Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Awal Mula


__ADS_3

Kerusuhan malam itu. Malam indah menurut Yogi yang dimanjakan dengan belaian-belaian wanita bayarannya. Playboy cap kapak. Di saat team work nya bekerja keras, malah dia asik-asikan tak tentu arah. Cukup membuat Pandu, Raska dan lainnya kelimpungan.


"Yogi kemana sih, Ndu? Dari tadi di telepon gak diangkat-angkat."


Dahi semakin kusut. Pandu semakin dibuat pusing saat proyek menumpuk, Yogi pergi entah ke mana.


"Apa sebelumnya Yogi gak ada izin sama kamu?"


"Gak ada lah Ndu. Kalau gue tahu, gak perlu kita repot jauh-jauh ke lokasi. Kacau banget nih kinerja Yogi. Lama lama client pada kabur gara-gara 1 masalah doang."


"Ya udah Ras, nanti kalau udah ketemu sama Yogi kita bicarakan lagi."


Nada dering handphone dari saku Raska menghentikan obrolan. Tertera nama sang kekasih.


"Halo Yang...."


".........."


"Duhhh.... maaf banget Yang, malam ini aku gak bisa nemenin kamu. Kerjaan lagi kacau-kacaunya. Lain kali ya."


".........."


"Iya Sayang, aku janji."


".........."


"Udah dulu ya, muach.... Love you."


"Astaghfirullah, Yogi....!" Mengucap tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Kenapa, Ndu?" Raska pun ikut penasaran.


Pandu menyodorkan handphonenya yang menampilkan feed instagram Yogi Ferdinant bersama kumpulan wanita-wanita penghibur di sebuah tempat terlaknat. Pandu tidak kuat dibuatnya hanya bisa memijat keningnya yang berdenyut.


"Anjrit nih Yogi. Kita yang pusing, dia malah asik-asikan sama kupu-kupu malam. Udah, Ndu, sekarang kita susul Yogi. Gak bisa didiemin nih."


...🍁~🍁...


Jihan dan teamnya tengah sibuk menyiapkan ide-ide cermatnya untuk sebuah event pergelaran busana yang diselenggarakan 3 bulan ke depan. Dengan sikap ambisiusnya, Jihan terlihat sangat detail memberi pengarahan kepada team work nya. Tidak akan pernah mau Jihan berikan posisi terbaiknya ke team lain. Apalagi team Mia yang selalu saja berusaha ingin menjatuhkan mereka.


"Come on guys....! This is our chance. Andrew, besok lo temani gue ke Butik! Masih ada beberapa bahan kain yang belum nemu pas untuk di mix and match. Eno, Chika, please jangan banyak bercandaan di sini. Kita harus saling bekerjasama. Ok, guysss....!!"


"Ok Jihan....!!" Bersorak tegas.


Setelah kepergian Jihan, barulah mereka bisa bernapas lega. Sudah terbayangkan seberapa kerja kerasnya besok mereka untuk mempersiapkan semuanya. Bisa-bisa lembur sampai pagi.


"Iihhh.... bawel banget sih. Capek tahu kerja muluk. Ini itu salah. Dasar Miss Perfect."


"Husshhh.... jaga omongan, Chika! Kalau kedengaran, tamat riwayat lo."


"2 minggu lagi aku ada acara keluarga di kampung. Pasti gak diizinin."


"Yang sabar ya Ly. Bakal berabe kalau Jihan tahu."


"Hahaha.... jangan dilanjut dong. Orangnya udah pergi baru berani pada koar-koar. Ghibah jatuhnya."


Jihan tidak tahu bahwa ia sedang dibicarakan. Kalau dia tahu pun, Jihan akan merasa masa bodoh dengan omongan-omongan orang. Ia memang sosok manusia angkuh dan tempramen. Sangat mudah memancing kebencian orang-orang di sekitarnya. Berjalan pongah tidak memperdulikan sapaan.


Handphone berdering menampilkan nama Alya. Senyum jahilnya terukir.

__ADS_1


Jihan : "Halo, Alya. Ada apa?"


Alya : "Jihan.... lo di mana sih?"


Jihan : "Masih di kantor, Lya. Kenapa sih?"


Alya : "Malam ini lo gak mau nemenin gue?"


Jihan : "I'm sorry Baby.... Gue sibuk banget. Lain kali aja ya Beb...."


Jihan yakin, saat ini Alya merasa sangat kesal. Jihan sudah berencana memberikan surprise di hari ulang tahun Alya. Sengaja berbohong tidak bisa menemaninya.


"Gak lo, gak Raska sama aja. Gak ada perduli sama gue. Jahat banget."


TIT.... Telepon dihentikan sepihak mengundang tawa renyah Jihan.


Menunggu pintu lift terbuka untuknya. Jihan berinisiatif menelepon David kekasihnya. Mungkin akan lebih menarik kalau mereka double date merayakan ulang tahun Alya. Tapi, sama sekali tidak ada jawaban darinya.


Seringaian sinis jengkel. Mia, sekutu paling menyebalkan.


"Jihan Sajidah Salim, Miss Perfect idolanya Madam. Mungkin, jadi seperti lo beruntung banget. Tapi, orang-orang gak tahu aja, betapa bodohnya lo."


"So, masalahnya di gue apa? Lo bukan siapa-siapa gue gak usah sok tahu. Mia, mending lo fokus dulu deh dengan ide-ide dangkal lo itu. Supaya lo gak kebiasaan terus curi ide-ide brilliant orang lain. Kalau lo mau berusaha cari celah kelemahan gue, jangan harap lo bakal jadi 'The Winner of The Year'."


Ungkapan menohok Jihan membungkam mulut sampah Mia. Senyum smirk sebagai salam perpisahan Jihan ke Mia. Kepalan tangan Mia mencoba meredam emosi yang memuncak. Niatnya ingin menggoyahkan mental Jihan, malah ia yang merasa ciut dan kesal.


...🍁~🍁...


BarBar Cafe tempat ternyaman si gadis yang selalu duduk termenung di pojokan jauh dari kerumunan. Kopi yang panas kini sudah terlanjur dingin. Galau yang tak kunjung reda.


"Tega banget sih lo semua lupa ultah gue. Gak Papa, Mama, Raska bahkan sepupu tercinta gue juga lupa ultah gue. Padahal, gue selalu ingat ultah-ultah lo pada."


"Jihan.... lo gak lupa?! Aaa.... so sweet banget...." Membalas pelukan Jihan.


"Happy Birthday My Bestie.... Gak mungkin gue lupa tentang lo. Oh, iya, pinjam tangan kiri lo deh!"


Tangan kiri Alya terlingkar sebuah gelang cantik yang sudah didesain langsung oleh sang sahabat. Jihan memang tidak pernah gagal jika merencanakan sesuatu.


"Sorry ya. Lo pasti udah galau banget. Gue bohong ke lo. Tadinya sih, mau bareng David. Gue telepon berulang kali gak diangkat muluk. Lagi sibuk kali ya? Kalau David ikut, kita berempat pasti seru banget double date."


"Hello.... Jihan, lo gak lihat gue sendirian di pojokan? Gue juga lagi galau banget. Pacar gue sendiri gak nemenin gue atau surprise sin di hari spesial gue. Jahat banget kan? Kalau aja lo juga lupa, 2 bulanan gue cuekin lo."


"Hahaha.... No way, Beb. Gak mungkin lah."


Bercengkerama hanya di sebuah cafe sangat membosankan. Aroma alkohol yang menyengat selalu terbayang-bayang.


"Lya, gue boring banget di sini. Kita Mo Bar yuk!"


"Ngapain Jihan? Males ah. Entar gue dimarahin sama Raska."


"Lya.... kalau lo gak kasih tahu Raska, gak bakal ketahuan. Bentar doang kok. Ok!"


"Kalau Raska sampai tahu, lo yang tanggung jawab ya!" Tuntutnya.


"Ok Baby."


"Jijik gue. Oh, iya, by the way thanks ya kadonya."


Sebagai anak metropolitan, tak ayal akan mengikuti trend trend zaman yang ada. Semakin hari semakin tahun perilaku anak-anak sudah sangat keluar dari norma-norma susila yang dulu sangat dipegang teguh. Pakaian serba mini, pacaran sana sini, hingga terjadilah sebuah pernikahan dini dan berakhir dengan perceraian. Masa depan hancur.

__ADS_1


...🍁~🍁...


"Kamu yakin Yogi ada di sini?" Tanya Pandu yang ragu.


"Iya, Ndu. Gue yakin banget. Nih anak sarangnya memang di sini. Ayok turun!"


Pandu tahu di mana sekarang mereka berada. Sebuah tempat perkumpulan anak-anak beken Jakarta yang ingin melepas kebahagiaannya. Dalam hati ia berdoa meminta ampun kepada sang Pencipta di kala ia benar-benar sudah masuk ke tempat tersebut.


Baru keluar dari mobilnya saja, Pandu sudah ditatap oleh puluhan mata-mata lapar saat melihat ketampanan Pandu yang masih berbalut kemeja kantor.


"Lo lama banget sih Ndu!!" Menarik paksa Pandu sampai ke dalam Mo Bar.


Bau alkohol di mana-mana sudah membuat Pandu pusing.


"Bajingan banget sih Yogi. Lihat tuh, Ndu! Dia malah enak-enakan dikelilingi cewek-cewek bayaran."


"Bicara kamu itu tolong dijaga, Ras!"


Tidak menanggapi omongan Pandu. Penuh emosi tinggi, Raska menghampiri Yogi dan berusaha menarik Yogi keluar. Namun gagal. Raska malah ditarik manja oleh salah satu wanita bayaran Yogi. Belaian demi belaian terpaksa Raska terima. Pandu hanya bisa terbengong sambil mengucap istighfar melihat kondisi naas temannya.


"Ndu, tolongin gue dong!"


"Hahaha.... have fun dulu dong, Ras. Ndu, lo sini dong!"


"Bangsat lo Gi!!!"


PLAKKK!


Sepersekian detik, 1 tamparan mendarat mulus di pipi Raska. Cukup membuat Raska, Yogi dan Pandu terkejut. Pelakunya ialah Alya.


"Sakit sayang! Kamu apa-apaan sih....?!"


"Sakit? Lebih sakit mana, tamparan aku atau pengkhianatan kamu ke aku?!"


"Ini gak sesuai yang kamu lihat Sayang. Aku cuma...."


"HEH!.... sekali buaya tetap aja buaya. Banyak alasan banget. Ngaku aja lo!"


"Eh, gue gak bicara sama lo!" Tunjuk Raska tepat di depan wajah Jihan.


Pandu tidak ingin semuanya semakin keruh. Ia harus meluruskan yang terjadi.


"Hmm.... maaf. Sebenarnya kita itu gak mau ngelakuin yang aneh-aneh. Saya sama Raska cuma mau samperin Yogi. Tapi, Raska langsung ditarik dan dikerumuni mereka-mereka ini."


Berhenti sejenak berharap mereka semua mengerti apa yang ia sampaikan.


"Oh ya....? Oh My God, So cute.... Lo pikir, kita bakal percaya dengan omongan lo itu. Tampang emang cupu, tapi otak lo semua mesum. Bulshittt....!!" Jihan tetap tak percaya apa yang dijelaskan Pandu.


"Sayang, ayo kita bicarakan di luar dengan tenang!"


"Baby.... mau ke mana sih?" Gelayutan manja menahan lengan Raska. Serasa tak mengerti situasi, para wanita bayaran itu mulai aktif menggoda Raska dan Pandu.


"Lya, ikut gue pulang! Gak penting banget lo ngelihatin buaya ngemangsa bangkainya."


Alya merasa sial hari ini. Dengan bercucuran air mata segelas wine ia cipratkan kasar ke wajah Raska.


"Ini kado spesial dari kamu buat aku. Kita PUTUS!!!"


...🍁~🍁...

__ADS_1


...Bersambung..........


__ADS_2