Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Lembaran Baru


__ADS_3

"Walau aku dan kamu tidak akan pernah direstui dan bersama, aku gak akan bisa menemukan wanita lain sebaik dan setulus kamu. Kamu berhak bahagia bersama seseorang yang telah Abah kamu pilihkan. Doakan Aa' agar bisa melupakan kamu ya. Aa' ditakdirkan untuk menikahinya. Jihan."


Setetes air mata Jihan jatuh membasahi lembar buku yang ia baca.


Jihan merutuki dirinya yang bodoh. Pandu hanya berperan sebagai penyelamatnya. Untuk apa ia takuti kalau suatu saat nanti Pandu meninggalkannya dan akan lebih memilih kembali ke wanita masa lalunya. Jihan yang sudah membawa Pandu terperangkap dalam urusannya. Kenapa ia harus serakah meminta hati Pandu untuknya. Ia bukan wanita baik yang diinginkan Pandu.


Suara gesekan pintu menyentak Jihan dan mempercepat pergerakannya menaruh buku itu kembali ke tempat semula. Jihan pun cepat-cepat menghapus lembab pipinya.


"Jihan, kamu mandi ya! Biar enakan tidurnya."


Jihan cepat berjalan menunduk mengambil handuk yang ada di tangan Pandu. Pandu hanya terdiam bingung.


Pandu yang berkutat dengan laptop di meja kerjanya masih bingung memikirkan keterdiaman Jihan. Tak seperti biasanya. Kalau sekiranya ada masalah, Jihan pasti akan selalu meracau, ngedumel, cemberut, bahkan berkata kasar terhadapnya. Ini sama sekali tidak.


'Apa Jihan sudah tertidur?' Tanya batinnya.


Pandu yang penasaran, menghentikan aktivitasnya dan berjalan menghampiri Jihan. Jihan sedikit mendengar pergerakan itu. Cepat-cepat tangannya menghapus cairan bening yang terus saja mengalir. Dan menutup matanya dengan cepat.


Pandu yang melihat Jihan ternyata sudah tertidur ikut berbaring.


Pandu berbaring menyamping menghadap ke arah Jihan. Ia mengusap pipi Jihan sembari termenung.


"Gak ada yang tahu takdir Jihan. Dulu, aku benar-benar mencintai seseorang. Seseorang yang ingin selalu aku lindungi. Kamu pun begitu. Segala cara aku lakukan untuk ngelupain dia. Aku berharap dan meminta ke Allah, kalau pertemuan kita ini bisa membantu aku ngelupain dan menghapus memori aku dan dia."


Pandu mendekatkan dirinya dan mengecup kening Jihan seperti biasanya. Di balik itu semua, Jihan sekuat tenaga menahan hatinya yang sendu. Mata itu melihat sebentar ke arah Pandu yang masih betah melamun menatap langit-langit kamar Apartemen.


'Aku merasa aneh Pandu. Aku merasa gak rela kamu mengatakan hal itu. Aku gak rela masih ada pembatas di antara aku dan kamu.'


...🍁~🍁...


Sepagi ini Jihan dan Pandu sudah mulai merapikan diri masing-masing. Kembali akan melakukan aktivitas. Keterdiaman Jihan masih bertahan. Pandu dalam makannya terus gelisah. Setiap senyuman yang ia berikan tak memancing suara mahal Jihan. Apa ia benar-benar melakukan kesalahan besar? Apa karena Jihan benar-benar tidak mau menginap di Apartemennya?


Jihan kembali ke kamar mengambil tasnya. Dari arah belakangnya, tangan Pandu terulur menyodorkan sebucket bunga kering yang ia tahu itu bunga pemberian darinya saat moment memalukan tempo lalu.


Jihan yang tak tahu apa maksud Pandu, mengerutkan keningnya meminta penjelasan.


"Hahaha.... wajah kamu lucu banget sih."


"Ya, kamu sendiri ngapain? Ini maksudnya apa?!"


Menunjuk bunga di tangan Pandu.


Pandu menggaruk tengkuknya. Niat hatinya hanya ingin membawa Jihan dalam obrolannya. Tapi, malah membuat suasana tambah bingung.


"Kamu marah ya sama aku? Karena aku maksa bawa kamu ke Apartemen aku? Padahal, jelas-jelas kamu gak mau. Aku tetap maksa."


"Hehhh...." Jihan menghela napasnya tak habis pikir dengan pikiran Pandu.


"Gak ada hubungannya Pandu. Kenapa gak dibuang aja sih bunganya?! Udah kering juga."


Melewati Pandu yang masih berdiri di tempat.


Pandu mengekori ke mana pun setiap pergerakan Jihan.


"Ini memorable banget buat kita Jihan. Kamu masih ingatkan awal pertemuan kita? Itu lucu banget kalau diingat-ingat. Emang ya, kalau takdir itu gak ada yang tahu. Kisah unik kita harus kita ceritakan ke anak-anak kita nanti Jihan."


Jihan berhenti dan berputar mengarah ke arah Pandu. Bunga dari tangan Pandu ia ambil dan ia buang ke sembarangan arah.


"STOP PANDU!!! Stop untuk terlalu baik ke aku! Kamu ingatkan, pernikahan ini hanya keterpaksaan. Skenario yang aku buat. Aku minta maaf.... udah ngelibatin kamu dalam masalah aku."


"Jihan, kamu kenapa? Ada yang salah dengan omongan aku barusan? Sampai-sampai kamu semarah ini. Aku mohon sama kamu, jangan pernah lagi ungkit-ungkit masalah yang udah terjadi. Maupun itu pernikahan terpaksa atau tidak, gak ada masalah sama sekali dalam pikiran aku. Kenapa malah kamu merasa bersalah banget ke aku?!"


Mata Jihan sudah mulai terlihat berkaca-kaca. Ia seberusaha mungkin tak meneteskan sedikit pun air matanya.


"Aku gak mau kamu terus maksain diri kamu untuk suka dan ngerasa nyaman sama aku. Aku ngebebasin kamu kok, untuk dekat dengan siapa pun. Jadi tolong jangan terlalu buat aku bergantung sama kamu Pandu!!"


Jihan bergerak cepat meninggalkan Pandu yang masih berdiri terdiam. Pandu sama sekali tak mengerti arah tujuan pembicaraan Jihan. Kesalahan apa yang pandu perbuat hingga Jihan semurka ini.


Pandu beristighfar meredakan emosinya.


Jihan terus berjalan cepat ingin menetralkan emosinya. Berhadapan dengan Pandu selalu memunculkan rasa tak rela. Tak rela jika nanti ia ditinggalkan.


"Jihan!" Tangan Jihan ditarik kuat oleh seseorang yang baru saja berpapasan dengannya.


"David?"


Satu hal yang ia hindari benar-benar ia temukan. David dengan sedikit sempoyongan mencegat Jihan. Jihan memaksa David untuk melepaskan cekalan kuatnya.

__ADS_1


"Lepasin gue brengsek! Apa mau lo?!"


"Aku mau kamu, Jihan!!! Aku gak mau putus sama kamu! Aku mau kamu balik sama aku!"


"Gue gak mau! Gue gak mau terjebak sama cowok brengsek kayak lo!! Lepasin gue David!!"


Derap langkah cepat menghampiri Jihan yang meronta. Tangannya menarik paksa tangan Jihan sehingga terlepas dari jeratan pria mabuk di hadapannya.


"Tolong jangan ganggu istri saya lagi!"


"Oh, ini dia. Cih! Akhirnya, gue ketemu langsung sama lo."


"Ayo, Jihan! Kita langsung pergi aja. Gak baik berhadapan dengan pria mabuk."


"Eits.... gue masih waras kok. Nih, ya, gue kasih tahu ke lo. Istri lo ini, udah pernah gue sentuh. Dia cuma barang bekas yang gue kasih ke lo, Bro."


PLAKKK!


"Jaga omongan lo, Vid!!! Gue gak semurahan yang lo ucapin!! Gue bukan wanita-wanita bayaran lo. Jangan pernah ganggu hidup gue lagi David!!" Ancam Jihan yang sudah kesal terhadap penghinaan David.


Pandu mengejar Jihan yang masih tersulut emosi.


Jihan memasuki mobil Pandu dan meringkuk sedih. Tangis yang ia tahan akhirnya tersalurkan. Jihan merasa kesal dan kacau.


Pandu berusaha ingin menenangkan Jihan. Tapi tubuh Pandu selalu dihalau Jihan. Menangis sejadi-jadinya mengundang pertanyaan bingung di kepala Pandu. Tak ada satu kata yang terucap. Pandu lebih memilih diam hingga suara sesak Jihan berhenti.


Pandu meminggirkan mobilnya di samping gedung megah di mana Jihan bekerja. Ia ragu Jihan bisa fokus untuk bekerja di keadaan seperti ini.


"Kita udah sampai Jihan. Kalau kamu masih badmood, aku bisa izinin kamu."


Jihan baru sadar kalau ia telah sampai di tempat ia bekerja. Ia merutuki dirinya yang terlalu lemah menangisi nasibnya.


"Aku minta maaf sama kamu karena udah marah-marah gak jelas. Jangan terlalu dipikirin. Aku pamit dulu."


Jihan keluar tanpa menyalami tangan Pandu seperti biasanya. Pandangan Pandu tak pernah lepas dari cara jalan Jihan yang sedikit lesu dan menunduk.


...🍁~🍁...


Sesampai di kantornya pun, pikiran Pandu hanya terfokus ke Jihan. Perubahan sikap Jihan terhadapnya sangat menyiksa. Pandu sangat menyesal telah memaksa Jihan ke Apartemennya. Ia sangat lupa dengan kejadian tempo lalu yang mungkin itu awal mula dari kebencian Jihan terhadap pria bernama David. Ucapan David yang sangat merendahkan Jihan sudah membuatnya kesal. Pandu jadi bisa merasakan sebesar apa rasa kecewa Jihan terhadap David masa lalunya.


...🍁~🍁...


"Kamu ke mana Jihan....?"


Decitan mobil terdengar mengarahkan Pandu keluar untuk mengecek. Rasa cemasnya pun berkurang saat Jihan lah yang keluar diikuti Alya. Pandu berjalan cepat ke arah Jihan.


"Kamu ke mana aja Jihan? Dari tadi aku nelepon kamu, gak ada satupun yang kamu angkat."


Jihan terdiam menunduk. Alya yang paham berusaha menjelaskan.


"Sorry ya, Ndu. Kita pergi lupa izin sama lo. Handphone Jihan juga sempat ketinggalan di kerjaannya Jihan. Pas mau pulang Jihan baru sadar dan kita balik lagi. Kita cuma nonton dan keliling mall kok. Jangan marah-marah ya. Hihihi...."


Pandu menghela napas beratnya. Setidaknya, Jihan ingat pulang dan tidak terjadi apa-apa.


"Ya udah gak apa-apa. Tapi, lain kali kalau mau pergi ke mana pun harus izin dulu!"


"Iya, Ndu. Sorry banget ya. Lupa."


Pandu mengangguk. Matanya terfokus ke arah Jihan yang hanya diam membisu.


"Hmm.... gue langsung pulang aja ya, Ndu. Bye!"


Kepergian Alya menyisakan Pandu dan Jihan. Pandu berputar menghadap wajah menunduk Jihan. Ia memeluk Jihan dengan lembutnya.


"Aku gak marah Jihan. Aku cuma bingung dengan keterdiaman kamu. Dari semalam mood kamu berubah banget. Gak kayak biasanya. Aku lebih suka kamu marah-marah, ngedumel, judesin aku. Gak diam kayak gini. Kalau ada sesuatu yang salah dari aku, kamu ungkapin aja Jihan. Kita bicarakan sama-sama."


Jihan masih enggan untuk menjawab. Dia lebih memilih masuk tak ingin berlama-lama dengan Pandu. Selagi Jihan membersihkan dirinya, Pandu menyiapkan makan malam dan teh hangat untuk mereka.


Jihan dan Pandu makan dalam keterdiaman. Hingga selesai pun, Jihan masih membisu. Benar-benar menyiksa bagi Pandu.


'Ini gak bisa dibiarin. Jihan membuatku bingung.'


Di dalam kamar saat Jihan akan berbaring, Pandu menahannya.


"Jihan, kita harus selesaikan masalah ini. Jujur, aku gak suka didiemin kamu kayak begini terus. Ada salah atau masalah apa pun tolong cerita Jihan. Supaya aku juga ngerti dan belajar dari kesalahan."


Menyapu anak rambut Jihan yang menutupi wajah menunduknya. Jihan terlihat meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Jihan.... kamu kenapa?"


"...."


"Cerita Jihan....!"


"Aku takut Pandu."


"Takut? Takut apa?"


"Aku takut kamu bakal ninggalin aku. Aku sadar kalau aku bukan wanita sempurna dan bukan wanita baik seperti yang kamu mau. Aku jahat udah maksain kamu nikahi aku. Mungkin, kalau dulu kamu tetap kekeh gak memperdulikan drama skenario yang aku minta ke kamu, kamu masih bisa milih wanita mana pun yang lebih baik dan sempurna dari aku."


Wajah sendu itu menatap lemah ke arah kedua bola mata Pandu. Ia berharap Pandu bisa mengerti apa yang ia rasakan. Jihan memang selalu buta dalam percintaan. Namun sekarang, ia bukan sekedar buta. Lumpuh. Lumpuh yang membuatnya stuck atau berhenti pasrah di hadapan Pandu. Semua hanya Pandu yang bisa menentukan. Tetap diam dan bertahan atau pergi meninggalkan Jihan dalam kelumpuhannya.


"Jihan, kalau sumber masalah ini memang karena kebingungan kamu mengenai hati atau perasaan aku ke kamu, kamu jangan takut! Gak semuanya rasa cinta itu terungkap dari ucapan. Dari tindakan yang tulus itu sudah cukup menjelaskan, Jihan."


"Aku bisa mengakui kalau aku bukan pria romantis yang penuh dengan gombalan. Tapi aku bisa pastikan kalau kamu yang akan selalu ada di samping aku seterusnya sampai akhir hayat nanti. Aku bukan mencari wanita yang sempurna. Mencari kesempurnaan itu gak akan ada akhirnya. Setiap manusia itu selalu diciptakan dalam kekurangan dan kelebihan. Kesempurnaan hanya milik Allah. Dan kamu, adalah titipan jodoh yang Allah berikan ke aku. Kita sama-sama memiliki kekurangan. Kita dipertemukan untuk saling mengisi dan melengkapi kekurangan kita."


Sangat menenangkan. Elusan lembut di kedua pipi Jihan yang menghapus jejak tangisnya. Jihan merasa tingkat kepercayaan dirinya kembali normal.


Pandangan mata Pandu tak menggambarkan kebohongan. Ia berkata tulus dan apa adanya.


Pandu yang terus saja menatap mata Jihan merasakan hal yang berbeda. Tatapan penuh menuntut ingin menuntun dirinya merasakan ciuman pertamanya bersama Jihan.


Semakin lama, Pandu memiliki keberanian untuk mendekatkan wajahnya. Elusan lembut itu terus bergerak menyusuri bibir mungil Jihan. Membelainya dengan sorot mata yang kian mendesak. Jihan mengerti apa yang diinginkan Pandu.


Mata Jihan menutup. Ia sudah bisa merasakan hembusan napas Pandu. Jarak yang begitu dekat. Rasa gugup pun mulai menyerang.


Tangannya terkepal menahan gugup yang mendera. Bibir Jihan mendapatkan sesuatu sentuhan yang begitu lembut. Pandu berhasil menyatukan. Ia meraup dan melakukannya dengan perlahan. Ia ingin Jihan merasa nyaman.


Tangan Pandu menarik tengkuk Jihan lebih dekat. Ia tak ingin momen ini berakhir cepat. Desiran hangat terus menjalar di tubuh Jihan. Jihan hanya diam mengikuti perlakuan Pandu. Hingga Pandu menyadari bahwa ia telah membuat Jihan hampir kehabisan napas. Pandu melepas pautan mereka. Masih tak ingin melepas pandangan.


"Aku udah mulai mencintai kamu, Jihan. Mencintai kamu karena Allah. Aku percaya dan yakin, rencana Allah itu lebih indah."


Ungkapan perasaan Pandu begitu membahagiakan di hati Jihan. Tak ada sorot kebohongan dalam mata Pandu. Membuat Jihan memberanikan diri meraih wajah Pandu. Dan ingin mengecup singkat pipi Pandu.


Drtttt.... drtttt....


Suara getar handphone mengejutkan Jihan. Jihan menatap mata Pandu yang saat ini tersenyum jahil kepadanya.


"Aku angkat telepon dulu ya, Sayang."


Sontak, Jihan merasa malu dengan posisinya yang saat ini terlihat ingin menerjang Pandu. Cepat-cepat ia berpindah posisi dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


'Jihan.... lo agresif banget. Malu-maluin banget lo.'


"Halo, Ranti. Assalamualaikum...."


Ternyata panggilan Video Call dari Ranti.


"Waalaikumsalam, A'. Apa kabar atuh A'?"


"Alhamdulillah baik."


"Teh Jihan mana, A'?"


Pandu menyibak selimut dan tersenyum melihat Jihan yang meringkuk serta menutupi wajahnya.


"Sayang....Ranti kangen nih sama kamu. Nih, ngobrol dulu!"


Jihan dengan wajah yang masih memerah melirik ke arah Pandu. Senyum jahil Pandu menambah semburat merah di pipinya.


"Teh Jihan, pipi Teteh teh kenapa merah gitu....?"


"Pandu....!!"


"Hahaha...." Pandu menertawakan kekesalan Jihan terhadapnya.


Malam yang akan dikenang selamanya oleh Jihan dan Pandu. Malam indah yang memberanikan diri mereka untuk bisa saling mengungkapkan perasaan hati yang terdalam.


...🍁~🍁...


Good Night guyssss


😊😜😊


...Bersambung................

__ADS_1


__ADS_2