Takdir Tercipta

Takdir Tercipta
Putri dan Menantu


__ADS_3

Pintu gerbang terbuka lebar. Sapaan para Security menyambut kedatangan putri dan menantu keluarga Salim.


"Wahhh.... Den Pandu dan Non Jihan. Apa kabar?" Surapto sang Security menyapa lebih dulu.


"Alhamdulillah, baik Pak. Bapak dan juga yang lainnya sehat-sehat juga kan?"


"Alhamdulillah, aman terkendali Den. Non Jihan tambah cantik saja. Hehehe...."


"Tumben Bapak muji saya. Biasanya Bapak selalu nyebut saya anak badung."


Cemberut lucu ala Jihan. Mengundang semua tertawa.


"Bercanda saja itu Non. Maaf. Hihihi...."


"Ya udah pak Surapto, kita langsung masuk dulu ya?"


"Oh, iya. Mangga atuh."


Pandu tertawa mendengar bahasa Sunda medok yang diucapkan pak Surapto.


Jihan terburu-buru keluar dari mobil Pandu dan segera meneriaki memanggil Mama dan Papanya.


"Ma....! Pa....! Jihan datang. Yuhuuu....!!"


"Sayang, ucap salam dulu!" Teguran Pandu.


Derap langkah cepat sudah mulai terdengar. Mama berteriak kegirangan saat mengetahui putri dan menantunya datang.


"Jihan....! Anak Mama...."


"Mama...." Pelukan mereka pun tak terlupakan.


Tidak hanya sang Mama. Pria paruh baya berperawakan tegas juga terikut gembira menyambut kedatangan Jihan dan Pandu. Pandu mendekat, menyalami dan memeluk tubuh sang papa mertua.


"Sehat kamu, Ndu?"


"Alhamdulillah, sehat Pa. Papa sama Mama gimana?"


"Alhamdulillah, sehat Nak. Tua-tua begini, tenaga masih tetap josss.... Hahaha...."


Jihan berdecak, "Ck, garing banget."


Pelototan mata Papa membalas cibiran Jihan.


Mama menyudahi perdebatan sengit yang dilakukan Jihan dan juga suaminya. Mereka berdua bertemu sudah seperti minyak dan air. Tidak bisa bersatu. Selalu berujung cekcok dan saling menyalahkan.


"Udah ih, ayok masuk dulu!"


Pandu dan beberapa ART membantu membawa koper bawaan mereka. Mama dan Papa menghantarkan Jihan dan Pandu ke kamar lama Jihan.


"Pandu, sudah biarkan saja Jihan merapikan barang-barang kalian. Kamu nemenin Papa ngopi di taman belakang!"


"Tapi kan Jihan masih perlu bantuan...." Sanggahan itu terhenti di kala Pandu malah benar-benar mengikuti keinginan Papanya.


"Iihhh.... mas Pandu jahat banget!!"


"Hahaha.... gak apa-apa Sayang. Namanya juga para lelaki. Kita yang perempuan dilupakan."


"Idih, Mama melankolis banget."


Jihan merutuki dirinya yang sudah menyulitkan dirinya sendiri. Baru sadar bahwa barang-barang yang ia bawa memang terlalu banyak. Mama pun sedari tadi tidak berhenti kesal.


"Kamu mau nginap berapa lama sih? Setahun?"


"Mama.... nanyanya kok gitu sih. Gak boleh ya?"


"Bukan itu maksud mama. Mau berapa lama pun mama gak keberatan. Mama heran aja dengan semua barang-barang kamu ini. Banyak banget. Pandu aja cuma sedikit."


"Namanya juga perempuan Ma. Banyak kebutuhan." Kesal Jihan.


"Itu kebiasaan kamu dari dulu. Selalu berlebihan. Pandu pasti kewalahan dengan kebiasaan kamu ini."


"Jihan kan udah mulai berubah Ma. Lagian, mas Pandu gak masalah kok kalau Jihan beli apa pun yang Jihan mau. Asal Jihan tahu batasannya."

__ADS_1


Papa dan Pandu banyak membahas seputar bisnis. Sesekali dibarengi dengan candaan mereka.


"Saya berterimakasih sekali sama Kamu Pandu. Kamu sudah mencintai anak saya dengan tulus. Kekhawatiran saya mengenai putri saya satu-satunya sudah teratasi."


"Saya juga sangat merasakan betapa besarnya cinta seorang ayah ke putrinya. Bertemu dengan Jihan suatu hal yang gak pernah saya pikirkan. Semua berjalan begitu saja. Dan mencintainya adalah ungkapan rasa syukur saya atas pemberian Allah yang begitu luar biasa. Jihan banyak mewarnai hidup saya. Jihan memberikan saya cinta yang nyaman. Dan sebuah restu yang selalu saya takutkan justru dengan mudah saya dapatkan."


Senyuman Pandu mendapatkan balasan tertawaan renyah dari Papa.


"Hahaha.... Saya juga bukan tipe orang yang gampang percaya dengan siapa pun. Bahkan, hubungan Jihan yang dulu dengan anak bajingan itu tidak pernah saya restui. Selama 5 tahun saya menentang tetap saja tidak didengar sama putri saya yang pembangkang itu."


"Papa!!!"


Teriakan tidak suka Jihan mengejutkan obrolan kedua pria tersebut.


Wajah cemberut Jihan meminta pembelaan dari Mama. Mama malah melengos dan merangkul ke pundak Papa. Seakan menyetujui dengan penuturan Papa. Jihan menatap tak suka. Alhasil, ia pun berjalan ke arah Pandu dan duduk di lantai di bawah Pandu. Menyenderkan kepalanya di kaki Pandu.


"Mas.... aku dikata-katain sama Papa. Mas kok gak marah sih?"


"Hahaha.... Sayang, yang diucapkan Papa sepertinya ada benarnya juga. 5 tahun itu waktu yang cukup lama. Waktu kamu benar-benar terbuang sia-sia."


Mendengus tambah tidak suka.


"Takdir kalian itu sangat terlambat. Coba aja dari dulu, sudah pasti langsung Mama dan Papa restui. Bahkan, mama sudah bisa nimang cucu. Hihihi...."


"Mama pikir semudah itu. Takdir itu di tangan Tuhan. Sebesar apa pun usaha kita, kalau memang belum waktunya berjodoh, ya gak akan ketemu."


Papa menyentil Jihan.


"Tumben Kamu bisa berpikir dewasa."


"Papa....!!!" Jihan kembali berteriak.


Papa dan Mama meninggalkan Jihan begitu saja dengan kekesalan Jihan yang belum juga reda.


Elusan di rambut Jihan sedikit membuatnya kembali tenang. Kecupan-kecupan singkat di pucuk kepalanya memancarkan senyum manis Jihan.


"My Sweet Husbandku.... Kamu terus berhasil nenangin badmood aku. Mas ini tercipta dari apa sih? Perfect banget." Mencubit gemas kedua pipi Pandu.


"Udah pandai ngegombal Kamu ya."


"Hihihi.... itu bukan gombalan. Itu kejujuran."


Jihan mendaratkan bibirnya di pipi kiri Pandu. Mereka tak tahu, dibalik itu Mama dan Papanya menyaksikan kemesraan pasangan yang sedang dimabuk cinta. Senyum kelegaan terpancar dari kedua sudut bibir Mama dan Papa saat melihat putrinya yang sudah berhasil menemukan cinta sejatinya.


...🍁~🍁...


Di sebuah warung kaki lima, 5 sekawan itu sedang duduk menatap langit malam yang tak dipenuhi banyaknya bintang. Angin terus saja bertiup kencang. Terlihat terpal-terpal di pinggir jalan bergoyang heboh mengikuti arah angin.


"Kurang kerjaan banget gue nemenin kalian semua bengong gak jelas kayak begini."


Geplakan di belakang kepala Eno mengeluarkan ringisan kesakitan.


"Kita itu senasib, gak usah belagu kamu." Lily bersuara.


Hembusan helaan napas berulang kali terdengar. Maya menatap map kremnya penuh iba.


"Udah keliling kemana pun, tetap aja belum ada yang butuh pekerja baru." Keluhnya.


"Kerja part time di Cafe tempat aku kerja aja May. Mau gak? Memang sih, gajinya kecil. Hitung-hitung, untuk sementara aja sebelum kita nemu Loker yang baru."


"Yeee.... Kamu sih enak ngomong kayak gitu Chik. Kamu kan termasuk berada. Kerja untuk tabungan. Nah kita, kerja untuk bayar tunggakan. Hadehhh...." Giselle menyanggah.


Anggukan yang lain pun menyetujui perkataan valid Giselle.


Lily menunduk sembari menghitung jari-jarinya sebagai sempoa.


"2 bulan kosanku belum terbayar. Sisa tabungan udah ku sisihkan untuk kirim ke kampung. Dan sekarang, lambung belum juga sehat."


"Yang sabar ya Ly." Rangkulan Chika berusaha menguatkan.


"Aku kepikiran deh, gimana mbak Jihan sekarang. Kasihan banget."


"Yaelah Ly.... sekelas Jihan lo khawatirin. Nasib dia dari orok itu udah terjamin. Super mewah. Lagian, gak kerja pun tuh orang masih bisa makan di Restaurant bintang lima, keliling dunia. Belum lagi si mas Pandu pengusaha. Udah pasti tidur tenang dia mah. Aneh lo!"

__ADS_1


"Tapi kan, ini semua impiannya mbak Jihan. Kalau bukan ada mbak Jihan, dari dulu kita gak ngerasain gaji besar. Kalian pada gak lupa kan gimana awal mula kita ketemu dan kenal mbak Jihan?"


Pernyataan Lily membawa mereka flashback ke belakang. Dimana awal mula mereka bertemu, mengenal dan akhirnya berkumpul menjadi team yang solid.


Flashback On Maya


Bermula dari pertemuan tak sengaja di salah satu Mall ternama di Jakarta. Maya yang dulu baru saja lulus dari jenjang Sekolah Menengah Atasnya bekerja mengasuh anak dari sepasang suami istri yang super sibuk. Di kala itu, ia tengah kewalahan mengejar bocah kecil yang asik berlarian di ramainya gedung yang berada di lantai 3. Ia ditinggal begitu saja dengan kedua orang tua bocah itu tengah asik memilih produk-produk ternama tak memperdulikan anaknya.


Lantai licin itu sulit ia kendalikan. Laju gesekan dari sepatunya mengarah kepada wanita glamour yang berjalan menunduk sedang memandang telephone genggamnya. Benturan pun terjadi. Tak disangka, cup minuman wanita itu berhasil ia senggol dan menumpahi dress bordir yang tentunya sangat mahal nilainya. Rasa cemas ia tampilkan.


"Ma-maaf Nona. Saya minta maaf. Ya ampun, dress ini pasti sangat mahal harganya. Maaf Nona.... Saya benar-benar minta maaf." Tuturnya sejak tadi tidak menghentikan aksinya yang berusaha mengeringkan dress wanita itu pakai.


"Hmm.... tidak apa-apa...."


"Ya ampun, Maya!! Apa yang sedang kamu perbuat?! Oh My God!! Maaf Nona.... Saya minta maaf atas kesalahan pengasuh anak saya." Mohon si wanita yang ia pikir wanita Chinese itu ialah majikan wanita yang telah menabraknya.


"Tidak apa-apa. Ini hanya basah sedikit. Lagi pula, salah saya juga. Saya berjalan tidak fokus ke arah jalan saya."


Senyum kelegaan dari wajah Maya. Kecemasannya berkurang. Ia tak henti-hentinya mengucapkan rasa terimakasihnya. Wanita itu pun kembali melanjutkan jalannya.


Namun, belum terlalu jauh ia melangkah, bentakan itu masih jelas terdengar.


"Dasar tidak becus!! Bisa-bisanya kamu membiarkan anak saya berkeliaran di tempat seramai ini. Kalau anak saya kenapa-kenapa bagaimana?!" Bentakan pria angkuh itu meremas hati yang melihat dan mendengarnya.


"Nasib baik wanita itu tidak meminta ganti rugi dari kecerobohan yang kamu perbuat. Bahkan, gaji kamu selama beberapa bulan tidak akan cukup membayar dress semahal itu. Perempuan bodoh!!!"


1 layangan tangan berhasil dihalau. Wajah pucat Maya terus menunduk menahan tangis.


"Seperti ini anda memperlakukan pengasuh anakmu?! Majikan yang tak punya hati." Geramannya coba ia tahan.


"Nona, bukan seperti it...."


Mata nyalangnya menghentikan sanggahan pria angkuh tersebut.


"Apa tidak punya rasa malu memperlihatkan tabiat kalian berdua di hadapan semua orang?! Bukan cuma saya. Mereka yang melihat pun berhak melaporkan tindakan tak bermoral dari sepasang majikan angkuh seperti kalian!!"


Bersusah payah sepasang suami istri itu menelan salivanya.


"Permintaan maafnya sudah sangat jelas bahwa ia telah mengakui kesalahannya. Seharusnya kalian sadar, yang meninggalkan anak begitu saja itu kalian berdua!! Anak sekecil ini masih membutuhkan perhatian orang tuanya yang sangat tengah sibuk dengan urusannya sendiri. Saya berpikir keras, seberapa banyak mental orang-orang rusak karena Anda."


Tangannya menggenggam tangan Maya yang terus saja menahan isak tangisnya.


"Berhenti dari pekerjaan ini! Kamu milik saya."


Tarikan tangannya membawa Maya menjauh dari kerumunan orang-orang yang mempertontonkan rasa malunya.


Kini, Maya tak percaya dengan tindakan heroik wanita itu menolongnya bahkan menghantarkannya langsung ke kediamannya.


"Kamu bisa bergabung denganku."


Sebuah kartu nama wanita itu sodorkan. Tertulis indah logo De' fashion yang sangat tengah diperbincangkan di khalayak umum saat itu.


"Namaku Jihan. Aku butuh partner tulus seperti kamu. Bersedia?"


Senyum wanita itu mempesona. Ia yakini, wanita ini sangat baik dan berpendidikan. Ia melihat sikap tulus itu dari sikap sembrono nya yang meminta langsung wanita ceroboh dan tak berpendidikan tinggi sepertinya untuk bergabung bekerja di sebuah perusahaan ternama.


Flashback Off


Helaan napas berat Maya mengenang pertemuan berharga itu. Begitu juga dengan yang lain.


"Ok, Jihan memang memiliki sisi baik bak Dewi Penyelamat. Dibalik sikap keras dan perfeksionisnya, tetap terselip rasa simpatik yang tinggi. Gue berandalan yang gak tahu diri."


Memukul kepalanya sendiri merutuki pikiran sembrono nya mengenai Jihan.


"Kalau aja mata gue ngelihat muka si lekong, bakal gue smackdown tuh anak. Gara-gara dia nasib kita jadi begini. Pengkhianat!! Arghhh....!!!"


Terpaan angin semakin kencang. Bahkan, cahaya kilat sudah berani menegur mereka. Karena tak ingin menambah nasib buruk, mereka berlima segera pergi meninggalkan tempat. Rintik hujan pun semakin deras mengguyur. Kepergian mereka menimbulkan geraman si pemilik warung.


"Dasar anak-anak bokek!! Mesan 2 gelas teh manis saja. Ke warungku hanya numpang duduk. Mana berisik lagi. Sampai hujan deras begini baru pada bubar."


...🍁~🍁...


...Bersambung.................

__ADS_1


__ADS_2