Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Harapan Pandu


__ADS_3

Jihan menunggu lesu kedatangan Pandu yang sudah setengah jam belum juga muncul. Ia takut masakannya akan kembali dingin. Menghentak-hentakkan kakinya mengiringi lagu yang ia putar dari mp3 handphonenya. Sangat membosankan berada di ruangan sepi seperti ini.


CEKLEKKK........


"Assalamualaikum Sayang...."


"Waalaikumsalam. Mas kok lama banget sih?"


"Hahaha.... Maaf Sayang. Mas tadi harus mantau proyek-proyek mas yang sedang berlangsung. Maaf ya...." Mohon Pandu dengan imutnya.


Jihan tertawa lepas menatap wajah sok imut Pandu yang sangat tak cocok untuknya.


"Udah ih! Mas duduk di sini! Pasti makanannya udah dingin."


"Tetap enak kok Sayang."


Membuka dan menata rapi di atas meja. Jihan menyusun lauk pauk dan nasi dalam 1 piring.


"Teman rusuh kamu gak ikutan?"


"Gak!! Buat apa mereka mengganggu mas lagi. Kamu tenang aja Sayang, mereka berdua udah mas larang untuk jangan masuk ke ruangan ini dan jangan mengganggu kita."


"Iihhh.... kok Mas gitu sih?! Aku udah bawa banyak Mas....!! Siapa yang bakal ngebantu habisin semuanya?"


Pandu menggaruk tengkuknya. Baru juga merasakan manisnya perlakuan Jihan, malah dapat amukan.


"Iya.... nanti deh Sayang. Selesaikan dulu makan kita. Setelahnya, aku telepon mereka untuk ke sini. Ok, Sayang?"


"Ok!!"


Jihan telaten menyuapi Pandu. Pandu begitu manja jika diperlakukan manis oleh Jihan. Berulang kali pula tangan jahil Pandu mencubiti gemas pipi, mengusap poni dan menggelitiki Jihan. Jihan pasrah agar makan mereka cepat terselesaikan.


"Alhamdulillah.... enak banget masakan kamu Sayang." Menguatkan eratan pelukannya di pinggang Jihan.


"Alhamdulillah.... Aku jadi semangat masak kalau memang masakanku beneran enak. Gak kalah enak dengan masakan Mas kan?"


"Masakan mas mah lewat ini Sayang."


Pelukan erat Pandu mengendur dan dirinya berganti posisi menjadi telentang di sofa dengan merebahkan kepalanya di pangkuan Jihan.


Menatap lekat wajah Jihan. Jihan yang tengah sibuk membereskan kotak-kotak bekal merasa terganggu.


"Mas.... aku masih beresin ini dulu."


"Nanti aja Sayang! Kan makanannya belum pada habis. Sebentar lagi Raska dan Yogi juga ke sini."


"Biar gak berantakan banget Mas."

__ADS_1


Pandu memiringkan badannya hingga menatap tepat ke perut rata Jihan. Jari telunjuknya ia edarkan ke perut rata Jihan seakan membentuk sebuah lingkaran. Jihan memperlambat pergerakannya.


"kapan ya, perut rata ini bakal terisi?"


Pertanyaan spontan Pandu menghentikan kesibukan Jihan.


Jihan sebenarnya tahu maksud pertanyaan Pandu. Namun, hal sesensitif ini sangat membuat ia kaku dan bingung untuk menjawabnya.


"Pernikahan kita udah tiga bulan lebih loh Sayang. Sampai sekarang pun kita sama-sama belum ada ngebahas hal ini. Mas bukannya gak mau. Tapi mas lihat dari kamunya sendiri seperti belum mau memikirkan. Jadi mas takut untuk memulai. Kamu.... benar masih belum siap ya?"


Jihan tertegun. Sulit untuk ia jawab.


"Kalau mas boleh jujur, mas udah siap banget berkeinginan menjadi seorang ayah. Mengurus anak-anak, bermain, mas pulang kerja langsung disambut sama kamu dan anak-anak kita yang menggemaskan. Dan yang paling mas inginkan, menatap perut ini membesar, menjaga kamu, memenuhi semua apa yang kamu mau saat hamil nanti. Pasti lucu banget."


Jihan tersenyum kaku menelaah semua harapan Pandu. Pandu benar-benar sudah mengungkapkan semua harapannya dalam pernikahannya ini.


"Hmm.... jujur, aku malu banget kalau ngebahas soal anak, Pandu. Karena, aku masih menganggap belum semuanya bisa seterbuka itu. Dalam menjalin hubungan, aku masih butuh waktu yang panjang untuk terbiasa dengan pasangan aku."


"Kamu masih ada rasa takut dalam hubungan kita?" Tebak Pandu.


Jihan cepat menggelengkan kepalanya. Ia menampik tebakan Pandu. Ia sudah yakin dengan hati Pandu.


"Bukan itu Mas. Aku cuma.... masih merasa belum saatnya aja. Aku malu. Aku malu untuk seterbuka itu sama kamu. Kamu kan tahu, kita kenal belum lama. Aku.... masih pengin seperti ini aja dulu. Ntah lah Mas. Aku bingung dengan diri aku sendiri."


Pandu bangkit dan duduk berhadapan langsung ke Jihan. Ia menggenggam kedua tangan Jihan.


"Sayang, aku benar sangat menghargai keresahan kamu. Tapi, mau sampai kapan? Setidaknya, dari kitanya berusaha. Berusaha melawan rasa takut, kepanikan dan pikiran-pikiran aneh yang selalu kita paksa untuk meyakinkan itu padahal belum tentu benar."


"Aku menginginkan rumah ramai. Aku menginginkan keluarga kecil. Aku menginginkan cinta kita kuat saat kehadiran buah hati kita. Kedua orang tua kita juga menanti kabar baik dari kita Sayang."


Jihan menunduk memusatkan pemikirannya yang kalut. Genggaman harap kedua tangan Pandu di tangannya tambah menyulitkan hatinya.


"Hmm.... ya udah, jangan dipikirkan terlalu berat. Aku masih bisa sabar menunggu kesiapan kamu. Maaf ya Sayang!" Menatap mata Jihan dengan senyum lebar Pandu.


Jihan tahu senyum itu tidak sesuai dengan hati Pandu.


...🍁~🍁...


Mia menatap sendu di sebuah Cafe yang selalu ia tandai David sering bersama wanita lain. Ia membuntuti keseharian David. Pikiran kalutnya terus menyia-nyiakan waktu berharganya untuk selalu mengikuti pergerakan pria brengsek yang telah menghancurkan hidupnya.


Nada dering terus berbunyi dari handphonenya. 'Aunty Stella' nama yang tertera di layar itu.


"Hallo Tan...."


"Kamu di mana Mia?"


"Aku lagi di luar Tante. Ada apa Tan...."

__ADS_1


"Ke kantor Tante sekarang juga!"


"Tapi Tan...."


Mia menggeram. Sebenarnya ia belum puas ingin membuntuti ke mana saja David dan apa saja yang ia lakukan. Perintah tegas Tantenya mengharuskan ia beranjak pergi dari penelusurannya.


PLAKKK.... PLAKKK....


"Anak tidak tahu diri!! Anak sialan!! Kamu sangat mempermalukan keluarga, Mia!!!"


BUGHHH....


Dorongan kuat Mia terima dengan pasrah. Madam Stella dengan cepat menahan tubuh Mia yang akan limbung ke belakang. Mia tak menyangka rahasia ini akan terungkap begitu cepat. Beberapa test pack terlempar keras tepat di wajahnya. Gemetar tangannya sangat kentara. Rasa takut yang ia rasa di kala Mama dan Papanya menghujaninya dengan kata-kata kasar dan mengutuk.


Mia merangkak menunduk berusaha meraih kaki Mamanya yang sudah terduduk lemas. Ia bersimpuh memohon ampun dengan semua yang telah terjadi.


"Ma.... Pa.... Mia minta maaf. Mia minta maaf dengan kecerobohan dan kebodohan Mia. Mia minta maaf Ma, Pa. Maafin Mia Ma.... Pa.... Hiks.... hiks...."


"Ini kesalahan yang fatal Mia! Apa yang perlu dimaafkan?! Kamu sudah menjadi aib di keluarga kita Mia. Kamu mencoreng nama keluarga besar kita Mia!! Kamu sudah taruh kotoran di wajah kami Mia!! Mama malu. Mama malu dengan sikap murahan kamu ini!!!"


Papa Mia memijit pelipisnya yang menegang. Tak disangka cairan bening luruh deras menangisi nasib sial yang Mia berikan kepada mereka.


Geram melihat wajah sang anak, Papa menekan kuat bahu Mia dan meminta kejelasan dibalik semua kejadian ini.


"Siapa pria bajingan itu Mia?! Siapa pria yang berani-beraninya menodai kamu?! Siapa Mia!!!"


"Mas!! Jangan terlalu kasar dengan Mia. Kita bisa bicarakan hal ini dengan baik-baik. Kasihan Mia." Tegas Stella yang terus memeluk Mia agar terhindar dari amukan kedua kakaknya.


"Aku menanggung semua ini Stella!! Aku malu. Aku sudah tidak punya harga diri lagi Stella. Dia aib keluarga ini."


Mia tetap bungkam dengan keras Papanya yang memaksa Mia mengungkapkan siapa pria yang telah menghamilinya. Ia takut untuk jujur. Ia tak ingin kemarahan Papanya terlampiaskan ke David. David bisa dalam keadaan tidak baik-baik saja jika hal ini ia ungkap. Bodoh memang. Tapi tak masalah bagi Mia. Ia saja yang menanggung semuanya.


"Aku muak dengan ketololan anak ini! Dengar Mia, mulai detik ini juga kamu bukan anakku lagi!!!"


"Lebih baik aku tak pernah melahirkanmu. Kalau akhirnya kamu bakal melempar kotoran di wajahku Mia!!"


Perkataan terkhir untuk Mia terima. Sesak ia rasakan dalam tangisnya. Mia memukul-mukul perut ratanya.


...🍁~🍁...


Tatapan mata Clarine begitu intens dari bayangan pintu kaca buram ruangannya. Suara gombalan manis Pandu masih bisa ia dengar. Hatinya seakan teremas kuat.


'Sepertinya Pandu benar-benar sangat mencintai istrinya. Gombalan itu begitu manis untuk wanita beruntung yang mendapatkan kamu Pandu. Aku yang menginginkan itu sejak dulu. Kamu mematahkan hatiku. Wanita beruntung mana yang mendapatkan sikap manis itu?'


Layar laptop sudah dipenuhi dengan huruf-huruf acak hasil dari jari-jarinya yang tak sadar ia menekan sembarang tombol keyboard. Rasa cemburunya mengubah konsen dan moodnya hari ini.


"Arrghhhh........"

__ADS_1


...🍁~🍁...


Bersambung...............


__ADS_2