
Aktivitas Jihan terusik dengan pertanyaan-pertanyaan dan godaan-godaan Alya. Belum lagi ia bingung cara membuat orange juice yang benar. Selama ini, apa yang ia mau selalu dipersiapkan oleh asisten rumah tangga, mama dan Pandu.
Ia merutuki kebodohannya memilih menjauh dari Pandu. Omongan Alya sangat mengusik.
"Lo bahagia kan, Han? Are you happy?! Please, Han.... lo jujur sama gue!"
BRAKKK! Hentakan gelas yang ia pegang menghentikan ocehan Alya.
"Ya, gue happy. Puas lo!!"
"Uuwww.... wellcome back, Jihan.... Gue juga happy ngelihat lo juga happy. Bahkan, gue lebih ikhlas lo bahagia dengan Pandu. Pandu benar-benar udah ngembaliin Jihan yang dulu. Jihan yang bersikap manis, Jihan yang lugu, Jihan yang polos dan Jihan yang pemalu."
Pelukan erat Alya menyulitkan Jihan untuk bernapas. Jihan masih bingung maksud dari perkataan Alya mengenai dirinya.
Melepas paksa pelukan dan mengerutkan dahi seraya meminta penjelasan dari perkataan Alya.
"Lo gak ngerasa perubahan diri lo?"
Gelengan polos Jihan mengundang tawa Alya.
"Jihan.... sekarang lo bukan Jihan yang brutal, liar, tempramen, angkuh. Lo benar-benar Jihan yang dulu gue kenal. Jihan berseragam sekolah yang selalu jalan menunduk. Pandu benar-benar pria yang tepat buat lo. Yang pasti, cinta dia tulus ke lo."
Jihan merasakan hal yang sama apa yang dirasakan Alya mengenai perasaan Pandu. Selama ini, Jihan belum pernah dikecawakan oleh Pandu. Walau awalnya ragu akan perasaan itu. Tapi, Pandu bisa menjamin bahwa perasaannya begitu nyata dan tulus. Terlihat dari perlakuan manis Pandu ke Jihan. Masa lalu Pandu yang mungkin masih ditakutinya akan ia coba yakini bahwa itu hanya akan menjadi masa lalu. Dia memang tak sebaik, tak secantik dan tak sesempurna Sulis. Tapi, ia bisa berusaha menjadi wanita terbaik dan istri terbaik untuk Pandu. Hingga Pandu benar-benar tak ingin melepaskannya.
"Pandu memang baik, sweet sesuai dengan ekspetasi gue. Tapi, siapa yang tahu hatinya. Gue bukan apa-apa. Dia masih simpan kenangan lama. Foto, diary dan mungkin masih banyak lagi yang gue gak tahu. Gue yang cuma tiba-tiba hadir di kehidupannya gak tahu apa bisa membuat Pandu nahan gue atau bahkan ngelepasin gue. Gue bisa apa, Lya? Terkadang gue ngerasa percaya diri dan putus asa. Gue bingung, Al."
Alya berpikir keras jalan keluar yang terbaik untuk kisah cinta sahabatnya.
"Pikiran lo dangkal banget sih. Apa yang mesti ditakutin. Lo istrinya. Dia cuma masa lalu. Gue yakin kok, Pandu bukan pria brengsek. Dia tahu awal pernikahan ini itu salah. Tapi dia juga tahu resikonya kalau sekiranya pernikahan lo dan dia gak terjadi. Dia mikirin solusi yang terbaik buat lo. Dan pastinya dia tahu cara mempertanggung jawabkan itu semua. Lo cukup berperilaku apa adanya layaknya seorang istri. Lo perlakukan Pandu semanis mungkin. Jangan gengsi dan ego Jihan. Itu lebih ngerusak kepercayaan lo."
Senyum jahil Alya kembali terbit di kala ia teringat sesuatu yang menggelikan menurutnya.
"Gue lihat, Pandu terus-terusan goda lo deh. Lo jangan mau kalah. Lo goda balik. Itu yang akan selalu ngebuat Pandu penasaran dan tertantang sama lo. Jangan selalu bersikap malu-malu. Lo butuh Jihan yang sekarang untuk menarik perhatian Pandu. Dan lo butuh Jihan yang dulu di saat Pandu mulai tertarik sama lo. Make it true love, Jihan."
Alya menyikut Jihan yang diam-diam menarik sudut bibirnya sambil mengangguk samar seakan mengiyakan usulan Alya.
"Cieee.... benar-benar true love nih?"
"Alya! Jangan kenceng-kenceng suaranya!"
"Hihihi.... sorry."
Orange juice dan beberapa cemilan sudah mereka bawa dan tersaji sebagai pelengkap obrolan kedua pasangan ini. Jihan dan Alya berubah mood saat mendapatkan sang suami malah asik membahas bisnis.
"Dikasih waktu weekend tetap aja yang dibahas kerjaan. Gak ada hari lain apa?!" Gerutuan Alya mewakilkan keresahan Jihan.
Jihan hanya bisa menghentakkan gelas, teko dan wadah cemilan yang ia bawa. Para suami tersenyum kikuk melihat kekesalan istri masing-masing.
"Jangan marah-marah, Sayang. Nanti cantiknya hilang loh."
Pandu merangkul pinggang Jihan agar duduk di sampingnya.
"Baby.... jangan cemberut dong. Entar, dedek bayinya juga bad mood."
Sontak, orange juice yang nyaris turun ke tenggorokan Jihan pun tersembur keluar disertai ekspresi terkejut menyikapi perkataan Raska.
Mata itu sudah mendelik tajam meminta penjelasan ke Alya. Alya tahu apa yang dipikirkan Jihan.
__ADS_1
"Ok, fine! Gue sama Raska sampai lupa tujuan awal kita datang ke rumah lo berdua."
Merogoh tas kecilnya dan benda pipih panjang itu terpampang nyata di mata Jihan dan Pandu. Jihan yang sudah dipenuhi rasa penasaran pun langsung merebut cepat benda tersebut dari tangan Alya.
2 garis merah yang sangat ia ketahui apa maknanya. Membuat Jihan menatap benda itu tak berkedip.
"Santai aja dong, Han." Raska menegur.
"Demi apa lo hamil, Alya?!"
"Kok reaksi lo aneh gitu. Gue kan punya suami. Gue bukan hamil di luar nikah, Han."
"Alhamdulillah.... selamat ya Ras, Alya. Anak itu karunia terindah. Secepat ini kalian udah diberi kepercayaan sama Allah. Impian semua keluarga kecil. Selamat Ras."
Rangkulan Pandu menciptakan suasana haru.
"Thank you, Ndu. Perjuangan gue dimulai. Semoga lo cepat nyusul."
"Amin...."
Melihat keterdiaman Jihan, Alya memeluk erat seakan berbagi rasa syukur apa yang telah ia dapatkan.
Diamnya Jihan bukan berarti dia menolak kabar bahagia ini. Ia hanya takut akan tidak bisa seleluasa dulu bersama Alya. Alya pasti akan terlalu sibuk mengurusi kehamilannya.
"Lo gak usah ngerasa kehilangan gue. Gue tetap bisa jadi teman curhat dan hang out lo kok. Cuma ya, harus lihat kondisi dulu. Lo seneng kan dengar kabar ini?"
Anggukan dan senyum tulus Jihan sudah bisa menjelaskan bahwa ia ikut bahagia mendengar Alya sudah akan menjadi seorang ibu.
...🍁~🍁...
Tak terasa obrolan mereka yang sangat receh sudah melewatkan waktu begitu panjang. Agar tak kemalaman, Raska dan Alya pamit pulang. Pelukan itu kembali terulang.
Jihan yang mengerti segera memukul pelan kening Alya.
"Gila lo. Lo pikir ajang kompetisi."
"Hihihi.... biar baby gue nanti ada teman mainnya, Han."
"Ekhem! Gimana mau nyusul, kalau lo berdua belum usaha. Kayaknya lo benar butuh ramuan gue kemarin deh, Ndu. Dijamin tokcer."
BUGHHH! Jihan menendang tulang kering Raska karena dirasa sudah risih dengan omongan-omongan kotor Raska.
"Lo berdua otaknya cabul muluk. Pulang deh lo!!"
Mendorong paksa Alya dan Raska keluar. Tawa sejoli itu tak kunjung berhenti.
BAMMM! Pintu tertutup dengan sempurna.
"Sayang.... kasar banget sih. Sama tamu itu gak boleh jutek."
"Aku menyesal punya teman kayak mereka!"
"Hahaha.... kita pulang ya, Ndu, Han! Assalamualaikum....!!"
"Waalaikumsalam....! Sorry ya, istriku suka ngambekan!"
"Pandu....!!"
__ADS_1
Pandu tertawa nyaring sambil berlari kencang mengejar Jihan sebelum ia terkunci di luar kamar.
Melihat wajah ngambekan Jihan sangat menggemaskan. Tangan Pandu melingkar sempurna dari arah belakang Jihan. Dagunya ia sandarkan di bahu Jihan. Ia suka aroma manis tubuh Jihan.
Jihan terdiam merasakan bahagia dirinya atas perlakuan manja Pandu. Seperti inikah aslinya Pandu? Apa ia sering melakukan ini kepada Sulis? Apa ia sebucin ini juga terhadap Sulis?
Benak Jihan terus saja berpikiran yang tidak-tidak tentang Pandu dan Sulis yang dulu. Rasa cemburu ia begitu kuat pada masa lalu Pandu. Jihan membalikkan tubuhnya agar bisa menatap Pandu lebih jelas. Bibir cemberutnya sangat menggemaskan untuk Pandu.
"Kamu sering semanis ini ya sama Sulis?"
Senyumannya Pandu memudar. Ia sedikit heran dengan Jihan yang selalu suka negatif thinking terhadapnya.
"Kok tiba-tiba omongin Sulis?"
"Emang kenapa? Gak boleh? Aku cuma penasaran aja dengan perlakuan kamu ke mantan dan aku itu sama atau beda. Karena aku gak mau disamain dengan mantan kamu. Aku ini istri kamu. Aku gak mau kamu jadiin aku sebagai pelampiasan doang."
Celotehan Jihan tak lepas dari senyuman Pandu yang terus saja tak habis pikir Jihan secemburu itu. Tangannya yang sudah geram segera mencubit kedua pipi Jihan.
"Sayang.... aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu. Walaupun kata cinta dan sayang itu pernah aku ungkapin ke Sulis juga, tapi itu hanya dulu. Rasa itu udah gak ada."
"Kamu bohong! Aku pernah diam-diam dengar omongan kamu. Kalau kamu belum bisa lupain dia."
Pandu menelisik perkataan Jihan. Jihan memutar bola matanya jengah karena ia tahu Pandu tidak akan paham apa yang ia maksud.
"Udah gak usah dipikirin. Kamu gak bakal ingat."
Pandu tersenyum geli. Menangkup pipi sang istri dan memberikan kecupan-kecupan singkatnya. Semburat merah di wajah Jihan muncul memberikan semangat Pandu untuk terus mencium wajah Jihan. Hingga bibir manis Jihan yang menjadi candunya pun ia raup dengan rakusnya.
Jihan ternyata salah mengira Pandu polos dan lugu. Justru, ia kesusahan mengimbangi ciuman Pandu yang menuntut. Entah pikiran dari mana, Pandu tak melepas pagutannya dan lebih membawa Jihan ke arah ranjang. Menyudutkan Jihan hingga ia berhasil menindih tubuh Jihan.
Jihan tak merasakan sikap manis Pandu lagi. Ia merasakan Pandu yang berbeda. Pandu yang haus akan belaian. Jihan grogi dan takut. Apa secepat ini ia harus memberikan dirinya seutuhnya? Apa ia harus mengikuti saran Alya? Ia takut untuk memulainya. Melakukan hal ini bersama Pandu masih terasa asing. Walaupun ia menyadari kewajiban seorang istri ialah melayani suami, tetap ia belum terbiasa.
Cumbuan Pandu pun mulai turun ke cerug leher Jihan. Membuat Jihan tersentak. Dengan dorongan kuat berhasil menyadarkan Pandu yang sudah terbuai. Pandangan mata Pandu meminta penjelasan. Sedangkan Jihan menunduk seakan tak berani menatap kedua bola mata Pandu.
"Be-belum.... sholat isya kan?" Pertanyaan itu menjadi alasan tepat buat Jihan.
PLAKKK! Pandu menepuk kening merutuki dirinya yang telah melupakan kewajibannya.
"Ya Allah.... aku lupa, Sayang."
Berdiri meninggalkan Jihan begitu saja yang masih cengo melihat tingkah sang suami. Semudah itu Pandu bersikap biasa saja setelah apa yang telah ia perbuat terhadap Jihan.
Jihan menyisir rambutnya yang sedikit kusut akibat terjangan Pandu. Mencoba menetralkan gugupnya. Namun, sepersekian detik Pandu berbalik dengan puppy eyesnya.
"Nanti.... kita lanjutin lagi ya!"
Jihan sedikit tersedak dengan perkataan Pandu. Tak bisakah Pandu tidak se to the point itu?
"Ak.... aku lagi dapet. Maaf...." Tersenyum kikuk
"HAH! Kamu.... lagi itu?"
Anggukan polos Jihan merubah mood Pandu.
"Huffftttt.... Gagal deh." Berbalik dan menggaruk tengkuknya.
Jihan benar-benar tidak menyangka Pandu akan semurung itu setelah tahu ia tak bisa mendapatkan haknya. Jihan menjadi merasa bersalah.
__ADS_1
...🍁~🍁...
...Bersambung.................