Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Prasangka


__ADS_3

Merasa adanya kecurangan dan ketidak adilan yang dilalui team Jihan, mereka berusaha mencari bukti-bukti yang kuat untuk bisa melaporkan team Mia si wanita ular atas apa yang telah Mia lakukan dengan rancangan curiannya. Ini benar-benar sudah kelewat batas. Dipermalukan di depan semua para customer maupun client yang sudah lama mempercayai dan meyakini kinerja serta desain-desain menarik dari team Jihan. Mia dengan merasa tak bersalahnya menjabat tangan dan menandatangani kontrak yang sudah disepakati. Madam Stella memilih Mia menjadi pengganti Designer terbaik tahun ini. Pastinya, posisi Jihan sudah tidak berarti lagi. Omset mereka juga menurun. 1 image memperburuk semuanya.


Beginilah kejamnya di dunia persaingan. Mungkin, bagi Leader team yang lain menganggap hal ini biasa saja. Tapi tidak untuk Jihan. Sifat ambisiusnya sangat dirusak, direndahkan dan dipermalukan. Maka dari itu, Jihan berusaha mencari bukti di balik semua kejadian ini yang belum diketahui.


Telah mendapatkan perizinan dari pihak keamanan CCTV. Membuka dan melihat ulang semua beberapa rekaman video CCTV pada ruangan kantor team Jihan.


"Dari tadi yang kita tandai tuh si cowok bertopi hitam itu kan? Dia terus yang masuk ke ruangan kita. Gak ada orang lain."


"Itu David." Jawab pasti Jihan. Karena Jihan selalu menandai pria itu membawa sebucket bunga dan postur tubuh yang sama.


Sudah kelima kali urutan video rekaman CCTV tercek. Belum ada mereka temukan pergerakan pria itu atau David melakukan pencurian rancangan Jihan. Di urutan keenam, video rekaman error. Tidak bisa terbuka. Hanya mendapatkan setengah videonya saja. Seperti ada kejanggalan.


"Kok bisa error sih Pak? Gak bisa di setting dulu ya Pak?" Pinta Jihan.


"Gak bisa buk Jihan."


Mereka tetap mencari perilaku mencurigakan sang tersangka. Sampai di rekaman CCTV sebelum hari event pun tetap belum mereka temukan gerak gerik aneh.


"Sepertinya di video rekaman CCTV yang error tadi ada ketersengajaan di hapus deh. Apa Bapak gak merasa ada seseorang masuk ke ruangan ini?" Kecurigaan Lily.


"Kurang tahu Mbak. Soalnya, terkadang saya sering keluar masuk ruangan ini. Tidak menetap. Tapi selalu saya kunci kok Mbak." Pengakuan bapak tua yang bertugas mengamankan CCTV.


"Wahhh.... parah sih. Licik banget nih orang." Geram Eno.


Jihan mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. Di pikirannya hanya David. David si bajingan yang selalu merugikan dirinya.


Prasangka buruknya terhadap David semakin kuat dikarenakan David sempat berhubungan dengan Mia. Kejadian menjijikkan tempo lalu menjadi ingatan Jihan bahwa mereka memang saling dekat dan pastinya tidak ada kata mustahil untuk keduanya sengaja merencakan hal ini.


"Coba ditanyain langsung ke David, mbak Han! Setidaknya, dia orang yang kita curigai saat ini."


Jihan sepemikiran dengan prasangka Lily. Tapi, ia benar-benar malas untuk mencoba kembali bertemu pria brengsek itu. Demi keadilannya, Jihan tetap harus melakukan.


"By the way, si lekong mana sih?"


Lekong yang dimaksud ialah Andrew. Teman-temannya lagi sibuk mencari pelaku, malah Andrew tidak terlihat membantu.

__ADS_1


"Tadi dia izin sama gue ke rumah sakit. Gak tahu deh kenapa. Cuma bilangnya ada urusan."


"Biasanya kan Andrew semangat banget kalau urusan beginian. FBI nya kita tuh. Hihihi...."


Jihan merasa tidak nyambung dengan obrolan seteamnya. Pikirannya terus bercabang. Ia lebih memilih pamit undur diri.


"Hussttt.... Jangan pada bercanda deh! Lihat tuh mbak Jihan lagi pusing."


"Sorry...." Jawab serempak yang lain.


Jihan berhenti berjalan di saat high heels yang ia gunakan terkena lelehan ice cream.


"Upsss.... sorry Jihan. Gue gak tahu kalau ada lo. Habisnya lo gelap banget. Gak bersinar kayak dulu lagi. Hihihi...." Perkataan sarkas untuk mengolok Jihan.


Jihan mencoba melapangkan dadanya. Senyuman hambar coba ia ukir.


"Congratulation Mia. Ternyata, usaha licik lo itu gak sia-sia. Lo gak ada perasaan takut apa pun ya? Lo menang bukan real dari otak lo. Tapi, dari otak gue yang cemerlang. Seharusnya lo berterimakasih ke gue. Karena gue, karena rancangan gue, akhirnya lo bisa juga ngerasain kemenangan. This is first for you and the last for you to play with me." Mengelap high heels yang terkena lelehan ice cream dari ulah Mia.


Berdiri lebih mendekatkan ke arah Mia. Mata tajam Jihan mencoba melemahkan mental Mia.


"Lo maupun David, sama-sama licik dan parasit. Kedua orang yang dulu gue percaya, gue jaga, gue anggap orang terbaik ternyata busuk. Sampai sekarang gue masih bingung dengan perubahan lo, Mia."


"Oh, ya tentu. Buat apa gue capek-capek ngurusin hidup lo yang selalu sering ngurusin hidup gue. Apa yang gue punya, apa yang gue raih selalu ngebuat lo panas kan? Selalu ngebuat lo pengin banget ngancurin hidup gue. Dalam hidup, kalau lo selalu ditutupi dengan rasa iri dan dengki gak akan ada bahagianya."


Wajah Mia memerah dengan tamparan keras oleh kata-kata Jihan.


"Gue bakal nuntasin masalah ini. Lo dan juga David, gue doain semoga kalian hidup dalam ketenangan tanpa harus ganggu hidup gue lagi."


Tangan Jihan ditahan kuat oleh genggaman Mia.


"Lo salah kalau lo benar-benar menganggap David yang ngelakuin ini semua, Jihan. Gak semua teman baik selalu baik. Lo aja yang tolol dan buta akan sekitar lo. Lo gampangan untuk dimanfaatin."


Jihan menghentakkan genggaman Mia di tangannya hingga terlepas. Ia lebih memilih pergi daripada harus terus meladeni mulut sampah Mia.


Hari ini Jihan sangat capek mengurusi masalah pekerjaannya. Ia memilih vakum dari aktivitasnya. Menggila dengan persaingan akan selalu memperburuk kondisi kesehatan. Jihan gampang capek dan stress. Emosional dan sering menangis. Memesan taksi dan pulang. Pesan whatsapp ia kirim ke nomor Pandu.

__ADS_1


Jihan : "Aku udah pulang duluan ya. Nanti jangan jemput aku lagi di kantor. Langsung


pulang aja."


Pesan whatsapp darinya belum terbaca. Ia yakin suaminya sangat sibuk. Berulang kali Jihan mengotak atik handphonenya. Terbesit 1 nomor tanpa nama ingin ia kirimkan sebuah pesan singkat.


Jihan : "Gue butuh penjelasan dari lo brengsek."


Tanpa Jihan tahu, 1 pesan singkat mampu membuat senyum kesenangan pada David. Aktivitas laknatnya ia hentikan.


"Beb.... kenapa? Kok berhenti sih?"


"Ada yang lebih menarik daripada lo."


"Kamu selingkuh dari aku?!"


David tak memperdulikan wanita one night standnya yang sudah beberapa kali ini menemani hari-harinya. David segera menghubungi nomor Jihan. Ia berharap Jihan masih mau kembali ke hubungan mereka yang dulu. Tak perduli dengan kenyataan bahwa Jihan sudah menikah. Menurutnya, sudah sangat biasa di zaman sekarang ini hubungan pernikahan akan hancur dengan adanya perselingkuhan. Manjadi simpanan Jihan tidak terlalu buruk. Asalkan ia bisa kembali hidup mewah. Pemikiran licik terus saja berputar dalam otaknya.


Panggilan dari David pun Jihan respon.


"Beb.... akhirnya kamu luluh juga."


"Gak usah basa basi. Besok temui gue di cafe biasa jam 10!"


Hanya obrolan itu. Jihan tidak ingin mendengarkan semua ocehan mulut buaya David.


Taksi yang membawanya sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Pulang lebih awal dari sebelumnya. Beristirahat dan beraktivitas di rumah akan memberikan rasa nyaman dan tenang.


"Terimakasih Pak. Ambil saja kembaliannya!"


"Alhamdulillah.... Terimakasih kembali Nak."


Senyum bapak itu sangat sejuk di hati Jihan. Ia tersadar, seberapa sulit rintangan hidup yang ia jalani tak sebanding dengan rintangan dan ujian hidup yang sedang bapak ini lewati. Ia berusaha semaksimal mungkin mencari nafkah untuk anak istrinya yang mungkin itu masih belum bisa mencukupi semuanya. Sedangkan Jihan, sedari kecil sudah merasakan kehidupan sang mama dan papa yang sangat-sangat terjamin.


Contoh dekatnya saja Pandu. Suaminya itu juga melalui hal terberat dalam hidup. Merantau dan berjuang mendirikan sebuah Perusahaan sendiri. Mensejahterakan keluarganya dan selalu membantu orang-orang di sekitarnya. Semua hinaan, cemoohan dan makian sudah ia jalani dengan penuh kesabaran. Jihan harus banyak belajar dan lebih bersyukur dengan apa yang sudah ia punya.

__ADS_1


...🍁~🍁...


Bersambung..............


__ADS_2