Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Who Is She??


__ADS_3

Ini pertama kalinya Jihan menelusuri ruang kerja Pandu. Kali pertama bagi Jihan sebagai seorang istri mengetahui apa-apa saja kegiatan suaminya selama di kantor.


"Ck, pantesan aja karyawan Mas masih ada yang belum mengenalku. Tak ada satupun foto pernikahan kita di sini." Dengus kekecewaannya.


Pandu yang baru saja keluar dari toilet tertawa kecil menanggapi celotehan Jihan.


"Sorry, Sayang. Mas belum kepikiran akan hal itu. Lagian, gak ada masalah yang terlalu besar Sayang. Gak semua karyawan boleh masuk ke ruangan kerjaku. Jadi, percuma ada pajangan foto pernikahan kita."


Jihan menepis pelukan Pandu. Tanggapan Pandu terdengar meremehkan untuknya.


"Kenapa? Mas malu ya, menunjukkan hubungan kita?"


"Duhhh.... kok jadi tambah rumit gini sih, Sayang. Udah ya, marahnya! Insyaallah, lain waktu mas akan pajang foto pernikahan kita." Tersenyum kikuk.


Jihan melupakan kotak-kotak bekalnya. Niatnya ke sini untuk memberi Pandu makan siang. Dan ini sudah waktu yang tepat. Satu persatu ia keluarkan dan buka dari keranjang itu. Pandu tertegun melihat banyaknya makanan yang tersaji.


"Ini kamu semua yang masak?"


"Iya."


Pandu menduduki sofa bersebelahan dengan Jihan. Ia bingung makanan mana yang bisa ia habiskan terlebih dahulu. Dan apakah lidahnya tidak mati rasa merasakan masakan Jihan yang belum lulus dari kata nikmat. Tapi, tetap ia tak ingin mengecewakan istrinya.


"Mas harus coba semua masakan Jihan!" Tersenyum puas.


Menelan ludahnya susah payah saat Jihan menyodorkan 1 wadah bekal yang telah tersaji nasi beserta lauk pauknya.


"Ayo Mas dicoba!"


1 sendok nasi beserta lauknya ia masukkan ke dalam mulutnya. Giginya mulai menggigit makanan itu.


Tak disangka, mata Pandu membulat sempurna saat dirasa makanan itu berbeda dari sebelumnya. Pandu mencicipi kembali masakan yang lainnya. Jihan yang melihat semangatnya Pandu memakan lahap semuanya pun tersenyum senang.


"Ini beneran kamu yang masak?"


"Iya dong Mas. Yaaa.... walaupun masih arahan dari Mama. Setidaknya, aku udah tahu Mas resep rahasia masakan Mama. Semua udah aku simpan dalam memory ingatan aku Mas. Benar enak kan?"


Pandu mengangguk cepat. Saking nikmatnya, ia tak sadar dengan kehadiran kedua teman rusuhnya. Jihan tersenyum geli.


"Wahhh.... bahagianya nih teman kita, bro. Sampai gak sadar banget kita udah berdiri di sini."


Celetukan Yogi menyadarkan Pandu dari keseriusan ia menyantap masakan Jihan. Yogi dan Raska yang sudah tergiur dengan semua makanan itu, langsung mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Pandu. Memegang masing-masing wadah dan menaruh nasi dan beberapa lauk pauk. Pandu menggeram tak suka.


"Kalian ini apa-apaan sih?! Datang-datang langsung makan. Ini punya aku!!" Memukul-mukul tangan Raska dan Yogi yang sedang asik menyuapi semua makanan ke dalam mulut mereka masing-masing.


"Mas.... gak apa-apa dong. Makanannya kan juga masih banyak."


"Iya, Ndu. Makanan sebanyak ini masa lo sendiri yang habisin. Jangan pelit-pelit dong! Berbagi itu indah, Ndu."


"Ini enak banget, Han. Ternyata lo jago masak ya. Kalah banget istri gue. Alya kagak bisa masak, bro." Dengus Raska.


"Hihihi.... Ini juga baru belajar masak dari Mama. Sebelumnya, masakan aku juga gak enak."

__ADS_1


Pandu meringis melihat kerakusan Raska dan Yogi menghabiskan semua makanan yang sengaja Jihan buatkan untuknya. Kerusuhan mereka menghilangkan selera makan Pandu. Ia sangat membenci teman-temannya saat ini. Sangat tidak melihat situasi dan tidak punya urat malu.


Jihan tahu perasaan Pandu. Ia hanya bisa menggaruk tengkuknya. Pasalnya, ia tak menyangka makanannya bakal seenak ini dan habis disantap kedua teman Pandu.


"Mas jadi bad mood banget hari ini."


"Mas yang sabar ya! Nanti kalau udah di rumah, Jihan bakal sering masakin makanan kesukaan Mas. Ok!" Bujuk Jihan kepada Pandu.


"Terimakasih ya Sayang. Mas senang banget dengan usaha kamu ngebuat mas bangga. Masakan kamu ngebuat mereka lupa diri."


Pandu mencuri kesempatan untuk mengecup bibir sang istri. Hal itu terlihat oleh mata Yogi dan Raska.


"Waduhhh.... asik bener nih pasutri. Kagak lihat ada gue yang jomblo?!"


"Siapa suruh kalian habisin semua makan siangku. Jihan aja sampai gak kebagian. Sadis banget."


"Sorry ya Adik Ipar. Saking enaknya jadi lupa diri."


Pelototan Pandu dibalas tertawaan renyah Raska dan juga Yogi.


Lelahnya menangani tingkah kedua temannya. Pandu kembali berkutat dengan pekerjaannya. Jihan menunggu di sofa sebab Pandu melarang Jihan untuk jangan pergi. Sembari menunggu, Jihan melihat majalah-majalah yang tersedia di atas meja. Jajaran foto fashion-fashion ternama menjadi titik fokus Jihan. Dalam hati, ia menyayangkan impiannya yang pupus. Suatu hal yang ia minati sudah tidak bisa ia gapai. Dulu, Jihan salah satu pengisi edisi majalah-majalah fashion ternama ini.


Diam-diam, Pandu memperhatikan pergerakan Jihan yang lesu. Terkadang, melihat Jihan yang berdiam diri merasa seperti ada yang hilang dari sisi Jihan. Ia menghentikan sejenak aktivitasnya. Dan menghampiri Jihan.


"Sayang, kamu boring ya?"


Dengan cepat Jihan menutup dan meletakkan kembali majalah-majalah itu. Sekilas, Pandu mengerti apa yang membuat Jihan murung.


Pandu terdiam dan berpikir.


"Kita jalan-jalan yuk!"


"HAH! Ke.... ke mana?"


"Ke mana aja yang kamu mau."


Jihan bingung. Ia memang merasa boring. Tapi gak masalah kok jika harus menunggu Pandu sampai kapan pun. Ia tak mau merepotkan.


"Gak usah Mas. Mas lanjut kerja aja!"


"Gak Sayang. Mas juga ingin ngedate sama kamu. Seperti yang kamu bilang. Kita bukan pasangan yang bertemu disengaja atau direncanakan. Kita pasangan yang bertemu secara mendadak. Mendadak menikah dan mendadak jatuh cinta. Jadi, Mas rasa belum banyak waktu yang kita gunakan untuk merasakan manisnya Romansa Remaja."


"Iihhh.... kata-kata Mas alay banget sih."


"Hahaha.... Mas memang merasa ada perubahan sikap semenjak bersama kamu, Sayang. Semakin alay."


Jihan tertawa lepas. Pandu selalu bisa merubah moodnya. Entah kebaikan apa yang Jihan lakukan. Hingga ia bisa diberikan sosok suami yang peka, perhatian, baik, sholeh dan sweet.


Jihan menangkup kedua pipi Pandu dan berkata, "Jadi, mau kita mulai dari mana?"


"Hmm.... terserah kamu. Mas ikut aja keinginan istri."

__ADS_1


Jihan terlihat berpikir.


"Mas janji bakal turuti ke mana pun aku mau?"


Pandu mengangguk pasti.


"Ok, let's go!!" Jihan menarik tangan Pandu untuk segera bersiap.


Sebelumnya, Pandu meminta Jihan menunggu sebentar di kala ia ingin menyerahkan tugas tambahan untuk Clarine Sekretarisnya. Ketukan pintu itu memunculkan Clarine dari balik pintu.


"Iya, pak Pandu. Ada yang bisa saya bantu?"


"Oh, iya Clarine. Siang ini saya mau keluar. Sepertinya, tidak ada jadwal pertemuan apa pun kan?" Tanya Pandu.


"Tidak ada Pak. Sesuai yang sudah saya kirimkan melalui email Bapak."


"Ok. Sekarang saya mau langsung pergi ke suatu tempat dengan istri saya. Dan gak akan balik lagi ke kantor. Jadi, nanti tolong simpankan kembali dokumen-dokumen yang dibawa Yogi ya! Barusan saya juga udah sampaikan hal ini ke Yoginya langsung. Kalau ada yang mencari saya, bilang saja saya lagi keluar."


"Baik Pak."


Sepanjang penyampaian Pandu, Clarine lebih memfokuskan pendengarannya perihal niatan Pandu ingin keluar bersama istrinya.


'Apa benar istri pak Pandu ada di sini? Gue penasaran banget, secantik apa istri pak Pandu.'


Mata itu terus melirik liar mencari seseorang.


"Clarine, apa masih ada yang mau ditanyakan?"


"Hmm.... tidak ada Pak. Kalau begitu, saya langsung kembali ke ruangan saya ya Pak."


Pandu mempersilahkan.


"Mas.... udah siap kan?"


Suara Jihan menghentikan langkah Clarine yang baru saja keluar dari ruangan Pandu. Sedikit merasa ingin mengetahui wajah istri Bosnya. Dari balik celah pintu, matanya menelisik gestur tubuh wanita yang berjalan berlalu lalang membenahi semua barang-barangnya. Wajah itu belum juga terlihat. Rasa penasarannya sangat membuatnya geram.


'Ck, kenapa kalah cepat sih. Susah mengejar kamu Pandu. Sekalinya dapat, sudah beristri.' Sesal Clarine.


...🍁~🍁...


Hai, kakak....


Apa kabar kalian?


Masih betah baca ceritaku kan?


Vote, Like, Comment ceriku dong kak!


Aku butuh suntikan semangat dari kalian :)


Bersambung.................

__ADS_1


__ADS_2