jihan sudah berbohong. Pandai bermulut manis.


"Hmm.... iya Ma, Pa. Kita masih mau puas-puasin waktu berdua dulu."


Jihan tersenyum lega setelah mendapat dukungan dari Pandu.


...🍁~🍁...


Packingan semua barang-barang yang diperlukan Jihan sudah rapi di bagasi mobil Pandu. Jihan kesal, karena ia tak diizinkan untuk membawa mobil pribadinya. Ini semua atas usulan Pandu. Pandu ingin semua yang dibutuhkan Jihan apa pun itu berasal darinya. Dari situ, Jihan akan belajar bagaimana susahnya hidup dalam kesederhanaan.


"Gue bakal beli mobil baru dari uang gue sendiri kalau lo pikir gue terlalu ketergantungan dengan kekayaan Papa." Cara bicara penuh penekanan.


"Semuanya atas izin aku Jihan! Kenapa cara bicara kamu berubah lagi? Aku gak suka dengarnya."


"Oh, ya? Kalau mau istri itu nurut sama suami, turuti juga dong kemauan istri. Bukannya tanggung jawab suami itu ngebahagiain istri."


Jihan sangat kesal dengan Pandu. Hal itu disadari Papa dan mama Jihan. Jihan segera menyalami Mama dan Papanya. Setelahnya, ia masuk dan membanting kuat pintu mobil Pandu.


"Yang sabar ya nak Pandu. Jihan memang susah untuk dikasih pengertian."


"Tolong manjakan Jihan dengan ilmu agama. Jangan manjakan dia dengan kekayaan. Papa percaya kamu bisa membimbing anak saya Pandu."


Pandu memberikan senyum tulusnya.


"Iya Pa, Ma. Insyaallah Pandu bisa. Pandu sama Jihan pamit dulu ya."


Menyalami mertuanya.


"Assalamualaikum Pa, Ma."


"Waalaikumsalam, hati-hati nyetirnya ya!"


Lambaian tangan sebagai perpisahan terakhir melepas putri semata wayangnya bersama pria halalnya.


...🍁~🍁...


Mobil Pandu berhenti di sebuah rumah berlantai 2. Bangunan sederhana namun unik dipandang. Pandu membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Jihan keluar. Jihan yang masih emosional pun buru-buru keluar tanpa memandang wajah Pandu. Pandu menggelengkan kepalanya melihat sikap Jihan.


Pandu mengangkat koper dan tas sandang Jihan. Ia memergoki Jihan yang terus menerus menggerakkan handle pintu karena pintu masih terkunci.


"Masih terkunci, Jihan. Aku buka dulu ya?"


"Dari tadi kek. Lama banget."


Pintu terbuka, Jihan langsung masuk tanpa mengucap salam.


"Assalamualaikum...." Pandu mewakilkan.


Kamar mereka yang sudah ia ketahui sebelumnya menjadi tujuan Jihan. Berlari cepat di anak tangga mengkhawatirkan Pandu yang melihatnya.


"Jihan, tolong jangan terlalu terburu-buru!"


BAMMM!


Bantingan pintu kamar terdengar. Berulang kali Pandu mengelus dada dan mengucap dalam hati.


Jihan langsung menerjang ranjang melepaskan rasa penat dan kesalnya. Pandu pasrah. Ia membereskan pakaian-pakaian Jihan dan barang-barang bawaan Jihan ke lemari. Kalau api dibalas dengan api, tidak akan ada penyelesaian. Maka dari itu, Pandu diam menunggu mood Jihan mereda. Setelah Jihan sudah bisa diajak bicara, barulah ia bertindak.


Tak terasa, Jihan terbangun dari tidurnya yang ia sendiri tidak tahu kenapa bisa ketiduran seperti ini. Ia terkejut mengetahui ruangan yang berbeda dari miliknya. Dan benar saja, ia lupa bahwa ia sekarang berada di rumah Pandu suaminya.


'Pandu. Mana tuh orang?'


Cepat-cepat Jihan menuruni ranjang dan keluar dari kamar.


Menyusuri seluruh ruangan yang belum biasa ia singgahi. Arsitektur beberapa ruangan sangat menarik dan begitu detail. Warna dinding bernuansa putih dilengkapi dengan perabotan-perabotan unik dari kayu. Dalam 1 ruangan menjadi tujuannya saat ini. Pendengaran dan penciuman tajam Jihan mengetahui seperti ada pergerakan seseorang dari arah ruangan itu.


Ruangan dapur. Tubuh jangkung itu mahir memainkan alat-alat kitchen set. Jihan semakin mendekat.

__ADS_1


"Kamu bisa masak?" Jihan takjub melihat tangan itu mengaduk pasta.


Pandu tersenyum mendengar pertanyaan Jihan.


"Gak masalah kan, kalau kodrat wanita itu bisa pria lakukan? Aku melihat kamu ketiduran. Aku yakin, setelah bangun pasti kamu lapar. Jadi, aku masakin apa yang ada di kulkas."


Pandu mencicipi pasta buatannya. Sudah sesuai, ia menata pasta itu di satu piring untuk mereka berdua.


Tangan Jihan dituntun ke arah meja makan. Segelas jus jeruk juga sudah tersedia di hadapan mereka. Sebelum 1 suapan, Pandu membimbing Jihan untuk melafalkan doa sebelum makan. Jihan yang tidak tahu apa doanya hanya bisa menengadahkan tangannya.


"Aminnn...."


Pandu menyendokkan pasta itu dan mengarahkan ke arah Jihan. Jihan bingung dan kaku. "Bismillah...."


Jihan menerima suapan pertama dari Pandu dengan ragu. Suapan kedua untuk diri Pandu sendiri. Suapan ketiga diterima Jihan kembali. Begitu seterusnya. Hingga Jihan merasa seret dan memutuskan menenggak jus jeruk buatan Pandu. Baru saja gelas itu Jihan taruh di atas meja, Pandu sudah mengambilnya kembali. Dan menenggak juga jus jeruk itu.


Jihan mengamati pergerakan Pandu. Tanpa Pandu sadari, bibir Pandu mendarat di gelas yang tepat berada di bekas bibir Jihan tadi.


Seketika, pikiran Jihan liar memikirkan hal yang tidak-tidak. Membayangkan jika ia berada di posisi gelas itu. Seakan waktu berhenti pada pemikiran Jihan sendiri. Panggilan Pandu menyadarkan khayalan Jihan.


"Jihan...."


"Eh...." Tersentak dan sekejap pipi Jihan memunculkan rona merah seperti tomat.


"Pipi kamu.... kenapa?" Pertanyaan Pandu menambah rasa gugup Jihan.


Tak mau terlalu kentara, Jihan merampas cepat sendok dari Pandu yang sudah menggantung menunggu Jihan menerima suapannya. Suapan-suapan Jihan sangat terburu-buru.


"Jihan, aku juga masih lapar."


Jihan tak mau mendengar saking gugupnya. Hingga pasta itu habis tak bersisa. Jihan bangkit dan mencuci bersih piringnya. Ia ingin cepat-cepat pergi dari hadapan Pandu. Pandu yang masih bingung dengan pergerakan cepat Jihan hanya pasrah dan menenggak habis jus jeruk agar rasa laparnya hilang.


...🍁~🍁...


Sehabis sholat isya, Pandu mengajari Jihan dalam membaca Al-Quran dan bacaan-bacaan sholat yang benar. Begitu seterusnya. Jihan yang benar-benar mau belajar kembali, sangat antusias dan mulai menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya.


"Gak terlalu susah kan? Kuncinya, selalu kamu ulang-ulang aja. Dan kalau bisa, setiap dalam aktivitas kamu, selingi dzikir, hafalin surah-surah dan kalau senggang, baca Al-Quran ini. Insyaallah semuanya lancar. Selalu bawa mukena dan sajadah ya! Sholat jangan sampai tinggal."


Pesan Pandu begitu didengar oleh Jihan. Pandu dan Jihan merapikan perlengkapan sholat dan Al-Quran. Kembali ke posisi ranjang yang sudah tersekat guling di tengah-tengah mereka.


Hal ini yang selalu membuat mereka canggung. Masing-masing selalu terbaring telentang. Diam saling menunggu salah satu tertidur terlebih dahulu. Tapi, selalu Jihan lah yang tertidur lebih dulu. Pandu sengaja menahan kantuknya.


Setelah Jihan tertidur pulas, Pandu akan selalu mengamati wajah pulas istrinya. Membelai wajah itu sambil tersenyum. Pemikirannya selalu memutar ulang moment-moment pertemuan mereka. Pandu tak menyangka, wanita inilah yang mendampinginya. Mungkin, awalnya terkesan terpaksa. Tapi, setelah menjalaninya rasa sayang dan perduli itu mulai tumbuh.


Dalam doanya, Pandu selalu meminta agar rasa ini semakin kuat dan pernikahannya abadi sampai akhir hayat.


Bibir Pandu mengecup lama kening Jihan dan mengucap pesan romantis.


"Mimpi yang indah, Sayang."


...🍁~🍁...








Ini visualisasi rumah Pandu dan Jihan ya.


Sederhana, modern dan kekinian.

__ADS_1


Selamat membaca 🤗📚


...Bersambung...............


__ADS_2