
Suasana pagi yang sejuk di kampung Indah Cihurip. Siapa pun pasti betah berlama-lama di sini. Pemandangan yang masih asri. Sepagi ini, penduduk kampung sudah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Riuh alat memasak, langkah kaki, sapaan terdengar selalu. Para warga tak sungkan melempar senyuman. Berbeda jauh dengan kehidupan di kota.
"Jihan, sayurnya teh sudah di cuci bersih?" Panggilan Bibik menyadarkan Jihan.
"Iya Bik sebentar lagi." Gerakan cepat Jihan meniriskan air pada wadah sayuran segar.
"Ini Bik."
"Bawa ke sini Jihan!"
Langkah lebar Jihan ke arah ibu Pandu. Jihan terpaku dengan gerakan lihai ibu Pandu mengaduk masakan.
"Pasti rasanya enak banget." Jihan mencoba mengawali obrolan.
"Kalau masaknya pakai hati, insyaallah enak. Kamu bisa masak?"
Jihan malu ingin menjawab. Ia mengakui kelemahannya dalam memasak.
"Perempuan itu wajib bisa masak. Kalau gak bisa, mau dikasih makan apa anak Ibuk? Batu? Rumput? Kurus kering atuh anak Ibuk nantinya. Kamu pun harus biasakan bangun pagi. Kudu sholat subuh, beberes, cepat mandi, masak masakan yang enak. Supaya suami teh betah."
Jihan tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa mendengar semua wejangan-wejangan dari ibu Pandu.
"Kamu ketemu dengan Pandu di mana? Udah lama kenal dengan pandu?"
Pertanyaan ibu Pandu membingungkan Jihan harus menjawab apa. Masa iya sih, ia harus menjelaskan awal pertemuannya di sebuah Bar. Bisa-bisa aib buruknya terbongkar. Keluarga ini terlalu sempurna untuk menerima aib buruk Jihan.
"Di pernikahan Raska, Buk. Dari situ awal kenal kita. Kebetulan, Jihan sepupunya Alya. Jadi, kita saling memperkenalkan diri, akrab dan.... insyaallah selamanya bersama."
Desiran hangat di hati Jihan. Mata Jihan memandang wajah sejuk Pandu. Dan senyum manis Pandu ke arah Jihan mampu membuatnya melayang.
"Terlalu singkat pendekatan kalian. Dan terlalu cepat dalam memutuskan. Ibuk teh tidak mau kalian menyesal di akhir."
Lagi dan lagi Jihan membisu dan menunduk. Pandu tahu, saat ini Ibunya selalu menyudutkan Jihan. Maka dari itu, ia bergabung dan membantu Jihan agar merasa nyaman.
"pandu kan pernah bilang ke Ibuk, jodoh itu bukan mau cepatnya tapi tepat. Sebelumnya, kita juga tidak perduli satu sama lain. Hanya sekadar berteman. Tapi, lama kelamaan rasa tulus itu tumbuh. Mungkin, memang seperti itu Allah mempertemukan jodoh untuk Pandu. Melalui wanita ini."
Arah pandangan Pandu tepat di kedua bola mata Jihan. Lagi dan lagi Pandu mengulas senyumannya. Jihan seakan berhenti bernapas.
Sadarkah Pandu, bahwa ia berhasil membuat Jihan Fall in Love.
"Dasar teh anak muda. Kalau sudah jatuh cinta omongannya teh penuh gombalan. Cepat atuh kita angkut ini makanan ke ruang depan. Kita santap bareng-bareng."
"Hahaha.... Ibuk kan dulu sama Abah juga pernah muda atuh Buk."
Jihan juga ikut tertawa dengan olokan jahil Pandu.
Sarapan pagi mereka begitu sederhana. Kumpul bareng-bareng dan lesehan. Setiap makan selalu diselingi obrolan receh dan tertawaan. Kenapa Jihan harus dilahirkan di kota, kalau tahu suasana dan tradisi warga kampung yang begitu menyenangkan.
"Kita semua teh sudah berunding. Sebelum kalian menikah, Ibuk kamu ingin menggelar pengajian dulu Pandu. Minta doa restu ke warga kampung."
"Iya, Pandu. Agar semua warga tahu. Dan tidak menimbulkan fitnah. Ibuk cukup lama menahan omongan-omongan orang yang tidak-tidak tentang kamu di kota. Ibuk teh ingin kehidupan rumah tangga kalian Sakinah Mawaddah Warohmah."
Usulan ibu Pandu disetujui oleh Pandu dan Jihan. Karena ia lahir di kampung ini, maka warga kampung berhak tahu kabar gembira ini.
Rencananya Pandu akan membawa Jihan berkeliling kampung. Memperlihatkan, memperkenalkan tanah kelahirannya. Sekalian ingin mengundang para warga di pengajian besok. Tak ketinggalan juga Raska, Alya dan Mamang menemani.
"Dulu kampung ini belum terlalu indah seperti ini. Masih sangat susah untuk dilewati."
"Alhamdulillah.... Semua berkat kamu Pandu. Kampung kita mulai sejahtera."
"Hahaha.... henteu oge' atuh Mang. Semua ada campur tangan warga juga."
"Alah.... Ndu, Ndu. Lo itu selalu merendah kalau dipuji. Pandu ini memang orang baik Mang. Kalau tidak ada Pandu, tidak mungkin saya bisa makan."
"Berlebihan kamu Raska."
Gelak tawa mereka selalu nyaring.
"Aa' Pandu!!" Suara lembut wanita menghentikan langkah mereka.
Pandu menyadari itu Sulis. Suara yang sangat ia kenal dan rindukan. Alya, Raska dan Jihan bingung.
"Aa' teh apa kabar?"
"Alhamdulillah baik. Sulis gimana kabarnya?"
"Baik atuh A'. Itu teh.... siapa?"
__ADS_1
Jihan sadar maksud pertanyaan wanita di depannya. Pandu menatap sekilas ke arah Jihan. Ia paham arah pandang Sulis.
"Namanya Jihan. Calon.... Aa'."
"Jadi, kabar itu teh benar? Kalau Aa' akan segera menikah?"
"Iya. Aa'.... secepatnya akan menikah. Aa' dengar.... kamu juga kan?"
Pandu kembali bertanya. Dalam pikiran Jihan, bahwa wanita ini lah yang dibicarakan ibu Pandu tempo hari. Ia masih mengingat nama yang dilontarkan oleh ibu Pandu.
Pantas saja ibu Pandu memujanya. Wanita soleha berhijab penuh dengan lemah lembutnya. Jihan merasakan ada rasa tak rela di mata Pandu. Apa ia terlalu mencintai wanita ini?
"Sulis masih tidak percaya dengan akhir ini A'. Akhir kita yang sama-sama harus meninggalkan dan melupakan."
"Memang harus seperti itu Sulis."
"Waahhh.... Pandu!! Ini benar kamu Pandu?"
Pak Broto. Juragan teh. Tokoh warga kampung yang sangat cukup berkuasa di kampung Indah Cihurip ini. Lagak sombongnya tak pernah hilang.
"Sudah berjaya kamu sekarang Pandu. Apa yang kamu lakukan di kota urang? Jadi budak teh? Hahaha...."
Pak Broto dan kedua anak buahnya dari dulu hingga sekarang tetap saja memandang rendah Pandu. Sulis malu dibuatnya.
"Abah.... Jangan seperti itu atuh!"
Pandu tersenyum lembut. Sangat sabar.
"Pak Broto, alhamdulillah saya kerja halal di kota urang. Insyaallah apa yang selalu saya lakukan berkah. Hmm.... kebetulan ada Sulis dan pak Broto di sini. Saya teh ada buat pengajian besok di rumah. Kalau bersedia, Sulis dan pak Broto datang atuh ke rumah. Mohon doa restu atas niatan saya menikahi wanita pilihan saya Pak." Sembari memandang teduh ke arah Jihan di sampingnya.
Pak Broto melirik intens sosok Jihan. Tetap saja mata itu melirik dengan angkuhnya.
"Akhirnya ada juga yang mau menerima kamu Pandu. Memang ya, jodoh itu cerminan diri. Perempuan kotor mana yang kamu goda?"
Jihan terkejut dengan omongan bapak-bapak bangkotan tidak tahu diri itu. Jiwa brutalnya kembali keluar.
"HEH....! maksud lo apa?! Lo ngatain gue perempuan kotor?! Lo gak nyadar mulut lo itu lebih kotor dari gue!!!"
Semua kewalahan menahan emosi Jihan.
"Jihan udah, istighfar!" Pandu mencoba menenangkan Jihan.
"Jihan udah, istighfar!! Kita pergi aja dari sini."
Pertikaian itu disaksikan beberapa buruh tani pak Broto. Sulis sangat malu melihat Abahnya yang lagi-lagi mencari masalah. Belum sadarkah Abahnya, bahwa selama ini ia terus saja dikucilkan karena ulah Abahnya terhadap orang-orang. Dari jauh, Sulis tak melepas pandangan dari tangan Pandu yang terus menggenggam erat tangan wanita di sebelahnya. Dulu, ia yang ada di posisi wanita itu.
Sepanjang jalan Jihan terus saja ngedumel. Sampai-sampai Mamang dibuat heran dengan kelakuan Jihan yang sebenarnya. Beliau mengira, Jihan adalah sosok wanita yang anggun.
"Jangan terlalu diambil pusing atuh, Jihan. Juragan Broto memang seperti itu. Dari dulu mah tidak pernah berubah. Apalagi, sama keluarga kita. Ada-ada saja kelakuannya."
"Gue tuh kesal. Udah tua banyak tingkah. Gue kasian banget dengan anaknya. Gak nyangka banget gue, anak sama bapak beda jauh."
Pandu hanya bisa selalu tersenyum kegelian mendengar ocehan-ocehan Jihan. Hingga tibalah mereka di sebuah gudang penyimpanan beras-beras yang sudah siap untuk diangkut ke berbagai kota. Kedatangan mereka langsung disambut girang para petani yang membingungkan Jihan dan Alya. Hanya Raska dan Mamang melihat itu biasa.
"Kalau kalian berdua pada bingung, gue kasih tahu. Pandu itu juragan beras di kampung ini. Bahkan bukan cuma itu aja. Pandu juga memiliki tambak ikan yang dia serahkan tanggung jawab itu ke Mamang."
Mereka berdua pun tercengang mendengar penuturan Raska. Jihan tak menyangka Pandu begitu sukses.
"Pandu itu teh berjiwa baik dan dermawan. Walaupun sudah berjaya, Pandu teh tidak pernah lupa dengan warga-warga di sini. Dia selalu memberi keberkahan dan mendanai hal-hal yang dibutuhkan di kampung ini. Salah satunya teh sekolah-sekolah, masjid, jalan-jalan yang rusak, rumah-rumah warga yang reok dan lainnya. Alhamdulillah Pandu sudah bisa membuktikan kepada warga kalau hinaan dan cacian yang ia terima dulu dapat memotivasi dirinya untuk menjadi sukses seperti sekarang."
Jihan benar-benar sudah bisa mulai mengagumi sosok Pandu. Dengan tampilan sederhananya tersimpan sejuta cerita-cerita indah yang akan membuat takjub siapa pun. Lamunan itu berakhir ketika Pandu menggenggam tangannya dan menarik dirinya lebih dekat ke hadapan para buruh.
"Saya minta doa restunya ke Bapak-bapak, Ibuk-ibuk, mamang Ujang, teh Ellis dan lainnya atas niatan saya menikahi bidadari surga di samping saya ini."
"Eleh, eleh.... si kasep dan geulis ini mah. Insyaallah.... doa-doa kita yang terbaik untuk nak Pandu dan si neng geulis."
"Amin.... Jangan lupa datang atuh Kang, Mang, Bik, Teh, Ibuk-ibuk, Bapak-bapak ke pengajian besok nyak."
"Siap itu mah, Pandu!!" Sorakan semuanya.
"Hatur nuhun pisan atuh. Kalau begitu, saya mau pamit ajak mereka keliling-keliling kampung dulu."
"Iya Pandu. Yang happy nyak."
Pemandangan yang begitu asri memanjakan jiwa Jihan. Ia menghirup udara segar. Duduk manis di bebatuan Sungai sambil melihat keasikan Alya, Raska dan Mamang yang sedang bermain air. Kaki mulusnya ia kepak-kepakkan di aliran air Sungai yang jernih. Pandu merasa senang jika Jihan tersenyum. Itu artinya, Jihan tak lagi merasa tertekan dan canggung.
Langkah pelan Pandu berhenti dan mengambil posisi duduk di sebelah kanan Jihan.
__ADS_1
"Ini belum semuanya saya tunjukin ke kamu. Masih banyak tempat-tempat indah yang akan membuat kamu takjub."
Jihan memandang ke arah Pandu. Ia sama sekali tak tahu kalau Pandu sudah ada di sampingnya.
"Oh, ya? Kalau gitu, lo harus sering-sering ajak gue pulang ke kampung lo. Gue senang di sini. Nyaman."
"Hahaha.... siap atuh Neng!"
Gelak tawa mereka riuh terdengar.
Jihan teringat sesuatu hal.
"Pandu."
"Iya?"
"Hubungan lo sama perempuan berhijab tadi itu apaan sih?"
"Sulis?"
"Iya."
"Ooo.... itu.... masa lalu saya. Kenapa?"
"Hmm.... gak ada sih. Pengin tahu aja. Soalnya, dia kayak gak rela banget kita bakal menikah."
Pandu ingin sekali menceritakan siapa Sulis. Tapi, ia sama sekali tidak ingin mengingat masa lalu lagi. Lagipula, ia ingin menghargai Jihan saat ini.
"Ibuk kelihatannya gak suka deh sama gue. Terlalu jutek. Hihihi...."
"Itu mah biasa Jihan. Seorang Ibu akan selalu over protektif terhadap anaknya. Ibuk kan baru saja mengenal kamu. Masih proses beradaptasi dengan calon mantu."
Jihan merasa tergelitik dengan julukan barunya. 'Calon mantu.'
"Lo baik banget. Lo berhak dapat perempuan yang baik juga. Gue gak bakal ngebatasin lo kok Kalau sekiranya lo mau dekat dengan perempuan lain. Dan kalau lo udah mau selesain skenario kita, lo boleh gugat cerai gue. Selanjutnya, gue yang cari alasan supaya Papa sama Mama mau mengerti."
Jihan berdiri cepat dan ikut andil kehebohan mereka bermain air. Pandu tidak terlalu memahami maksud pembicaraan pelan Jihan. Keseruan mereka berakhir sebelum waktu Asar.
...🍁~🍁...
Waktu mereka berada di kampung kelahiran Pandu sudah usai. Acara pengajian semalam juga sudah berjalan dengan khidmat. Kini, mereka berdua telah dikenal sebagai calon pengantin. Sudah cukup memperkenalkan kepada warga kampung bahwa Jihan yang akan mendampinginya kelak.
Kepergian Pandu, Jihan, Raska, Alya, ibuk Pandu, Ranti, Mamang, Bibik dan Uwak diantar para warga hingga mobil mereka hilang dari pandangan. Kesan termanis yang Jihan dapatkan di kampung ini akan selalu ia ingat.
4 jam lamanya perjalanan. Pandu membawa keluarganya dulu ke rumahnya. Baru akhirnya mengantarkan Jihan pulang. Sedangkan Raska dan Alya diantar supir Jihan.
"Assalamualaikum...."
"Waalaikumsalam.... Wahhh.... udah sampai aja kalian. Keluarga kamu mana Pandu?"
Papa Jihan sangat antusias menyambut kedatangan mereka.
"Diajak masuk dulu dong Pa! Pasti capek banget ya?"
Jihan yang sudah mulai mengantuk berjalan lunglai dan memeluk Mamanya.
"Pandu langsung pulang saja Om, Tante. Udah malam."
"Ooo.... ok gak apa-apa. Om tunggu kedatangan kamu dan keluarga kamu. Hehehe...."
"Baik Om, insyaallah."
Jihan hanya bisa melambaikan tangan. Rasa lelah dan ngantuknya tak bisa diajak kompromi.
...🍁~🍁...
Baper gak sih? Kok aku juga mengagumi sosok Pandu ya?
Menurut kalian bagaimana?
Suka dengan karakter cowoknya kan?
Beri saran ya, apa yang kurang dan salah dalam tulisanku.
Lebih kencangin lagi vote dan comment kalian ya....
Thank You :)
__ADS_1
...Bersambung...................