Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Penenang


__ADS_3

Tanda pengenal sudah mereka terima dan pakai. Sudah resmi menandatangani kontrak kerja menjadi karyawan maupun karyawati Warriors Group. Tarikan kedua sudut bibir menggoda dari si wanita molek yang sangat lebih menonjol diantara teman-temannya yang lain.


"Ok, ini hari pertama buat kalian. Masing-masing sudah diberikan bagian-bagian Departemen yang akan kalian duduki. Saya juga sudah meminta para senior-senior pilihan yang akan memperkenalkan dan mengajari apa pun kewajiban maupun tanggung jawab kalian berada di perusahaan ini."


Ketujuh para pekerja baru Warriors Group mengamati dan merekam semua arahan-arahan untuk mereka. Warriors Group memang suatu perusahaan yang sangat menjanjikan. Perusahaan kontraktor yang sudah dikenal dan diyakini kinerjanya. Bahkan, kabarnya akan mendirikan suatu cabang ke beberapa kota lainnya. Itu motivasi Pandu saat ini agar benar-benar bisa menjadikan perusahaannya semakin meluas. Pelan-pelan ia merancang dan mendiskusikan hal ini kepada beberapa kolega-koleganya yang terikut mendukung penuh kemajuan perusahaan Warriors Group.


"Untuk kamu, ikuti saya ke ruangan pak Pandu! Beliau berhak tahu secara langsung sekretaris barunya. Pesan saya, tolong menjaga sikap! Karena bukan keinginan beliaulah ia memilih seorang wanita menjadi sekretarisnya. Beliau benar-benar sangat menjaga perasaan istri yang ia sayangi. Tolong dipahami!"


Seketika senyum itu luntur dan berganti dengan muka datar tak berekspresi.


Semua sudah mulai mengikuti arah ruangan masing-masing. Begitu juga dengan wanita gemulai yang berjalan sembari terus saja diam-diam membenarkan penampilannya. Jantungnya terus berdegup tak karuan. Berharap hanya menjadi karyawati biasa pun tidak apa-apa. Namun, lebih bahagianya ia saat ini karena diunjuk menjadi sekretaris langsung.


Ketukan pintu menyadarkan Pandu dari kesibukannya. Ia bersuara tegas menginstruksi.


"Silahkan masuk!"


CEKLEK! Pintu bergeser terbuka.


"Permisi Pak, saya ke sini untuk memperkenalkan Bapak dengan sekretaris baru Bapak." Tutur si kepala HRD.


"Oh, iya. Silahkan disuruh masuk!"


Pandu pun berdiri dan berjalan agak ke tengah ruangan untuk menghargai penyambutan sekretaris barunya. Senyum ramah pun tak ia lupakan.


Wanita itu masuk sesuai pengarahan. Menunduk memberi salam hormat.


"Tidak usah terlalu formal. Bersikap biasa saja. Tapi tolong, tetap jaga jarak ya! Saya ingin menghargai istri saya." Lagi-lagi alasan itu.


"Hahaha.... Bapak bisa saja. Sangat sweet menjadi suami idaman. Saya jadi ingin lebih mengenal istri kesayangan Bapak. Sampai-sampai membuat bos saya sebucin ini."


Tepukan pelan di pundak Saga si kepala HRD terima. Interaksi itu memperlihatkan bahwa Pandu tidak sekaku yang dipikirkan wanita ini.


"Silahkan perkenalkan diri kamu!" Perintah kepala HRD.


Wanita itu pun berdiri tegap dan menggantungkan tangannya menunggu balasan jabatan dari bos barunya.


"Nama saya Clarine, Pak. Sekretaris baru Bapak. Siap membantu dan mengatur semua jadwal Bapak."


"Ok, saya Pandu. Semoga kamu bisa nyaman bekerja di perusahaan ini."


Hanya senyuman. Tangan itu tak disambut Pandu. Kecanggungan pun Clarine rasakan.


"Saga, tolong tunjukkan di mana ruangannya ya! Saya mau mengumpulkan data-data maupun berkas-berkas yang nantinya akan saya serahkan ke Clarine. Silahkan!"


"Siap pak! Ayo, ikuti saya Clarine!"


Ruangan yang masih bersebelahan dengan ruangan Direktur Utama. Clarine memasukinya lebih dulu setelah dipersilahkan.

__ADS_1


"Ini ruangan pribadi kamu. Sengaja menyendiri agar pekerjaan kamu lebih fokus. Beberapa berkas dan data yang pernah sekretaris lama pak Pandu kerjakan sudah tersusun rapi di rak itu. Komputer, peralatan menulis dan lainnya kamu bebas menggunakannya."


Tidak berapa lama, Pandu dengan beberapa tumpukan berkas ikut memasuki ruangan sekretaris.


"Ini sudah saya pilihkan berkas-berkas yang perlu kamu pelajari dulu. Ada yang bingung, tanyakan langsung ke saya. Setelah beberapa hari ke depan kamu sudah mulai terbiasa, kamu yang bertanggung jawab mengurus semua jadwal saya. Sekiranya ada jam tambahan yang saya berikan tidak sesuai dengan kemampuan kamu, boleh kok kasih masukan ke saya. Saya orangnya flexible. Saya membutuhkan pekerja yang nyaman dan santai. Tapi ingat, tetap harus disiplin."


"Ok, siap Bos!!" Saga nyeletuk mencairkan suasana.


Clarine menyunggingkan senyumannya.


"Baik pak Pandu. Saya akan membiasakan diri di perusahaan Bapak. Sebelumnya, saya ingin berterimakasih karena sudah memilih saya menjadi sekretaris Bapak."


"Hahaha.... jangan berterimakasih ke saya. Karena, ada penggemar rahasia kamu di balik ini semua." Pernyataan yang membingungkan bagi Clarine.


"Saya tinggal ya? Kerjaan saya masih banyak yang menumpuk."


"Baik pak Pandu." Menunduk hormat.


...🍁~🍁...


Menghilangkan rasa boring, Jihan menyibukkan dirinya merapikan dan membersihkan rumah. Berkebun pun telah ia lakukan. Biasanya, ia mendapat jatah menata rumah hanya pada weekend saja. Mumpung sekarang ia di rumah lebih awal, lebih baik melakukannya untuk mengisi waktu-waktu luangnya.


Pemikirannya dulu yang apa-apa harus dilayani kini ia yang harus belajar melayani. Ia sengaja tidak mengizinkan Pandu mencari Asisten Rumah Tangga agar ia bisa lebih banyak belajar menjadi seorang Ibu Rumah Tangga yang baik. Jangan lupakan bahwa ia dulu berjanji akan bersikap baik apabila Pandu benar mau menolongnya dalam penggagalan perjodohan yang dulu sempat hampir terlaksana.


"Beruntung banget takdir gue langsung berubah drastis. Disakitin, dimanfaatin, dikecewain dan nyaris dijodohin sama cowok gak jelas. Eh, malah dapatnya super duper paket komplit. Ganteng, sweet, sabar, baik, alim, perhatian, romantis, Aaaaaaa........ Hushband Material banget. My sweet hushband, I love you so much Pandu!!! Hihihi...." Berteriak kegirangan sembari membayangkan wajah manis Pandu.


...🍁~🍁...


Sebelum pulang, tetap ia menyempatkan membeli beberapa cemilan manis dan sebuket bunga mawar merah yang sangat menggambarkan perasaannya. Saat menyetir pun senyum tak pernah pudar. Jihan benar-benar sudah menjahit hatinya yang robek. Dan ia berhasil menggantikan posisi masa lalunya.


Cahaya lampu dari rumahnya menandakan Jihan benar-benar berada di dalam. Gerak cepat Pandu memarkirkan mobil di garasi. Membuka pintu dan berjalan cepat mencari keberadaan istrinya.


"Sayang...." Panggilan ia lakukan.


Sayup-sayup Pandu mendengar kegaduhan dari arah dapur. Dan tercium aroma gosong yang menyengat. Dan benar, Jihan berdiri gelisah bingung mengatasi masakan yang entah apa yang sedang ia masak.


Pandu berjalan pelan sembari tersenyum manis. Dari arah belakang Jihan, Pandu sudah bisa melihat beberapa potongan ayam sudah mulai menghitam. Tangannya ia sodorkan untuk mematikan api kompor yang membesar.


"Astaghfirullah Pandu!!!" Tindakan Pandu mengagetkannya.


"Assalamualaikum Sayang." Mengecup singkat pipi Jihan.


"Waalaikumsalam. Pandu.... kamu ngagetin aku banget."


"Hahaha.... maaf Sayang."


Mata Pandu menelisik keadaan dapur yang berantakan. Dan gorengan ayam yang sudah gosong. Jihan menutupi wajah malunya dengan kedua telapak tangannya. Niatnya ingin memasak makan malam untuknya dan Pandu. Malah berakhir kacau dan memalukan.

__ADS_1


"Maaf Pandu. Aku mengacaukan dapur kamu. Aku gagal jadi istri yang baik. Masak gini aja aku gagal. Maaf...." Ungkap Jihan.


Pandu tertawa renyah. Ia menarik tangan Jihan. Di lengan istrinya terlihat beberapa bulatan kecil memerah yang ia yakini dari percikan minyak panas.


Mendudukkan Jihan sambil menunggu ia mencari salep yang ampuh mengobati luka bakar. Jihan masih setia menunduk. Pikirannya terus merutuki kebodohannya. Pandu sudah kembali dan menggapai kembali tangan Jihan. Ia oleskan salep itu di bulatan memerah. Jihan sedikit meringis perih.


"Aku senang banget, pulang-pulang melihat istri berada di dapur. Nyiapin makanan untuk makan malam. Sangat manis. Terimakasih ya Sayang."


Meniup lembut ke luka di tangan Jihan.


"Apaan sih. Gak lihat masakan aku gosong. Gagal Pandu. Kamu ngeledek aku ya?"


"Hahaha.... gak, Sayang. Aku senang kamu udah mau mulai belajar di dapur. Gagal atau berhasil itu cuma hasil. Prosesnya itu yang sangat berharga. Artinya, kamu udah seberusaha mungkin jadi istri yang baik buat aku. Emang sih, rumah itu bukan tugas seorang istri aja. Tapi suami mana sih yang gak senang kalau pulang-pulang rumah kelihatan rapi, bersih, dan disambut hangat dengan istri yang lagi sibuk di dapur menyiapkan makanan."


Jihan sudah bisa tersenyum saat Pandu malah menyanjungnya. Ia tak sungkan untuk segera memeluk erat tubuh Pandu.


"Terus, sekarang kita mau makan apa? Masakanku gak mungkin bisa termakan. Semuanya gosong."


"Masih ada beberapa potongan ayam yang belum tergoreng kan?"


Anggukan pelan Jihan menjawab.


"Ya udah, kita goreng lagi. Sekalian kita belajar sama-sama ya!"


Pandu dan Jihan mulai menyiapkan sisa beberapa potongan ayam yang belum tergoreng.


Urusan makan dan beberes di dapur sudah usai. Sholat Isya pun sudah mereka laksanakan. Pandu menghampiri Jihan dan memeluk dari arah belakang.


"Ini untuk rasa terimakasih aku ke istri yang sudah sangat banyak belajar menjadi yang terbaik. Diterima ya sayang!" Mengecup pipi kanan dari arah samping.


"Pandu!!" Jihan berbalik dan menerjang Pandu dengan pelukan hangatnya.


"Kamu sweet banget sih. Makasih ya, Pandu Pangestu. Hihihi...."


Meraih cepat bunga, mini cake dan beberapa coklat dari tangan Pandu. Ia terus tersenyum kegelian melihat tindakan romantis suaminya. Ia meletakkan itu semua di meja nakas samping ranjang. Menarik tangan Pandu dan membawa Pandu agar duduk bersamanya di ranjang. Tatapan penasaran Pandu berusaha mencari tahu gerak-gerik istrinya.


...🍁~🍁...


...Bersambung................


Ini aku kasih visualisasi dari si Clarine ya.


Sekretaris baru pak Pandu Pangestu.


Tebak karakternya bagaimana?


__ADS_1


__ADS_2