Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Calonku


__ADS_3

Pandu dan Jihan telah disibukkan mengurus urusan pernikahan. Surat-surat, pelaminan, gaun, kartu undangan, souvenir berputar di otak lelah mereka. Perdebatan tak pernah terelakkan. Gelak tawa dan lelucon mereka selingi. Begitulah keseharian mereka saat ini.


Minggu ke 3, Pandu, Jihan, Raska dan Alya sudah siap membawa beberapa perlengkapan yang diperlukan saat berkunjung ke kampung halaman Pandu nanti.


"Apa benar gak apa-apa, Om dan Tante tidak ikut? Saya juga ingin tahu kampung halaman kamu Pandu."


Pandu mengulas senyum. Papa Jihan sungguh sangat baik dan mulai lebih akrab ke Pandu.


"Gak apa-apa Om. Waktunya belum tepat. Persiapan harus lebih dipercepat. Insyaallah kalau ada waktu, Pandu akan bawa Om dan Tante ke kampung."


"Janji ya! Tante bosen di kota terus."


Pengakuan mama Jihan memancing tawa lepas mereka.


Kampung Indah Cihurip tepat terletak di Garut Selatan, Jawa Barat. Butuh waktu 3 jam lebih untuk sampai ke sana. Pandu dan Raska dalam 1 mobil lebih dulu di depan sebagai pengarah jalan. Sedangkan Jihan dan Alya berada di belakang dengan mobil yang berbeda. Pandu meminta supir Jihan untuk yang mengendarai. Karena ia takut para wanita cepat kelelahan dan sulit melewati jalanan yang rusak.


Jihan dan Alya begitu menikmati perjalanan. Udara segar selalu mereka hirup. Beda jauh dengan udara sesak kota Jakarta.


Dan benar saja, mobil Jihan dan Pandu tidak bisa masuk terlalu jauh ke dalam. Alhasil, mobil dititipkan di sebuah Balai Desa. Pandu tak ambil pusing, karena ini kampung dan desanya. Ia sangat terbiasa dengan hal ini. Jihan dan Alya lah yang kesal dan menyesal berpenampilan glamour. Dengan tergopoh-gopoh Jihan menyeret kopernya.


"Kalau gue tahu kejadiannya bakal begini, gak mau banget gue bawa apa pun."


Gerutuan Jihan sangat menggelitik di telinga Pandu.


"Biar saya aja yang bawa koper kamu. Sini!"


"Hihihi.... Dengan senang hati. Thanks ya."


"Uuuwww.... So sweet banget sih...." Alya selalu gemas dengan tingkah Pandu dan Jihan. Alya melihat Jihan lebih kalem dari biasanya. Pandu memberikan aura positive di kehidupan Jihan.


Belum seberapa sampai di rumah orang tua Pandu, sambutan para warga kampung sangat menakjubkan Raska, Alya dan Jihan.


"Cah bageur teh sudah sampai...."


"Nak Pandu...."


"Ya Allah gusti.... Pandu...."


Suara-suara itu yang mereka dengar. Anak-anak kecil pun banyak yang menyalami Pandu. Dan Pandu pun terlihat begitu dekat dan ramah dengan anak-anak itu. Di hati kecil Jihan menghangat melihat moment ini. Hingga sepanjang jalan pun mereka dituntun oleh beberapa warga.


"Ini teh orang kota nyak?"


"Hahaha.... betul atuh Pak. Teman-teman Pandu."


"Ooo.... geulis-geulis pisan euy."


"Barusan Ibuk itu ngomong apa sih Pandu?" Alya mewakili Raska dan Jihan yang tidak mengerti bahasa mereka.


"Mereka bilang, kamu dan Jihan cantik."


Wajah Alya memerah saking senangnya.


Jalan berbatuan dan pematang sawah mereka lewati. Dan kini telah sampai di halaman luas rumah yang dimasuki Pandu. Kedatangan Pandu benar-benar ditunggu oleh keluarganya.


"Aa' Pandu....!" Teriakan rindu Ranti.


"Pandu, ya Allah.... akhirnya kamu pulang juga. Kumaha damang atuh?"

__ADS_1


"Alhamdulillah damang, Mang."


Pandu menyalami semua keluarganya dengan penuh haru. Ranti mengambil bagian memeluk lama kakaknya. Dalam pelukan itu, Ranti membisikkan sesuatu.


"Yang mana satu atuh A' calon teteh Ranti?"


Pandu tersenyum dengan pertanyaan Ranti. Ia pun lupa memperkenalkan teman-temannya.


"Hmm.... Mang, Uwak, Bibik, Pandu gak sendirian. Pandu ke sini bersama teman-teman Pandu. Sini atuh kalian!"


Mereka sadar bahwa Pandu menginstruksi untuk bergabung.


"Ini teh Raska, teman seperjuangan Pandu di Jakarta. Dan ini Alya, istri Raska.


Raska dan Alya memberi salam hormat di depan keluarga Pandu.


"Ooo.... terus yang satunya lagi teh saha?" Mamang kembali bertanya.


Pandu ragu harus mengatakan kalau Jihan ialah calon masa depannya. Karena semua ini hanya tertulis dalam skenario mereka.


"Namina teh Jihan. Calon.... istri Pandu."


Uwak, Bibik, Mamang dan beberapa warga kampung yang melihat dibuat syok. Dan adapula bisikan-bisikan pujian takjub melihat betapa cantiknya Jihan. Jihan jadi merasa malu. Berikutnya, Pandu menggenggam lembut tangan Jihan agar lebih mendekat ke hadapan keluarga Pandu. Dengan canggung Jihan memperkenalkan diri dan menyalami keluarga Pandu.


"Masyaallah.... geulis pisan...." Bibik sangat mengagumi kecantikan Jihan.


"Wahhh.... Ranti senang banget punya calon kakak ipar cantiknya kayak bidadari."


Jihan terkejut saat Ranti memeluknya secara tiba-tiba. Senyum manis Jihan terukir.


Suara serak yang sangat familiar di telinga Pandu terdengar. Sontak Pandu dan lainnya memutar arah ke belakang. Dan benar itu ibunya Pandu. Sigapnya Pandu menghampiri Ibunya, menyalami dan memeluk lama penuh haru sang Ibu.


"Ibuk.... Pandu kangen sama Ibuk."


"Ibuk mah yang lebih kangen sama kamu."


Naluri Jihan memaksa kakinya maju ke arah Pandu dan Ibunya. Menyalami tangan keriput itu. Ibu Pandu tak mengetahui siapa perempuan ini. Mulai memberi kode ke Pandu untuk menjelaskan.


"Ini Jihan Buk. Pandu ingin memperkenalkan Jihan ke Ibuk sebagai calon Pandu. Kita ingin minta doa restu sama Ibuk dan juga keluarga."


"Restu?!"


"Iya Buk, kita akan menikah." Lanjut Pandu.


Ibu Pandu terkejut mendengar penuturan anaknya. Pasalnya, Pandu tidak pernah menceritakan apa pun tentang wanitanya dan keinginannya. Dan bukannya beberapa waktu lalu Pandu selalu berkilah jika Ibunya membicarakan masalah hatinya.


Ibu Pandu melihat wanita yang dimaksud Pandu. Wanita yang berpenampilan sangat glamour. Melihat bagian bahu dan lutut yang tak tertutupi sehelai benang. Sangat berbeda jauh dengan adab berpakaian di kampung beliau. Jihan yang ditatap intens, langsung merasa gugup. Ia merasa ada yang salahkah dengan dirinya.


"Ibuk mau bicara sama kamu Pandu!"


Pandu memerintahkan Ranti untuk menjamu teman-temannya termasuk Jihan.


...๐Ÿ~๐Ÿ...


Sepasang kaki bergerak cepat melewati bebatuan dan beberapa parit-parit kecil. Ia terlihat tak sabar menyampaikan pesan ke seseorang yang ia tuju. Di sebuah pondok di pinggir kali, suara ramai anak-anak melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran.


"Assalamualaikum Teh...."

__ADS_1


"Waalaikumsalam.... Ada apa Nilam? Sebentar ya anak-anak!"


"Iya Buk...."


Nilam dengan semangatnya menceritakan kalau Pandu sudah kembali. Sulis yang mendengar itu pun merasa senang. Dia rindu. Rindu melihat belahan jiwanya.


"Tapi.... Nilam teh dengar kalau A' Pandu bawa perempuan kota ke sini. Katanya teh itu calonnya. Bener nyak?"


Bagai diterpa badai. Hati yang semula berbunga kini kering. Sudut mata itu seakan tak tahan mengeluarkan cairannya. Sepulang dari mengajar anak-anak mengaji, Sulis mengurung diri. Sepertinya pesan yang disampaikan Nilam benar. Semua warga kampung yang melihatnya selalu menyapa dan menyampaikan pesan buruk itu. Hati Sulis benar-benar sakit. Pandu telah meninggalkan dan melupakannya.


...๐Ÿ~๐Ÿ...


"Teh Jihan, ini kamar untuk Teteh istirahat. Anggap ini rumah Teteh juga. Kan sebentar lagi Teteh jadi Tetehnya Ranti. Hihihi.... Sok atuh Teh, yang betah ya!"


Jihan senang mengenal Ranti. Gadis kecil yang sangat lembut. Persis seperti Pandu.


"Terimakasih ya."


"Sami-sami Teh. Ranti tinggal dulu ya?"


Senyuman yang sangat manis.


Jihan mengedarkan matanya ke segala arah kamar ini. Kamar kecil namun terasa nyaman. Di dinding kamar ini banyak terpajang foto-foto Ranti dan Pandu. Mulai dari semasa kecil, remaja dan ada foto di mana Pandu menerima beberapa penghargaan yang tak terhitung. Ada tersemat piala, piagam dan tropi lainnya. Senyum di foto itu selalu terukir.


"Ternyata lo itu kakak yang ter sweet banget ya."


Mengusap bingkai foto yang menampilkan moment Pandu mencubit pipi sang adik. Dan di sebelahnya, foto Pandu yang dicium pipi oleh Ranti dan Ibunya.


Flashback On


"Kamu gakย hamilinย anak itu kan Pandu?!"


"Astaghfirullah Ibuk.... Dosa besar dan hina kalau benar Pandu melakukan itu."


Pandu tak menyangka Ibunya akan berpikiran seperti itu.


"Ibuk belum percaya dengan rencana kamu ini. Ibuk juga belum yakin kalau dia tepat buat kamu Pandu."


"Buk, apa yang salah? Jihan anaknya baik. Ibuk hanya butuh pendekatan dulu sama Jihan."


Ibu Pandu memijat pelipisnya menetralkan rasa pusing.


"Lihat saja pakaiannya, Pandu. Aurat di umbar sana sini, dandanannya berlebihan. Sanggup kamu membimbing wanita seperti itu? Jauh berbeda dengan Sulis. Kalau saja orang tua Sulis tidak membenci kita, Ibuk lebih memilih Sulis dibanding wanita kota itu."


Pandu tersentak saat Ibunya menyebut nama Sulis. Wanita yang pernah ia kagumi. Namun, semua sudah tidak ada jalan lagi untuknya memiliki Sulis. Pandu meraih tangan keriput Ibunya.


"Buk, Ibuk tahu kan dalam hal apa pun Pandu selalu berpikir dulu baru bertindak. Apa yang Pandu lakukan dan pilih gak lepas dari doa. Pandu selalu berdoa dalam sholat Pandu. Tekad dan niat Pandu dikuatkan oleh kuasa Allah, Buk. Insyaallah.... Insyaallah Pandu bisa menuntunnya ke Surga."


Tetesan cairan bening terasa di kedua pipi Jihan. Iya. Tak sengaja Jihan mendengar semua percakapan seorang anak ke Ibunya. Cinta pertama seorang anak laki-laki.


Flashback Off


Jihan menelisik dirinya di hadapan cermin. Tingkat kepedean nya yang selama ini ia miliki seakan luruh dan tak ada apa-apanya di keluarga Pandu. Ia merasa tak pantas berada di sini. Apa ia sudah terlalu egois meminta masuk di kehidupan Pandu. Menjerumuskan ke dalam masalahnya sendiri.


...๐Ÿ~๐Ÿ...


...Bersambung..................

__ADS_1


__ADS_2