Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Go Home


__ADS_3

"Kapan lagi kalian bakal menginap di sini?" Mama terus merengek tak rela dengan pamit Pandu dan Jihan yang akan kembali pulang.


"Ma.... Jihan dan mas Pandu gak akan mungkin terus di sini." Pusing menangani sikap berlebihan Mamanya.


"Jangan dianggap serius. Mama kamu ini cuma basa-basi saja."


BUGHHH........


Bantal terlempar mengenai wajah Papa. Mama kesal dianggap remeh.


Inilah yang membuat Jihan selalu tak nyaman berlama-lama berada di rumahnya. Papa terus menyulut emosinya. Ia jadi ragu apakah Pandu akan nyaman dengan perdebatan ia dan Papanya.


"Insyaallah Ma.... Pa.... Pandu dan juga Jihan kapan-kapan sempatkan menginap lagi. Tapi, gak mungkin sesering mungkin. Soalnya, terkadang Pandu sulit membawa pekerjaan ke rumah Mama dan Papa kalau semua perlengkapan Pandu tidak lengkap. Atau, lain kali Mama sama Papa juga boleh menginap di rumah kita."


"Iya Pandu. Aman itu. Mama kamu saja yang terlalu berlebihan. Aawww...."


Cubitan kuat di pinggang Papa. Mereka pun terkekeh melihat ringisan sakit di pinggang Papa.


Papa berjalan merapat di belakang Pandu. Berniat untuk membisikkan sesuatu.


"Papa sudah selipkan ramuan kuat untuk kamu Pandu. Langsung diminum dan gaskeun! Supaya benih janin cepat tumbuh di perut Jihan. Jangan kasih ampun anak badung itu. Ok!"


Pandu menggaruk tengkuknya. Ia hanya mengangguk kaku.


Semua tas dan 1 koper sudah berada di bagasi. Tak lupa juga beberapa pot tanaman yang sudah Jihan minta langsung dari Mamanya ia bawa. Pak Rejo membantu menata letak tanaman itu di bagasi mobil Pandu.


"Semoga tumbuh subur ya Non. Kalau masih butuh saran bapak, langsung singgah kemari ya Non."


"Siap pak Rejo. Makasih ya Ma bunganya."


"Iya Sayang." Pelukan dan kecupan di kedua pipi sang anak.


Mereka mencium tangan Mama dan Papa untuk pamit pulang.


"Assalamualaikum Ma.... Pa...."


"Waalaikumsalam...."


...🍁~🍁...


Jihan dan Pandu langsung merapikan pakaian mereka ke ruang pakaian. 1 botol kaca sedang Jihan temukan. Berisi cairan berwarna sedikit kecokelatan. Ia bingung itu apa. Sebab, barang aneh yang tak pernah ia lihat.


"Ini apaan??"


Pandu yang melihat ke arah tangan terangkat Jihan yang mengamati botol kaca baru ngeh apa itu.


Dengan sigap ia mengambil dan menyembunyikan botol kaca itu. Ia yakin, botol ini pemberian Papa mertuanya. Ramuan yang dimaksud Papa pasti botol kaca ini.


Jihan berusaha meraih botol itu saking penasarannya.


"Bukan apa-apa Sayang. Cuma.... hmm.... vitamin. Iya, ini vitamin mas. Hehehe...."


Mata Jihan menyipit tajam mencari keyakinan dari mata gugup Pandu.


"Vitamin?? Sejak kapan Mas rajin minum vitamin?"


"Hmm.... udah ya Sayang. Ini beneran vitamin kok. Tenggorokan mas beberapa hari ini sakit dan kurang enak badan juga." Jawab asalnya.


Jihan menempelkan telapak tangannya di kening Pandu ingin merasakan suhu tubuh Pandu. Tapi sama sekali tak ia temukan hawa panas pada tubuh Pandu.


Pandu menarik tangan Jihan dari keningnya.


"Sayang.... mas cuma sakit sedikit aja. Tidak perlu sekhawatir itu."


Mengusap poni Jihan dan cepat bergerak meninggalkan Jihan yang sebenarnya ia ingin menyimpan jauh ramuan pemberian Papa. Pandu akan merasa malu jika sampai Jihan melihatnya.


Pandu dan Jihan sudah kembali pada aktivitasnya masing-masing. Pandu bersandar tengah serius menyiapkan sketsa bangunan proyek yang akan segera ia presentasikan besok di hadapan clientnya. Sedangkan Jihan tengah asik dengan novel-novel klise terbarunya. Namun, terbesit 1 pikiran yang mengganggu.


"Mas, Robi udah gak jadi sekretaris kamu lagi ya?"


"Iya."


"Sejak kapan?"

__ADS_1


Jihan menunggu jawaban dari Pandu. Pandu yang sulit memfokuskan pertanyaan Jihan tetap terdiam tak menjawab.


"Mas!! Kok gak dijawab sih?!"


Menghentakkan kesal novel yang ia pegang.


Pandu menghela napas panjang dan memindahkan laptopnya sebentar.


"Sayang.... mas mesti selesain kerjaan mas dulu."


"Tinggal dijawab apa susahnya sih!" Kesal tak suka dengan tanggapan Pandu.


Pandu memeluk tubuh Jihan yang membelakanginya. Menenangkan Jihan yang lebih penting saat ini.


"Kenapa kamu jadi semarah ini?"


"Kamu menggantikan posisi Robi dengan sekretaris baru kan? Kenapa gak cerita ke aku?!"


Pandu berpindah posisi menjadi menghadap ke depan wajah tertekuk Jihan.


"Sayang.... Robi itu udah lama resign. Dia balik ke kampung halamannya untuk melanjutkan kehidupan rumah tangganya. Dan.... mas rasa ini bukan hal penting untuk aku ceritakan ke kamu."


"Terus, Mas mau diam aja gitu gak cerita ke aku siapa pengganti sekretaris baru Mas. Wanita cantik, seksi, cerdas dan mandiri. Mas yakin gak akan kegoda?!" Tatapannya menusuk tajam mengintimidasi Pandu.


"Kenapa kamu selalu senegatif ini ke mas kalau soal wanita Sayang? Urusan mas dengan Clarine hanya sebatas profesional kerja."


Jihan berdecih menampik pengakuan Pandu. Ia sangat ragu dengan bagaimana cara pria berkata sebenarnya atau hanya berusaha menipu dalam ketenangannya.


"Hati orang bisa aja berubah. Kemarin Mas bilang cinta ke Jihan dan sekarang bisa aja berpihak ke yang lain."


Jihan memulai lagi. Kalau Jihan sudah dalam mode cemburu buta seperti ini semua akan salah di mata Jihan. Pandu selalu memaksa dirinya untuk sabar menjelaskan selurus-lurusnya.


"Sayang.... hati mas milik kamu. Dalam setiap doa mas selalu tersemat nama kamu. Jihan Sajidah Salim binti Ridwan Salim. Mas melafalkan ijab kabul di hadapan orang tua kamu, orang tua mas, para saksi dan di mata Allah secara yakin membawa kamu dalam kehidupan mas. Mas sangat mendambakan kamu, menyayangi kamu, mencintai kamu. Masa bodoh dengan wanita-wanita di luaran sana yang terlihat lebih cantik, lebih menggoda, lebih pintar, apa pun itu mas gak akan perduli. Kamu.... sudah cukup memenuhi kriteria istri dan wanita idaman mas." Mencubit gemas kedua pipi Jihan menimbulkan ringisan kesakitan dari Jihan.


"Mas....!! Sakit.... lepas ihh....!!"


Pukulan-pukulan kuat di tangan Pandu agar cubitan di pipinya terhenti. Mengelus pipi merahnya.


"Jangan berpikiran yang bukan-bukan Sayang. Tetap kamu pemenangnya."


"Mas cinta kamu selamanya Jihan."


Jihan sudah tertidur pulas dengan posisi Jihan masih memeluk erat Pandu seperti bayi koala.


...🍁~🍁...


Hari ini, Jihan tak berniat singgah ke kantor Pandu. Tapi tetap ia menyiapkan bekal makan siang yang begitu banyak dan ia akan memesan penghantar makanan secara online saja. Pandu tak keberatan. Tubuhnya ingin sekali bermalas-malasan di rumah. Apalagi, saat hari ini adalah hari pertama jadwal menstruasinya datang. Rasa nyeri di perut yang selalu ia rasakan cukup membuat ia sulit untuk bergerak bebas. Bergulung di dalam selimut menahan sakit yang begitu dahsyat.


"Kenapa harus wanita yang selalu merasakan sakit seperti ini. Hiks.... hiks.... hiks.... Mama...."


Nada dering handphonennya mengusik. Dengan sisa energinya ia mengambil handphone di atas nakas.


"Hallo, Alya. Ada apa?" Suara lemah itu mengkhawatirkan Alya.


"Lo kenapa Han? Lo sakit?"


"Ck, lo yang kenapa telepon gue? Malah nanya balik."


"Hehehe.... sorry Han. Rencananya gue mau minta ditemani makan. Gue lagi ngidam pecel lele di seberang komplek gue. Lo bisa gak?"


Jihan terdiam sejenak karena menahan rasa nyeri yang tiba-tiba terasa sangat sakit. Pelipisnya pun terasa juga berdenyut. Ia memang lagi butuh istirahat. Tapi, tak mungkin juga ia tega menolak ajakan ngidam si bumil.


"Hmm.... Ok. Tunggu aja gue! Gue siap-siap dulu."


"Ok, siap my bestie. Hihihi...."


Obrolan telepon mereka pun terhenti. Dengan gerak lambat, Jihan mempersiapkan dirinya berpenampilan santai saja. Dan langsung keluar sambil memesan taksi online.


Sesampainya di rumah Alya, bumil itu langsung menariknya berjalan kaki tanpa memperdulikan kondisi Jihan saat ini.


Jihan yang pasrah berjalan terseog-seog mengikuti langkah cepat dan terburu-burunya Alya. Menyeberangi jalan hingga tepat di depan warung kaki lima yang dimaksud Alya.


Jihan menghentikan paksa jalan masuk mereka. Alya menatap kesal ke arah Jihan yang menunda keinginannya.

__ADS_1


"Jihan! Ayok!!" Paksanya.


"Lo yakin mau makan di sini?!" Tanya herannya.


"Iya Han. Ini yang gue mau. Warung pecel lele yang gue maksud."


Alya mengerti wajah heran dan rasa geli yang Jihan tunjukkan. Sepupunya ini memang tak pernah menjajaki warung-warung emperan dan jajanan-jajanan pinggiran lainnya.


Dulu, Alya pun sama. Hanya saja, setelah Raska masuk dalam kehidupannya semua gaya hidup glamournya berubah perlahan-lahan. Ia merutuki pernah meremehkan, mencemooh makanan yang tak kalah nikmatnya dengan makanan-makanan mewah yang dulu biasa ia nikmati.


Tangan Jihan tetap ditarik paksa oleh Alya. Mendudukinya di salah satu kursi yang kosong. Mata Jihan dan kening sedikit berkerut menatap jijik tempat yang ia singgahi. Mungkin, orang lain menganggap tempat ini biasa saja dan menikmati dengan semangat makanan yang disajikan. Beda dengan Jihan.


Tepukan di pundak Jihan menyentaknya dan mengembalikan pandangannya.


"Biasa aja kali Han tatapannya. Sorry ya, gue ajakin lo ke tempat yang gak layak menurut lo."


"Lo yakin perut lo bakal aman makan di sini? Anak lo gimana?"


Jihan berbisik agar tak di dengar pengunjung lainnya.


"Hihihi.... Han, lo tenang aja. Gue udah sering makan di sini sama Raska. Gue masih hidup kan. Lo harus rasain nikmatnya pecel lele di warung ini. Kapan-kapan gue ajakin lo makan di warteg langganan gue dengan Raska deh."


"No! Gila lo. Itu bukan style kita."


"What ever! Lo bakal nyesel kalau gak nyobain."


Tak berapa lama, 2 piring pecel lele beserta 2 gelas es teh telah disuguhi pelayan warung.


"Silahkan dinikmati mbak Alya. Tumben gak sama suami Mbak."


"Hehehe.... iya Mas. Suami kita lagi pada sibuk kerja. Jadinya, bareng sama teman saya aja."


Tutur ramahnya Alya.


Mereka terlihat sangat akrab. Hal ini membenarkan sekali kalau Alya benar-benar sudah menjadi pelanggan setia pecel lele ini.


"Mbak yang satunya lagi sudah menikah juga?"


"Sudah Mas. Sudah berpawang. Emangnya kenapa Mas?" Alya menyikut lengan si pelayan sedikit menggoda.


Si mas pelayan tersenyum malu-malu.


"Hehehe.... saya kira masih jomblo. Baru aja saya mau minta nomor teman Mbaknya."


Jihan membulatkan tajam matanya menanggapi penuturan si pelayan. Sangat genit di mata Jihan.


Sepeninggal pelayan tersebut, Alya tak habis-habisnya menertawakan raut wajah kesal Jihan. Bibir yang terus mengkerut menambah kesan lucu bagi Alya.


"Udah lah Han, jangan dianggap serius. Lo gak punya selera humor banget."


"Besok gue gak mau lagi nemenin lo makan di sini. Bodo amat lo mau ngidam kek, apa kek."


"Gak asik lo ah! Gitu banget sama calon ponakan lo."


"Ssshhhh.... duhhh...." Ringis kecil Jihan.


Alya yang belum tahu apa yang Jihan rasakan ikut meringis bingung dan terlihat raut khawatir.


"Han.... lo kenapa? Apa yang sakit?"


Jihan melambaikan tangannya memberi isyarat dia baik-baik saja. Tapi tak sesuai dengan raut wajah yang meringis seakan menahan sesuatu.


"Lo sakit perut Han? Bukannya lo belum mulai makan pecel lele yang lo punya."


"Gak Lya. Gue lagi mens." Ucap pelannya agar tak terdengar pengunjung lain.


"Dari dulu gue kasihan banget kalau lo lagi dapet Han. Kelihatan kesiksa banget."


Alya cepat menghabiskan makanannya. Ia tak tega melihat Jihan menahan sakit seperti ini. Makanan milik Jihan pun hanya baru sedikit saja ia cicipi. Selebihnya ia tinggalkan dan lebih memilih menelungkupkan wajahnya di meja sembari mengurut perut sakitnya.


Setelahnya, Alya cepat membayar dan menuntun perlahan jalan lemah Jihan. Jihan sebenarnya merasa tak enak hati. Ia telah merepotkan Alya yang seharusnya lebih membutuhkan pelayanan ekstra.


Dan akhirnya, Alya melarang keras Jihan untuk pulang ke rumah. Alya takut tak ada yang bisa membantu sepupunya ini di saat-saat Jihan masih merasakan sakit di perutnya.

__ADS_1


...🍁~🍁...


Bersambung...............


__ADS_2